
Singapure...
Tangan patahnya saja masih belum sembuh ditambah lagi kesehatan mentalnya menurun.
Bulan - bulan pertama lebih parah. Ia seperti mayat hidup. Hidup segan mati tak mau.
Hari-hari nya diisi hanya dengan berdiam diri, bengong, Senyum - senyum sendiri,
Atau kalau nggak, ia akan memasang wajah marah, menangis, lalu teriak-teriak histeris memanggil nama istrinya. Dan baru akan tenang bila sudah disuntikkan obat penenang.
Orangtuanya tak sampai hati melihat penderitaan Anak laki-lakinya. Setiap meraung menangis, nyonya Tua akan ikut menangisi anaknya.
Teriakan yang sangat menyayat hati bagi yang mendengar dan melihat nya.
Rintihan tiap malamnya yang meminta pulang ke indonesia, ingin menemui istrinya, menemani wanita itu yang tengah terbaring koma sudah menjadi lagu kesedihan yang rutin mengalun di dalam ruangan itu.
Sampai pada bulan kedua terapinya, Bima merubah dirinya sendiri menjadi sosok lain. Dan orang tuanya mengira bahwa kondisi anaknya sudah lebih baik.
Sosok yang sudah bisa menerima keadaan dirinya, berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. Dengan semangat hidup yang baru Bima menyambut dunianya.
Menyambut kehadiran dirinya yang baru dengan pembawaan lebih tenang dan kalem.
sampai pada bulan ketiga, keluarganya memutuskan untuk membawa pulang ke indonesia. Ke rumah lamanya. -Tidak di apartemennya-
Dan masalah baru muncul.
Bima kembali dengan sosok lain dalam dirinya.
***
Siang itu di rumah sakit, Dokter Wisnu masih dengan kesibukannya.
Begitu juga Firman yang tengah sibuk dengan beberapa pasien laki-lakinya.
Seperti tak mau kalah dengan petugas lainnya, Perawat yang satu itu pun tengah disibukkan dengan pasien wanitanya. Namun ia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk pasien spesialnya. Yap! Seorang wanita yang sudah tiga bulan terbaring koma.
Jadwal rutinan Mbak Ida setiap siang adalah mengunjungi pasien tersebut.
Mengajaknya bicara, sesekali membacakan ayat-ayat dari kitab sucinya. Ia merasa iba, selama perempuan itu terbaring diranjang itu, hanya tiga kali orang tuanya menengoknya. Selebihnya seperti sengaja membiarkannya begitu saja.
Mungkin sebenarnya keluarganya pun telah putus harapan, atau mungkin karena rasa malu yang ditanggungnya akibat perbuatan anaknya.
Entahlah, yang jelas Suster Ida bersimpati padanya. Terlepas dari pemberitaan siapa sosok wanita itu.
Suster itu menghela nafas.
Betapa ia juga sangat merindukan dokter kesayangannya. Keceriaannya, dan keramah-tamahannya.
Dimanapun keberadaannya Semoga baik-baik saja. Dan bayinya pasti sudah lahir, bahkan sudah bisa menikmati indahnya senja. Perawat itu kemudian tersenyum mengenang dokter kesayangannya itu sambil kembali menatap wanita lemah tak berdaya di depannya dengan kepala plontos berbalut kain perban lengkap dengan bantuan alat pernafasan.
Kasian. Dan bolehkah aku menyebutnya karma. Jika benar pemberitaan itu.
Gosip yang beredar di kalangan perawat menyebutkan bahwa wanita yang tengah koma itu adalah simpanan suami dr. Anin.
Mereka berz*na hingga si wanita itu hamil. Dan malam itu mereka tengah bersama pada saat mengalami kecelakaan.
Belum lagi suster Ida sempat membaca sekilas postingan pemberitaan di Lambe Julid. Dengan tulisan caption menggunakan huruf kapital dengan ragusan nwtizen yang berkomentar.
PENGUSAHA MUDA INISIAL "BA" PUTRA DARI BAPAK "B" MENGALAMI KECELAKAAN SEMALAM BERSAMA 'WIL' YANG DIKETAHUI TENGAH BERBADAN DUA.
*Yuhu~~~ada yang kenal saposee indang?? Itu loh, si ganteng yang merit sama dokter. Si ganteng uuch, uchh, yang udah bikin mimin terpotex, potex. Eh, ternyata doi nggak setia yessss!!!
Dimana mana pelakor memang laris manisszz ya kaannn...!!??
#miminpolos
#jekrekhangpongcanggih
*Mohon maaf Foto di samarkan*
Namun beberapa jam kemudian postingan tersebut hilang dari peredaran. Dan suster Ida tidak pernah menyangka kalau Inisial tersebut adalah Bima suaminya dokter Anin.
Baru setelah ada pasien pindahan dari rumah sakit X dengan inisial "BK" dia baru menyadari, bahwa gosip adalah fakta yang tertunda. Dan ia juga mengenali pasien itu.
Dan seketika itu, rumah sakit ramai membicarakan hilangnya dokter Anin, mengutuk Bima dan menyumpah serta mengumpat selingkuhannya itu.
Mungkin hanya beberapa yang merasa iba. Diantaranya suster Ida.
Malang tak dapat ditolak, untung tak juga diraih. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dan masih banyak lagi pepatah yang pas untuk kondisi Bintang Kartika saat ini.
Mungkin itu sebabnya ia koma sangat lama dan tak sadarkan diri. Sebeb Seratus doa melawan seribu sumpah.
Bahkan orang-orang banyak yang berpendapat, bahwa apa yang dialami Bintang Kartika adalah karma atas perbuatannya.
Mirisnya lagi, saat kondisi seperti itu pun, tak ada seseorang disampingnya. Entah dimana keluarganya.
Suster Ida terkadang meneteskan air mata, melihat penderitaan Bintang dan seolah ikut merasakan betapa kesepiannya wanita tersebut.
Sampai pada suatu siang, saat dirinya seperti biasa akan menjenguk Pasien atas nama "BintangKartika" dia menemukan seorang pria dengan perawakan tegap sedang memunggunginya.
Siapa pikirnya.
Baru kemudian suster itu mengenali sosok pria tersebut yang adalah Bima. Dan...
Astaga!! Sedang apa laki-laki itu? Dengan muka datar tanpa ekspresi, tapi matanya menitikkan air mata dengan mulutnya bergumam memanggil nama istrinya.
"Anin, sayang, istriku...maaf baru sempat menjengukmu, tapi saya berjanji mulai sekarang akan lebih sering berkunjung untuk menemanimu." Pria itu mencium kening Bintang.
__ADS_1
Mbak Ida membekap mulutnya, agar tak keluar suara isak tangis. Kata yang didengarnya sungguh menyayat hati dan merobek pendengarannya. Sedih campur haru yang dirasakan wanita itu.
"Apa kau tahu, Sayang, Papa sama Mama melarangku menjengukmu, jadi untuk saat ini aku tak bisa lama-lama. Tapi aku janji besok aku akan kembali. Sekarang aku harus kembali ke kantor dan Aku juga akan mencari anak kita yang hilang!"
Merasa tak tahan lagi, Suster itu pun memilih menyingkir. Dan memilih kamar mandi sebagai tempat berbagi air matanya.
Setelah selesai dan berhasil mengurus dirinya, Perawat itu segera mengabarkan perihal keanehan suami dokter Anin kepada dokter Wisnu.
Kenapa dokter Wisnu?
Yaa karena beliau lah yang paling dekat dengan Anin.
"Kita pantau saja dulu, Sus. Besok coba saya konsulkan ke dokter Singgih." jawab dokter Wisnu waktu itu.
Semejak siang itu Bima menjalani hari-hari nya dalam diam, kesepian, -Mungkin- merasakan penyesalan yang teramat dalam. Namun sayangnya semua rasa itu dialamatkan pada orang yang salah.
Bolak balik ke rumah sakit kini jadi kebiasaan Bima di waktu pagi sebelum ke kantor dan malam setelah pulang ngantor. Untuk sekedar melihat, atau menyapa sebentar lalu pergi. Malamnya kembali lagi untuk mengobrol lirih sebentar sebelum ia pulang ke rumah.
Nyonya Tua yang dikabari oleh dokter Wisnu perihal keanehan anaknya sampai harus menetap sementara di Jakarta untuk menunggui anaknya.
Dan memaksanya kembali ke singapura sudah sangat sulit.
Akhirnya berdasarkan saran dokter singgih dan juga demi kebahagian anaknya, mama tua itu ikut bersandiwara dengan terus berusaha pelan-pelan mengajari anaknya agar ingatannya kembali.
Karena ia ingat saat itu, dokter di singapura pun mendiagnosa bahwa ada kecenderungan Bima mengalami orientasi menyimpang pada rasa sakit di sekelilingnya yang justru menikmatinya. Serta pembawaan dirinya yang cepat berubah adalah indikasi / gejala awal gangguan Bipolar. Sisi lain akan muncul untuk menutupi dan menjadi semakin parah bila dirinya / salah satunya mengalami ancaman / bahaya atau rasa sakit yang tak mampu lagi ia tahan. Begitu kurang lebih penjelasan dokter yang sudah disederhanakan agar dapat dipahami oleh orang awam.
Sehingga hal pertama yang harus di lakukan orang di sekelilingnya adalah agar tidak membuat sisi jahat ataupun terburuknya keluar. Karena bila hal itu terjadi, bukan tidak mungkin ia akan menyiksa siapa saja. Termasuk dirinya sendiri.
"Untuk saat ini kita ikuti saja skenarionya, Bu. Sambil kita terus berusaha dan berdoa untuk kesembuhannya." Ucap dokter Wisnu tatkala nyonya Tua mengadukan perkembangan anaknya yang semakin hari semakin menyakitkan untuk di lihat.
Rasanya tak cukup lima bulan Tuhan menyiksa laki-laki itu dengan segala penderitaannya.
Ingatan yang salah. Penyesalan yang keliru, sampai pada saatnya ia harus memutuskan pilihan apa yang terbaik untuk wanita itu.
Apa rasanya, bila dengan tangannya sendiri ia memutuskan untuk mengakhiri hidup kekasih hatinya, cintanya.
Hanya Bima yang tahu rasanya.
Seperti apa rasanya mengakhiri kehidupan orang yang dikasihinya dengan segenap jiwa raganya.
Lalu rasa bersalah seperti apa yang akan ditanggungnya seumur hidupnya?
Lagi-lagi hanya pria itu yang akan merasakannya. Karena dia yang harus memutuskan untuk menyudahi hidup wanita itu atau membiarkannya dengan segala penderitaannya terbaring koma.
5 bulan berlalu...
Wanita itu masih terbujur kaku di rumah sakit dalam keadaan koma. Seluruh organ vital di tubuhnya sudah tidak berfungsi lagi. Hanya mesin respirator yang masih membuat dia bernafas.
"Cuma keajaiban yang dapat membangunkannya kembali," gumam Wisnu Putus asa. "Walaupun ia sadar, mungkin cuma akan menjadi seonggok mayat hidup."
Setiap kali termenung di depan pembaringan itu, menunggu dengan sia–sia kalau-kalau matanya akan terbuka kembali, setiap kali itu pula batin Bima berperang.
Masih berfungsikah otaknya setelah berada dalam keadaan koma selama ini?
Bima benar-benar bingung. Semua ini karena kesalahannya.
Dengan penuh simpati, Wisnu menepuk bahu suami sahabatnya itu dan meninggalkan kamar itu.
Tak sampai hati melihatnya.
Wisnu meninggalkan Bima hanya berdua saja di dalam ruangan hening yang mencekam dengan suara desah nafas berat yang mengisi kesunyian itu.
Lama Bima menatap wanita itu. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terakhir ini, Dia menyadari betapa sangat cantik wanita ini sebenarnya.
Dalam tidurnya yang lelap wajah itu tampak demikian bersih, demikian tenang, demikian damai. Seakan-akan ia tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati kekasihnya.
"Maafkan saya," Bima mengecup bibir wanita itu dengan penuh kasih sayang. Bibir itu terasa dingin dan begitu asing. "Takkan kubiarkan kau menderita lagi." gumamnya.
Prosedur euthanasia pun di tanda tangani Bima dengan berat hati.
Bukan hati ini tak sakit dan bukan pula tak hancur apalagi tak perih. Namun hanya ini jalan satu-satunya untuk membebaskan dan memudahkan langkahnya menuju surga.
Semua pertolongan darurat itu pun akhirnya dihentikan dan membiarkan wanita itu berlalu dengan damai.
Tak apa, bila keluargamu menyalahkanku, menghukumku. Aku memang pantas dihukum atas semua kesalahanku. Segala kesalahan yang kuperbuat sudah tak termaafkan.
Bima mencium sekali lagi gadis yang pernah dicintainya. Bibirnya masih melekat di atas bibir gadis itu ketika alat terakhir meninggalkan jasad wanita itu.
Terimakasih telah memberi warna di hidupku, serta mengajarkanku untuk berjuang dan bertahan.
Selamat tinggal, semoga kita dipertemukan pada sebentuk kebahagiaan yang lain.
Berbahagialah.....
Suatu hari nanti kamu akan mengerti
Kenapa aku memilih pergi
Daripada terus menanti
Sesuatu yang tidak pasti
Bukan aku tak mau
Untuk berjuang dan bertahan
Aku hanya tak sanggup
__ADS_1
Menatap
Untuk cintaku yang tak mampu ku miliki
Bila ada kesempatan sekali lagi
Akan ku pastikan, hatiku hanya memilihmu, hanya mencintaimu
Namun aku tak akan pernah menyesal
Dengan apa yang telah ku putuskan
Dan Ku pilih
Karena dalam cinta tak ada kata salah dan benar
Tak ada baik ataupun buruk
Satu Penyesalan terbesarku adalah aku berhutang maaf pada cintamu
Ternyata Sampai waktuku tiba...
Aku tak mampu lagi mengucapkannya.
-Maaf, aku.... meninggalkanmu seperti ini--
Aku pun tak menyangka
Kisah kita berakhir dengan cara seperti ini.
***
Pagi itu, Bima menerima kabar dari mulut Ibunya sendiri -sebab dari pihak keluarga Bintang telah menyerah-
Nonya tua sudah tak tahu lagi harus berbuat apa pada anaknya, sehingga dengan sengaja ia membuka kebenaran dengan harapan anaknya akan sadar.
Karena sebenarnya Nyonya tua itu sudah lelah, berbulan-bulan berdusta dan berpura-pura mengasihi wanita yang telah merusak anak dan anak menantunya. Wanita mana yang tahan. Seharusnya ia membenci bukan membelai sayang penuh kasih kepura-puraan.
"Seharusnya wanita itu sudah lama -Mati- karena ia sudah kehilangan harapan hidupnya. Dan wanita itu bukanlah Anin istrimu!!! Sadarlah, Dia hanya seorang wanita yang singgah dan memporak porandakan kebahagiaanmu. Anin istrimu masih belum ditemukan." ucap Ibunya waktu itu. Lalu kemudian wanita tua itu menyesal atas ucapannya.
Karena bukan kesadaran anaknya yang di dapat, justru ekspresi kesakitan anaknya yang ia terima. Rasa sesal pun datang pada akhirnya.
Ucapan yang adalah sebuah kebenaran itu telah mengguncang jiwa anaknya, sehingga semakin tenggelam Bima dalam kegelapan dan keterasingan dengan dirinya sendiri.
Bima semakin tidak mengenali dirinya!!
Hingga pada suatu pagi, Bima menemukan kertas bukti pembelian sebuah Apartemen atas nama Anindira Otis.
For whatt???
Ia pun iseng menanyakan pada Mbok Jum yang saat itu sedang mencuci piring.
Dengan polosnya simbok tua itu menjawab : Non Anin adalah orang sangat spesial, itulah kenapa dulu Kau memberinya itu."
Ucapan yang apa adanya sampai membuat rasa penasaran menguasai dirinya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk meninjau sendiri tempat itu.
Sesampainya disana, di ruangan yang masih sama persis seperti saat terakhir kali di tinggalkan Bima untuk mencari istrinya, tapi justru menemukan Bintang yang bersimbah darah.
Bayangan masa lalu berkelebat dalam pikiran Bima saat itu.
-------Dengan kaki terlipat Anin menikmati jus alpukatnya sembari menonton berita kegemarannya.
Senyum simpul khas miliknya, menyapa setiap mereka bertemu untuk makan bersama.
Kaos longgar dengan setelan celana pendek melekat di tubuhnya, dan tangannya yang tak lincah itu tengah membalik telur mata sapinya, atau mengaduk teh manis yang sangat kemanisan. Atau sedang mengolesi mentega pada roti yang akan dipanggilnya.
Kakinya yang bergerak-gerak kesana kemari di atas bed -mereka- ketika dirinya sedang asyik menelungkup sambil membaca buku-buku nya atau majalahnya.
Lalu kemudian ia akan menjahili istrinya itu, dengan mengejutkannya dari belakang.
Kemudian ia akan mendapat teriakan khas milih istrinya yang mampu mengundang gairah lelakinya.
Untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan dua orang dewasa ______
Bayang yang tak utuh itu terpotong.
Bima merasakan sakit yang sangat hebat di kepalanya ketika kejadian itu muncul.
Namun masih bisa di tahannya.
Ketika rasa nyerinya sedikit berkurang, Bima melanjutkan untuk menjelajah ruangan, menatap bingkai foto pernikahannya yang bersandar pada sebuah buffet.
Potret Anin yang sebesar layar TV 30 inch juga tak luput dari pantauan matanya, pigura itu masih tenang menggantung di salah satu dinding ruangan.
Sakit kepala itu datang lagi, saking sakitnya sampai Bima berteriak untuk menahannya.
Kejadian lain muncul lagi dengan utuh.
--------------Bima mulai mengayunkan tangannya.
Bunyi nyaring menggema tak ter elakkan ketika ikat pinggang itu menyentuh tubuh istrinya. 'Anin menerima cambukan pertamanya tepat mengenai lengan yang berusaha melindungi kepala dan perut nya serta mbok Jum yang berada dalam pelukannya.'
Dua....
Tiga...
Dan bayangan adegan kekerasan itu berakhir seiring hilangnya kesadaran laki-laki itu.
__ADS_1
Sadar-sadar ia telah di rumah sakit dengan ditunggui Ibunya.
***