Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab 11. Malam Pengantin Berdarah.


__ADS_3

Entah kenapa Sania justru memundurkan tubuhnya. Dirinya sadar bahwa saat ini adalah istri dari pria yang berada di depannya namun, tatapan Trevino membuatnya takut setengah mati. Tungkainya gemetar. Bibirnya kaku dan lidahnya pun kelu tak tahu harus mengucapkan kata seperti apa.


Sania seketika ingat terhadap perlakuannya selama ini. Dia yang tidak suka cara Trevino menggodanya saat itu. Selalu marah bahkan pernah mengusir Trevino menggunakan cairan pestisida. Sehingga dirinya sangat takut jika pria ini akan membalas dendam padanya.


"Kenapa menjauh!" Trevino menarik lengan Sania dan hingga tubuh gadis itu menubruk dadanya. Jarak dari wajah keduanya sangat dekat, hingga mata mereka saling menatap. Pada saat itulah Trevino meraup bibir Sania dengan kasar hingga gadis yang masih mengenakan gaun pengantin itu memukuli bahunya.


Akan tetapi Trevino seakan tak perduli. Ia terus menghisap madu Sania sampai pada akhirnya gadis itu kesulitan bernapas dan berakhir dengan menggigit bibir bawah Trevino.


"Sial kau!" Trevino yang kesal pun melayangkan telapak tangannya hingga mendarat dengan keras ke pipi Sania. Bunyi nyaring dari pertemuan kulit itu pun tak terelakkan lagi. Hingga sebuah pekikan kaget keluar dari mulut gadis cantik yang baru saja diresmikan menjadi istrinya. Dimana hal itu berarti bahwa wanita tersebut harus ia hargai dan lindungi dengan baik bukan? Tapi kenyataannya justru berbalik.


Trevino yang memang benar menaruh dendam pada Sania, merasa jika saat ini dirinya bebas melakukan apapun terhadap gadis itu.


"Sakit," lirih Sania kecil. Karena berkat tampilan keras itu sudut bibirnya mengeluarkan darah. Sania juga merasa jika rahangnya bergeser dan kepalanya pusing.


"Beraninya kau!" Trevino kembali mendekat dan mencekal kedua bahu Sania. Mencengkeram kuat hingga gadis itu meringis. Trevino kemudian meluncurkan gaun Sania dengan kasar dan kemudian melempar tubuh ramping yang tinggal terbalut underware saja ke atas tempat tidur king size itu.

__ADS_1


Kedua mata Trevino semakin nyalang ketika melihat bagaimana penampakan tubuh Sania yang indah. Trevino menubruk dan memposisikan raganya yang perkasa di atas tubuh kecil Sania.


"Bisakah kau perlakukan aku dengan sedikit lembut?" tegur Sania seraya menahan sakit di tubuhnya. Napasnya juga agak sesak karena terhimpit tubuh kekar Trevino.


"Lembut katamu! Kau yang memulai dengan berani melukai bibirku!" bentak Trevino dengan tatapan matanya yang tajam menusuk. Hingga Sania bagaikan tengah di kulit hidup-hidup.


"I–itukan karena kau memnciumku dengan kasar dan brutal. Hingga aku kesulitan bernapas. Apa kau memang sengaja ingin membunuhku!" teriak Sania kesal. Ia memberanikan dirinya menatap balik ke arah Trevino.


"Kau ini benar-benar gadis kurang ajar yang tak tau di untung!" Setelah membentak Sania, Trevino kembali menciumi Sania dengan buas dan brutal. Gadis di bawahnya ini hanya bisa menahan tubuh besar Trevino karena Sania sudah mulai kesusahan bernapas. Hingga, ciuman Trevino dengan cepat berpindah ke leher. Lagi-lagi, pria mencumbu Sania dengan kasar.


"Hahahahah!" Mendengar ucapan Sania, pria itu justru tertawa tergelak. "Kau berharap perlakuan baik dariku? Jangan mimpi!" Sambil berteriak, Trevino menarik kasar penutup buah dada Sania. Hingga gadisdi bawah tubuhnya ini memekik menyebut namanya.


Melihat penampakan indah di balik penutup itu, tatapan mata Trevino kembali berkilat penuh napsu. Dan, tak ada perlakuan lembut itu. Trevino merampas apa yang terserak di hadapannya dengan brutal.


"Akh! Sakit!" Sania mencengkeram rambut Trevino sambil berusaha mendorong kepala pria itu dari bagian atas tubuhnya ini. Akan tetapi, Trevino tetap meninggalkan bekas gigitannya di sekitar dada Sania, sementara tangannya melepas segitiga yang menutup bagian pribadi istrinya.

__ADS_1


"Trevino!" teriak Sania ketika pria yang tak lain suaminya ini berhasil menarik segitiga berenda dengan kasar.


Akan tetapi, hal yang tidak diinginkan oleh Trevino terjadi secara nyata di depan matanya. Satu hal yang menyelamatkan kesucian Sania. Tapi, tidak dengan raganya.


"SIAL!" Trevino melempar celana penutup kewanitaan Sania. Karena ia melihat bercak darah di sana. Sania menghela napas penuh kelegaan. Karena nasibnya selamat malam ini.


"Kenapa harus datang sekarang. Berengsek!"


"Argh!" Sania terguling ke samping karena Trevino yang sudah polos tanpa busana ini memukulnya dengan keras.


Sania meringis, bahkan ia tak dapat lagi untuk menahan tangisnya. "Ini sangat sakit. Kau ini kenapa? Ini semua bukan salahku!" pekik Sania sambil memeluk tubuhnya yang juga tanpa sehelai benang. Sementara itu, cairan merah menetes ke atas seprai. Membuat, Trevino semakin marah. Ia pun berdiri di atas tempat tidur.


"Dasar wanita rendahan! Seharusnya kau bilang!" Trevino kembali protes, sambil melayangkan tendangannya ke arah kaki Sania.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2