Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 40. Tautan Yang Manis.


__ADS_3

Xilondra menatap dalam wajah itu. Berawal dari mata indah Sania yang besar dan berbulu lentik, hingga turun ke bagian yang paling menarik minatnya.


Xilondra pun menyibak anak rambut yang terurai menutupi wajah cantik natural di hadapannya ini. Kemudian, menyelipkannya ke belakang telinga.


Jemarinya terus menyusuri wajah Sania, hingga Ibu jarinya mendarat di bibir kenyal nan penuh milik mantan kekasihnya itu.


Sepasang mata gelapnya kini telah berkabut, kerinduan selama beberapa hari ini telah memenuhi dadanya. Perlahan tapi pasti, wajah rupawan sang kepala desa semakin mendekat dan mengikis jarak diantara keduanya.


Sania sempat terkejut, meski ini bukanlah ciuman pertama mereka. Hanya saja, hatinya tetap selalu berdesir, ketika bibir sensual Xilondra menempel dan meninggalkan sengatan listrik pada seluruh sendinya.


Sania memejamkan matanya, memilih untuk menikmati sensasi yang Xilondra berikan padanya. Aksi, Xilondra ini telah sukses membius Sania hingga dirinya terlupa akan status mereka saat ini.


Pikirannya seketika kosong, yang ia tau hatinya menghangat dan ia merasa rindunya menguar seiring dengan suara decapan dari sesapan keduanya.


Xilondra semakin mengeratkan rangkulannya, bahkan ia menekuk tengkuk Sania demi memperdalam ciuman mereka. Pikirannya ikut kosong. Karena pria itu mengikuti apa kata hatinya saat ini. Tak ada lagi logika. Ia sudah cukup frustrasi dalam menahan perasaan.

__ADS_1


Alunan merdu nan lembut sukses meluncur dari bibir Sania ketika aksi hangat dan basah itu membuai dirinya. Reflek, kedua tangan kecilnya melingkar di leher kekar, Xilondra. Memeluk erat pria itu , seakan tak ingin momen ini di pisahkan oleh apapun.


Ketika ia tersadar. Maka Sania pun langsung mendorong wajah Xilondra agar menjauh darinya. Menyeka kasar bibirnya yang basah dan sedikit bengkak itu.


"Jangan lakukan ini! Kau itu seakan memberi harapan kepadaku!" pekik Sania. Ia pun berniat menjauh dengan memundurkan langkahnya. Akan tetapi karena ia berjalan mundur kakinya pun tersandung batu dan Sania hampir terjengkang. Jika saja, lengan kekar Xilondra tidak segera menangkapnya.


"Sudah kubilang jangan lari lagi dariku! Kau lihat kan? Bahkan kau hampir celaka. Aku pun begitu. Aku hampir mati karena kehilanganmu, Nia," ungkap Xilondra jujur.


"Tapi aku--,"


"Apa! Ibu?" Sania terkejut. Pria di hadapannya ini sungguh serius. Meskipun, keduanya ... sama sekali tidak menyangka akan bertemu di sini, di tempat ini, di pantai ini. Kembali memadu kasih serta mengungkapkan isi hati. Xilondra bahkan mengajaknya untuk kembali mengikrarkan janji dan impian mereka.


Ya, semua ini bukan kebetulan. Tapi, kita memang dipersatukan kembali oleh semesta. Kembalilah padaku, Nia!" Xilondra mengulurkan tangannya.


Sania menghirup nafasnya dalam. Dengan sepenuh cinta dan debaran hati penuh irama bahagia. Ia menerima uluran tangan pria itu.

__ADS_1


"Kita pulang ke resort saja, bagaimana? Aku mau makan nasi goreng seafood buatanmu," ajak Xilondra seraya mengusap bibir Sania yang sedikit tebal karena perbuatannya yang agak terbawa gelora.


Sania sontak menunduk malu, karena ia selalu saja terbawa, oleh kedekatan keduanya. Ditambah, momentum dan situasinya sangatlah mendukung. Ia pun hanya menuruti apa kata hatinya saja.


" Baiklah! Tapi, kita harus membeli bahannya dulu," jelas Sania. Ia teringat ketika masih di desa. Ia sering mengantar makan siang ke kantor Xilondra melalui pesuruh. Karena itu hanya sebagian kecil yang mengetahui hubungan keduanya. Sebab, Xilondra dan Sania tidak pernah go publik untuk menebarkan hubungan keduanya.


" Kurasa itu tidak perlu. Biar nanti aku menyuruh orang untuk mempersiapkannya." Xilondra segera, membantu Sania untuk menuruni batu karang besar itu dengan memegang pinggangnya.


" Aakh!" Sania pun memekik kencang. Semua ini lantaran sedikit sedikit memutarnya sebentar. Lalu pria itu melabuhkan kecupan di ujung kepalanya.


Perlakuannya, Xilondra manis sekali. Akan tetapi, dalam hati kecilnya ... Sania masih merasa tak layak untuk di perlakukan seperti ini.


Xilondra mengabaikan tatapan Sania yang melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Akan tetapi, ia tetap menggandeng tangan tangan Sania menyusuri pantai menuju lokasi di mana kendaraan yang ia pinjam dari Brandy, kini harus ia parkir sembarangan.


Ibu, aku membawa calon menantumu pulang.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2