Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)

Perempuan & Takdir (Proses Edit-revisi)
Lotion


__ADS_3

.


.


.


.....


Tak peduli lagi pada botol dan lotion yang tercecer dan sebelah kakinya yang belum sempat ia olesi.


Anin membalas pagutan suaminya tak mau kalah, seolah ia lah yang berkuasa, hanya dirinyalah yang berhak atas diri pria itu yang tengah dilingkupi hasrat yang begitu besar.


Anin mengalungkan kedua tangannya pada leher laki-laki itu. Membiarkan tubuhnya terangkat dan pasrah ketika di baringkan di atas -bekas- tempat tidurnya.


Anin tersenyum menatap suaminya.


"Kau sengaja menggodaku," suaranya serak.


Anin mengedikkan bahunya lalu tersenyum seraya menatap intens suaminya. Jemarinya menyusuri bahu kekar milik laki-laki itu yang masih terbungkus kemeja berwarna putih, terus sampai ia menemukan kancing-kancingnya dan mulai membuka kancing itu satu persatu.


Bima -bukan- tak memperhatikan setiap gerakan yang sedang Anin lakukan, "Kau tahu, susah payah saya menahan semua itu," lalu mengecup lembut kening istrinya.


Anin menuntun suaminya untuk melepas kain yang menutupi tubuhnya yang masih nampak bekas kebiruan di sana sini. Wajahnya yang tampan itu pun masih menyisakan tanda bahwa pemiliknya telah dihajar habis-habisan hingga babak belur.


Ia kembali menyusuri tubuh suaminya, membelai lembut tubuh bagian atas. Dadanya yang bidang, Perutnya yang rata dengan ototnya yang liat.


Bima memejam menikmati sensasi di setiap sentuhan yang ditimbulkan istrinya.


Tak sampai disitu, Anin kembali melanjutkan aksinya dengan membelai lembut punggung dan terhenyak ketika jemarinya menyentuh bagian kulit yang menebal disana. Bekas cambukan kah?  Yang diterima laki-laki yang tengah bertahan dengan kedua tangannya menopang bobot tubuhnya di atas tubuh Anin agar tidak menindih wanita itu dan perutnya.


Bima kembali mencium mesra bibir istrinya, lalu memagut dengan sangat lembut hingga setiap rasa dan aroma wanita itu dapat dengan jelas ia rasakan menyeruak dalam mulutnya. Tapi tidak bagi Anin. Gadis itu kembali teringat kejadian tempo hari yang menyapa pikirannya saat ini sepanjang ia membelai, meraba luka bekas cambukan yang belum benar-benar pulih itu.


….flashback dua hari sebelum hari ini.


Ketika dirinya dan Suami baru saja tiba di rumah orangtuanya di Bandung, yang ternyata selain keluarganya, turut hadir ayah dan ibu mertuanya disana, terkecuali salah satu kakaknya yang absen karena tengah berada di luar kota.


Lain dari biasanya, aura rumah saat itu begitu dingin dan syarat akan kengerian dengan tatapan semua orang padanya, seolah ingin menelan bulat-bulat tubuhnya ketika ia melangkah masuk.


Anin bertambah bingung ketika ia baru saja duduk diantara ibu dan ibu mertuanya lalu menyalami mereka bergantian.


Kenapa sih ini, ada apa sebenarnya? Kenapa jadi tegang begini.


Tak beda dengan istrinya, Bima juga heran melihat sopir dan ajudan orang tuanya ada di luar, itu berarti orang tuanya juga ada di dalam.


Ada apakah??


Setelah mengeluarkan isi bagasi dibantu oleh pak sopir dan ajudan, Bima kemudian membawanya masuk dan meletakkannya sementara di pojokan.


Suami istri itu saling tatap bingung.


Bima kemudian menghampiri sang kakak yang posisinya paling dekat dengan dirinya, bermaksud menjabat tangannya, dilanjut saling memeluk dengan cara laki-laki.


Sang kakak berdiri dari duduknya tapi bukan untuk menyambut adik ipar dengan hangat melainkan untuk menghadiahi sebuah pukulan telak yang sangat kuat di wajahnya.


BUAGH!


Anin memekik histeris. Suaranya nyaring membelah keheningan.


Bima terhuyung, bibirnya robek mengeluarkan darah. Dan kini ia tahu sebab orang-orang berkumpul disini sekarang karena ia sempat melihat kertas putih di atas amplop coklat berlogo sebuah Firma hukum yang disewanya untuk mengurusi gugatan istrinya.


Jadi sekarang, mereka sudah tahu?! Saya hanya tidak menyangka akan secepat ini. Bahkan sebelum saya berhasil memperbaiki keadaan.


Bima menatap ayahnya dengan matanya yang mulai berkunang-kunang.


Pria itu membalas tatapannya dengan kilatan amarah di kedua matanya, rahangnya mengeras, gigi-giginya bergemeletuk. Pasti ia sangat murka padanya.


Bima memindahkan tatapannya pada ayah mertuanya yang juga tak kalah mengerikan. Dan ia melihat wajah istrinya yang khawatir.


Setidaknya, kau masih mengkhawatirkanku, saya senang mengetahuinya.


Mengingat sepanjang perjalanan Anin hanya diam, bicara seperlunya, ngomong secukupnya, menjawab seadanya. Benar-benar perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan.


Kini laki-laki di depannya tengah mengumpulkan tenaga dan sepertinya tidak akan berhenti hanya sampai disini.


Tebakan Bima tepat karena detik berikutnya, kakak iparnya kembali berupaya memukul lagi. Bima melindungi wajahnya dengan tangannya dan berhasil menghalau serangan.


Sebenarnya jika ia mau melawan pasti ia dapat memenangkan perkelahian itu dengan dua tiga kali pukulan. Mengingat tubuhnya lebih kokoh dari kakak iparnya.


"Kurang ajar kau, Masih berani melawan, hah!!" maki Kakak sulung Alin yang tampak semakin emosi. Kemudian mendaratkan sebuah pukulan pada perut pria itu tanpa memberi waktu untuk menghindar ataupun membela diri.


Bima meringis, memegangi bekas pukulan yang diterimanya, "Mas.... tolong deng---"


"Brengsek!!" Anak tertua dari keluarga Otis meraih tongkat bisbol yang berada di dekatnya, lalu mengayunkan nya ke kepala laki-laki itu namun Bima berhasil melindungi kepalanya dengan lengan yang kini mulai terasa ngilu, sakit hingga terasa sampai ke sumsum akibat pukulan tongkat tersebut. Mungkin tulangnya retak.


Anin teriak histeris memanggil kakaknya.

__ADS_1


Rupanya berhasil menyadarkan kakaknya yang diliputi kemarahan.


Anin marah bahkan emosinya sampai ke ubun-ubun. Ia tidak terima suaminya tiba-tiba di hajar.


Kakaknya segera melepaskan tongkat yang sedang dipegangnya dan berganti meninju perut Bima lagi.


BUGHH!!


Sebuah pukulan keras yang berhasil membuat Bima duduk tersungkur menahan sakit.


"Itu balasan atas apa yang telah kau lakukan," lalu pria itu mengangkat tubuh adik iparnya untuk kembali melancarkan tinjunya ke arah rahang Bima. Pukulan keras yang berhasil membuat Bima terhuyung ke belakang.


Bima mengusap mulut yang tiba-tiba terasa asin.


"Dan ini pelajaran untuk perbuatanmu yang tega menyakiti adik ku dan calon anaknya."


Bughh!


Bima kembali menerima sebuah pukulan di perutnya. Dan kali ini ia terhuyung hingga jatuh tersungkur.


Dari belakang tubuh kakaknya, muncul laki-laki dengan perawakan besar, menghampiri Bima yang masih meringkuk kemudian menendang perut dengan cukup keras, tepat mengenai ulu hati. Tendangan itu berhasil membuat Bima mengerang kesakitan lalu memuntahkan cairan merah dari mulutnya.


Detik selanjutnya, Bima merasakan kepalanya dihantam. Pelipisnya hangat dan berair.


Pandangan mata Bima tertutup darah. Dia berusaha untuk bangung dengan bantuan satu lengannya untuk menopang tubuhnya.


Laki-laki yang sedang dilingkupi kemurkaan itu lalu menarik lepas ikat pinggangnya yang lebih mirip anyaman rotan dalam bentuk lain yang lebih tipis dan lentur. "Seperti ini kan, yang kau lakukan pada menantuku, Hah!!" pria tua itu mengayunkan benda tersebut hingga terdengar nyaring dan menyayat ketika melecut mengenai punggung Bima.


"Berapa kali kau mencambuknya!!!" bentaknya. Dan lagi, ia memecut tubuh anaknya tanpa ampun.


Teriakan dan tangisan Anin bahkan tidak mempan sama sekali untuk menyadarkan ayah mertuanya. Jika saja tidak ditahannya tubuhnya oleh ibu mertuanya, Anin pasti sudah menghambur.


"Sudah merasa hebat kau rupanya sampai berani menyakiti seorang perempuan!!" Lagi, cambukan itu diterima tubuh Bima. Hingga cairan dari balik bajunya tembus dan membasahi kemeja biru yang ia kenakan.


Bima lelah, pandangan matanya sudah memburam dan hampir ambruk. Rasa perih menyayat ia rasakan pada belakang tubuhnya. Namun ia masih berusaha untuk terbangun lalu tersungkur lagi ketika mendapat cambukan lagi.


Ayahnya yang masih tampak berapi-api kembali mengayunkan ikat pinggangnya lagi, "Tidak sepantasnya kau menyakiti calon cucuku!"


Bunyi cambukan itu kembali menyayat telinga. Anin terutama.


Pak tua itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berhenti di udara, "Bahkan, hingga setua ini, saya belum pernah menggores tubuh perempuan manapun dengan tanganku." Basuki Tua kembali mengayun tangannya sekali lagi untuk mencambuk anaknya tanpa belas kasihan.


Bima sudah tidak bisa menggerakkan lagi tubuhnya. Rasa sakit menyerang di setiap bagian tubuhnya. Namun tak seberapa dengan rasa sakit yang kurasakan di hatinya mengingat ia telah menyakiti istrinya dengan cara yang sama dan tidak terbayangkan olehnya bagaimana wanita itu kesakitan dan menerima segala rasa sakit itu.


Pak tua itu kembali hendak mengayunkan ikat pinggangnya ketika Anin berhasil lepas -atau sengaja dilepaskan- menghambur dan melindungi tubuh suaminya, menangis memohon untuk menghentikan segalanya.


"APA!?" Pak tua itu seperti tidak mempercayai telinganya sendiri. "Ironis sekali, Kau bahkan masih membela nya, Lekas minggirlah, Nak!" bentaknya. "Akan kubuat dia menyesali perbuatannya untuk seumur hidupnya."


Bima bergerak-gerak sebisanya dan mengisyaratkan pada istrinya untuk menyingkir. Karena ia tahu bagaimana jika ayahnya tengah murka, ia tak akan membiarkannya lolos begitu saja, salah-salah Anin kena sasaran.


Anin mengeratkan pelukannya pada suaminya. "Jangan Pa, kumohon!" Anin menangis lagi. "Dia mabuk, Dia tidak sadar dengan perbuatannya, dan dia sedang sakit waktu itu......" jelas Anin. "Percaya sama Anin, Pa, aku mohon, Aku bisa buktikan, karena aku mengetahui sakitnya," bela Anin dalam isak tangisnya.


"Sakit macam apa itu, yang membenarkan dia untuk berbuat brutal!!" geram pak Basuki tua. "Mengapa tidak sekalian kau racun saja dia, atau kau suntik mati sekalian!!!" imbuhnya.


"Minggirlah NAK!!" bentaknya.


Anin tetap tidak bergeming lalu menangis sejadi-jadinya.


"Sudahlah, Pih.. sudah cukup, kau bisa membuatnya mati." Kata ibu mertuanya, getir dalam nada suaranya tidak dapat disembunyikan. "Sudah cukup...Cukup. Ampuni dia." Suaranya mulai bergetar sebab menahan tangis. "Dan aku tidak mau, cucuku lahir tanpa seorang ayah..." akhirnya terisak juga.


Basuki tua pun menyerah, ia pun tak tega, merasa iba pada anak menantunya yang Bahkan hatinya sangat lembut dan pemaaf- jika harus menjadi janda di usia muda dan cucunya... Basuki tua tak bisa membayangkan hal itu.


Detik berikutnya, pak tua itu membuang ikat pinggang dengan kesal kemudian dia terduduk pada kursi di dekatnya. "Dengar lah baik-baik, Aku mengampunimu karena permohonan istrimu, Bukan karena kau darah dagingku. INGAT ITU!!!!" makinya.


Anin masih menangisi suaminya yang kepayahan dengan darah menetes dan mengalir dari pelipisnya.


Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, Basuki tua pun menginstruksikan kepada sopir dan ajudannya untuk memapah putra semata wayangnya ke dalam mobil lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.


Disusul Anin dan keluarga lainnya. Terkecuali kakaknya yang tak ikut menyusul, ia masih syok dan terperanjat kaget bukan main ketika menyaksikan -seorang ayah tega mengasari anaknya sendiri hingga begitu payah. Bahkan dia hanya berniat memberi pelajaran saja pada adik iparnya, bukan ingin menyiksanya.


Pasti tidak mudah untuk seorang Bima melewati kehidupannya sewaktu kecil dengan perangai ayahnya yang keras dan –sepertinya– otoriter.


Tetapi, Basuki tua tak gagal-gagal amat dalam mendidik anaknya. Buktinya Bima tumbuh subur dan sehat dalam balutan tubuh atletisnya, ia juga meraih sukses di usianya yang masih muda. Dan berhasil membangun perusahaannya sendiri.


……..end


Anin tersadar dari lamunan panjangnya, ketika ia merasakan hisapan pada kulit lehernya, buru-buru ia meninggalkan punggung laki-laki itu dan berpindah untuk mencengkeram bahu suaminya mendorongnya kuat-kuat untuk kemudian membalik posisi nya. Kini ia berada di atas.


Bima menerima pasrah tubuhnya yang kini di duduki istrinya.


Anin mengerling manja lalu tersenyum.


"Ho..ho, gadis nakal," ucapnya. "Let's see, apa yang bisa kamu lakukan untuk pria malang tak berdaya ini."


Pertama tama, Anin mengecup luka di pelipis Bima, berlanjut mengecup pipi yang membiru, kemudian pada sudut bibir yang masih terlihat goresan kecil.

__ADS_1


Anin menarik salah satu tangan suaminya, untuk kemudian ia mengecup nya dari ujung jari hingga batas bahu dan berhenti sebentar pada luka memar di lengannya untung tidak sampai retak–retak tulangnya pikir Anin.


Anin kembali menjelajah tubuh suaminya dengan bibirnya, menciumi setiap jengkal otot lehernya yang menegang, dadanya yang padat berisi, Perutnya yang seperti roti sobek hingga pada perut bawah suaminya.


Pelan tapi pasti, tangannya bekerja membuka ikat pinggang lalu melepas kaitan celana suaminya.


Dengan sedikit bantuan Bima, Anin berhasil melepas kain itu beserta kain bagian dalam yang langsung menutupi tubuh bawah suaminya.


Anin kembali melanjutkan petualangan bibirnya yang sempat terputus hingga sampai pada bagian terbawah milik suaminya.


Anin kemudian memutuskan untuk berhenti saja disana, lalu mengganti petualangannya menjadi sebuah permainan panas yang jika semakin lama dibiarkan akan semakin membuat gila kaum lelaki.


Bima mendesah pelan atas perlakuan yang diterimanya. Demi apapun ia rela menyerahkan segalanya. Bahkan menerima pukulan cambukan lagi pun ia rela, jika setelahnya istrinya akan memperlakukannya sedemikian lembut. Memanjakannya hingga membuatnya melambung tinggi.


Kau sungguh beruntung adik kecil, Aku yang menerima kesakitan kau yang dimanjakan. Gumam Bima di tengah tengah desahannya.


***


Keduanya terbaring saling menatap, Bima memandang jahil istrinya. "Kali ini kamu luar biasa," gumamnya. "Besok lagi, Ya?"


Anin memukul Perut Bima, "Issh..maunya."


Bima meringis kesakitan menerima pukulan istrinya, sedetik kemudian ia tertawa disampingnya sambil mengusap-usap punggung Anin yang masih berada dalam pelukannya.


Bima memeluk tubuh Istrinya lebih erat.


Ada keheningan.


Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan. Justru saking banyaknya.


"Hhhmm.. Boleh tanya sesuatu?" pinta Bima


Anin menatap jail balik suaminya, "Bayar." jawab Anin tersenyum manis.


Bima berpikir sejenak, "Ya.. boleh saja, kalau kau terima receh. Suamimu ini sudah jatuh miskin."


"Hhmm... jadi aku menikahi pria miskin."


Bima nyengir lalu menghela nafas.


Reflek Anim menyentuh luka di pelipisnya. "Apa yang ingin kamu tanyakan? Tidak untuk perempuan itu!"


Bima terkekeh. "Tidak jadi, kalau begitu. Saya takut, takut nggak dapat jatah besok pagi."


Anin ingin mencubit atau memukul Suaminya. Tapi dia biarkan saja akhirnya. "Apa yang mau mas tanyakan?"


Bima berdehem, sebenarnya agak takut-takut untuk menanyakan hal ini.


"Apa kau sudah memaafkanku? lalu tentang kita... apa kau masih ingin melanjutkan perjanjian itu_" jawab Bima.


Mata Anin membulat. Apakah gadis itu terkejut atas kelancangannya


Tapi Anin terbelalak bukan karena kalimat pertama, melainkan karena suaminya masih teringat dengan perjanjian sialan itu setelah apa yang telah ia alami.


"Tentu saja tidak." Anin pura-pura marah.


"Benarkah?" ada rasa haru membuncah di dadanya. "Apa saya tidak salah dengar?" Bima kembali memeluk dan menciumi kening istrinya.


"Sejauh ini, aku masih sanggup menyimpan rahasia itu seorang diri." Anin membelai dada suaminya, "Karena aku tidak mau melihat Anakku lahir terluka seperti ayahnya."


Bima tersenyum bahagia, "Demi anak kita, sayang. Aku telah berjanji dan bersumpah pada diriku sendiri," katanya, lalu kembali menghujani istrinya dengan ciuman cinta kasih.


Tanpa mengacuhkan sikap suaminya, Anin kembali membelai dan bermain-main dengan otot perut suaminya. "Apa kamu sudah memikirkan sebuah nama untuk anak kita?"


Bima nyengir. "Katamu itu bukan anakku?" godanya.


Kali ini Anin benar-benar mencubit perut suaminya. Gemas. Anin tersipu malu.


Anin kembali membelai-belai dan memutari perut bawah suaminya dengan jari telunjuknya. "Mas...aku serius," suaranya serak.


Bima menahan nafas, ketika jemari istrinya masih bermain-main di atas perutnya, dan terpaksa ia menahan jemari gadis itu ketika gerakannya semakin meluncur ke bawah. "Sayang, kau tau apa yang akan ku lakukan, kan...." menatap intens pada istrinya. "...jadi, Stop menggodaku..."


Tanpa berniat untuk menghentikan aksinya Anin berusaha melepaskan tangannya, "Memangnya apa yang akan kamu lakukan padaku...."


"Ini..." Bima  memagut istrinya.


Dan keduanya kembali bergulat setelah berdamai dengan hati dan perasaannya masing-masing.


Nikmatilah malam-malam indah kalian sesering mungkin, Karena tidak pernah ada yang tau masalah besar sedang menanti di depan mata.


Entah kapan waktunya pasti akan tiba.


bersiap-siaplah.


***

__ADS_1


 


__ADS_2