
Pukul setengah enam pagi Anin terjaga entah berapa butir obat tidur yang dia minum hingga akhirnya dia mampu memejamkan matanya. Dan hingga pagi, suaminya tidak juga kembali.
Pergi kemana dia? Haruskah aku telpon ke kantornya–lagi? Anin bergidik ngeri membayangkan kejadian kemarin, dia pun buru-buru mengenyahkan ide untuk menelpon kantor suaminya apalagi mendatangi kantornya. Cari mati saja pikirnya!
Dengan terpaksa nya lagi, hari ini Anin berangkat dengan menggunakan taxi. Rupanya Anin pergi dengan mobil merahnya dan meninggalkan kunci sedan tergeletak di atas meja kerjanya serta kunci CRV yang entah dimana keberadaanya.
Mungkin mas Bim butuh waktu untuk menenangkan diri, Pikir Anin. Dan aku pun harus segera mencari ponsel baru.
"Sial!! jadwal konseling pasien ada di HP itu." Anin mendengus kesal.
Anin terkejut bukan main ketika akan berangkat kerja mendapati suaminya tergeletak tak bergerak –entah tidur entah mati- diatas sofa. Belum hilang ke terkejutnya, ketika Anin dibuat hampir mati berdiri, mendapati seorang wanita cantik, rapi dengan rambut pirangnya tengah berdiri di dalam dapurnya. Anin menilai wanita itu dari atas ke bawah sebelum kedua matanya bertemu tatap dengan wanita itu.
"Oh, Hai.." sapa wanita itu santai.
Nyonya rumah berkerut heran dalam posisinya. Anin mengingat-ingat wanita itu siapa, barangkali dia salah satu tamu undangan dalam pesta pernikahannya dulu. Dan ingatannya tidak berhasil mendapatkan jawaban apapun.
Cukup lama wanita itu menunggu nyonya rumah menjawab sapaanya. Lalu wanita itu memutuskan untuk memperkenalkan dirinya.
Jangan sampai salah paham.
"Maaf sebelumnya, Kalau saya lancang. Saya Laura. dan saya kesini diantar oleh security, untuk mengantarkan Mas ini –yang katanya juga- Suami Mbak. Beliau sepertinya mabuk berat sampai tertabrak mobil saya." Terangnya. "Dan saya disuruh menunggu di sini oleh nenek yang ta-----! kemana beliau pergi ya?" Tanya Laura bingung.
"Nenek? Tertabrak mobil?!!" Anin mengulang kalimat yang baru saja didengarnya, seolah ada yang salah dalam kalimat itu.
"Iya, Nenek–nenek yang disini tadi. Dan Pak Bima tertabrak -menabrakan dirinya- lebih tepatnya pada mobil saya di lobby basement. Beruntung pak satpam mengenalnya. Saya khawatir terjadi apa–apa, dan saya juga tidak mau dituduh melarikan diri. Maka dari itu, saya kesini. Menemui anda, begitu." Laura menyelesaikan kalimatnya tanpa hambatan.
Mungkin yang dia maksud itu mbok jum. Lalu kemana nenek satu itu, masa meninggalkan tamu begitu saja. "Oh...Begitu..." Anin menggaruk-garuk pelipis kepalanya yang tak gatal. Hampir saja, salah paham pada wanita sebaik dia. Bikin malu saja!
"Dan, Kalau boleh _____" Laura melirik jam tangannya. "Karena saya sedikit buru-buru." Wanita itu mengeluarkan semacam kartu dan memberikan pada Anin. "Ini alamat kantor saya, saya juga tinggal di apartemen ini. Di Tower Mahoni. Jadi kalau mbak butuh apa-apa, bisa hubungi saya, sebagai bentuk tanggung jawab saya." Terangnya gamblang.
Anin menerima kartu itu. Owh, lawyer. pantes lancar ngomongnya.
"Oh iya, nggak apa-apa, silahkan. Pasti anda sangat terburu-buru. Mohon maaf juga atas kecerobohan suami saya."
Dan hanya di balas senyuman hangat oleh Laura.
Anin Pun mengantarkan tamunya ke depan pintu rumahnya. keduanya pun sempat berjabat tangan sebelum berpisah.
Ketika Anin kembali, suaminya sedang meracau tidak jelas. Lalu kemudian tertidur lagi. Sia-sia juga Anin berusaha membangunkan suaminya.
Badan segede kingkong, tidur udah kayak mayat saja. Berapa banyak yang kamu minum mas?!
Anin membuka kemeja suaminya, bermaksud untuk membersihkan tubuhnya lalu menukar bajunya dengan kaos yang dia ambil dari lemarinya.
Baru saja sampai pada kancing ketiga, mendadak Anin menghentikan kegiatannya ketika dia mendapati tubuh suaminya penuh dengan tato merah dengan motif yang sangat dikenalnya.
Dengan kasar Anin melempar kaos yang dibawanya ke tubuh suaminya. Persetan kau mas! kenapa nggak mati saja sekalian!
Anin pergi meninggalkan suaminya begitu saja. Setelah sebelumnya mengambil kunci mobil sedan yang tergeletak di atas meja.
Sepanjang perjalanan, air matanya tak juga mau berhenti. Anin pun sampai heran, kenapa nggak habis-habis air matanya. Dan bagaimana menghadapi pasien–pasiennya? Dengan muka sembab dan mata bengkak??
Pandangan matanya terasa semakin kabur, Ketika Anin memutuskan untuk menepikan mobilnya. Air matanya menghalangi pandangannya.
"Please help me Tuhan....tolong katakan ini hanya mimpi." Ucapnya dengan memukul-mukul kemudi mobil yang tak tahu apa-apa itu. Tangisnya pun pecah seketika.
Setelah merasa sedikit tenang. Anin menstater kembali mobilnya.
Dan melanjutkan perjalannya.
"Saya butuh sesuatu yang menyegarkan." gumamnya pada diri sendiri.
Dan inilah salah satu kesulitan yang dirasakan oleh seorang dokter. Ketika sedang dalam masalah apapun, seberat apapun, di depan pasien kita harus menjadi seseorang yang dapat memberi solusi untuk pasiennya. Memberi penawar bagi kesakitan pasiennya. Serta memasang senyum yang paling manis serta sikap yang ramah. Dan tentu saja harus fokus dan berkonsentrasi penuh. Nggak lucu kalau sampai salah tulis resep.
Karena –sebagian- pasien tidak mau tahu –tidak peduli– apa kesusahan yang sedang dialami dokternya.
***
__ADS_1
"Besok gue temenin cari Handphone baru deh…." ucap Mika menawarkan diri. Ketika mereka sedang duduk-duduk santai di ruang periksa yang kebetulan belum buka.
"Aku males, Mik. Sumpah deh."
"Aelah, timbang ke mall bentaran doang."
"Kamu aja yang beliin deh ya! please....."
"Hhm!! Yaudah iya, siang nanti gue cariin sekalian makan siang bareng Abi."
"Nah gitu dong, kan enak."
"Tapi kalau lu mau ikut juga nggak pa-pa kali, nggak usah sungkan."
"Yakin??? Lu nggak merasa terganggu?" Ledek Anin yang sebenarnya sudah tau jawabannya. Ngapel bawa sahabat masih wajar. Ini nge-date mau bawa mantan kekasih nya sang kekasih. Apa nggak salah?!
Mika berpikir sejenak lalu memajukan mulutnya protes. "Tapi beneran Lu udah nggak ada rasa apa-apa kan sama Abi?" Tanyanya penasaran.
"Em! Gimana yaaa...." Anin pura-pura berpikir.
"Ish, nyebelin deh." Mika mencubit gemas sahabatnya.
"Aw..." Anin mengelus lengan yang tak nampak apa-apa itu. "Kalau aku sih udah mati rasa. Tapi nggak tau kalau yang sono?!" bisik Anin menahan tawanya.
Melihat ekspresi sahabatnya, timbul niatan untuk mengerjai sahabatnya itu. Kan biasanya dia yang suka ngusilin aku.
Mendadak Anin diam mematung, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Hei, jadi nggak, ngajak makan siang bareng-nya??" Ucap Anin setengah teriak yang sebenarnya disengaja untuk mengagetkan Mika.
"Ah-ya! Ah engga-enggak! nggak jadi. Batal. Tawaran dibatalkan." Koreksi Mika dengan cekatan.
"Haha, Aku juga ogah nimbrungin orang kasmaran. Males!!" Jawab Anin tegas.
"Iyaa, ya Nin, lagian bego banget gue, biar kata sudah tidak ada apa-apa, tapi tetap aja ada rasa sakit yang muncul. Sorry yaa Nin, gue nggak bermaksud buat---"
"Haha, iya juga sih. Eh by the way, apakabar suami Lu? Makin sibuk aja kayaknya."
"Ya begitulah.!" Ucap Anin acuh.
Mima mengawasi sahabatnya, "Begitulah gimana??"
"Ya begitulah sibuk." Anin berusaha sebiasa mungkin di depan sahabatnya ini.
Mika memincingkan sebelah matanya dengan mengerahkan kekuatan cenayangnya untuk mulai beraksi. Namun kali ini tidak ditemukan apa-apa. Barangkali cuma perasaan Mika saja, kalau Anin semakin kurus dan pucat, mungkin karena sakit kepalanya. Bukan karena dipaksa melayani suaminya siang malam. Hehe.
Anin memang pandai berakting. Salut!!!
Namun ketika siang hari Anin sedang memasang sim card pada handphone barunya, yang dibelikan Mika, Anin dikejutkan dengan kemunculan suster Ida yang tiba-tiba muncul di depan mukanya dan menanyakan hal yang tak kalah membuat Anin kaget.
Ternyata Kekuatan cenayang suster ida lebih kuat dari Mika dan Mei.
Anin tersenyum simpul dalam lamunannya. Sebelum ia menjawab pertanyaan suster ida.
"Enggak kenapa-kenapa kok mbak. Pas pulang handphoneku jatuh trus malah terlindas roda mobil." Jawab Anin sekenanya dan berharap perawatnya percaya.
Suster Ida tersenyum. "Untung handphone yang terlindas dan bukan hati pemiliknya yang tergilas.” Lalu suster Ida terkekeh.
"Haha. mbak Ida ini, bisa saja." Hampir saja mencelos hati Anin. Apa mungkin mbak Ida curiga?
"Yuk ah, dok. kita visit penggemar dokter." Suster Ida sudah siap dengan peralatan serta note kecilnya.
"Sebentar. Nanggung, pasang ini dulu." Cegah Anin.
"Eh, dok, anaknya pasien Sintya semalam datang lho? Dan cakep dok, imut." Suster ida tersenyum tipis lalu menoel salah satu lengan dokter Anin.
Mau tak mau Anin berbagi konsentrasi dari ponselnya dengan perawatnya. "Hmm, Terus..?"
__ADS_1
"Ya, nggak terus-terus dok," ucap suster Ida mengulum senyum. "Hanya pemberitahuan saja." Tambahnya.
"Lalu, Apa hubungannya dengan memberitahu saya, Mbak?" Jawab Anin tanpa meninggalkan tatapan matanya pada ponselnya. "Naah... selesai. Ayo, jalan. Ntar keburu sore."Perintah dokter Anin.
"Kan, dokter mau dikenalkan. ciee..." Meledak juga akhirnya tawa yang sejak tadi ditahan-tahan suster Jda.
Anin melotot gemas. "Please, stop menggodaku, mbak ida! Dan ingat, saya masih istri orang." Ucap Anin Menimpali candaan perawatnya. "Ayok jalan."
Sebenarnya Anin sedikit terhibur dengan adanya mbak Ida. Entah kenapa dia merasakan kenyamanan pada perawat yang satu ini.
"Ah. Siap!" Suster Ida masih senyum-senyum.
"Stop mbak ida, jangan tertawa di belakang saya." Tuduh Anin.
"Dokter tahu aja." Jawab suster ida terkekeh.
Kemudian keduanya melangkah menyusuri lorong rumah sakit.
**
"Selamat siang, Tan---te." suara Anin mendadak terbata-bata. Gugup. Salah tingkah.
"Selamat sore..." jawab yang (tidak) disapa.
Suster ida mengawasi dokternya yang tiba-tiba salah tingkah. Kenapa dia?!
"Nah. ini dia dokter yang mamah ceritain." Sintya menoleh pada putra sulungnya yang sedang mengawasi dokter yang dimaksud ibunya itu.
"Nak dokter ini anak pertama tante yang bandelnya minta ampun." Terang sintya. "Dia baru saja sampai tadi malam." Tambahnya.
"Ah ya, ya…." Anin mengangguk ramah setelah berhasil menguasai dirinya. "Suster tolong periksa tensi nya dulu." Ucap Anin menginterupsi.
"Baik dok," segera suster ida menjalankan tugasnya. "130/70 dok, bagus ini." jelasnya kemudian.
"Kalau besok masih stabil, tante sudah bisa pulang." Terang Anin pada pasiennya tanpa menghiraukan tatapan mata pria disebelahnya. Walaupun sebenarnya risih juga dipandangi dalam diam seperti itu. "Dan pak ____"
"Panggil saja Indra, Dok. " Jawabnya singkat.
"Ah, ya...pak Indra, tolong perhatikan untuk pola makan tante Sintya. Nanti saya buatkan daftar menu sehatnya." Anin tersenyum ramah.
Baik suster Ida maupun pasien hanya menatap dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ada lagi, yang mau ditanyakan??" Tanyanya kemudian setelah terjadi hening.
"Kapan saya bisa ajak dokter kencan??" Tanya pria itu kemudian.
"Huss...ngaco kamu!!" Bentak Sintya pada putranya yang dianggap kurang ajar.
Anin dan suster ida hanya tersenyum menanggapi kekurangajaran keluarga pasiennya.
Tak berapa lama Anin dan perawatnya pamit untuk melanjutkan memeriksa pasien yang lainnya.
Dalam langkah kakinya, Anin mengingat -ingat kembali tatapan dan ucapan itu.
Anin terkejut ketika suster Ida menepuk halus lengannya.
"Tuh kan, bener kan, dok. Cakep kan?"
Hampir lepas jantungku. "Mbak Ida ini, ngagetin aja." Gerutu Anin tanpa mengacuhkan ucapan perawatnya.
"Lah, dokter ngelamun?? Haha...hayoo...."
"Eh, nggak!!"
"Ngelamun jorok ya, Haahaa.."
"Mbak...." Anin melotot imut pada perawatnya. Yang kemudian perawatnya itu mengangkat kedua jarinya membentuk huruf v.
__ADS_1