
Adakah sakit selain sakit yang ku alami?
Adakah luka selain dari luka yang ku terima ?
Jika ada, katakan dimana? Aku ingin menukarnya, karena yang ini aku tak sanggup menanggungnya, tak mampu mengobatinya.
Apa sebenarnya rencanamu Tuhan...Setelah kau kirim orang selamatkan kehormatanku, Lalu kenapa kau utus malaikat maut untuk mencabut hati dan jiwaku.
Kenapa tidak dari awal saja kau utus malaikatmu mencabut nyawaku!!!! Aku marah padamu, Tuhan. Marah atas pertolonganmu. Aku benci diriku, Aku benci suamiku
Aku benci Perasaanku!!!!
Petama-tama Bima mengira, Dia akan melihat istrinya histeris, lalu kemudian akan mengumpat, memaki, memarahi, atau memukuli barangkali dan Bima pun sudah siap dengan segala resiko yang akan diterimanya asal jangan sampai istrinya meminta dirinya untuk memilih. Karena dia tak sanggup jika harus berpisah, tidak sanggup juga, jika harus mengabaikan tanggung jawabnya.
Sepuluh menit berlalu, Bima masih menunggu reaksinya.
Setengah jam terlewati, Namun yang ditunggu tak menunjukkan tanda-tanda akan bersuara atau apapun.
Satu Jam pertama terlewati, Bima mulai resah melihat Anin masih juga duduk dalam diam. Tidak bergerak tidak juga bersuara maupun mengeluarkan air matanya lagi.
Bima pun menyadari, sebesar apa luka yang telah ia berikan yang bisa saja menimbulkan trauma yang mendalam, belum lagi berita yang baru saja disampaikannya, Siapapun wanita yang mendengarkannya pasti sangat terpukul, Terguncang. Dan biasanya orang akan meluapkan kemarahannya, emosinya, serta kekesalannya. Sehingga akan lebih baik untuk dirinya.
Namun jika sampai Anin tak bereaksi, Justru inilah keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Sebab orang stress –bahkan Gila– adalah bentuk dari ketidak mampuan dirinya menerima keadaan, tidak mampu mengekspresikan apa yang dialami, jiwanya tidak mampu menopang, sehingga ber imbas pada kerja otak yang secara otomatis mencari solusi –(Salah satunya mengganti rasa sakit dengan cara mengalihkan ingatan atau menghapusnya, (Amnesia, stress berat, bahkan Gila).
"Sayang, katakanlah sesuatu... Jangan seperti ini?" Bima kian resah dengan sikap diam istrinya.
Bima menggunakan kedua tangannya meraih wajah dan menatap istrinya, "Kesalahanku memang tak termaafkan, Tapi Please, Anin... jangan diam seperti ini, Pukul saya, marahi saya, atau apapun terserah padamu! Katakanlah sesuatu?" Teriak Bima dengan harapan dapat menyadarkan wanita di hadapannya itu.
Bima tegugu, bersimpuh memohon ampun di hadapan istrinya, "Apa yang harus saya lakukan.... "
Tiba-tiba Anin bergerak dan mendorong dirinya menjauh dari jangkauan suaminya. "Ceraikan, Aku!!" ucapnya sedingin kutub utara.
Seperti baru di hantam palu godam besar yang tepat mengenai Kepalanya. Bima kaget, syok hingga tubuhnya terduduk lemas.
Jadi ini akhir dari semuanya.
Lalu seperti apa yang kau harapkan? Mendapatkan maaf lalu dengan kebodohannya menerimamu beserta kesalahanmu? Yang selamanya akan menyakitinya setiap kali melihat hasil karyamu!!!
Tidak bisakah aku mempertahankan keduanya?!
Apa yang kau harapkan dengan mempertahankan keduanya?
Akan ku buat mereka Bahagia.
Gila!
"Aku bukan wanita sebaik itu. Stop berpikir bahwa kamu bisa membuat kita bersatu!!"
"Please.. Please Anin, saya tahu, saya salah dan mungkin tak termaafkan. Tapi, setidaknya beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya." ucap Bima memohon. "A-aku,.. saya Janji, demi kita, Demi kedua orang tua kita... aku-a-akan --- Asal kita jangan pisah, Akan aku lakukan apapun."
"Seperti apa yang kamu maksud memperbaiki semuanya? Mengirim anak dan ibunya jauh dariku? Atau kau bermaksud-----" tiba-tiba Anin bergidik ngeri membayangkan apa yang akan Bima lakukan. – Aborsi-
"Tunggulah hingga dia lahir, saya akan melakukan tes- DNA padanya."
Anin memutar kedua bola matanya, jengah. tak habis pikir apa yang ada di kepala nya itu. Bisa-bisanya dia ragu dengan darah dagingnya sendiri. "Sebenarnya, apa isi kepalamu itu, Mas!"
"Karena aku tahu, dia bukan hanya tidur deng__." Ungkap Bima membela diri.
Ani memejam kuat-kuat, "STOP!" teriaknya. "Cukuup. Mari kita berpisah saja." Sambungnya pelan, kemudian pergi meninggalkan Bima dengan membawa lukanya yang kian menganga.
"Tapi, kenapa? Apa karena lelaki itu? Hingga tidak ada maaf lagi bagiku, tidak adakah kesempatan kedua bagiku?" teriak Bima Lalu, memukul lantai yang tak salah apa-apa.
Anin sedang mengemas pakaian di kamarnya dan memaksakan semuanya masuk ke dalam koper, ketika tiba-tiba Bima masuk dan mengunci pintu lalu melemparkan kunci itu, entah kemana.
Sedangkan kunci cadangan hanya Bima yang menyimpannya.
Anin melonjak kaget. Sengan jarinya reflek meraih botol parfum yang berada di dekatnya lalu mengarahkan pada suaminya.
Takkan ku biarkan kau menyentuhku, seujung kuku pun!!!
Bima melangkah semakin mendekat memangkas jarak diantara mereka.
"Lakukanlah, Jika itu bisa menebus semua dosa-dosaku. Lakukanlaah...."
"Jangan Mendekat..." Anin membenturkan botol itu pada dinding yang berada paling dekat dengannya, lalu mengarahkan lagi pada suaminya. "Aku bilang stop, Jangan mendekat!!" Teriak Anin.
__ADS_1
Tak kuasa melihat kejadian apa yang akan terjadi, dia memilih untuk memejamkan matanya.
Setelah tidak ada lagi jarak diantara mereka, Bima dapat melihat dengan jelas bahwa istrinya begitu gemetar ketakutan.
Bima merebut botol di tangannya lalu kemudian memeluk istri yang sebenarnya sangat ia rindukan dan semakin erat ketika dirasakan tubuh itu meronta. Isak tangis pun pecah dari keduanya dan hanya hati-lah yang mampu menerjemahkan nada tanpa kata itu.
aku yakin, masih ada maaf untukku, aku yakin kau mencintaiku sebesar cintaku padamu! Maafkan aku!
Tanpa sadar, Bima mulai menyusuri lekuk punggung istrinya ketika dirasanya tidak ada lagi perlawanan. Dengan jarinya ia mengusap lembut pinggang nan indah itu. Kemudian terus bergerak turun hingga tersentuh ujung T-shirt yang Anin kenakan. Pada saat yang bersamaan Bima mulai melekatkan bibirnya pada curuk leher wanita dalam pelukannya saat ini. Tak peduli aroma salep yang tertangkap hidungnya. Ia terus bergerak menyapu kulit leher Anin tanpa melewatkan sesenti pun.
Anin terlena dengan kenyamanan yang saat ini ia rasakan. Rasanya seperti sudah ber-abad tidak didapatkan. Hingga tanpa sadar ia mendesah. Menikmati perlakuan suaminya. Dan ia tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika ia tidak segera sadar dan menghentikan semua ini.
Seperti mendapat persetujuan, Bima pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya. Betapa ia sangat merindukan istrinya. Betapa ia sangat menginginkan istrinya.
Bima segera membopong tubuh Anin dan membawanya pada ranjang pengantinnya -dulu-.
Tidak ada suara, tidak ada permohonan, hanya tatapan mendamba.
Keduanya hanya saling berpandangan satu sama lain, menyuarakan perwakilan dari isi hati masing -masing.
Mulut bisa saja berdusta, tapi mata….dia akan bersaksi sebaliknya.
Dari situlah Anin tahu betapa suaminya mencintainya. Namun keputusan tetaplah harus diambil.
Akupun tak mungkin menunggu untuk sebuah pilihan! Karena aku bukan pilihan dan aku tidak bisa menerima karena ternyata ada sisi lain dari kita berdua.
Jika ini untuk yang terakhir kali, maka Malam ini, akan ku persembahkan cintaku dengan segenap hatiku hingga kau takkan mampu melupakannya dalam hidupmu. Dan kau akan menyesalinya seumur hidupmu.
Malam itu, Anin lah yang menuntun suaminya, membawanya pada surga dunia yang terindah, dengan perlakuan yang tak biasa, melodi gerak tubuhnya begitu indah membutakan mata, bertautan merdu pada simfoni yang mengalun indah tanpa kata.
Kini kuncup telah berubah menjadi bunga yang begitu indah hingga kumbang manapun akan rela -pasrah - terjerat di dalamnya.
Begitu juga Bima, Malam itu ia rela -pasrah- di depan istrinya. Bertekuk lutut di depan cinta istrinya yang baru saja kurasakan begitu besar, begitu dalam begitu tulus ikhlas. Dan ia mengaku kalah. Sekaligus bahagia.
Akan ku ingat setiap detiknya dan akan ku minta untuk mengulanginya pada setiap kesempatan yang ada.
Dan pada akhirnya cinta lah pemenangnya, ia mampu mengalahkan segalanya. Ia juga yang mampu membutakan segalanya.
Pagi hari nya.. seperti biasa...
Dengan harapan seiring berjalannya waktu , ia akan melupakan segalanya dan –mungkin- akan menerima kekhilafannya Jika ternyata anak itu terbukti darah dagingnya.
Karena Bima pun, pada malam itu ia telah berjanji akan berubah dan berusaha menjadi lebih baik.
Namun, semua harapannya sirna. Ketika sore hari ia pulang dan mendapati barang-barang istrinya telah kosong tak bersisa. Sia-sia juga ia menjemput ke rumah sakit. Ke apartemen lamanya. Menelpon ke rumah orang tuanya.
Ia tidak ada disana, tidak ada dimana-mana. Tak ada seorang pun yang tahu maupun -memberitahu- keberadaannya.
Rasa sakit, kecewa, frustasi, berkecamuk dalam dadanya, campur aduk perasaannya, hancur hati dan jiwanya menjadi berkeping-keping. Ia pun tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian istrinya.
Akan lebih baik bila kau tusukkan pisau beracun untuk balas dendam sekalian padaku, daripada kau suapi aku dengan manisnya se-sendok madu.
Aku menyesal~~~sungguh sangat menyesal.
Satu bulan setelahnya, ia menerima surat dari pengadilan. Namun hal itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap mencari istrinya.
Karena dia yakin, masih ada cinta untuknya.
***
Pada suatu siang, Bima mendatangi sebuah gedung yang ternyata adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa milik keluarga Prawiranegara.
"Saya ingin bertemu dengan Pimpinan anda, tolong sampaikan, saya Perwakilan dari Perusahaan Cipta Prima." ucap Bima pada resepsionis yang terlihat ketakutan melihat perangai Bima
"Baa-ik Pak, Silahkan tunggu sebentar, " ucap wanita berparas cantik dengan polesan makeup yang sedikit berlebihan menurut Bima.
Tak lama kemudian, Bima dipersilahkan masuk untuk menemui pimpinan yang ternyata adalah Kartika.
"Hai,.. sayang, tumben banget, Apa kau butuh suasana Baru?" Sapa Kartika -yang lebih dikenal Bintang saat sekolah dulu- lalu mempersilahkan tamu istimewanya untuk duduk.
"...." Bima memandangnya dengan tatapan penuh tanya.
Seakan mengerti keterkejutan pria itu, Kartika keluar dari balik mejanya, dan perutnya masih saja rata. Belum nampak ada perubahan. "Oh, ini...., baru-baru ini, Gue di minta menggantikan bokap, Karena anak haram kesayangannya lebih tertarik mengurusi rumah sakit ketimbang perusahaan ayahnya."
"Kenapa?" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
Kartika mengedikkan bahu, "entahlah..." Kemudian ia bergabung bersama Bima.
"...jadi... ada apakah kau mencariku ____ Kangen calon anakmu? Atau kangen ibunya?" godanya dengan bergelendot manja. "Lalu, apa kabar istrimu, apa sudah kau temukan??"
"Tolong, hentikan...kita sedang di kantor." Lalu ia melepas tautan jari-jari Kartika yang menempel pada lengan kirinya.
"Memangnya, kenapa? Jangan bilang kau malu?"
"Salah satunya, itu." Kemudian Bima menggeser posisinya menciptakan jarak diantara mereka.
"Sejak kapan kau peduli dengan hal semacam itu?!" Dengus Kartika Kesal.
"Sejak, saya sadar bahwa kau tidak pernah benar-benar mencintaiku, dulu maupun sekarang. Yang kau pedulikan hanya dirimu dan kesenanganmu." Ungkap Bima. "Dan tanggung jawabku, hanya berlaku untuk anakku, tapi tidak untuk dirimu. Ingat itu!!"
"Wow,wow.. siapa yang baru saja bicara, kemana Bi.a yang ku kenal?"
"Sudahlah, Hentikan omong kosongmu itu!! saya kesini untuk menemui salah satu karyawan–mu. Dimana saya bisa menemuinya?" lalu ia melemparkan Map berisi copy dokumen surat jalan, bukti terima barang, dan surat permintaan order barang, dll.'
"Tunggu, tunggu... Apa maksudnya ini?!"
"Seseorang dari perusahaan ini, telah menerima pesanan barang, yang saya curiga dia bersekongkol dengan seseorang yang ku kenal."
Wajah Kartika berubah pucat pasi. "Tidak! Tidak ada orang seperti yang kau sebutkan itu." Kartika menahan dentuman keras pada irama jantungnya.
"Oohh___ atau kau sendiri orang itu?" selidik Bim. "Kau punya cukup alasan untuk melakukan hal itu."
"Tidak! tentu saja bukan aku..." ucapnya lirih hampir tak terdengar.
"Lalu, dimana orang itu, lekas bawa kesini, jangan kau tutup-tutupi. Karena aku sangat berharap kesaksian orang ini, Untuk menyeret Abi ke penjara!!"
Kartika merasakan lututnya lemas, dan wajahnya yang pucat semakin memucat entah kemana otot-otot itu mengalirkan darahnya. "Bim, demi aku, demi anak kita, Ku mohon ...jangan lanjutkan peyeledikanmu...."
"Apa maksudmu!" Bima kemudian mencerna kalimat yang baru saja ia dengar, lalu mengartikan maksud nya. Untuk sesaat ia terdiam. "Shit!!! Shit ! shit!"Makinya udara.
"Kartika Prawiranegara, Abimanyu…." Bima mengulang-ulang kalimat yang sama bagai sebuah mantra. Dengan harapan bahwa fakta yang baru saja ia ketahui adalah salah.
Bima memijit pelipisnya. "Jadi, apa maksud dari semua ini!!" ucap Bima kemudian, mengakhiri mantra yang berulang kali ia lafalkan tadi. "Apa hubungannya dengan semua ini!" bentaknya. Menatap Kartika dengan tatapan ingin mencekiknya saat itu juga, kalau saja tidak ada anak dalam perutnya.
Kartika menangis."...kumohon, karena dia adalah paman dari calon anakmu."
"Lalu, apa peduliku?" Bima menangkup pipi Kartika dengan kedua jarinya. "Dialah yang menghancurkan hidupku!" Kemudian menghempaskan dengan kasar.
"Haa-ruus, Ka-u har-us peduli, pikirkan masa depan anakmu, perusahaanku. Dan kalau sampai kau nekat, Aku tidak menjamin anakmu lahir dengan selamat...lagipula aku juga tak menghendaki kehadirannya..." ucap Kartika pelan.
"Ck, ck, ck. Ibu macam apa yang memperalat anaknya sendiri." Tukasnya. Lalu kembali menatap wanita yang pernah ia cintai itu.
"Lakukanlah, saya tidak peduli!" bentak Bima.
"Bima!! " ucap Kartika tak kalah keras.
"Saya bahkan semakin yakin, jika anak dalam perutmu itu, bukan darah dagingku." Sangkal Bima yang sebenarnya ia sendiri tak yakin dengan ucapannya. Hanya untuk menggertak saja.
"Apa maksud –mu!!"
"Jadi...benar, kau-lah dalang dibalik semua ini?" tanya Bima tanpa mengacuhkan protes Kartika.
"Bu-bukan. Bukan! Aku Pun tidak tahu apa yang ia lakukan dengan benda-benda itu." Ungkap Kartika.
"Dia menggunakannya untuk membunuh istrinya!" Menatap tajam ke arah Kartika. "Dan bukan tidak mungkin ia gunakan untuk membunuh istriku."
Kartika terbelalak kaget, tidak percaya. Bagaimana mungkin Abi berani melakukan semua itu.
Kartika menggeleng tak percaya. "Tidak mungkin," lalu cepat-cepat menutup mulutnya.
Bima menarik kursi ke dekat Kartika. "Mari kita lakukan kesepakatan. Melindungi saksi itu dan kupastikan semuanya hancur atau kau pilih melupakan fakta bahwa Abi adalah adikmu pada urusan ini. Maka aku jamin Ayahmu, anakmu bahkan perusahaanmu, Aman."
"ANAK KITA!!" bentak Kartika.
"Ya... anak kita." akunya dengan berat hati.
"Apa yang akan kau lakukan pada Abi?!"
"Pikirkanlah!" ucap Bima tanpa peduli pertanyaan yang Bintang ajukan. Kemudian beranjak dari tempatnya meninggalkan Bintang.
"Bimaa!!!" seru Kartika tak kalah nyaring dari suara mesin dari pabrik di sebelah kantor.
__ADS_1
****