Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 18. Kepulangan Xilondra.


__ADS_3

Arrrghhh!


Xilondra menjerit sekencang-kencangnya. Tubuhnya laksana di tarik kuat oleh sebuah kekuatan yang maha dahsyat.


Kekuatan apa ini! Tubuhnya sakit sekali. Seluruh tulangku serasa ditarik paksa. Perasaan, aku sama-sekali tidak mengingat kejadian ketika masuk ke desa Pancamaya. Apakah seperti ini juga sehingga seluruh tubuhnya luka dan tulangku remuk redam.


Xilondra terus mengerang akan tetapi suaranya tenggelam di ruang hampa udara itu. Lesatannya cepat sekali, sehingga Xilondra merasakan panas di sekujur kulitnya yang seakan di kelupas paksa ini.


Namun, tak lama. Ia melihat sebuah lubang cahaya yang terang benderang. Pada saat itulah raganya seketika seakan terpental jauh ke atas dan terhempas dengan cepat pula ke atas tanah.


Brughh!


Akhh!

__ADS_1


Sekali lagi, Xilondra terdengar berteriak keras. Ketika punggungnya bertemu dengan tanah keras berbatu. Xilondra mengambil napas dalam-dalam. Ia merasa tenggorokannya tercekik beberapa saat tadi.


Setelah merasa bahwa paru-parunya kembali terisi oksigen dengan cukup. Maka Xilondra mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling lokasi tempatnya jatuh. Seketika, sepasang matanya berbinar. Hingga, sebuah senyuman lebar terbit di wajahnya yang tampan meskipun di usia yang tak lagi muda itu.


"Apa ini sungguhan? Apa aku telah kembali?" Xilondra, bangun dengan cepat. Setelah tau dan cari di mana Dirinya berada saat ini. Seketika rasa sakit dan rindu yang dirasakan ini sekujur tubuhnya menghilang.


"Benar. Ini benar desa Cenderawasih. Aku tidak mungkin melupakan setiap sudut desa yang ku cintai dengan sepenuh hati ini," gumam Xilondra lirih. Di saat ia sadar bahwa tengah berdiri di bukit Miwaru, yang menampakkan keseluruhan seluk-beluk desa tersebut.


Tanpa merasa lelah, dan tanpa menyadari sesuatu perubahan yang sangat berbeda. Xilondra segera berlari menuruni bukit tanpa merasa lelah. Ia menerjang jalan terjal berbatu serta menepis tanaman berduri yang menyayat kulit lengan dan juga kakinya.


"Tunggu dulu. Bukankah ketika aku masuk kedalam danau teratai, suasana itu malam hari dan sangat gelap? Kenapa, saat ini waktu sudah begitu terang benderang? Berapa lama perjalananku kesini?" gumam Xilondra dengan berbagai pertanyaan yang seketika menyelimuti pikirannya.


Matahari yang pada saat ini berada di atas kepalanya seolah membakar kakinya yang telanjang tanpa alas. Entah sudah berapa banyak luka. Untung saja, pakaian yang Xilondra kenakan pada saat ini jauh dari ketika pertama kali dia bangun. Meskipun, di tempatnya hilang itu tak mengenal pakaian penutup bagian dalam. Bagus saja, pakaian yang ia kenakan lebih tertutup dan menggunakan bahan yang halus.

__ADS_1


Xilondra menggelengkan kepalanya. "Sudahlah, cari tau nanti saja. Aku harus segera sampai ke rumah." Tanpa banyak berpikir lagi, Xilondra kembali melanjutkan langkahnya. Kini, ia harus menyebrangi sungai berbatu licin. Sungai yang menjadi penghubung antar desa dengan bukit Miwaru.


Ia seakan tak peduli dengan luka lecet di sekujur kakinya yang menyebabkan rasa lebih ketika luka itu terkena air. Satu yang ada di dalam pikiran, Xilondra. Yaitu, pulang dan bertemu Prita. Ia pasti telah membuat wanita yang melahirkannya itu khawatir setengah mati.


Tak lama kemudian. Sampailah Xilondra di depan pekarangan rumahnya. Secepat kilat ia kembali berlari. Luka di bawah kakinya mengeluarkan darah. Hingga cairan berbau Anyer itu meninggalkan noda di atas lantai marmer.


"Ibu!" teriak Xilondra ketika ia melihat Prita membelakangi dirinya. Wanita itu, tenaga menyirami bunga sambil melamun.


Mendengar suara yang ia kenal, membuat Prita sontak menoleh dengan cepat. Kedua matanya membola. Tatkala sosok yang tengah ia rindukan kini nampak di depan matanya. Air mata pun turun dengan deras menuruni kedua pipinya. Aliran itu tak mampu ia kuasai hingga wajah, Prita yang pucat kini telah banjir dan basah.


Ia terlihat membekap mulutnya, lidahnya kelu tak mampu mengeluarkan suara. Ia takut jika ini hanya halusinasinya saja. Karena itu, Prita nampak diam di tempatnya berdiri. Hingga ...


"Bu ... Ibu. Ini aku, Xi. Aku pulang Bu ..." Xi bahkan berkata dengan bibir yang bergetar. Pada saat itulah, Prita baru percaya. Karenanya, wanita paruh baya ini semakin membelalakkan matanya.

__ADS_1


"XILONDRA!"


...Bersambung ...


__ADS_2