
Anin melenguh ketika Bima semakin berani. Mengecup, menggigit hingga pangkal leher dan terus bergerak pada bahu yang talinya terlepas. Dan dengan lincahnya jari laki-laki itu bergerak liar menyusuri paha mulus itu.
Dengan sisa-sisa kesadaran Anin mencegah jari-jari itu bergerak semakin dalam.
Ini tidak benar! Sungguh ini salah!!
Harus segera dihentikan!!
"Ouuh….." lenguhnya ketika jemari suaminya menyentuh bagian dirinya yang paling sensitif.
Pada saat yang bersamaan Anin berhasil mengumpulkan kekuatannya yang tercecer seperti selimut yang terkulai di lantai.
Anin mendorong bahu pria itu sekuat tenaga. Dan kali ini berhasil, sehingga menciptakan jarak yang cukup untuknya terbebas dari gelombang yang bisa saja membawanya kembali pada luka lama.
Anin mengerjap-ngerjap kan kedua matanya. Ia lalu berdiri, "K-kau... membuatku sesak nafas!" Anin mengambil nafas dalam-dalam untuknya. Sebelum akhirnya meninggalkan suaminya yang masih diam mematung.
Di dalam kamar
Ia duduk di depan meja kerjanya. Dengan kedua tangannya ia memijat keningnya gusar dan mengutuk kebodohannya dalam hati.
Sudah seharusnya ia tidak bertindak bodoh, dengan membiarkan laki-laki itu mengetahui hatinya yang sebenarnya.
Semua ini pasti karena hormon sialaan!! maki Anin.
Tapi apa benar hanya karena pengaruh hormon? Bukan karena dirinya juga mendambanya?
"Aduuh...bodoh. Bodoh!!" Anin menutupi mukanya lalu meremas rambut lalu menutupi mukanya lagi.
Seharusnya ia sadar dan -harus lebih- paham dari wanita hamil kebanyakan karena ia seorang dokter. Ia tahu persis bahwa kehamilan trimester dua ini produksi hormon lebih mudah berubah-ubah. Dan cenderung meningkat.
Tapi apakah benar, reaksinya akibat dari peningkatan segala macam hormon oksitosin, endorfin, dopamin, norepinefrin dan teman-temannya itu? Lantas begitu saja membiarkan dirinya meng...
Ah sudahlah!
Dan besok, bagaimana aku bertemu dengannya?
Bagaimana kalau dia berpikir aku wanita gampangan?
Tiba-tiba Anin ingin menangis..
Lalu, Tiba-tiba tengkuknya meremang pipinya merona dan tak jadi menangis sebab membayangkan kembi Bagaimana suaminya menatapnya penuh kerinduan, bagaimana suaminya memperlakukan dirinya, menggoda dan membangun kan dewi bathinnya.
Semakin dipikir semakin membuat Anin pusing kepala.
Anin tersadar dari kemelut pikiran nya ketika ia mendengar suara pintu kamar dibuka dan seseorang muncul di baliknya yang sontak membuat Anin berdiri siaga dan jemarinya segera meraih kain yang ada pada sandaran kursi lalu ia gunakan untuk menyelimuti tubuh bagian atasnya yang terbuka sebab kehilangan outernya.
"APA!!" Bentaknya.
Pelan tapi pasti Bima berjalan mendekat.
__ADS_1
"Stop!" teriak Anin lahi.
Bima maju selangkah, Anin mundur selangkah
"Stop kubilang!!"
Tanpa kata, Bima terus melangkah memangkas setiap jarak yang ada.
"STOPP!!" Anin menahan laju suaminya yang sudah berada tepat di depannya dengan kedua tangannya dan ia lupa dengan kain penutup yang harus selalu dipegang agar tidak terlepas.
Bima menepis tangan itu, kemudian memeluk istrinya.
Jenis Pelukan rindu yang kapan saja bisa berubah jadi biru.
Anin tidak berontak tidak juga membalas. Ia bingung dengan keadaan ini. Bingung dengan perasaannya. Bingung dengan dirinya.
Cukup lama mereka dalam posisi yang sama, hingga salah satu diantaranya mengalah dan yang lainnya mengambil langkah.
"Saya--kumohon jangan tersinggung. Saya-- bisakah kali ini saya meminta hak saya sebagai suami?" ucapnya memohon.
"Hak?? Hak macam apa yang kamu maksud!!"
"Maksudku--maksud sa-ya…."
Anin berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya.
Jengkelnya kembali menguasai isi otaknya. Kepalanya serasa mau meledak.
Dengan enggan akhirnya Bima melepaskan istrinya.
Anin mendongak menantang suaminya, "Apa sebenarnya isi dalam otakmu itu, hah!! Masih pantaskah kau meminta hakmu di sini?!!" ucapnya sengit. "Tidak malukah dirimu__." omelnya terputus.
Semakin ngomel kamu semakin cantik dan menggairahkan. Persetan!!
Bima meraih istrinya dengan sekali gerakan dan menyumpal mulutnya dengan bibirnya. Tidak peduli perlawanan yang dilakukan istrinya. Tidak peduli dadanya dijadikan samsak oleh wanita itu.
Kali ini Bima bersumpah tidak akan melepaskan istrinya lagi, setelah tahu bahwa Anin juga merindukan dirinya, menginginkan dirinya.
Ketika merasa tidak ada perlawanan yang berarti, ia pun sedikit mengendurkan tangannya pada pinggang gadis itu, mengingat istrinya sedang hamil.
Bima mulai memperdalam ciumannya, bermain lebih leluasa karena kini disambut oleh istrinya dengan sedikit membuka katupan bibirnya.
Tangan satunya mulai bergerak menyusuri lekuk tubuh istrinya, mencari bagian favoritnya.
Bima terpukau dengan apa yang dirasakan genggamannya. Sampai sampai Anin merasa perlu memutus kontak dari tatapan suaminya yang tiba-tiba berhenti lalu menatapnya dengan jenis tatapan menggoda.
Saat itu juga Anin berharap lantai kamarnya terbelah, lalu ia tertelan, tenggelam sehingga dapat bersembunyi ke dasar bumi. Saking malunya.
Dan benar dugaan laki-laki itu yang setiap hari selalu menebak-nebak berapa ukuran cup bra yang dipakai istrinya sekarang, kini dada istrinya lebih berisi dari sebelumnya dan perutnya yang nampak mulai mencembung menambah keseksiannya.
__ADS_1
Rasanya ingin segera menyudahi siksaan yang membuatnya gila.
Bima membawa istrinya pada bed yang tak jauh dari dirinya dan membaringkannya dengan sangat hati-hati.
Ia melepas pakaiannya dengan tidak sabaran. Hanya dengan satu tarikan, ia pun berhasil melepas tali gaun yang tersisa. Lalu membebaskannya tanpa kesulitan.
Deru nafas memburu dari keduanya berhasil mengalahkan suara detik jarum jam yang menunjukan pukul setengah satu malam.
Mereka yang hanyut dalam jelaga cinta tak peduli bila seandainya saat itu waktu berhenti sekalipun.
Laki-laki itu kini mulai bermain dengan indah, dan mulai melukis pelan pada dada indah milik istrinya lalu dengan lembutnya menggelitik puncaknya dengan sesekali berlama-lama disana menyebabkan Anin tak kuasa menahan gelombang rasa yang bertubi-tubi menerpanya.
Kupu-kupu beterbangan dalam kamarnya. Dirinya seperti kapas melayang-layang di udara hingga ia menemukan dirinya jatuh terkulai diantara bunga-bunga berlumur air gula.
Kegelisahan kembali mendera perasaan gadis itu, ketika dirinya kembali pada realita, bahwa ia berada dibawah tubuh laki-laki yang pernah menyakitinya sedemikian rupa dan sesaat lalu ia telah mempersembahkan gulali termanis dalam hidupnya.
Anin terhenyak kaget, suara nyaringnya menceloss begitu sajaa ke udara, pandangannya memudar penuh kabut. Ketika dirinya dimasuki suaminya tanpa aba-aba.
Anin merancau tak terkendali ketika suaminya mulai memainkan irama syahdunya.
Tangannya bergerak-gerak tak tentu arah. Sebentar-sebentar mencengkeram sprei lalu dilepasnya, sebentar meremas ujung bantal kemudian melepaskannya juga. Begitu terus berulang-ulang ia lakukan sebagai pertahanan terakhirnya.
Sebab ia masih enggan -ralat - malu bahkan teramat malu untuk balas menyentuh, untuk sekedar mengakui bahwa dirinya juga membutuhkan suaminya. Merindukan nya sebesar laki-laki itu menginginkan dirinya. Mendambanya sebesar usahanya menghindari cintanya.
Namun pada akhirnya Anin tak peduli lagi dengan segala macam logika dan harga dirinya.
Ia menyerah, luluh lantak pertahanan dirinya.
Hatinya memenangkan segala pertempuran dalam dirinya.
Runtuh sudah istana cleopatra yang dibangunnya dengan susah payah.
Bima kembali memagut bibir wanita yang tengah berada di bawah dirinya saat ini.
Dengan nafasnya yang kian memburu, ia mempercepat iramanya, dengan sekali lagi memporak porandakan istana milik istrinya menjadi ribuan keping yang beterbangan ke udara.
Anin meremas rambut suaminya, membalas setiap pagutan, setiap gigitan yang ia rasakan pada bibirnya.
Bima berhenti sesaat lalu tersenyum menatap istrinya.
"Jangan menatapku seperti itu." katanya seraya memalingkan mukanya ke samping.
"Kenapa?" ucap Bima menggoda. Dan kembali membawa istrinya untuk menatapnya.
Anin merona. Tak perlu juga kau tanyakan kenapa. Dasar Kingkong!!
Bima tersenyum jahil menggoda istrinya sebelum akhirnya kembali mencumbu wanita itu dalam penyatuan diri yang sempurna menghancurkan segala macam tembok pemisah di antara mereka.
Dering ponsel lah yang menyadarkan keduanya untuk segera memisahkan diri yang ternyata adalah milik Anin.
__ADS_1
Siapa pagi-pagi buta menelpon istrinya. Pikir Bima.