
Anin tersentak kaget ketika bahunya disentuh oleh seseorang dari belakang. Spontan Anin memekik. Hingga tubuhnya di putar dan sadar bahwa itu suaminya.
Anin menarik nafas lega.
"Darimana saja?" Tanya Bima khawatir.
"Cari~~toilet," jawab Anin yang berusaha menenangkan degup jantungnya.
"Oh, mana minumannya??" Tanya Bima lagi.
"Belum sempat ambil. Hee.." Anin menyeringai.
Bima menautkan alisnya heran. Selama itu?? "Yasudah, saya temani dan jangan jauh-jauh dari saya." Bima mengalungkan lengannya pada tubuh istrinya.
Tarik nafas, keluarkan. Kemudian Anin mengangguk tanda setuju.
Mereka pun berjalan bersamaan bagai truk gandeng yang tak terpisahkan.Sebelum sempat mengambil minuman mereka menyempatkan menyapa beberapa tamu lalu menghampiri panggung dan mengucapkan selamat kepada mempelai dan kepada Firman.
Jantung Anin hampir saja lepas dari tempatnya ketika dirinya mendapatkan senyuman dengan sorot mata mengundang dari seseorang yang berdiri disamping wanita paruh baya itu. Tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Dasar cabul.
Dan buru-buru Anin mengalihkan pandangannya. Sebelum suaminya atau siapapun menyadarinya.
***
"Jadi yang tadi itu, yang bernama Firman..." Bima membuka obrolan setelah beberapa saat lalu hanya diisi keheningan dalam mobilnya.
"Hah, iyaa... yang itu."
"Sepertinya keputusan saya untuk tidak menyukainya itu sangat tepat bahkan sebelum saya bertemu dengannya." Bima menatap lurus kedepan dan mengeratkan pegangan tangannya pada kemudi.
"Maksudnya?" Suara Anin bernada heran.
"...sejak kedatangan kita, tatapannya tak pernah lepas darimu dan saya nggak suka. Benci hal itu!" geram Bima kesal lalu memukul kemudi mobilnya menyebabkan mobil yang mereka naiki sedikit limbung.
Anin kaget dan terpaksa ia menoleh ke sisi kanannya dan menyentuh lengan suaminya untuk menenangkan. "Mas... hati-hati!! perhatikan jalanmu." ucap Anin khawatir.
Bima lalu menoleh pada istrinya hingga keduanya beradu pandang.
Dan tiba-tiba dada Anin menghangat.
Tatapan suaminya yang dirindukannya, suaminya yang pertama kali dia kenal. Aku merindukannya.
Bima membelai lembut pipi Anin dengan sebelah tangannya.
"Istriku begitu cantik malam ini, sampai-sampai aku kewalahan."
Anin meraih jari suaminya lagi dan membawanya kepada pipinya lalu menempelkannya disana.
Senyum simpul menghiasi wajah tampan Bima dan dia pasrah saja dengan apa yang diinginkan istrinya lalu membiarkan jarinya disana hingga terasa kram lengannya.
Karena di pesta itu Bima tersadar. Bahwa dirinya adalah laki-laki beruntung yang mendapatkan wanita sehebat Anin, yang telah disia-siakan beberapa waktu belakangan ini. Saat itu juga dirinya merasa sangat menyesal.
Dan Mulai detik ini akan ku perbaiki keadaan ini!! janji Bima pada dirinya sendiri.
"Sayang..."
__ADS_1
"...." Anin masih menutup mata rapat-rapat. Masih berusaha mengusir bayangan laki-laki yang telah mencuri kecup di pipinya-bibirnya tadi. Dia berharap dengan sentuhan lembut suaminya akan membersihkan bekas-bekas laki-laki itu.
"Sayaang, bisa pinjam dulu, saya susah menyetir dengan satu tangan. Nanti bisa kita lanjutkan di rumah" goda Bima.
"Oooh~~ aahh iyaa, maaf." buru-buru Anin melepaskan tangan suaminya.
Kali ini Anin gagal menyembunyikan gurat senyum malu-malu serta Rona merah di pipinya.
Bima membalas tingkah malu-malu istrinya dengan senyuman yang sanggup meluluhkan hati perempuan manapun.
***
Pukul sepuluh lewat, ketika keduanya sampai di basement apartemen tempat tinggal mereka dan memarkirkan mobilnya di sana.
Dengan tergesa-gesa Bima membawa istrinya masuk pada salah satu bangunan tinggi menjulang itu.
Kenapa lagi sih!! nih si kingkong kayak dikejar penagih hutang saja!!! batin Anin protes. Memangnya dia pikir gampang, jalan cepat pake heels setinggi ini. Hhmm~~~ dengus Anin kesal.
Namun sekali lagi Anin hanya bisa menuruti dan mengikuti suaminya tanpa mengeluarkan suara protes.
**
Bima meraih tubuh istrinya dalam dekapannya ketika Anin sedang kesusahan membuka heels nya. Tanpa mengacuhkan hal itu kemudian Bima menggendong Anin ala bridal style. Sontak Anin memekik kaget. Namun dalam hati dia merasa senang.
“Mas...turunkan, malu sama simbok..." Bujuk Anin ketika Bima membawanya melewati ruang tamu menuju kamar mereka.
"Aah..,pasti sudah tidur." jawabnya singkat.
Namun ternyata yang dimaksud Bima salah. Jangan kan tidur, ngantuk saja belum. Matanya masih segar menatap kelakuan tuan nyonyanya yang bagai pengantin baru itu.
Auto reflek Anin menyembunyikan wajahnya pada dada suaminya. Anin sungguh merasa malu. Hal yang sangat memalukan sekaligus menyenangkan setelah kesakitan yang akhir-akhir ini dia terima.
Bima membaringkan istrinya dengan sangat hati-hati di atas sprei dingin itu yang sebentar lagi akan dibuatnya panas hingga terbakar.
Selanjutnya, melepaskan heels Anin yang masih menempel pada kedua kakinya lalu meletakannya sembarangan di lantai. Siapa yang peduli!
Pandangan Anin mulai mengikuti gerak gerik Bima. Dari melepas sepatu hingga menutup pintu dan menguncinya. Lalu ikut berhenti di sisi pembaringan ketika Bima berhenti disana dan mulai melepaskan tuxedo nya.
Mau apa??!! pikirnya. Lalu kengerian malam itu hadir merusak suasana hati Anin. Tubuhnya menggigil seketika.
Anin menutup mata rapat-rapat. Dan berusaha membayangkan apa saja yang indah-indah dan menyenangkan.
....... Lalu pria itu mengecup singkat.
Mata Anin membulat ketika Indra menempelkan bibirnya.
Tubuhnya membeku. Lidahnya kelu seketika. Bahkan Anin bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang bertalu begitu cepat. Dan Lututnya bagai jelly, lembek serasa tak bertulang dan hampir saja merosot tak kuat menahan bobot tubuhnya.
Lalu ditutupinya debar jantungnya yang tak karuan ketika Indra menatapnya. Tatapan teduh menenangkan dan Anin merasa menjadi wanita yang begitu diinginkan olehnya dengan tidak ada paksaan dalam tatapannya.
Anin merasakan panas di sekujur tubuhnya, wajahnya. Lalu cepat-cepat disembunyikannya wajahnya yang terasa panas.
Anin mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ini tidaklah nyata.
Dan ketika Anin merasakan bibirnya tersentuh lagi oleh sesuatu yang lembut barulah ia sadar bahwa situasi ini bukan mimpi dan ini nyata.
__ADS_1
Bagaimana ini?
….dan insting lah yang memenangkan peperangan dalam diri Anin yang membiarkan dirinya larut dalam nostalgia lama. Bibir ini pernah menyentuhnya kala itu namun dengan cara yang berbeda.
Anin memejamkan matanya menerima bahkan menikmati sentuhan lembut yang di suguhkan Indra. Tidak ada perlakuan kasar. Tidak ada makian, tidak ada paksaan dan hanya tersisa gairah yang tertahan serta desahan lirih yang berhasil meloloskan diri.
Sesaat Anin terlena...
Hingga ketika dia mendengar suara seseorang yang dikenalnya memanggil namanya.
Anin membuka mata. Mas Bima??!!!
Dan suaminyalah yang sekarang sedang mencumbunya.
Seketika minat Anin merosot. Semanis dan selembut apapun yang dipersembahkan Bima, ia tak mampu membangkitkan minat istrinya.
Dan rupanya Bima menyadari hal itu.
Padahal tadi begitu bergairah. Dan dia berniat untuk menyudahi kegiatannya karena percuma saja kalau dipaksakan pasti akan menyakiti istrinya lagi.
Begitu juga Anin yang menyadari kegalauan suaminya yang sedang berusaha menahan hasratnya agar tidak menyakiti dirinya.
Anin menarik nafas lalu meraih kerah kemeja suaminya untuk mendekat.
….dan mulai mencium bibirnya singkat kemudian mulai membuka kancing kemeja itu satu persatu. "Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Aku juga menginginkannya." Gumam Anin
"...are you sure?!! Saya tidak mau menyakitimu lagi."
"Yes i'm, lakukan saja atau...." Pinta Anin.
"As your wish. dan Saya janji akan pelan-pelan." Ucap Bima yang hampir tak terdengar karena deru nafasnya.
Usai berkata seperti itu, untuk membuat istrinya mabuk kepayang ia mengecupi bibirnya, ujung -ujung dadanya hingga ke sekujur tubuhnya.
Bima kembali mencumbu istrinya dan dia menepati janjinya. Dengan sangat lembut dan pelan-pelan dia memperlakukan istrinya, selayaknya sedang mencumbu seorang gadis belia yang baru saja akan mendapatkan pengalaman pertamanya.
Tuhan maaf kan aku sekali ini saja!!!
Usai berkata dalam hatinya Anin kembali mengunci pandangannya. Dan membiarkan dirinya berkelana sesuka hatinya, tanpa mampu dicegah.
Hingga berhenti pada sebuah lorong gelap dengan sedikit cahaya.
Sesudah itu dia tidak mampu berpikir lagi. Pagutan bibir itu seperti api yang membakar sekujur tubuh Anin. Panasnya terasa membara hingga ke ujung kaki.
Keesokan harinya,
Tirai jendela telah tersibak, panorama taman yang membungkus kolam renang yang tenang dan menyegarkan itu seperti menyapa, mengucapkan selamat pagi.
Tiba-tiba saja Anin mengerti. Tiba-tiba saja dia tersadar apa yang telah terjadi.
Bima membungkuk di samping tempat tidur dalam balutan handuk putihnya dan mengecup pipi istrinya dengan lembut. "I Love You," Bisiknya mesra. Lalu menunduk lebih dalam dan mencium bibir Anin.
Dan sekali lagi, mereka kembali merajut renda-renda cinta yang sempat terkoyak. Namun Kali ini tanpa bayang-bayang pria lain.
Karena semalam Anin telah mendapatkan kebahagiaan sempurna dengan ilusinya.
__ADS_1
***