Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 32. Pernah Mendengar


__ADS_3

"Kisah itu bukan untuk konsumsi publik," Xilondra tersenyum tipis. Bermaksud menghentikan keingintahuan dari pria metroseksual di hadapannya ini. Siapa lagi kalau bukan si kepo, Brandy.


"Yang suruh kau mengumbar ke publik siapa? Ini kan hanya ada aku dan Franklin. Lagipula, pria di sebelahku itu tidak akan tergugah dengan kisahmu maupun kita. Lihat saja! Dia hanya bucin dengan istrinya sendiri!" tunjuk Brandy menggunakan cebikan bibirnya. Tentu saja hal itu membuat Xilondra terkekeh. Ia benar-benar sudah move on dari perasaannya terhadap Vynnitta.


Kini, yang ada di kepala pria itu hanyalah satu sosok dan satu nama. Sania.


"Biar saja. Dia sudah menikmati kebahagiaannya dengan permaisuri hati. Kau pun sebentar lagi akan ketularan bucin dengannya. Janganlah sekali-kali menyindir," sarkas Xilondra, membuat Franklin menoleh ke arahnya lalu Brandy dan menggeleng sesudahnya. Karena, pria itu kembali fokus dengan ponselnya.


"Ha .. iya, kau bener juga, Xi. Aku bahkan akan melamar Mega secara resmi sepulang acara kejutan Alessia. Karena, hanya ini satu-satunya alasan untuk bisa mengajaknya ke kota," tutur Brandy. Ia cukup lelah dan bosan menanti selama tiga tahun ini. Sudah berbagai cara membujuk tapi Mega tetap bersikukuh dengan alasan klinik.


"Selamat berjuang. Semoga sampai finish. Jangan sepertiku," ucap Xilondra sendu. Seraya memijat keningnya dan menunduk. Teringat kembali dengan harapan dan mimpinya bersama Sania. Kebersamaan dan keindahan yang telah mereka rancang akhirnya musnah seketika karena kejadian yang tidak terduga.


"Kau ini tampan dan pintar. Tapi kenapa selalu ditinggal menikah dengan wanitamu?" celetuk Franklin.


"Perempuan itu sudah menjadi janda," ungkap Brandy.


"Ha! Jika kau masih mencintainya. Kejar dan dapatkan dia kembali. Sebelum suaminya itu meminta kembali padanya!" usul Franklin penuh emosi.


"Suaminya sudah mati." Setelah mengatakan ini Brandy tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Ha! Lalu apa masalahmu, Bro!" geram Franklin yang memang tak tau apapun. Akan tetapi dirinya mulai tertarik dengan pembicaraan kedua sahabatnya ini. Ya mereka memutuskan untuk bersahabat karena memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan cara memperjuangkan cinta seorang wanita.


Xilondra yang kesal karena menjadi bahan ledekan Brandy ia pun melempar kaleng minuman yang kosong kearah dokter spesialis racun itu.


"Sialan kau! Mau ku suntik mati ya!" Brandy geram karena lemparan Kaleng mengenai ujung kepalanya.


"Kau tau, Frank, apa yang membuatnya mati segan hidup tak mau? Wanita itu telah pergi entah kemana?" terang Brandy lagi, hingga membuat kedua mata Xilondra terbuka lebar. Pria dihadapannya ini sepertinya memang ngajak perang.


"Begitu sulit!" celetuk Franklin menanggapi ucapan Brandy.


Xilondra hanya bisa mahalan nafasnya ketika masalahnya ini akhirnya diketahui oleh kedua sahabatnya. Mereka bukannya mencari solusi tapi justru malah membully.


"Kalau punya aku tidak akan pusing seperti ini!" cetus Xilondra.


"Benar juga, setidaknya kau memiliki fotonya kan? Biar aku kerahkan orang untuk melacaknya," pinta Franklin. Hal yang kenapa ya terpikirkan sejak awal oleh Kepala Desa Cendrawasih ini.


Bodoh sekali !


"Hei, benar juga! Kenapa tidak kepikiran ya?" Brandy dengan enteng memperjelas kebodohannya.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak pernah menyimpan fotonya. Lebih jelasnya, kami tidak pernah foto berdua. Aku bukan tipe orang yang seperti itu. Berpacaran lalu mendokumentasikan kebersamaan kami. Apalagi, jika harus mengunggahnya di media sosial," jelas Xilondra, yang mampu membuat kedua rahang pria di depannya ini terbuka lebar.


"Kau ini mahkluk jaman apa?" celetuk Brandy hingga, pria berambut putih itu kembali tergelak. Dan kali ini ia ditemani oleh Franklin. Keduanya bahkan sampai memegangi perut mereka. Wajar mereka tertawa bukan? Ketika keadaan menunjukkan sebuah kenyataan bahwa masih ada manusia yang tidak terkena virus eksis.


"Puaskan diri kalian dalam menertawakan kesusahanku. Aku yakin jika suatu saat pasti akan menemukannya, meskipun aku tidak memiliki fotonya selembar pun." Xilondra berkata dengan ekspresi datar. Sehingga, Brandy dan Franklin menghentikan tawa mereka.


"Siapa namanya?"


"Sa--"


"Ah ya, Halo sayang! Baiklah, aku pulang!" Jawaban dari Xilondra terpotong oleh sebuah panggilan mendadak dari Vynnitta yang masuk ke dalam ponsel Franklin. Pria itu pun buru-buru pamitan untuk segera berlalu.


"Haih, pria yang sibuk," ledek Brandy ketika ranking tak lagi kelihatan punggungnya.


"Memangnya siapa wanita itu. Gadis yang telah mampu membuatmu move on dan melupakan Vynnitta?" cecar Brandy lagi.


"Namanya Sania," tukas Xilondra.


"Sania? Seperti pernah mendengar nama itu!"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2