Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Hamil


__ADS_3

Sore itu cuaca masih terlihat cerah, ketika Anin tengah asyik mengaduk–aduk tanah yang akan ia campur dengan pupuk lalu menanaminya bunga hasil perburuannya di pasar tadi pagi.


Pekarangan rumah dinasnya sudah seperti toko bunga. Begitu kata pasien-pasien yang datang berkunjung pada tempat prakteknya.


Beberapa suara mobil terdengar hilir mudik di jalan beraspal persis depan pagar rumah –Dinas-nya yang tak seberapa itu. Karena akses keluar masuk disini memang menggunakan mobil bak terbuka sebagai angkutan umumnya.


Walaupun termasuk kota terpencil di pinggiran kuningan-jawa barat, tapi jumlah yang memiliki kendaraan disini sudah terbilang banyak. Apa lagi motor, hampir tiap saat terdengar gaungnya.


Namun sore itu tidak seperti biasa, sore itu terlihat lebih ramai muda-mudi hilir mudik, bahkan ada yang nekat boncengan bertiga, dan Anin ngeri melihat kelakuan anak jaman sekarang. Yang tidak lagi mengindahkan peraturan dan lebih mengutamakan penampilan. Tak ayal wanita yang tengah berbadan dua itu geleng-geleng kepala dibuatnya.


Mungkin karena ini akhir pekan, Jadi jalanan pun riuh ramai oleh kendaraan roda dua. Walaupun tidak sampai membuat kemacetan seperti di Jakarta.


Ah, Jakarta... apa kabarnya? Rasanya sudah lama sekali.


Anin menghela nafas. Sebuah sedan hitam menderu pelan-pelan.


Seorang tukang roti berjalan pelan-pelan meneriakkan dagangannya, tukang kacang rebus sudah juga lewat membawa serta jualannya.


Ah! Sudah hampir setengah enam.


Sekonyong-konyong ia sadar bunyi mobil itu terlalu cepat hilang. Dia mengintip dari sela-sela pagar rumahnya yang sebagian tertutup tanaman.


Ssrrtt!


Darahnya naik ke kepala. Mobil itu berhenti di depan pintu pagar rumahnya, dan Imas -assistentnya- tengah mempersilahkan pengemudinya masuk.


Anin segera berdiri dan menjulurkan kepalanya ke samping. Salahkah dia?


Tidak! orang itu Bima –calon mantan suaminya– dan Imas telah mempersilahkan dia masuk.


Anin memejamkan matanya. Sambil menghela nafas Anin menjatuhkan kembali dirinya pada sebuah kursi kecil kemudian melanjutkan kegiatannya.


Sambil berdebar-debar di nantikannya suara kaki Imas yang mendekatinya. "Dok," bisik Imas ketika dilihatnya dokternya tengah asyik menanam.


"Dokter, Dok...ada teman yang mencari dokter."


Anin menoleh enggan.


"Saya tidak punya teman disini," ucapnya dongkol. "Barangkali, salah alamat."


"Anu___dari Ja-jakarta. Dan sudah saya persilahkan dia masuk, Dok."


"Kenapa tidak kau katakan saja kalau saya tidak ada?"


"Ya, tapi dia pacar dokter," ucap Imas sambil tersenyum.


"Darimana kamu tahu bahwa dia pacar saya?" seru Anin berang.


"Sebab," kata Imas sambil menatapnya. "Kalau bukan orang spesial, masa bisa tahu dokter disini?"


Anin terdiam. Dan menyeka anak-anak rambutnya. "...saya pusing. Barangkali dia bukan pacar saya, Im," bantah Anin, lalu, "Bagaimana rupanya?"


"Begini," kata Imas tertawa sambil menunjukan kedua jempolnya.


"Begini, bagaimana?" Tiba-tiba Anin ingin tahu pendapat asistennya mengenai suaminya.


"Tampan, sopan. Necis, gagah dan kelihatannya baik hati."


"Huh!" Anin menghela nafas panjang. "Saya sungguh sakit kepala, capek. Tidak bisa berjalan kesana."


"Tapi, ini kan...? atau Imas suruh kesini aja ya, Dok?"


Anun mnggeleng. "Saya tidak bisa menemuinya."


"Sikap dokter seperti gadis remaja saja, Hati-hati loh, Dok. Nanti di gaet orang," kelakar Imas menggoda Anin.


Ingin rasanya Anin menangis, tapi sekarang rasanya tidak mungkin.


"Ayolah, dok... temui dia, Kasihan dia jauh–jauh dari Jakarta."


"Katakan... besok. Besok saja datang lagi."


Asistennya itu hampir tidak dapat menahan tawanya melihat kelakuan Anin. "Tawar-menawar, kayak beli cabai aja dokter ini. Baiklah, Imas sampaikan pesan dokter dulu."


Ketika asistennya sudah tak terlihat, Anin menundukkan pandangannya, kembali mengaduk-aduk tanah dan menangis.


***


Pagi itu Anin sudah benar-benar bugar. Sakit kepala nya pun sudah hilang. Dia pergi ke kebun belakang dan menyirami bunga-bunga.


Matahari masih malu-malu menampakkan dirinya. Burung-burung dan kupu beterbangan kian kemari.


Awan diatas indah sekali, perpaduan biru putih memanjang. Di kejauhan tampak dengan jelas gunung yang menurut Imas itu adalah gunung ciremai.


Anin memandangi semuanya dengan menarik nafas panjang, menikmati udaranya yang terasa masih segar.


Anin kembali melanjutkan kegiatannya yang kemaren sore sempat tertunda. Diangkatnya gunting yang tergeletak di atas rumput dan mulai memotong dahan-dahan, daun-daun yang menguning.


"Anin...Nin..."


Begitu asyiknya dia, sehingga panggilan yang amat halus itu masih mengejutkannya. Serentak di dongakkannya kepalanya. Dia tertegun.


"Ada apa?" tanyanya dingin tanpa beranjak dari tempatnya.


Bima berdiri dibelakang pagar besi, mirip anak kingkong dalam kandang.


Meskipun jarak mereka berjauhan, namun seakan–akan Anin dapat melihat jelas ke dalam matanya. Bayangan kesedihan, penyesalan atau kepalsuan.


"Bolehkah saya bicara sebentar denganmu?" tanyanya dengan rupa rendah hati.


"Untuk apa?"


Bima tertegun sebentar.


"Persoalan kita," katanya dengan muka merah padam menahan malu.


"Persoalan apa?"


Bima menjadi amat malu dan pucat bergantian. "Saya ingin meminta maaf."


"Mengenai apa?" tanya Anin dengan tidak sabar. "Bukannya semuanya sudah jelas."


Selebar muka Bima merah padam. Dia sadar, wanita di depannya sedang menguji kesabarannya, mempermainkan dirinya. Walaupun demikian, ia pun tak menyalahkan istrinya.


Karena aku pantas menerima lebih dari ini.


"Saya minta ampun...sungguh – sungguh...."


Bima mengerti sindiran istrinya tadi, bahwa kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus perbuatannya.


"Saya sama sekali tidak mengerti maksud saudara. Saudara salah orang."


Demi apapun, bukan buatan malu nya Bima. Mukanya terasa panas. Dan dia dibiarkan berdiri dimuka pagar seperti penagih hutang yang dibenci kedatangannya.


Anin berbalik, hatinya pedih kembali teriris. Dongkolnya timbul kembali. Air matanya hampir saja meleleh.


Dia segera berjalan masuk lewat pintu samping. Ketika Pada saat bersamaan Imas keluar.


"Ya ampun! Dokter.... eta si kasep naha di anggurin kawas kitu? (itu  si tampan kenapa di anggurin seperti itu?)," katanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Masuk... masuk..kang, dokter ada di samping sedang mengawinkan bunga sepatu dengan anggrek nya."


Mendengar kelakar wanita paruh baya itu Bima tak bisa menahan laju darahnya untuk naik lagi ke kepala. Tapi dia tersenyum dan berjalan ke samping.


Anin sedang jongkok membersihkan sekop kecil yang kotor terkena tanah, ketika Bima jongkok di sebelahnya. Anin tidak menoleh.


"Sayang..." Bima menjulurkan kepalanya lima senti ke muka, sehingga tercium olehnya aroma sampo yang biasa dipakai istrinya. "Saya akan sangat berterima kasih bila engkau membatalkan gugatanmu. Dengan begitu saya dapat membuktikan bahwa saya sudah berubah dan saya akan menebus dosa saya."


Anin bertindak seolah-olah tidak ada orang disebelahnya. Dia sangat asyik, menikmati pekerjaannya sehingga Bima pikir apakah istrinya itu mendengar semua kata-katanya atau tidak.


"Sayang, Katakanlah, Ya," pintanya. "Saya sangat ingin menebus dosa itu. Bila engkau tidak memberiku kesempatan, maka seluruh hidupku akan sia-sia begini."


Anin bangkit berdiri dan menatapnya tajam. "Sudah cukup kau tebus dosamu hari ini. Pulanglah sekarang. Lain kali boleh kau sambung. Saya banyak kerjaan." Dan dia berjalan cepat–cepat masuk kerumah, meninggalkan Bima yang terkejut setengah mati.


Pada sore harinya barulah Bima berhasil memaksa Anin untuk duduk di depannya dan mendengarkan apa yang ingin diucapkannya.


"Ini kedatangan saya yang ke tujuh." Kata Bima tersenyum.


Pada dasarnya, Anin adalah gadis yang baik hati. Melihat tamunya tersenyum ia pun ikut tersenyum walaupun -cuma- sedikit.


"Sore ini, saya ingin berunding serius denganmu," katanya lagi sambil melirik wanita di depannya.


Anin sudah hamil dua bulan dan wajahnya terlihat semakin cantik menurut Bima. Gadis itu tengah memandang keluar pada kebun nya.


Entah kenapa Bima merasa semakin lama semakin tertarik melihat istrinya. Dan setiap kali ia datang, dilihatnya Anin semakin bertambah cantik.


"Eheem. Bima batuk untuk mengembalikan pikiran nyonya rumah kepadanya. Anin bergeming dan seakan baru sadar bahwa ada orang lain disana.

__ADS_1


"Sayang... saya ingin berbicara serius denganmu..."


"Sebelumnya, saya ingin tahu dulu. Darimana Mas tahu, aku ada disini?"


Bima tertawa.


"Ketika saya datang untuk kesekian kalinya di depan dokter Wisnu, entah karena dia bosan saya ganggu terus menerus atau karena tekadku yang tak tahu malu. Akhirnya ia berikan alamatmu. Mudah bukan?"


Anin memandang suaminya dengan tenang. "Sekarang, katankah cepat-cepat, apa yang ingin kamu utarakan. Singkat saja. Aku rasa ingin cepat-cepat rebah di kamar."


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, pusing sedikit. Mungkin udara disini terlampau dingin."


"Kamu menang kelihatan pucat." Kata Bima. "Apa sebaiknya kita ke dokter?!"


Gadis itu tiba-tiba membelalakan matanya. "Apa yang ingin mas sampaikan, Cepat katakan!"


"Saya ingin meminta maaf, dan meminta agar kamu membatalkan ____"


"Itu sudah kau katakan ratusan kali, ada yang lain?!"


Bi.a menggeleng.


"Saya ingin memperbaiki hubungan kita, kita mulai lagi dari awal. Saya ingin menebus dosa saya..."


Merah padam Wajah Anin. "Setiap kali datang, itu-itu saja yang kau katakan!!" katanya dengan marah.


"Bukankah sudah ku katakan ribuan kali, aku bukan tempat penebusan dosa para Bajing*an! Kau pikir aku ini apa!"


"Sayang barangkali kamu salah paham. Maksud saya bukan seperti itu, saya ingin menebus dosa sebab saya sangat mencintaimu."


"Omong kosong!!"


"Saya sungguh-sungguh dengan maksud saya, seperti apa yang kamu katakan barusan, **** seperti saya tidak pandai merangkai kata, tapi saya sungguh mencintaimu. Dan saya ingin merubah hidupku."


"Oke, Mas boleh pulang sekarang!" Bentaknya.


"Sayang,... jangan marah dulu... saya memang tidak pantas untuk mu, mungkin melihatku, kau merasa jijik dalam hatimu. Tapi apa kau tidak memikirkan keluarga kita. Aku, kamu dan calon anak kita, dan kita tidak berhak membiarkan dia lahir tanpa seorang ayah. Dia harus mendapat nama ayahnya. Saya harap ___"


"Pergi! Pergi! Pergi!" teriak Anin Lalu ia bangkit dan berlari masuk.


Setelah mondar-mandir beberapa kali di ruang tamu. Bi.a pun memutuskan untuk menyusul ke kamarnya. Mengetuk pintu kamarnya.


Setelah beberapa kali ia mengetuk pintu itu namun tidak ada jawaban maupun tanda-tanda penghuninya akan keluar. Bima– pun akhirnya berpamitan.


"Sayang, saya pulang dulu...Besok saya akan kembali lagi," Teriaknya dari balik pintu.


Dari balik bantalnya, Anin menangis tak kuasa menahan marah dan rindu disaat yang bersamaan.


Jika terus-terusan seperti ini aku dan calon anakku -tak akan sanggup melepasmu mas.


***


Cuaca terik -panas- mengawali hari senin siang itu. Padahal biasanya di daerah sini selalu teduh sejuk. Malam nya dingin menggigit.


Begitupun antrian pasien polindes, hari itu lumayan padat. Hingga tengah hari masih saja ada yang datang. Untung yang di dalam perut tidak rewel.


Tahu ibu nya sedang sibuk menolong orang ya.. ucapnya seraya mengelus-elus perut yang masih rata.


Tok, tok, tok.


"Ya? Silahkan masuk."


Diangkatnya kepalanya yang sedari tadi menekuri catatan pasien. Dilihatnya arloji. Setengah satu. Semoga pasien terakhir.


"Selamat siang, Dokter," kata pasien itu dengan suara nyaring.


"Selamat siang."


Gadis atau wanita itu ditaksirnya kira-kira tiga puluh tahun -kemudian ternyata Anin salah, Kartu penduduk menyatakan usianya baru dua puluh dua- amat kurus. Luar biasa kurus.


"Silahkan duduk."


"Terima kasih, Dokter."


"Ada apa ini, kenapa?"


"Eta, Dok..." sebelum dia sempat menyambung kalimatnya, masuk laki-laki lalu duduk di sebelahnya dan langsung buka mulut.


"Istri saya mengalami perdarahan, Dokter. Datang bulannya tidak teratur..."


" Sudah berapa lama?"


"Satu tahunan,Ya..?" lakilaki itu menoleh menanyakan pada istrinya namun istrinya tak menghiraukan lagi. "Iya satu tahun, Dok."


"Apa sebelumnya pernah berobat?"


"Seingat saya, belum. Hanya jamu-jamu saja, dok."


"Baiklah, mari saya periksa dulu." Anin menoleh pada laki-laki itu. "Silahkan, bapak tunggulah di luar sebentar."


"Baik, dokter."


Setelah pintu itu ditutup oleh suaminya. Wanita itu langsung menangis, memohon agar di rawat, agar suaminya tidak membawanya pulang.  Dan ternyata selama menikah dia mengalami penyiksaan bathin.


Selama setahun dia selalu dipaksa untuk melayani suaminya, meskipun dia sendiri tidak mengehedaki.


Suaminya akan terus memaksanya. Memasukkan 'itu' nya ke dalam sana.


Bahkan menurut penuturannya dia telah dipaksa berhubungan badan dari sebelum menikah atas bujukan dan rayuan sehingga dia menyerahkan kehormatannya. Hingga ia mengalami rasa takut terhadap suaminya sendiri.


Hebatnya adalah wanita itu masih bertahan di sisi suaminya, bahkan ia rela diet demi untuk menyenangkannya.


Sungguh luar biasa...salut!


Dan akhirnya pasien tersebut, terpaksa Anin rujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan  yang lebih lengkap serta atas permintaannya juga. Ia ingin beristirahat dengan dirawat di rumah sakit.


Sepeninggal pasiennya, Anin menggeleng-geleng heran, begitulah sisi lain cinta.


"Im, apa masih ada?" tanya Anin pada Imas yang justru dibalas dengan cengengesan oleh asisten - nya itu.


"Kosong, Dok." jawabnya.


"Yaudah, kamu beresin ya, Jangan lupa kunci pintunya."


"Eta, Dokter, Aya Si- kasep anu kamari eta teh, Ngadagoan di hareup (ada si ganteng yang kemaren itu, nungguin di depan)." Ucap Imas takut -takut kena semprot lagi. Kalau menyangkut pria itu, dokter yang lemah lembut ramah tamah seketika berubah jadi sangat angker mukanya.


"Mau apa lagi sih, Dia!" guman Anin. Melepas Jas-nya lalu melewati pintu samping yang menghubungkan dengan rumah tinggal.


Setelah mencuci tangannya, Anin menyempatkan menghampiri meja makan dan membuka penutupnya. Tapi bukannya berselera melihat hidangan di meja, ia justru merasa mual. Perutnya seperti di aduk-aduk.


Alhasil makanan pagi tadi ia memuntahkan lagi siang harinya.


Dari kamar mandi, Anin melihat pantulan dirinya di cermin. Belum ada yang berubah. Tubuhnya masih kurus, perutnya masih datar.


Dibelainya perutnya lagi. Dia hamil. Rasanya begitu aneh sekaligus bahagia. Gelora perasaan tiba -tiba membuncah, mengetahui bahwa didalam dirinya ada nyawa yang sedang bertumbuh. Di dalam rahimnya ada bagian Bima yang akan terus mengingatkannya pada laki-laki itu.


Bahkan dulu air matanya mengalir, ketika ia pertama kali memeriksakan kehamilannya pada dokter Wisnu. Ada rasa bahagia yang membludak ketika dia sadar bahwa sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


Perempuan mana yang tidak akan bahagia? Tetapi hatinya juga nelangsa, mengingat anaknya akan menjadi produk broken home.


"Hati-hati, Nin, Pastikan kehamilan mu di dampingi dokter, kalau nanti kau disana." Ucap dokter Wisnu kala itu.


"Iya."


"Bima Sudah tahu?"


Ani  menggeleng. "Apa dia perlu tahu?"


"Lah, Dia kan bapak nya?"


"Iya, tapi kami akan bercerai sebentar lagi. Apa nggak sebaiknya dia nggak pernah tahu?"


"Dan kamu mau, anakmu tumbuh besar tanpa mengenal bapaknya?"


Anin terdiam.


"Meskipun kalian bercerai, anak itu tetap anak Bima, Nin." kata Dokter Wisnu. "Anak itu berhak mengenal bapaknya. Begitu juga sebaliknya."


Anin mengangguk-angguk. Dia paham maksud dokter Wisnu. Namun untuk saat ini, ia berfikir tidak akan baik apabila Bima mengetahui bahwa dirinya hamil. Mungkin nanti, tidak sekarang. Kabar ini hanya akan memperumit keadaan.


"Kalau gitu, Nanti saya yang akan kasih tahu Dia."


"Demi tuhan, Dok. Jangan beritahu apapun, termasuk kepindahan saya!"


"Iya, iya..." Dokter Wisnu tersenyum geli. Sebab dia hanya ingin menggodanya saja.

__ADS_1


Tapi kenyataannya ...


Anin tersenyum tipis. Ternyata dokter Wisnu berkhianat. Anin menghela nafas panjang kemudian beranjak dari depan cermin.


Matanya menjelajahi ruang tengah. Kemudian pandangannya terhenti pada sosok yang sedang terlelap di sofa dengan wajahnya menengadah ke atas. Kadang-kadang timbul rasa iba pada pria itu, dan ingin menyerah saja pada perasaannya. Namun mengingat betapa ia tidak tegas akan sikapnya, tidak yakin akan dirinya sendiri Anin kembali jengkel dan ingin memberinya pelajaran atau anggap saja sebagai hukuman.


Anin kemudian masuk kedalam kamarnya dan merebahkan diri disana.


Dan ketika sore hari tiba, Anin kembali menyibukkan diri dengan bunga-bunganya. Tidak peduli ada tamu yang tengah menanti ia bangun tidur, ataupun menanti ia untuk hal lain.


Anin tengah menyirami tanaman anggrek-nya ketika Bima tiba-tiba mengendus di belakangnya.


Bima menatapnya lekat-lekat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Barangkali tengah memikirkan jurus apalagi yang akan dikeluarkan untuk mengusirnya.


Anin berdecak ketika mengetahui ada seseorang yang sedang mengamatinya dari belakang.


Anin menghela nafas panjang, kemudian bergeser ke sisi kiri agak menjauh.


Bima mengekori istrinya, dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangun kan singa betina. Bisa mati berdiri kalau sampai mengaum.


"Ngapain kamu disini." tanya Anin tiba-tiba masih dengan suara datar dan tanpa ekspresi.


"Nyusulin kamu."


"Untuk?"


"Untuk____"


Anin menghela nafasnya lagi. "Mas, aku kira, kamu sudah mengerti."


"Ya, saya mengerti. Sanga -sangat mengerti. "


Anin menoleh menatapnya.


Mata sayu itu ... Bi.a nyaris tidak sadar tangannya terulur hendak menyentuh pipi istrinya dan wajahnya mendekat. Bersiap memberikan ciuman yang ___


"MAS!!!" Anin sontak bergeser menghindar.


Bima menghela nafas, menyadari dirinya hanya menyentuh udara kosong.


"Apa - apan sih?!"


"Apanya yang apa-apaan" jawabnya sambil tersenyum kecut.


Bima kembali memandang perempuan yang tengah gelisah menghindari tatapannya yang tak lupa ia selipkan senyum manis semanis gulali itu. Matanya jatuh pada perut Anin yang tertutup sweater coklat. Senyumnya semakin melebar menyadari sesuatu sedang berkembang di dalam sana.


"Bagaimana keadaannya? Apa membuatmu repot?" tanyanya dengan nada terharu.


Bima menyulurkan tangannya. Dan perlu beberapa detik untuk Anin menyadari apa yang dia lakukan. Dan ketika sadar, ia segera menepis tangan Bima dari perutnya. Perempuan itu kembali mundur selangkah dengan terkejut.


"Nggak!!" katanya buru-buru. "Kamu nggak perlu mengkhawatirkannya, aku bisa mengurusnya sendiri."


Sontak Bima mengernyitkan dahi. Rasa gusar dalam dirinya kembali tersulut.


"Apa kamu masih berencana memisahkan saya dengan anak saya?" tanya Bima gusar.


"Siapa bilang ini anak kamu!" ucap Anin Sambil berpaling muka.


Bima menggigit bibirnya. Merah padam mukanya di buat wanita itu.


Runtuh sudah kesombongannya.  Keangkuhannya takluk dihadapa perempuan yang satu ini.


Namun, Ia kembali mendekati istrinya. Pada saat yang sama tujuannya sudah lebih dulu terbaca oleh Anin.


"Nggak usah dekat-dekat. Aku alergi."


Alergi?


Dan benar saja, tak lama isi perutnya keluar. Yang isinya hanya air itu.


Saat dia sibuk mengeluarkan isi perutnya, sebuah pijatan lembut terasa di tengkuknya. Tanpa menatap pun Anin tahu siapa yang memijat tengkuknya. Sentuhan lembut ini sudah jelas terpatri dalam memorinya. Tapi Anin tidak sanggup untuk protes maupun menolak.


Setelah Anin selesai mengeluarkan isi perutnya, Bima membiarkannya untuk mencuci mulutnya menggunakan air kran di dekatnya. Laki-laki itu menghambur dan kembali dengan segelas air hangat di tangannya.


"This,"  katanya sambil menawarkan air itu.


Anin meminum tanpa banyak protes. Tapi baru satu teguk dia sudah muntah lagi.


"Argh!" decaknya.


"Mual lagi?"


Anin mengangguk. "Enyahlah dari sini!" bentaknya. Kemudian mengeluarkan isi perutnya dua kali lipat lebih banyak dari yang masuk.


Bima kaget, mematung sesaat. Lalu kembali tersadar. Sabar, sabar, adatnya ibu hamil memang begitu, harus ekstra sabar!


"Tadi kamu belum makan apa-apa, Saya belikan bubur ya? Atau kamu mau dibelikan sesuatu??"


Anin menggeleng buru-buru. Membayangkan opor ayam di meja makan siang tadi membuatnya merinding.


"Kamu harus makan, sayang..."


Anin memasang wajah kesal. "Nggak usah sok perhatian. Pulanglah! Kamu hanya menggangguku disini, Dan urusi saja perempuan itu!!"


Bima tersenyum. Istrinya cemburu! "Kamu mau makan apa, Katakan saja, biar saya belikan."


Sebenarnya Anin sedang ingin makan pecel ayam madiun. Ia menatap -calon- mantan suaminya dengan heran, lalu menggeleng sambil berdecak kesal dan meninggalkan suaminya begitu saja.


Selepas maghrib, Bima kembali dengan membawa beberapa kresek putih yang berisi beberapa macam makanan dari mulai bubur ayam, Soto, bakso, nasi goreng, sop iga, tongseng, Roti, dan beberapa merek susu untuk ibu hamil juga ikut terangkut, ada juga cemilan-cemilan lainnya. Sampai-sampai Imas heran dibuatnya.


Ada apa sebenarnya, Sampai ada Susu hamil segala?


Terang saja Imas heran, sebulan bersamanya, Anin tidak memberitahu kehamilannya dan imas tidak tahu bahwa -si kasep- idolanya itu adalah suami dokter Anin. Hingga akhirnya malam itu ia pun tahu yang sebenarnya.


Terpotek hati imas! sakiit deh...


Anin kembali menghela nafas panjang ketika melihat tingkah Bima. Dan semakin melebarkan matanya ketika melihat banyak makanan di meja -dapurnya. Apa-apaan ini?


Anin keluar kamar hendak protes ketika dirinya justru berpapasan ditengah pintu dapur dan matanya bertemu dengan Mata pria di hadapannya yang saat ini sedang memegang segelas susu.


Anin mengernyit.


"Ini, diminum dulu," ucap Bima lalu menyerahkan gelas dari tangan kanannya.


Anin kemudian menerima nya tanpa harus pura-pura tidak melihatnya. "Lain kali, tidak perlu repot-repot!" kemudian berbalik hendak menuju ke kamarnya lagi sebelum akhirnya berhenti sebab Bima menahannya.


"Tunggu dulu..." cegahnya. "Malam ini, saya akan menginap disini." Katanya singkat.


Anin terperanjat.


"Saya akan tidur di sofa kalau kamu tidak keberatan. Atau saya akan tidur di teras depan pun tidak jadi soal." Kata Bima.


"Tidak, tidak, tidak. Kau pulanglah atau kemanapun terserah, asal jangan disini."


"Biarkan saya ikut andil untuk menjaga anak kita," Katanya lembut.


"Sudah ku bilang ini bukan anakmu!!" bentaknya. "Jangan berkhayal. Lekas pergilah!!" teriaknya tak kalah kencang dari sebelumnya.


"Apapun perkataanmu, saya tidak akan mundur. Malam ini saya akan tetap menungguimu disini dengan atau tanpa persetujuanmu." Jawabnya. "Dan saya sudah mendapatkan ijin dari pak RT -mu yang baik hati itu."


Pala batu! 


Dan Anin tahu betul seberapa keras kepalanya dia jadi percuma saja.


Anin mendengus. "Terserah padamu!" bentaknya. "Imas, jangan lupa kunci pintu nya dan pastikan orang luar tidak dapat masuk ke rumah kita!!" teriaknya lagi.


Imas yang baru melihat sisi dokter yang lainnya baru saja keluar, kaget dan tergopoh-gopoh. Ia segera mengunci pintu tanpa mengeluarkan -orang asing- yang dimaksud Anin. Justru dengan kebaikan hatinya, ia menawarkan sebuah selimut.


"Sabar aja ya.. kang, adatnya orang bunting mah begitu." kata Imas berusaha menghiburnya lalu kemudian menghilang masuk ke kamarnya setelah menyerahkan bantal dan selimut.


Pria itu berbaring di sofa panjang yang terletak diantara kamar Anin dan ruang praktek. Matanya menatap langit-langit rumah yang sudah mulai kusam warna cat -nya.


Perjuanganmu masih panjang, Bim. Bahkan menurut dokter Wisnu bisa saja akan dimusuhi habis-habisan. Harus siap mental.


Dalam keadaan normal wanita hamil bisa saja membenci suaminya sendiri selama masa trimester pertama akibat pengaruh hormonal, apalagi kondisi Anin yang sebelumya tengah menghadapi masalah. Jadi kamu harus lebih bersabar dan mengalah. Kendalikan emosimu.


"Saya yakin, Anin wanita baik, juga lembut. Jadi, kau tak perlu khawatir dia akan membunuhmu." Ucap dokter Wisnu menggoda kala Bima mengunjunginya untuk yang kesekian kali setelah kunjungan-kunjungan sebelumnya selalu ia tolak.


Namun pada akhirnya ia bersedia menemui dan mengajaknya bicara dengan kepala dingin. Sampai-sampai Bima perlu memohon pada tuhannya agar mengingatkannya untuk tidak melupakan kebaikan dokter Wisnu yang sempat ia curigai dan ia jahati.


Dia begitu bijaksana menyikapi persoalan dan tuduhan-tuduhan Bima sebelumnya. Beliau juga yang memperkuat dengan menjelaskan bahwa, Anin adalah korban pelecehan zaman menjadi mahasiswa -koas, sebab dia sendiri lah yang menolongnya pada saat itu. Untungnya dia gadis yang kuat, tidak sampai stres.


Hingga saat ini pun Bima berada di sini, semata-mata atas bantuan dokter Wisnu yang dengan sukarela menanggung dosa, memberitahukan keberadaan Anin setelah sebelumnya selalu berkelit. Namun akhirnya ia menyerah, dan menghianati janjinya pada Anin.


Kabar tak kalah mengejutkan hingga membuat Bima terhenyak, merasa kakinya lemas, tubuhnya ringan seperti kapas, kepalanya yang mendadak terasa berat sampai-sampai dokter Wisnu memanggil petugas untuk mengangkatnya sebab melihat Bima tergolek lemas yaitu ia mendengar dari dokter Wisnu Bahwa Anin tengah hamil.


Mengingat apa yang telah ia lakukan sebelumnya, Bima sampai tidak mampu untuk membayangkan bagaimana keadaannya. Kondisi jiwanya, tubuhnya, luka bekas perlakuan kasarnya _____ Mengingat itu, Bima menangis meraung-raung seperti orang gila. Walaupun berkali-kali dokter menyakinkan Wisnu kondisi kandungannya sehat, Anin juga sehat, namun Bima tetap meminta perlu memastikan sendiri. Dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Demi tuhan -dan demi calon anak saya!! Saya menyesal. Saya mohon ampun atas semuanya. Saya berjanji akan menebus segala dosa yang telah saya perbuat. Saya bertaubat. Hari ini detik ini juga di depan Dokter Wisnu saya berjanji. Jika saya berdusta maka kau boleh ambil nyawa saya.


**


__ADS_2