
-Cinta juga butuh pemahaman,agar selalu berada di jalan yang benar-
--------------------------***--------------------
.
.
Setelah Mendapatkan kembali kesadarannya, Indra bangkit kemudian mulai mencari keberadaan Anin.
Mei sekali lagi dibuat heran dengan sikap kedua orang tersebut. Ada apa sebenarnya??
Indra berusaha meraih lengan Anin, "Hei, hei... ada apa denganmu?" Ucapnya ketika sudah berhasil menjangkau langkah Anin.
Anin menoleh. "Oh, kebetulan. Ada yang perlu saya sampaikan."
"Apapun… aku akan mendengarkan."
"Sebelumnya saya minta maaf, tapi jangan salah sangka terhadapku, Bahwa sikapku mendiamkan perlakuanmu bukan berarti aku membenarkan tindakan kita. Kita tahu dengan jelas, Semua ini tidak benar."
"Apa yang tidak benar?!"
"Sikapmu, -maksudku- entah apa kau menyebutnya kegilaan ini, tapi semua ini jelas salah."
"Kegilaan??!! Hahaa…." Tawa Indra terdengar sumbang. "Kau sebut ini kegilaan?! kegilaan kah, jika aku menyimpulkan semua reaksimu adalah karena kau--??"
"Benar! aku memang gila!! Lalu apa hakmu menyimpulkan tentang diriku, perasaanku?!!"
"....." Indra memutar bola matanya tanpa mampu mengutarakan maksudnya.
"Listen!! Aku hanya mencintai suamiku dengan sangat jelas dan terhadapmu tak lain karena aku bingung dengan diriku sendiri atas rasa bersalahku."
Kau bohong Anin! dengan sangat jelas pula. "Ck! Oke, baiklah. Anggap saja dari awal kau tidak pernah menaruh rasa terhadapku selain rasa iba." Indra memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Walaupun hari seperti ini sudah diprediksi akan terjadi, hanya tinggal menunggu masalah waktu saja. Namun Indra belum siap Jika ternyata datang secepat ini.
Meskipun setiap waktu dirinya selalu mematri dalam otaknya bahwa ia sudah sangat siap dengan segala resikonya dan dia sadar bukankah cinta tidak harus memiliki?! Tapi kenyataannya, Dia tidak rela dan butuh rasa ikhlas yang lebih besar.
Tapi bukankah cinta juga wajib kita perjuangkan?!
"Jadi, benar...perhatian dan semua perbuatan yang kau lakukan dimasa lalu itu palsu."
Anin mengangguk lemas dan matanya mulai terasa panas.
"Setidaknya, kita bisa menjadi teman, kan??"
"Tidak. Menghilanglah dari hidupku. Selamanya... " ucap Anin tegas. Dan tak terasa matanya mulai berair.
Pupus sudah harapan terakhir Indra. Tidak ada lagi kesempatan baginya. Dia telah kalah.
Kalah pada laki-laki yang sungguh tidak pantas buat Anin.
******** itu, Sialan!!! Bagaimana bisa Indra menitipkan cintanya pada laki-laki tidak bertanggung jawab seperti dia.
Dan bagaimana bisa, aku mempercayakan gadis ku pada pria brengsek seperti Bas Bima Aji, Indra menggeram kesal. Dan meninju udara dengan kepalan tangannya.
"Baiklah, jika itu keinginanmu." Indra kemudian pergi dengan menerima kekalahannya -bahkan sebelum ia berjuang dan mengungkap siapa dibalik skandal malam itu yang selama ini ia selidiki dengan diam-diam.
Karena semua berawal dari malam itu. Skandal menjijikan yang dibuat cantik seperti drama korea oleh seseorang yang sangat menjijikan.
Tak apa. Bila tuhan belum juga berpihak padaku setelah sekian waktu aku menunggumu. Aku akan tetap menjagamu dengan ataupun tanpa ijinmu.
Anin merasa dadanya sesak sekaligus sakit. Menatap kepergian Indra dan benar bahwa Anin mencintai Indra jauh sebelum dia menikah dengan Suaminya. Namun dia keliru menafsirkan perasaannya sendiri, hingga dia terlambat menyadari perasaannya, sebab cintanya tertutup noda hitam yang bahkan Indra sekalipun tidak menghendakinya.
Kakinya yang sedari tadi terasa lemas, akhirnya terkulai tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya, dan tangisnya pecah begitu saja Ketika Indra tak nampak lagi di pelupuk matanya.
Anin menangis tersedu memegangi dadanya yang terasa amat sakit menyayat.
Mei yang sedari tadi berada di dekat mereka dan secara tidak sengaja menjadi saksi atas cinta yang mustahil itu, ikut meneteskan air matanya. Tidak menyangka sahabatnya yang ceria, tegar, dan garang waktu sekolah kini hanya wanita lemah tanpa kuasa.
Mei lalu menghampiri Anin dan memeluk sahabat terkasihnya. Malang nian nasibnya. Dan dia meminta maaf atas keputusannya memilih Indra untuk menjemputnya kemarin.
"Dari mana semua ini berawal, tolong ceritakan padaku, Nin...." Tanya Mei kemudian.
Anin pun memulai ceritanya dalam isak tangisnya, bagaimana pengalamannya bertemu dengan Indra yang Mei sendiri juga mengetahui cerita itu, dan ketika sampai pada cerita dimana Mei melewatkan kejadian itu, Mei tercengang, kaget, syok. Dan lebih syok lagi ketika Anin menceritakan pengalaman kekerasan dalam rumah tangganya oleh suaminya sendiri.
Mei tidak menyangka bahwa sahabatnya telah menjadi korban dan mengalami penghinaan yang begitu keji. Tanpa sadar Mei ikut menangis dan tak bisa membayangkan bagaimana seandainya hal itu menimpa dirinya.
"Demi tuhan, Anin, Kenapa tidak pernah kau ceritakan lebih awal." Mei memeluk Anin lebih erat lagi. "...dan semua ini kau tanggung sendiri. Maafkan aku, Sebagai sahabat aku tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak menyadari penderitaanmu selama ini." Kemudian Mei menangis. Bahkan dia tidak peduli bahwa dia menangis di hari bahagianya, di hari pernikahanya.
"It's oke, Mei, dan sekarang aku hamil." Anin menyusut air matanya. Dengan tissue yang sudah tak berbentuk lagi.
Anin menangkap ekspresi bingung dan buru-buru dia melanjutkan kalimatnya. "...dengan suamiku, tentu saja."
Mei mengambil nafas lega. "Yaa.. tentu saja, kau tidak akan berbuat hal bodoh dan menodai kehormatanmu. Dan juga, keputusanmu sudah benar. Sangat benar." Mei memeluk erat sahabat malangnya itu dengan penuh kasih sayang dan penuh haru.
"Mei, Sesaak. Kau mau membunuhku dan bayiku haah?! Aku susah nafas, Mei...." seru Anin yang tentu saja hanya bergurau.
"Haha... sorry, sorry." Mei memandang perut Anin lalu mengelusnya. "Maaf kan onty ya, utun." Tambahnya.
"Selamat atas pernikahanmu, sorry, gue merusak kebahagiaanmu."
"Haha--- its ok. Selamat atas kehamilanmu juga."
Dan keduanya tertawa bersama.
Begitulah persahabatan aneh itu semakin berkembang. Dan selalu mampu saling menguatkan.
"Eh, kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" Tanya Anin curiga.
"Aaaah--- aku mengikutimu, karena aku curiga. Dan ternyata benar kecurigaanku." Mei menoleh ke kanan ke kiri. "So, dimana Mika?"
Anin menggeleng. "Belum ketemu."
"Ya sudahlah, biarkan saja dulu. Toh dia bukan anak kecil lagi. Dia tahu mana yang terbaik buat dirinya."
"Setuju."
"Eemm, mau sampai kapan.. kita disini, Mei? Panas coy, luntur dah bedak gue." Mei sudah kembali ke asalnya.
"Haha....kau ini." Anin mencubit lengan Mei. "Ya sudah mari kita nikmati pestamu."
__ADS_1
"Dengan senang hati...." Mei bangkit lalu membantu Anin yang kesusahan berdiri. "Dasar nenek-nenek." Goda Mei.
Dan hingga malam, Mika belum juga diketahui keberadaannya.
***
Anin mengelus-elus perutnya yang masih rata. "Mungkin hari ini papa sibuk sayang, tapi tenang saja, Besok, begitu sampai rumah, kita langsung kasih tau papa yaa sayang, kita kasih kejutan buat dia." Anin bergumam pada perutnya sendiri ketika dia tengah berbaring di atas ranjang.
Apapun akan ku lakukan, akan ku korbankan. Sekalipun itu nyawaku. Demi kebahagiaan kita.
Kembali terbayang muka innocent Indra yang seketika berubah suram.
Diliputi perasaan Kecewa. Lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Bahkan tanpa menoleh lagi kebelakang.
Paling tidak untuk saat ini Anin merasa lega. Telah jujur pada dirinya sendiri. Dan telah memilih masa depannya dengan penuh pengharapan hidup bahagia.
Bruaakk!!!
Anin tersentak ketika telinganya berdengung akibat suara keras tersebut.
Mika masuk tergopoh dengan paras sepucat mayat.
Bibirnya bergerak-gerak namun tak mengucapkan sepatah katapun.
"Hei, ada apa??!" tanya Anin heran. Kenapa lagi ini?? pikirnya.
Mika duduk meringkuk memegangi lututnya. "Tutup pintunya, Nin. Kunci. Kunci. Kunci, Anin!!" Nadanya bergetar ketakutan.
Anin kemudian bangkit dan bergegas meraih pintu kamarnya lalu menutup dan menguncinya.
Dalam perasaan yang tak kalah bingungnya Anin kemudian duduk di sebelah Mika yang masih gemetaran.
"Kamu kenapa?? Ada apaa ??"
"Aku takut, Nin~~takut," Mika mulai menangis.
Anin semakin bingung dibuatnya.
"Takut kenapa, Mim? Takut sama siapa?"
Dan bukannya menjawab pertanyaan, Mika justru terisak.
"Aduh~~kamu kenapa sebenarnya? Jangan bikin aku tambah bingung dong Mik!"
Namun justru tangisannya semakin menjadi. Tersedu-sedu.
Dan Anin mulai panik.
Akhirnya Anin putuskan untuk menelepon Meu di malam pengantinnya.
Bodo amat!! Lagian ini masih sore -baru pukul sebelas malam- Dan mudah-mudahan mau angkat. Semoga!! Gumam Anin pada dirinya sendiri.
Cukup lama Anin menunggu. Hingga kemudian Mei menerima panggilannya.
"Wo..woo wo, sabar bu, sorry ganggu, tapi ini penting dan mendesak." Terang Anin.
"Ada apaan, katakan?!! gue bunuh kalau cuma hal iseng !!!" Geram Mei gemas.
"Bisa kesini sebentar?! Please…." ucap Anin dengan nada memohon. "Ini soal Mima, Mey. Dan gue nggak tahu dia kenapa???" tambahnya.
Setelah menimbang-nimbang Mei pun memutuskan untuk kesana. "Hhmm… tunggulah, gue segera kesana."
"Jangan lupa pake baju mu, Mei." Goda Anin. Sekedar untuk meredakan kepanikan disini.
"Sialan, Lu." Hardiknya lalu Mei mematikan ponselnya.
Tak perlu waktu lama untuk Meu sampai di cottage. Itu karena memang letaknya hanya terhalang oleh beberapa bangunan saja yang masih dalam satu area.
Anin bergegas membuka pintu depan ketika terdengar seseorang mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya.
"Hai, Mey..yuk.." Anin menyempatkan melongok keluar dan ternyata masih ada seorang lagi diluar. Dan Anin menjadi sangat tidak enak hati. "Hai, Tom...sorry, gue ganggu kalian...so sorry."
"Tak apa..." jawabnya dengan muka masam.
Yaa tentu saja, siapa yang nggak kesal. Malam pengantinnya dijajah!! Dirusak oleh sahabat istrinya.
"Janji, kita nggak akan lama..." terang Anin pada Tomas dan rupanya berhasil mengembalikan senyum Thomas yang masih sedikit kesal itu.
"Santai saja... "
"Nggak masuk? Ada cukup kamar kok di dalam."
Mei tiba-tiba mencubit lengan Anin.
"Eem--- maksudku barangkali mau menunggu sambil tidur-tiduran di dalam…." Anin buru buru mengoreksi kata-kata yang absurd tadi.
"Ah, tidak. Aku tunggu di mobil saja. Biar kalian punya privasi."
"Oke. Thank, Tom."
"Sebentar ya, sayang...."
Tomas menjawab dengan anggukan kepalanya.
Kemudian mereka masuk ke kamar dan membiarkan pintu utama terbuka.
Di dalam kamar. Mika sudah tidak menangis, hanya wajahnya yang putih semakin terlihat pucat dan bibirnya bergetar- getar.
Mei mengguncang guncangkan bahu Mika. " Hei..Mik, Lu kenapa?! coba katakan ada apa??? Jangan kayak gini dong…."
Anin berdiri diatas kakinya dan hanya mampu meneliti keduanya.
Mei menoleh pada Anin, …"kenapa dia, Nin?"
Anin mengedikkan bahu.
"Mik, Hey.. apa terjadi sesuatu?? Katakan...disini aman tidak ada siapa-siapa dan hanya kita bertiga. Katakanlah ada apaa??" Perkataan Me8 kali ini berhasil merebut perhatian Mika.
__ADS_1
"Nin ..apa benar, kamu~~~ dan Indra~di rumah sakit~" Mika memulai menceritakan apa yang baru saja diketahuinya dengan terbata dan tangan yang saling remas.
Mei dan Anin menoleh ke arah satu sama lain secara bersamaan.
"Apa maksudmu, Mim...." Tanya Mei yang sudah bisa menguasai dirinya.
Sedangkan Anin mulai gelisah. Siapa yang memberitahunya. Dan hanya beberapa orang saja yang tahu kejadian itu. Tidak mungkin Indra, Karena itu juga merupakan aibnya.
Mei menyentuh lengan Anin lalu dengan tatapannya berusaha menenangkannya. "Ingat kandunganmu."
Anin membaca gerak bibir Mei yang tak bersuara.
"Jadi...apa yang kamu ketahui, Mik, Tolong ceritakan dengan jelas." tanya Mei lagi.
"Jadi... pada malam itu....ketika...."
.
.
….Flashback on]
Di rumah sakit.
…..Indra sibuk mencari-cari keberadaan Anin. Dia bertanya pada setiap petugas yang ditemuinya.
Dia mencari keberadaan Dokter Anin bermaksud untuk meminta penjelasan perihal kata-kata dokter Firman yang ternyata telah menyadarkannya. Dan ingin membuktikan bahwa ucapannya itu salah.
Malam itu Indra hilir mudik gelisah di depan pintu utama, berharap dengan menunggu disana, dia dapat mencegat kalau-kalau Anin hendak pulang.
Cukup lama dia menunggu disana, hingga kakinya mulai terasa sakit.
Dia hampir menyerah dan memutuskan akan melanjutkan besok pagi saja, ketika petugas keamanan menghampirinya dan menawarkan cerutu yang menurutnya akan membuatnya tenang dan rileks.
Indra menerima cerutu itu lalu menyalakannya dan mulai menikmati. Dan benar saja, dia merasa sedikit lebih tenang.
Pak satpam itu lalu kemudian menawarkan diri, agar Indra menunggu saja di pos jaga sekalian duduk menemaninya sambil main catur.
Namun Indra menolaknya dengan alasan dari sudut sana tidak bisa melihat dengan jelas.
Kemudian pak satpam itu kembali melanjutkan tugasnya. Hendak berkeliling memeriksa keadaan.
Namun langkahnya dihentikan oleh seseorang yang dia kenal sebagai dokter Abi. Dengan kepolosan yang ia gunakan serta beberapa lembar uang kertas Abi berhasil membujuk pak satpam untuk memutar kembali langkahnya dan menghampiri Indra lalu menawarkan bungkusan yang berisi beberapa cerutu.
Dilihatnya cerutu pertama sudah tinggal puntungnya saja -habis-, Indra pun mengucapkan terimakasih lalu kemudian mengambil sebatang lagi dan menyalakannya.
Satpam tersebut lalu memberitahukan informasi yang didapatnya kepada Indra.
Satpam tersebut memberitahu informasi keberadaan dokter Anin yang ia ketahui dari dokter Abi dan pak satpam tersebut tidak tahu menahu bahwa cerutu yang ia tawarkan pada seorang -pasien- yang menyamar sebagai keluarga pasien adalah bukan sekedar cerutu.
Abi telah mencemari cerutu itu dengan obat perangsang yang di oplos dengan serbuk heroin yang telah ia siapkan dari jauh-jauh hari dan selalu menyimpannya pada loker pribadinya. Takut Kalau-kalau suatu saat dia membutuhkannya. Namun siang tadi dia mengeluarkan cerutu tersebut dari lokernya dan bermaksud untuk memberikannya pada pasien di lantai dua secara langsung sesuai rencana yang telah disusun rapi.
Namun dia menggagalkannya ketika dia melihat Dokter Firman baru saja keluar dari kamar pasien itu. Dan muncullah ide gila itu. Abi kemudian mengatur ulang rencananya.
"Sekali tepuk, kena dua tiga nyamuk, Boom." ucapnya kala itu.
Indra kemudian pamit pada satpam tersebut dan segera mencari tempat yang di maksud pak satpam itu.
Setelah beberapa kali nyasar, akhirnya Indra menemukannya.
Indra memantau kondisi sekitar. Takut kalau-kalau Dokter Anin sedang bersama dengan seseorang yang adalah kekasihnya, menurut info yang baru saja di dapatnya dari dokter yang ia temui di jalan yang mengaku bernama dokter Firman, -yang sebenarnya adalah Abi yang mengaku sebagai Firman.
Bukan tidak sengaja, Abi menyapa, namun ia sekalian ingin memastikan apakah obatnya sudah bereaksi atau belum.
Dan ternyata belum, baru sampai pada tahap gelisah yang terlihat dari mata dan reaksi tubuh ketika Abi menyentuh bahunya.
Abi kemudian menahan Indra sebentar, dengan sedikit membual bahwa Anin sedang bermesraan dengan kekasihnya. Dan Anin sangat menyukai keromantisan yang sedikit kasar.
"Kau tahukan, apa yang ku maksud. Semacam kelainan seksual. Jadi..jika kamu ingin perhatiannya mulailah dengan bersikap romantis padanya."
Setelah menanamkan racun pada Indra yang sudah mulai terpengaruh obat, Abi kemudian berlalu -pura pura- meninggalkan Indra. Yang kemudian berhenti lalu mengawasi dari sudut tak terlihat. Dengan sebuah handphone di tangannya dalam posisi standby.
Namun sial. Drama belum selesai direkamnya. -si Pengganggu yang entah dari mana- justru datang menolong disaat yang tidak tepat. Gagal sudah Abi melihat kesakitan Anin. Gagal sudah Abi menyaksikan gadis itu kehilangan kehormatannya.
Shit!!!
Tak lama setelah Indra tergeletak sekarat sendirian, dokter Abi datang menghampiri sebagai Abi sahabat baru Indra.
Lalu Indra yang babak belur, di bawa masuk ke ruang perawatan. Indra merasa ditolong oleh malaikat yang menyelamatkan nyawanya sekali lagi.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Setelah Indra sadar dan mendapatkan ingatannya yang tentu saja dibantu oleh Abi dengan pemahaman palsu, Indra datang menemui Anin. Memohon maaf dan menjelaskan apa yang ia ketahui.
Bahwa semua adalah karena ia emosi akibat Kata-kata seorang dokter dan ---dan aku cemburu, serta marah padamu.
Dan semenjak saat itulah, Anin menutup rapat perasaannya.
Dalam diam, Anin mulai membenci Firman hingga ke sumsum tulangnya. Menjaga jarak dengannya. Dan sebisa mungkin menghindarinya.
Firman yang menaruh hati sejak lama tidak terima mendapat penolakan yang cukup mengejutkan.
Hubungan yang awalnya baik-baik saja berubah menjadi sekelam malam. Tanpa tahu apa penyebab semuanya.
Dan ketika Firman nekat melamarnya, Anin justru semakin marah.
Dengan menanggung malu yang amat sangat Akhirnya Firman memutuskan untuk menyingkir dan kembali melanjutkan studinya di luar negeri untuk sementara waktu.
Dan akibat peristiwa itu Anin melalui malam-malamnya dengan sangat menyiksa.
Mimpi --Nyaris diperk*sa-- oleh pemuda yang telah ia curahkan segudang perhatian serta kasih sayang selalu menghantuinya.
Mimpi yang hadir pada setiap malam-malam panjangnya.
Dan baru bisa kembali tidur setelah paling tidak menenggak sebutir obat tidur atau penenang. Atau malah terkadang Anin tidak melanjutkan tidur sama sekali.
****
.
.
.
__ADS_1
coba share dong, gambaran Anin dan Bima, kalian?