Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Sweet


__ADS_3

Senja di sore itu begitu indah hingga Anin pun enggan melewatkannya. Ia masih saja asyik menikmati panorama langit berhias burung-burung di angkasa serta bunga-bunga di halamannya yang semakin bertambah banyak itu.


Gadis itu sedang duduk pada bangku panjang di teras rumah. Dengan sebuah buku di sebelahnya.


Dia tengah asyik menutup mata menikmati udara sejuk dengan iringan salah satu musik klasik karya chopin dari headsetnya -karena menurutnya musik klasik bagus untuk Bumil, Ketika Bima tiba-tiba entah dari mana, Ia muncul lalu berjongkok dan menciumi perut wanita itu. Yang sontak terkejut bukan main hingga tangannya reflek meraih buku dan memukulkannya pada kepala pria itu.


"Aw..aw..aw…."


Bima mengaduh kesakitan lalu mengelus-elus kepalanya yang baru saja menjadi sasaran pendaratan buku setebal 350 halaman.


"Untung disebelahku cuma buku, coba kalau gunting atau sekop itu!" kata Anin sambil menunjuk ke salah satu kotak yang berisi peralatan berkebunnya.


Bima masih mengelus-elus kepalanya.


"Dari mana jam segini ___?" tanya Anin acuh tak acuh.


"Kenapa, kangen?" goda Bima.


"Jawab saja dari mana?!." Ucap Anin ketus.


"Dari kantor, dong..." Bima kembali mencium perut istrinya. "Coba kau kasih tahu mamahmu itu, bilang kalau Papamu ini kan pekerja keras." Ucanya pada perut istrinya yang telah memasuki usia trimester kedua pada kehamilannya dan sudah terlihat buncitnya.


Kau bohong, jelas-jelas papamu bilang kau sudah dua bulan tidak ke kantor! Jadi tidur dimana selama ini?


Ingin rasanya Anin tertawa melihat tingkah konyol suaminya yang tak tahu malu itu. Kalau di pikir-pikir, Bima telah banyak berubah. Dia lebih lembut -sangat lembut malah- dan tidak pernah menunjukan sikap aneh-anehnya lagi seperti dulu. Bahkan Anin merasa kalau laki-laki di depannya itu jelmaan dari malaikat kesabaran.


Sekilas Bima menangkap senyum manis istri -judes-nya itu. Yang kemudian kembali menjadi judes.


Bima kembali menciumi perut istrinya serta mengajak bercerita tentang sekantong makanan dan mainan yang ia bawa entah dari toko mana lagi.


"Stop! jangan kau racuni anakku dengan bualan mulutmu itu!" kata Anin protes ketika ia merasa geli dan gerah dengan segala perlakuan Bima pada perutnya.


"Nak, Kau tahu tidak? Mamah mu itu sebenarnya orang baik, hanya saja sekarang ia sedang kesambet setan gunung ciremai. Kau tahu kan, Mak lampir penghuni gunung itu? Sama kejamnya dengan mamahmu, hanya saja mamahmu lebih cantik." Bisiknya yang tentu saja Anin dapat mendengarnya.


Anin membelalakan Matanya. Namun tak kuasa untuk bersuara memarahi tingkah absurd suaminya.


"Tuh, kan! bener apa kata papamu ini...." Bima tersenyum sambil menatap Anin dengan tatapan minta dikasihani.


"Papah pulang dulu ya, sayang..." pamitnya pada makhluk yang masih dalam perut itu. "Besok pagi papah kesini lagi, kita ke dokter besok." Tambahnya. Lalu mengelus kedua sisi perut Anin dan menciumnya lagi.


Anin membuang tatapannya jauh kedepan. Tak kuasa menahan haru serta Iba.


"Kau boleh tidur di sofa. kalau kau mau?" ucapnya lirih. "Berhentilah menjadikan mobil itu sebagai tempat tidur!" dengusnya. kemudian ia berdiri dan meninggalkan Bima yang tengah kebingungan.


Dari mana Anin tahu selama ini dirinya tidur di mobil -sebab Hotel terlalu jauh dan harus ke tengah kota. Sedangkan disini penginapan jarang. Terpaksa deh tidur di mobil supaya lebih cepat kalau ada apa-apa Pikirnya.


Bima merasa malu. Jangan-jangan istrinya juga tahu bahwa selama ini dia tidak bolak balik ke Jakarta. Dan hanya berputar-putar sekitaran kota itu saja. Lalu kembali setelah senja.


Bagaimana ia tega meninggalkan istrinya yang tengah hamil. Bagaimana ia sangat khawatir jika sehari saja tidak melihat dirinya. Apalagi sekarang, usia kehamilannya sudah semakin bertambah. Harus selalu siaga!


Bima menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dengan Tersipu malu.


Apakah semua pria sama seperti diriku? Ketika menantikan anak pertama mereka?!


Bima menyusul ke dalam rumah dengan membawa serta semua kantong berisi mainan serta makanan yang ia beli siang tadi di kota.


Dilihatnya sekeliling, mencari-cari keberadaan istrinya yang ternyata tengah asyik menyantap buah mangga di ruang makan.


Dengan malu-malu ia duduk lalu meletakan barang bawaannya diatas meja makan.


"Berhentilah membuang-buang uang mu!!" kata Anin tanpa meninggalkan tatapannya dari buah mangga.


"Hah!" Bima melebarkan kedua bola matanya lantas melirik kantong-kantong bawaannya. "Ooh, ini? Anu, Itu, Saya tidak tahu kamu sedang ingin makan apa, jadi ku beli semua makanan, jajanan kesukaanmu." Ucap Bima dengan senyum yang menampilkan gigi-gigi putihnya.


Anin berdecak.


"Yang kemarin bahkan belum habis." Ucapnya acuh tak acuh dengan kembali menyuapkan Mangga ke mulutnya sambil bergumam lagi.


Bima bukan tidak menyadari bahwa istrinya sedikit berubah. Selain makin cantik tentu saja, kali ini Anin juga lebih banyak bersuara. Buktinya dia mau menegur dan tidak langsung pergi menghindar. Walaupun masih sesekali raut mukanya ia sembunyikan. Dan kata-katanya masih juga sepedas sambal level sembilan.


Bima tersenyum lagi.


"Kenapa? Memangnya ada yang lucu?" bentaknya.


Bima menggeleng cepat.

__ADS_1


"Kamu kira aku ini badut?!" Anin mengelus perutnya dengan tangan kiri. Ya, ya, ya. Wanita hamil memang mirip badut. Tertawalah kamu Sepuasnya! Tapi lihat saja besok setelah melahirkan.


Anin menghela nafas. Memangnya kenapa setelah melahirkan. Bahkan suamimu main gila sebelum kamu hamil, Nin. Apalagi sekarang. Dengan kondisi tubuhmu yang jauh dari kata sexi apalagi cantik. Dan lebih mirip petugas pembawa drum pada iringan marching band.


Alamak, Sensitifnya wanita satu ini. "Tidak, Bukan itu. Sebab kamu terlihat cantik kalau sedang menggerutu." Bima mengoreksi aksinya. Lalu ia tersenyum malu-malu mengakui kecantikan istrinya bahkan disaat ia sedang dalam kondisi marah.


Dalam sekejap mata, bulu disepanjang lehernya meremang. Dan selebar parasnya pun memerah. Hanya karena gombalan receh semacam itu. Seakan-akan suaminya telah melakukan keajaiban besar. Sehingga membuatnya takjub dan senyumannya itu membuatnya bergairah serta jengkel pada saat yang bersamaan.


Kau ini Memuji atau menghina?


Anin melempar garpu dari tangannya hingga berdenting diatas piring yang berisi mangga. Hhuh!!


Anin berusaha meraih teko berisi air putih yang sebenarnya bisa saja ia meminta Bima mendorongnya agar lebih dekat dari jangkauannya. Namun Anin tidak melakukannya. Dan memilih menggunakan tangannya sendiri untuk mengambilnya walau agak kesusahan karena meja makan itu cukup panjang. Dan ia malas bangun.


Anin mendengus kesal pada dirinya sendiri. Dan laki-laki itu mengira Anin marah padanya.


"Jangan lekas emosi, nanti anak kita jadi ikut-ikut emosi," ucap Bima.


Anin membelalak semakin lebar menatap pria di depannya itu.


"Bukan, Bukan begitu. Maksud saya... nanti anak kita protes terus muntah Mangga."


"Diamlah!"


Bima mengangguk patuh. Dan Menutup rapat bibirnya, menyembunyikan senyum manis dibaliknya.


Anin kembali menghela nafasnya. Sebelum melanjutkan ritual makan mangga sebelum minum vitamin kehamilannya.


Sebab jika tidak dibarengi makan mangga, maka akan sangat terasa mual. Ya, begitulah tablet Fe yang mulai di minumnya sebelum tidur. Pernah sekali Anin meminum tablet Fe- nya di pagi hari dan akibatnya sepanjang hari ia mengalami mual-mual. Semenjak itu ia tak lagi meminumnya di pagi hari.


Dan benar, menurut dokter di rumah sakit. Efek mengkonsumsi Fe adalah terasa mual dan tidak nyaman di lambung. Sehingga disarankan diminum sebelum tidur.


Belum lagi rasa panas yang Anin rasakan setiap menjelang tidur dan selama tidur. Baginya, tidur telentang sudah mulai tidak nyaman, Kadang-kadang nafasnya terasa sesak ditambah punggung yang terasa gerah.


Dan betapa ia merindukan posisi tengkurap kegemarannya sambil membaca buku-bukunya.


Sekujur tubuhnya yang gampang berkeringat dan mudah terasa panas terbakar, mulai dirasakan sejak memasuki usia kehamilan trimester kedua. Sehingga mau tidak mau ia jadi hobi memakai Daster ataupun baju-baju adem lainnya yang serupa.


Bahkan saat ini pun ia telah menukar bajunya dengan gaun tidur berwarna hitam yang adem karena berbahan dasar satin dengan sedikit renda tembus pandang di bagian dadanya dan pada ikatan di bahunya Anin ikat membentuk simpul kupu-kupu. Kemudian lengannya yang indah, punggungnya yang sedikit terbuka ditutup dengan mantel senada, Namun sedikit agak kedodoran sebab Anin tidak mengikat talinya yang berada pada bagian dadanya- karena sudah tidak muat - jika dipaksa di ikat.


Beberapa kali Bima harus menelan ludahnya sendiri. Ketika pandangannya menyapu kulit leher Anin yang terekspos hingga ke bawah kulit Dada istrinya yang -pasti masih seputih dan semulus seperti terakhir kali ia melihatnya- terbungkus kain hitam itu.


Dan terakhir kali ia menangkap pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang dan senyumnya memudar. Ketika Anin kesusahan hendak mengambil air di pojok meja dan terpaksa ia harus dengan setengah berdiri dan sedikit mencondongkan tubuhnya diatas meja untuk meraihnya.


Anin yang tidak mengetahui aksinya telah membuat suaminya salah tingkah malah santai saja dan kembali duduk tanpa reaksi apa-apa. Kecuali membetulkan letak mantel yang bergeser dari dadanya.


Sial! Bahkan Dia tidak memakai lagi Bra-nya. Gerutu Bima dalam hatinya.


Betapa ia sangat merindukan istrinya, betapa besar keinginannya menyentuh. Membelai -nya-  lalu menciuminya. Dan sedikit bermain-main disana.


Bima berdehem. Dan mengambil nafas dalam-dalam untuk sekedar melonggarkan aliran darahnya yang terasa menyempit.


Namun usahanya sia-sia. Pikirannya semakin melayang kemana-mana. Menjelajah setiap jengkal tubuh wanita yang tengah duduk di depannya.


Akhirnya, dengan sangat terpaksa ia menumpang mandi malam-malam.


Asal kalian tahu, Bahkan Air yang sedingin air dalam kulkas itu saja, tidak mampu meredam gairah yang membakar tubuhnya.


Pada tengah malam, Bima gelisah dan belum bisa juga ia memejamkan matanya. Namun ia pura-pura tertidur ketika di dengarnya langkah yang semakin mendekat.


Rupanya, Anin membawakan selimut yang lebih tebal untuknya. Lalu menukarnya dari yang ia kenakan saat itu.


Anin kembali menyelimuti laki-laki yang ia kira tengah kedinginan. Lama ia menatap lekat-lekat calon ayah dari anaknya.


"Apa di minimarket tidak kau temukan pisau cukur? Dasar pemalas!!" gumamnya pada diri sendiri.


Tanpa sadar jemarinya mengusap wajah pria yang tengah tertidur itu. Kulit mukanya terasa kasar sebab mulai ditumbuhi Bulu-bulu jambang. Namun tidak mengurangi kadar ke-tampanannya. Justru terlihat semakin ____


Astaga!


Anin terkesiap kaget ketika tangannya tertimpa oleh tangan yang lain.


Belum hilang keterkejutannya yang pertama, Ia kembali dikejutkan ketika Bima kembali mendaratkan bibirnya, tepat pada bagian bibir Anin. Mencuri kecup bibirnya.


Anin membelalak. Beraninya dia kurang ajar padaku!

__ADS_1


Plak!!


Baik Bima maupun Anin terdiam.


Detik berikutnya, Bima menarik kembali telapak tangan gadis itu dan menempelkan pada sebelah pipinya yang baru saja dihadiahi sebuah tamparan yang cukup keras di tengah malam.


Dan, Bukan Bima namanya kalau dia tidak gila serta keras kepala.


Ia kembali mengecup bibir wanita itu, kali ini lebih dalam dan semakin dalam. Seakan sudah berabat-abat tidak merasakan rasa manisnya.


Anin terpaku.


Akal sehatnya berontak, Namun tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terkunci dan bereaksi sebaliknya. Tubuhnya mengkhianati dirinya.


Bukan buatan malunya Anin pada dirinya sendiri, terlebih Pada laki-laki itu. Saking malunya Anin menutup kedua matanya cepat-cepat hingga terasa pusing.


Rasa pusing yang telah berganti rasa lapar dan rasa haus. Tenggorokannya terasa sangat kering. Hingga tak mampu bersuara. Bahkan mengambil nafas saja ia tak kuasa.


Rasa aneh yang tak asing telah menguasai Sekujur tubuhnya.


Kamu selalu mendorongku untuk pergi. Tapi kamu harus melakukan lebih dari sekedar mendorong untuk membuatku pergi


Aku tidak akan menyerah kali ini


sayang,


Hatimu adalah milikku


Dan di matamu


Saya menemukan seorang wanita, lebih kuat dari siapa pun yang saya kenal


Saya menemukan cinta untuk membawa lebih dari sekedar rahasia saya


untuk membawa anak-anak kita sendiri


Sayang,


Dan Anin membenci dirinya ketika hasrat itu mulai terbangun perlahan, lalu berubah menjadi sebuah gelombang keinginan yang begitu luar biasa.


Mungkin bagi sebagian wanita, Aku adalah wanita paling bodoh.


Mungkin bagi wanita cinta bukanlah alasan untuk menjadi bodoh seperti ini.


Namun, Setiap kali ia menyentuhku


Dan katakan mencintaiku


Aku sedikit kehabisan nafas dan kehilangan akal


Aku seharusnya tidak menginginkannya


Aku seharusnya tidak membiarkannya...


Tapi Dia...


Anin butuh pasokan oksigen agar bisa berpikir jernih. Namun sepertinya Bima tidak menginginkan ia untuk berpikir jernih.


Bima membuat segalanya menjadi liar. Laki-laki itu terlihat luar biasa tampan dengan bulu-bulu kasar yang mulai tumbuh pada sisi-sisi wajahnya.


Bima memandangi Anin terang–terangan, membuat rona merah menjalar di selebar muka gadis itu. Namun rasa malu itu segera menghilang ketika tatapan memuja suaminya tidak lagi di tutup-tutupi.


Bima dengan keahliannya mulai menarik salah satu simpul tali gaun yang ber berbentuk kupu–kupu hanya dengan satu tangannya.


"Kamu cantik." Bisik laki–laki itu. Dan mulai bergerak sepanjang leher istrinya. Menyesapi aroma manis lotion yang Anin gunakan. Dengan bibirnya, Bima menyapu setiap jengkal kulit putih mulus istrinya.


Anin menggigit bibir, berusaha agar tidak menimbulkan suara dan berharap lebih agar otak warasnya segera kembali.


Desahan yang mati-matian disimpan dalam mulutnya akhirnya berhasil meloloskan diri ketika ia merasakan Bi.a mulai mencium dan menyapu kulit lehernya dengan mulutnya sehingga meninggalkan bekas kemerahan.


Anin mendesah diantara deru nafas yang memburu, dan keduanya telah berhasil mengelabui kewarasan dan akal sehat Anin yang terbebas bercampur dengan udara.


Anin menahan tangan laki–laki itu dengan sekuat tenaga ketika tangan suaminya meraih ikatan gaun yang sisi sebelahnya. Otaknya membangunkannya untuk cukup sadar dimana mereka berada sekarang.


Bima tidak perlu menggunakan otak cerdasnya untuk menerjemahkan maksud tersirat istrinya. Bahwa Mereka tidak hanya berdua, bahwa mereka berada di tempat terbuka yang bisa saja sewaktu–waktu penghuni lain muncul dan memergoki keduanya.

__ADS_1


Anin merasakan kedua tangan Bima menjelajah turun dari punggung hingga panggulnya dan dalam sekejap jemarinya telah berada di atas paha lalu menghilang dibalik pakaian yang Anin kenakan.


__ADS_2