Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 25. Sania Pergi


__ADS_3

"Tidak kusangka, kau akan melanggar janji itu. Semudah itukah kau meluapkan cinta dan juga ikrar kita? Hah, aku sungguh tak mengerti, Nia. Aku pikir kau --" Xilondra meremas kepala dengan kedua tangan kemudian menghempasnya kasar.


Ia sungguh tak tau lagi harus berkata apa. Wanita yang berlari meninggalkannya bukan lagi Sania yang ia harapkan. Bukan lagi wanita yang ia damba akan mewujudkan segala mimpinya. Ia melihat sosok orang lain di sana.


Sementara itu, Sania hanya berdiri kaku di belakang pilar. Tak tau lagi harus menjelaskan apa. Kemunculan dari Xilondra, sungguh di luar dugaannya. Meskipun Trevino tidak akan kembali. Dimana statusnya kini hanyalah seorang janda muda. Hal itu tetaplah suatu penghalang besar. Sania memang pantas menerima kemarahan dan kekecewaan dari pria yang sangat ia cintai ini.


Seandainya kau tau, Xi. Hingga saat ini hatiku hanya milikmu. Bahkan tubuhku masih terjaga. Tapi, aku telah terlanjur menoreh luka di atas lukamu. Aku tidak pantas mendapatkan cintamu yang suci. Kesetiaanmu. Maafkan aku ...


Sania memejamkan mata seraya mencengkeram erat dadanya sendiri. Sesak, itulah yang ia rasakan. Rasa sakit dan kecewa yang ia berikan pada Xilondra, nyatanya juga menyakiti hatinya.


Xilondra melangkah keluar dari rumah itu. Kembali kerumah tanpa bicara sepatah katapun pada orang lain. Termasuk pada, Prita.


"Jadi, kamu sudah menemuinya, Nak. Maafkan, Ibu. Karena tidak bisa menjelaskannya padamu. Semoga kau kuat," lirih Prita di luar kamar putranya itu. Ia tau apa alasan dari Sania, memutuskan menikah mendadak dengan anak dari bandar judi itu. Menurutnya, Xilondra juga pasti tau setelah putranya itu menemui Sania secara langsung.


Beberapa hari kemudian. Kabar bahwa Jenazah Trevino dan Terry yang tidak di ketemukan telah menyebar luas. Hingga, status Sania sebagai janda muda merebak. Berhubung, masih sebagai warga dari desa cenderawasih, Xilondra dan Prita pun tentu telah lebih dulu mengetahui kabar ini.

__ADS_1


"Dia, telah sendiri, Nak. Apa kamu --" Prita agak takut ketika mencoba mengulik bagaimana perasaan Xilondra pada Sania. Bagaimanapun dirinya juga menginginkan agar Gadis itu yang menjadi menantunya.


Xilondra hanya terlihat menghela napas dan memejamkan mata. Jauh di dalam lubuk hatinya. Ia belum bisa melupakan Sania. Kabar kematian dari suami mantan kekasihnya itu, tentu saja bagaikan jawaban dari keresahan serta penderitaannya mendulang rindu selama ini.


Tapi, penghianatan tetaplah penghianatan. "Kenapa aku harus mencintai wanita sebesar ini, Bu? Kenapa mereka tidak bisa membalas perasaanku sama besarnya? Kenapa?" Xilondra bertanya tanpa memandang wajah Prita.


Hal itu membuat Prita heran.


"Dia sangat mencintaimu, Xi. Hanya saja --"


"Xi, apa Sania menjelaskan kenapa ia menerima lamaran anak bandar judi itu? Apa kau tidak bertanya apa alasan dia mengingkari janjinya padamu? Karena setau ibu, dia adalah wanita yang paling setia di jagad raya ini. Bahkan ibu berkali-kali memaksanya menyerah tapi dia tidak begitu. Katakan, Xi. Apa kau sudah tau semuanya?" cecar Prita membuat kening Xilondra berkerut tanda kepalanya menyimpan banyak tanya.


"Apa, maksud Ibu? Apa Nia memberikan alasannya padamu? Karena aku--"


"Sudah ibu duga. Karena jika kau tau. Kau pasti sudah mengejarnya saat ini juga!" kesal Prita. Karena putranya telah salah memendam benci. Bahkan, Xilondra membantu untuk mengurus surat kematian Terry dan Trevino tanpa dendam sama sekali.

__ADS_1


Jika saja ia tau yang sebenarnya, bahwa keluarga yang ia bantu yang sebenarnya merebut Sania darinya. Membuat wanita itu menderita.


"Apa yang ibu tau? Katakan padaku, Bu!" Xilondra mendekat dan menggenggam tangan Prita. Pancaran mata sang putra membuat Prita semakin yakin, jika Sania tidak menjelaskan semuanya.


___________


"Kenapa kau harus ke kota, Nak? Kau tega meninggalkan mama sendirian?" cecar Amara. Ia mencoba menahan kepergian Sania.


"Aku ingin bekerja di sana, Ma. Aku tidak berhak lagi tinggal di kediaman itu. Trev sudah mati, dan aku tidak mau menjadi istrinya lagi. Aku telah memutuskan hubungan ku dengan keluarga itu. Nia, harap Mama mengerti. Lagipula, ada Cua yang menemanimu, keponakanmu itu meksipun bisu tapi dia anak yang baik. Cua pasti bisa menjagamu, Ma." Sania mencoba melepaskan cekalan Amara dari lengannya.


"Seharusnya, kau ambil harta keluarga itu lebih banyak Nia. Kau setidaknya bertahan hingga beberapa tahun lagi!" pekik Amara.


"Kenapa hanya ada harta di dalam pikiran Mama! Apa Mama tidak memikirkan perasaanku! Xilondra telah kembali, hubungan kami telah hancur. Apa Mama kira aku bisa menjalani hari-hariku, dengan melihat pria yang telah dengan jelas aku sakiti hatinya!" Sania tak tahan lagi, ia berteriak emosi di depan wajah Amara. Lalu ia pergi, dengan mengendong tas ranselnya.


Amara, terpaku. Ia tak lagi bisa menghentikan putri satu-satunya itu.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2