
Pagi itu Anin mampir kerumah untuk sekedar menukar baju, Sekilas Anin Melihat kondisi tempat tidur yang masih rapih. Tidak pulang lagi!
Dan kemudian berangkat lagi ke rumah sakit setelah menitipkan sebuah pesan pada mbok Jum untuk suaminya
***
Entah karena terlalu berkonsentrasi melihat layar ponselnya atau karena kurang minum aQua, Jeruk yang ia kupas justru ia buang, dan kulitnya hampir ia makan kalau saja suster ida tidak datang tepat waktu.
"Ya ampun, Dok!! Diet sih diet tapi-tapi jangan makan kulit jeruk juga dong??" teriak suster Ida.
Anin terkaget. Menoleh pada tangannya lalu tersenyum salah tingkah.
"Lihatin apa sih dok?" tanya suster ida penasaran.
"Ah, enggak! ini lagi baca artikel tentang pers____" Anin tak jadi melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
"Pers----???" Suster Ida melebarkan matanya terkejut. "Perselingkuhan?!"
Anin tersenyum yang terkesan dipaksakan. "Hahaha, ini gosip- artis."
Suster ida mengerutkan dahinya heran. "dokter suka gosip juga ternyata."
Lalu keduanya saling berbalas senyuman.
Menit berikutnya, setelah Anin menghubungi Mika untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Walaupun Sampai saat ini Anin masih kepikiran bagaimana dengan sahabatnya.
Semalaman Dia menangis dan terlihat sangat syok, bagai hidup segan mati pun tak mau.
Namun pagi–pagi tadi Mika bertingkah wajar. Dan seolah tidak terjadi apa-apa. Dan justru hal itulah yang membuat Anin gelisah. Takut sahabat gilanya itu benar–benar gila.
Dan dengan sangat terpaksa, Anin harus meninggalkan Mika sendirian di apartemen miliknya itu. Dan hari ini dia belum melihat batang hidungnya di rumah sakit sejak pagi.
Anin kembali mencoba menghubungi suaminya untuk yang ke tak terhitung kali. Namun sia-sia pula usaha yang –entah yang keberapa kal – ini.
Akhirnya dia pun inisiatif kirim pesan yang sama dengan yang ia tulis lalu dia titipkan ke mbok jum.
Ketika Anin sedang duduk di belakang mejanya, dan sedang melengkapi status pasien-pasien nya, Tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dulu.
"Mau apa kesini?!" ucap Anin spontanitas setelah melihat siapa yang mengunjunginya dan tubuhnya seketika dalam mode siap siaga.
"Wow!" ucap Indra tanpa menghiraukan apa yang baru saja di dengarnya. "Begitukah sambutan seorang dokter pada -bekas- Pasiennya?!" Imbuhnya lagi.
__ADS_1
Entah mengapa Anin merasa perlu membetulkan posisi duduknya. "Ada perlu apa, sampai Anda kesini? Kalau ada yang mau ditanyakan sebentar lagi saya akan visit pasien." Ucap Anin tanpa mampu menatap mata lawan bicaranya dan berpura-pura melanjutkan menulis statusnya.
"Saya perlu konsultasi secara pribadi dengan anda, Dokter." Jawab Indra singkat. Tanpa menunggu perintah, Indra duduk di depan dokter muda yang masih saja terlihat cantik itu menurut Indra.
Dengan gugup dan terpaksa Anin menerima lelaki itu.
Harumnya lotion beraroma tembakau yang berbaur dengan eau de toiletnya yang menebarkan wangi rempah-rempah, menyiratkan kesan maskulin yang menyergap hidungnya. Membangkitkan sensasi aneh di hatinya dan membuatnya melayang.
Dan ketika kesadarannya kembali, sekilas Anib seperti melihat senyum tipis membayang di bibir laki–laki itu. Membuat pipinya merona.
Buru–buru Anin menunduk dan menyembunyikan wajahnya pada tumpukan rekam medik pasien. Dan untungnya, Dia dapat mengangkat salah satunya dan berpura-pura sibuk membacanya. "Konsultasi mengenai apa?" Tanya Anin yang dibuat sealami mungkin.
Sekali lagi mata mereka bertemu. Tetapi kali ini, Indra menatap Anin dengan lebih lembut dan sekali lagi listrik itu menyengat. Kali ini arusnya jauh lebih kuat sampai menggetarkan tangan Anin.
"Kalau kali ini dokter menolak lagi, saya marah!!"
Anin tertegun. Bukan karena kata-kata itu sendiri melainkan karena ajakan laki-laki di depannya. Apa dia sinting?
Setelah apa yang pernah dia lakukan dimasa lalu? Setelah mengetahui statusku dia masih saja berusaha!! Luarbiasa!!.
Tak jauh dari sudut pintu. Dokter Firman sedang mengawasi keduanya. Dengan perasaan tidak senang. Tetapi dia tidak mampu berbuat apa-apa. kecuali menguntit.
***
Setelah pagi tadi Bima berusaha menghubungi istrinya namun gagal dan lalu berhenti melakukan tingkah konyolnya, karena dia tersadar apa yang telah dilakukannya pada ponsel istrinya itu. Bima lupa bahwa ponsel istrinya rusak. Tolol! Sekarang dia menerima sebuah pesan! Anugerah ini!!
Bima mengernyit ketika membuka pesan dari pengirim yang tak bertuan itu. Namun ia menebak dengan tepat. Bahwa itu dari Anin. Dengan nomor baru. Dan buru–buru dia membalas pesan tersebut. Lalu mengirimnya.
Aku akan pulang!! Tunggulah dan jangan keluyuran macam jalang yang tak bertuan.
Kemudian Bima tersenyum setelah mengirim pesan itu pada istrinya. Kali ini Bima telah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.
Dan Malam nanti akan Ia tunjukan pada istrinya, bahwa dia laki-laki sejati, dan hanya dia yang boleh menyentuhnya.
Hanya saya Suaminya!!
***
Malam itu, Bima menepati janjinya, dia pulang dan tidak pergi lagi. Karena memang dia sudah punya rencana.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap Bima kemudian setelah beberapa saat dalam situasi awkward dalam kamarnya.
__ADS_1
Anin mendengus kesal. Suaminya itu, bahkan tidak meminta maaf setelah mengatai istrinya sendiri dalam pesannya.
"Mau sampai kapan kamu berlaku seperti ini?" ucap Anin menahan tangisnya. Jangan nangis, jangan. Jangan sampai please.
"Kamu tahu? sikapmu itu menyakitiku dengan sangat. Apa sebenarnya salahku, hingga mas tega berbuat sedemikian kotor." Ucap Anin seraya menggigit bibir bawahnya dalam usaha menahan tangis.
"Kotor?!" Dengus Bima pada kekesalannya.
Kau bilang kotor? Lalu apa sebutannya seorang istri yang berbuat mesum dengan laki-laki lain di tempat kerjanya?! Apakah untuk ajang balas dendam karena kesalahanku berbohong malam itu? Atau untuk mencari kepuasan karena suaminya tidak mampu memuaskannya. Dalam keputusasaan karena rasa bersalah atas kejadian yang tidak disengaja, sebagai istri kau malah lari ke pelukan laki-laki lain. Ucapnya yang hanya dalam otaknya itu.
Tanpa sepengetahuan Anin, Bima melakukan konseling, dan terapi pada seorang dokter kenalannya. Padahal Anin pernah menawarkan untuk mengajaknya memeriksakan dirinya, namun ditolak mentah-mentah oleh Bima.
Akibat rasa bersalahnya, pedang arturnya –bos kecilnya- selalu tertidur, bahkan sangat nyenyak ketika berhadapan dengan istrinya. Dan itu, perlu ditangani dengan segera. Jangan ditunda-tunda. Serta selesaikan faktor penyebab nya. Namun Bima terlalu takut untuk mengakui kesalahannya sendiri. Terlalu malu untuk mengakui kelemahannya saat itu.
Dan Waktu itu, Bima mendapat kiriman Video tanpa suara berdurasi singkat. Walaupun video dalam kondisi minim cahaya, Namun Bima dapat meneliti wanita dalam video itu adalah istrinya. Yang sedang beradegan intim. –seorang pria sedang menciumi leher istrinya dengan tangannya berada pada bagian kesukaan Bima -Dada istrinya- dan seorang laki-laki itu yang tidak lebih tampan darinya.
Membayangkannya saja Bima merasa amat sangat marah.
Yang Bima tidak tahu adalah, bahwa kejadian itu sudah lama terjadi, sebelum mereka menikah. Dan yang Bima tidak tahu, bahwa itu bukan adegan intim mesra seperti bayangannya, seperti yang terlihat. Melainkan tindakan pelecehan yang diterima oleh Anin.
"Mas!!" Panggil Anin, membuyarkan lamunan suaminya.
"...kau ingin tahu, apa kesalahanmu. Hah!!" kemudian Bima berdiri dan menarik wajah-dagu Anin menggunakan satu tangannya dengan kasar.
Lalu memaksa Anin menerima ciumannya. Bima tidak bisa mengontrol emosinya lebih lanjut lagi. Istrinya bukan hanya membuatnya marah besar, tapi juga kehilangan harga dirinya sebagai laki-laki.
Anin meronta. Wajahnya memerah menahan amarah. Belum sempat ia mengucapkan sesuatu untuk mencegah suaminya melakukan lebih jauh, Bima telah bergerak jauh lebih cepat. Dan menempatkan dirinya diatasnya. Melucuti istrinya.
Tanpa memberi aba-aba, ataupun berbasa-basi Bima menghujamkan miliknya dengan kasar dan cepat.
Anin terhenyak. Jeritannya meluncur keluar tanpa suara, beriringan dengan air matanya yang jatuh tanpa diminta. Ia memejamkan mata ketika rasa sakit itu menghampirinya seperti pisau bedah mengiris kulitnya.
Demi tuhan! izinkan aku membenci pria ini dengan segenap ragaku!
Anin memukul dan mendorong tubuh Bima. "Dan kau memperkosa istri sendiri, Suami macam apa kau ini!!!?" Ucap Anin bergemeletuk menahan kemarahan serta rasa sakit dan tangis secara bersamaan.
Bima menepis kedua tangan istrinya. Dan terus bergerak. Tanpa memperdulikan kesakitan Anin.
Anin menahan nafas dan menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mencari rasa sakit yang lain yang dapat mengalahkan rasa sakit tersebut. Namun entah Rasa sakit mana yang ingin Anin kalahkan. Sakit diperlakukan sedemikian rendah oleh suaminya sendiri. Atau sakit yang ditimbulkan oleh aktivitas Bima. Saking kuatnya hingga rasa asin darah ia rasakan.
Anin memalingkan wajahnya ke samping. Dan kembali menutup rapat-rapat matanya sekali lagi yang tak henti-henti nya mengeluarkan air mata itu, Namun Bima masih saja bergerak brutal di dalam dirinya. Sama sekali tidak peduli padanya.
__ADS_1
Nafas Bima memburu dan terasa sampai ke leher Anin, seiring semakin tak terkendali gerakannya. Dan rasa sakit yang Anin terima semakin bertambah berkali-kali lipat merajah tubuhnya.
***