Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Permainan 3


__ADS_3

Terus terang Bima tidak mengharap kan ada sambutan pagi di meja makan sesudah kejadian tadi malam. Anin pun pasti masih sakit hati.


Dan dia terpegun heran ketika melihat Anin sudah siap menemaninya sarapan pagi.


"Pagi," sapanya dengan suara ringan. Tubuhnya terasa segar dan bersemangat. Bima mengelilingi setengah meja dan menghampiri istrinya. Memegang bahunya dan membungkuk mengecup pipinya.


Anin tidak menyahut tidak juga menolak dan hanya membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja.


Bibirnya kelu untuk sekedar mengucapkan sepatah dua patah kata. Sekujur Tubuhnya terasa kaku untuk sekedar bergerak menghindar.


Kejadian semalam kembali terlintas dalam benak Anin dengan jelas. Bagaimana Suaminya memperlakukan dirinya, bagaimana suaminya memaksa kan kehendaknya, Dan bagaimana suaminya memohon, meminta maaf kepada nya.


Kalau diperbolehkan, Anin ingin sekali lagi menangis untuk saat ini. Menguras sisa air mata semalam hingga habis, dan berharap dapat melupakan penghinaan itu. Namun mengingat hari ini dia harus ke rumah sakit, maka ia urungkan niat hatinya, berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh. Bahkan, malam itu, tanpa sengaja Anin, melihat pesan yang muncul pada layar ponsel suaminya.


Dan Bima masih saja membalas pesan wanita itu dengan mesra setelah dia memohon meminta maaf


Entah apalagi yang mereka rencanakan..


Anin sendiri heran. Maaf untuk yang mana, sebenarnya?? Untuk memperkosa dirinya, atau untuk pengkhianatannya!! lalu apa arti kata maaf dan janji itu sendiri?! 


Barangkali Anin memang perlu untuk menegur suami dan wanita itu. Kalau perlu Melemparinya dengan telur busuk, supaya dia paham betapa busuknya kelakuan mereka.


Dan dalam kegamangan hati antara sebenarnya yang mana suaminya, apakah yang dulu begitu manis ataukah yang sekarang dengan ketidaksetiaan beserta keegoisannya.


Anin ingin sekali mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang menurutnya tidak sehat ini. Namun bagaimana dengan keluarga besarnya! Papahnya?!


Kalaupun akhirnya nanti mereka akan benar-benar berpisah, Anin telah berucap bahwa dia sama sekali tidak menyesali mencintai suaminya.


Anin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat, berharap dengan melakukan itu sedikit banyak dapat mengurangi kesakitan di hatinya.


***


"Lekas Dimakan! mana kenyang perutmu, kalau cuma di pelototi." Bima bersuara, menegur Anin yang sedari tadi hanya bengong di depan sarapan yang dibuat oleh mbok Jum itu.


Anin hilang selera namun Ia paksakan juga memasukan sesuap nasi goreng tanpa rasa itu. Yang tentu saja hanya menurut Anin. Padahal Mbok Jum membuat nasi goreng itu begitu enak dan spesial karena tuan nyonya nya semalam pulang dan tidur dalam satu ruang dengan damai. Dan itulah yang dipikirkan simbok sepuh itu saat merencanakan membuat sarapan pagi.


***


Anin mengendarai sedan merahnya dengan ketidakpastian arah tujuan. Rasanya ia ingin melarikan mobilnya itu ke rumahnya. Dan tidak ingin bertemu dengan pasien-pasiennya.


Setelah ambil arah dan hendak masuk ruas toll, menit berikutnya Anin memutuskan untuk memutar kemudinya dan berbalik arah, mengurungkan niatnya untuk menemui ibunya.


Gila pikirnya, Melarikan masalahnya pada orangtuanya. Bagaimanapun Dia sudah berumah tangga. Apapun masalahnya harus diselesaikan tanpa membawa-bawa orang tua.


Dan akhirnya, disinilah Anin. Duduk di belakang meja kerjanya. Mengecek kemajuan para pasiennya lewat rekam medis pasien-pasiennya. Dan Anin tidak menemukan RM atas nama Sintya. Sudah pulangkah??


Suster Ida mengamati perubahan mimic wajah dokter mudanya itu. Yang tiba-tiba berkerut kening. "Kenapa, Dok?" Tanya suster Ida.


Anin mengangkat kepalanya lalu menoleh. "Nggak. Nggak apa-apa, Mbak," jawab Anin ramah,lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dan siangnya saat melakukan visit, ternyata benar. Pasien atas nama Sintya telah pulang.


"Sudah pulang kemarin lepas maghrib dok," Lapor suster Ida tanpa repot-repot Anin menanyakan nya.


"Baguslah kalau begitu, jadi saya segera kembali ke tempat yang lama."


"Lho, dokter Anin tidak membaca memo yang saya taruh di meja?" tanya Suster Ida heran.


"Memo apa?"


"Internal memo, untuk dokter Anin dari management."


"Ahh, Mungkin saya terlewat." Ucap Anin mengulum senyum. "Memang soal apa, mbak?"


"Itu, memo tugas dokter yang baru. Dan dokter jangan merasa bosan dengan saya untuk beberapa waktu kedepan." Terang suster Ida singkat disertai seringai nakal.


Anin membulatkan pandangannya tak percaya lalu tersenyum getir.


"Kenapa?? Dokter tidak suka ya?" ada nada sedih dalam ucapan suster Ida. Padahal suster Ida sangat senang bekerja sama dengan dokter Anin. Selain pintar beliau juga cekatan serta ramah pada siapapun.


"Bukan seperti itu, hanya saja saya butuh waktu untuk menyibukkan diri. Dan di tempat mbak Ida ini saya sama sekali tidak menggunakan ilmuku." Ucap Anin lemas.

__ADS_1


***


Sore itu Anin berpapasan dengan Indra di pintu utama ketika dirinya hendak meninggalkan rumah sakit. Ingin sekali Anin berpura-pura tidak mengenalnya ketika Indra justru memanggil namanya dan menghampirinya. Dan sudah terlambat untuk menghindarinya.


"Dokter, cepat sekali jalanmu." Ucap Indrs terengah.


"Maaf, Ada perlu apa? saya terbur -buru."


"Bolehkah saya menagih janjimu sekarang. Dan sepertinya sudah tidak ada kegiatan pasien yang mengganggu."


Anin terdiam sejenak dan oh shit!! Janji kencan itu??


"Dokter..??"


"____"


"Dokter Anin, hello..." Indra mengibas-ibaskan jari tangannya di depan wajah Anin. Berharap mendapatkan perhatian dokter cantik itu.


"Oh, ya. Sorry saya tidak bisa. Tolong lain kali saja." jawab Anin cepat-cepat.


"Kalau begitu, apa boleh ditukar dengan secangkir cappucino di kedai depan itu?? Karena saya yakin dokter tidak akan pernah menepati janji yang dokter buat sendiri." Indra tersenyum masam. "Dan saya juga tidak ingin mendapat masalah karena membawa kencan isteri orang."


Anin berpikir sejenak. Dan dia memutuskan untuk menerima tawaran Indra 


Apa salahnya kan? Daripada harus di ganggu-ganggu terus oleh setan satu ini. Toh hanya sebentar. Mungkin ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikannya. "Baiklah."


"Kalau begitu, mari silahkan dokter jalan terlebih dulu." Pinta Indra dengan suka cita.


***


Bima menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil merah yang ia kenal siapa pemakainya. Karena Dia memarkirkan sedannya di tempat parkir khusus untuk para dokter. Sambil bersiul mengikuti nada salah satu lagunya clean Bandit, Bima bergegas keluar dari mobilnya.


Betapa bahagianya suasana hatinya hari ini. Tepatnya sejak pagi tadi dan dimata Bima istrinya terlihat lebih cantik dari biasanya, walaupun dalam kondisi yang -mungkin- sedang marah padanya.


Dan sore ini ia putuskan untuk menjemput istrinya lalu mengajaknya candle light dinner, di sebuah resto jepang yang sebelumnya sudah di booking. Kejutan sekaligus berharap semoga Anin dapat memaafkannya dan hubungannya dengan istrinya kembali membaik.


Semoga!!


Namun ketika Bima tidak menemukan istrinya di tempat yang dicari dan justru mendapati Anin sedang berjalan dan berakhir pada sebuah kedai kopi di seberang rumah sakit dengan seorang laki-laki yang belum dikenal Bima.


Tanpa sadar Bima mengepalkan tangannya dan menunjukkannya ke udara. 


***


Di tengah - tengah kemacetan ibu kota, Anin terjebak diantara ribuan -mungkin- puluhan ribuan kendaraan lainnya. Apalagi pada jam-jam kritis seperti ini. Alhasil Anin hanya mampu memacu kendaraannya dengan kecepatan yang alakadarnya.


Untung bayang ilusi-nya Anggun c sasmi selalu setia menemani tanpa pernah protes kelelahan karena entah sudah berapa kali lagu itu berputar berulang-ulang.


Pukul setengah sepuluh Anin akhirnya sampai di apartemen. Dan suaminya telah siap siaga di ruang tamu bagai pak polisi yang siap menginterogasi tawanannya.


Namun Anin enggan untuk beramah-tamah pada suaminya. Sehingga dia melewatinya begitu saja dan langsung menuju kamarnya. -kamar mereka-


Bahkan Sakitnya pun belum hilang!!


Dan apa yang Anin lakukan itu membuat Bima semakin kesal serta emosi.


Bima menarik tangan Anin Ketika mereka sama-sama telah sampai di dalam ruangan.


"Darimana saja? Jam segini baru sampai?" Tanya Bima.


"Mas kan tahu, Jakarta macet." Jawab Anin asal dengan menghentakkan genggaman tangan suaminya. Don't touch me!


Kau berdusta, hah!! "Saya sudah sangat lapar, bisakah kita makan dulu?!" Ucap Bima lemah.


"Kamu makan duluan saja, badan saya sangat kotor, dan ingin segera mandi."


Anin meletakan tas dan jas putihnya pada sebuah meja di salah satu sudut kamarnya lalu melangkahkan kakinya hendak mengambil pakaian bersih sebelum akhirnya berpindah ke kamar mandi.


Namun Anin kalah cepat dengan benda berbahan dari kaca yang sudah sampai terlebih dulu menghantam pintu ruangan yang juga terbuat dari kaca, yang jadi tujuan Anin.


Praaang!!!

__ADS_1


Dan Serpihan pecahannya berhamburan ke segala arah. Selanjutnya aroma khas yang dikenalnya juga ikut menyebar keseluruh ruangan tak terkecuali rongga hidungnya.


Anin berusaha melindungi wajahnya dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Kalau saja lemparan itu meleset sedikit saja maka wajah Anin atau kepalanya yang akan….


Ya tuhan!!! Tubuh Anin lalu bergetar hebat namun tidak ada ketakutan dalam dirinya.


Bahkan TV plasma itu saja belum sempat diganti dan ini Parfum kesayanganku!! Pintu kamar mandi??


Besok apalagi?!


"SAYA BILANG, SAYA LAPAR!! TEMANI SAYA MAKAN SEKARANG!!" Detik berikutnya Bima menyeret istrinya menuju ke meja makan dan mendudukkannya di salah satu kursi. Dan sejauh ini Anin hanya mengikuti perintah suaminya.


Bahkan mbok Jum saja takut-takut menyajikan minumannya. Barangkali mbok Jum sudah mengetahui tabiat majikan laki-lakinya jika sedang marah. Dan setelahnya entah kemana mbok Jum menghilang.


 


***


Sebentar-sebentar Bima melirik istrinya yang duduk di depannya dengan tanpa ekspresi muka. Tatapannya kosong dan begitu dingin. Bahkan Bima sempat menduga-duga apa gerangan yang sedang dipikirkan istrinya itu.


Apakah laki-laki itu?? Siapa dia?? Ingin rasanya Bima menanyakannya, Namun ia sadar, Istrinya mungkin masih marah padanya. 


.


.


.


Anin tidak tahu apakah ini yang disebut mabuk atau bukan. Dia belum pernah mencicipi minuman seperti itu. Dan seharusnya Bima juga tahu wanita seperti Anin apalagi dia sangat menjaga kesehatan nya tidak meminum alkohol.


Ketika beranjak dari kursinya, Anin merasa lantai yang diinjaknya seperti miring. Tidak rata, sehingga dia sempoyongan hampir jatuh. Bima lah yang buru-buru merangkulnya dan tidak dilepaskannya lagi rangkulannya sampai di di atas tempat tidur.


Anin tidak kuat lagi mengangkat kepalanya. Dia tidak mampu mencegah tubuhnya terkulai dalam pelukan suaminya.


Rasanya aneh sekali. Ringan dan sedikit melayang tapi hangat.


Telinganya masih dapat mendengar bisikan-bisikan mesra suaminya tapi Anin tidak ingat lagi apa yang dibisikannnya.


Bima membaringkan tubuh Anin dengan lembut diatas tempat tidur. Melepaskan baju yang menutupi tubuhnya.


Mula-mula Anin tidak melawan. Dia merasa lemah sekali. Dan dibiarkannya saja suaminya melepaskannya. Namun ketika suaminya mulai bergerak melepaskan kaos dalamnya serentak Anin menepiskan tangannya.


"Jangan mas..." pintanya lemah.


Tapi suara Anin sayup-sayup lenyap ditelan desah nafas Bima.


Sambil mendekap erat tubuh istrinya, Bima memagut bibirnya dan bukan hanya mencium, Bima memainkan bibir istrinya sampai gadis itu bersimfoni abstrak tanpa nada.


"Saya mencintaimu, Nin," bisik Bima tersengal. "Tak akan kubiarkan laki-laki lain sudi mendekatimu, kamu milikku." Tambahnya dalam balutan gejolak nafsu.


Anin begitu menawan dan tubuhnya begitu memikat menggeliat dalam kepolosan. Bima tidak dapat menahan dirinya lagi. Persetan!!


Bima mulai menjelajahi titik sensitif pada tubuh istrinya dan dengan sengaja meninggalkan bekas-bekas abstrak.


Ketika dengan ganas Bima menyesap leher sebelah kirinya, Anin mendesis panik.


"Jangan mas!!"


Dengan putus asa Anin berusaha mengelak, meronta menggerak-gerakkan kepalanya ke kanan, ke kiri.


Namun sia-sia melawan laki-laki dalam kondisi seperti ini.


Dengan tergesa-gesa Bima melepaskan pakaiannya sendiri lalu menyingkirkan pakaian yang masih tersisa pada tubuh istrinya.


Anin mengaduh kesakitan ketika Bima memasuki dirinya lagi dan mulai bergerak cepat tak beraturan.


Dan air matanya kembali membasahi sebagian pipinya.


Dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau menghukumku sedemikian berat, tuhan?!

__ADS_1


 


****


__ADS_2