
Bisikan dari Mega membuat Sania menelan ludahnya kasar. Ia tak tau harus bagaimana menanggapi pernyataan yang di ucapkan oleh Xilondra. Meskipun, hal itu tidak pria itu ucapkan secara langsung padanya.
"Ayo kita mulai makan-makannya!" Vynnitta berseru dengan mengingatkan mereka pada acara inti yang sebenarnya. Sengaja, demi melerai kecanggungan antara Xilondra dan juga Sania yang gak ada ujungnya itu. Ia paham bagaimana rasanya. Karena ia juga wanita dan pernah berada di posisi yang sama dengan Sania.
Sania pun berlalu meninggalkan, Xilondra yang terpaku menatap punggungnya. Ia sadar jika pria itu masih memperhatikan dirinya. Namun, Sania berusaha abai dan pura-pura tak tau. Karena ia sendiri bingung sikap apa yang harus ia tunjukkan pada Xilondra.
Xilondra hanya bisa menghela napas. Ia mencoba mengerti kenapa, Sania seolah abai akan kehadirannya. Namun, dirinya sudah bertekad untuk terus memperjuangkan kembali cinta Sania.
Semua nampak begitu bahagia. Apalagi Alessia. Semua orang yang dia sayang berkumpul di hari istimewanya. Ale hari ini merasa menjadi manusia paling beruntung di muka bumi. Sesekali pandangannya melirik ke arah Sania yang terlihat menyuapi adik kecilnya itu Semenjak kejadian Baby Jo hampir jatuh dari box bayi. Sania di perintahkan oleh Franklin untuk menjaga Baby Jo saja. Dan, Alessia harus merelakan pengasuhnya itu untuk adik yang dia sayang.
Lagipula, ajudan Pooh sudah cukup sebagai pengawalnya. Setidaknya dengan menjadi pengasuh baby Jo maka Sania hanya akan stay di rumah. Meskipun ikut Vynnitta keluar, pasti juga akan ada Franklin di sana. Sehingga, Sania akan aman dari godaan maupun gangguan para pria yang menyukainya.
"Uncle mau aku bantu tidak?" bisik Alessia pada Xilondra yang memang atas keinginannya agar pria itu duduk di sebelahnya.
"Bantuan apa?" jawab Xi dengan berbisik pula.
"Mendekati, wanita cantik yang sejak tadi Uncle curi-curi pandang itu," ungkap Alessia tenang.
__ADS_1
"Uhukk ... Uhukk!" Xilondra seketika tersedak udara. Perkataannya bocah kecil di sampingnya ini kenapa bisa benar. Apa Alessia sejak tadi memperhatikannya? Xilondra bahkan sampai mengurut dasarnya. Di depan sana, Sania sebenarnya ingin sekali memberikan segelas air hangat miliknya untuk Xilondra, tapi sayangnya ia tak mau berbicara dengan pria itu.
"Kok kamu tau sih?" Xilondra kembali berbisik dengan Alessia. Sesekali ia akan merapihkan rambut panjang gadis kecil itu yang tergerai menutupi matanya.
Menanggapi raut wajah heran pada Uncle tampannya ini, Alessia hanya terkekeh geli sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Kelakuan gadis kecilnya ini membuat xilondra gemas bukan main. Ternyata Alessia sekarang sudah bisa meledek dirinya.
"Jadi, kau meledek Uncle ya!" Xilondra pun menggelitik Alessia hingga gadis kecil itu tertawa kencang sambil menggeliat. Xilondra membwwa Alessia ke atas pangkuannya dan menciumi dengan gemas. Franklin dan Vynnitta yang sudah lihat kebersamaan keduanya, hanya bisa saling pandang sambil tersenyum. Pasangan suami istri ini tidak menyangka, dengan menghadirkan Xilondra, nyatanya mampu membuat Putri mereka sebahagia itu.
Bagaimanapun ikatan batin keduanya sudah di pupuk sejak Alessia di dalam kandungan Vynnitta. Xilondra yang kala itu selalu mengabulkan keinginan Vynnitta ketika masa ngidam di mulai. Vynnitta menyentuh punggung tangan suaminya, lalu menggenggam erat seraya meletakkan kepala di bahu pria itu. Franklin pun menoleh dan segera melabuhkan kecupan singkat di pucuk kepala Vynnitta.
Perlakuan Xilondra terhadap Alessia tak luput dari perhatian Sania. Meskipun sibuk menjaga baby Jo, akan tetapi Sania tidak bisa abai begitu saja terhadap gerak-gerik pria yang sebenarnya sangat ia rindukan itu.
Sania hanya dapat berbicara lirik dalam hatinya. Dirinya sangat menyukai anak-anak. Begitu juga dengan Xilondra. Mereka memiliki banyak kesamaan dalam visi dan misi dalam membangun sebuah bahtera pernikahan serta bagaimana cara perlakuan mereka terhadap anak-anak kecil.
Brandy melepas rangkulannya dari Mega, setelah wanita itu beberapa kali mendaratkan Capitan kepiting di lengan serta pinggangnya. Ia menatap ke arah Sania dan juga Xilondra.
"Kalian berdua ini cocok banget. Sama-sama suka dan lengket sama anak kecil. Apa gak ada niat bersatu gitu untuk bisa memproduksi sendiri? Ya, kan ... daripada di lampiasin ke anak orang."
__ADS_1
"Brandy!"
Mega kembali mendaratkan capitannya, tapi kali ini pada leher Brandy. Kebetulan, pria itu mengikat rambutnya ke atas.
Sementara itu, Sania dan Xilondra mendadak saling buat tatapan mata. Xilondra menarik sudut bibirnya, membayangkan jika pada saat ini bayi yang digendong oleh Sania adalah buah hati mereka.
Hei, kenapa dia tersenyum? Apa yang terjadi padanya.
Sania menjadi merinding sendiri.
"Ide dari dokter gila itu lumayan juga. Kau harus mempertimbangkannya, Xi!" Tiba-tiba saja Franklin ikut angkat bicara.
Tentu saja, ucapan yang tersebut membuat Sania membelalakkan mata.
"Aku sih tergantung Sania," celetuk Xilondra. Sontak membuat mata besar wanita itu semakin bulat saja.
Mereka ini apa-apaan!
__ADS_1
...Bersambung...