Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 16. Kesedihan Yang Disembunyikan Prita


__ADS_3

"Tentu saja, karena beliau adalah anak satu-satunya. Di harapkan menikah, tapi justru menolak lamaran belasan gadis baik-baik. Apa mungkin ini karma," ucap salah satu anak buah pelayan.


"Tutup mulutmu! Apa pantas kau berkata seperti itu pada pria yang telah membantu keluarga mu yang hampir jadi guna wisma? Apa aku tak ingat. Jika bukan kebaikan tuan Xi. Rumah keluargamu pasti sudah ditarik pemerintah, karena di bangun di atas tanah sengketa!" geram sang ketua pelayan. Tatapan penuh amarahnya tertuju pada anak buahnya yang bermulut julid.


Pelayan tersebut pun menunduk dalam. Seketika ia tersadar bahwa ucapannya barusan sudah kelewat batas. Perlahan memberanikan untuk mendongak kembali. "Maaf. Saya sungguh tidak tau diri Mulut ini sudah kelewatan. Tidak seharusnya saya berbicara seperti itu. Saya pantas di hukum, mohon hukum saya!" pintanya penuh permohonan. Nampaknya penyesalan telah menghampirinya. Hingga ia sadar bahwa sikapnya barusan tidak tau tempat.


"Sudahlah! Lain kali berpikir lebih dulu jika ingin berkomentar. Lebih baik lagi kita diam. Cukup berempati dan mendoakan saja. Karena orang yang sedang tertimpa musibah itu tak butuh di hakimi. Mereka hanya butuh support dan juga doa. Jika tak bisa memberi itu semua. Alangkah baiknya diam saja dan menjaga diri agar tidak menyakiti," jelas sang ketua pelayan.


Anak buah pelayan pun menunduk semakin dalam dan mengangguk pelan. Ia cukup waktu untuk menyesali perbuatannya sampai pagi.

__ADS_1


"Kembali ke kamarmu. Nanti kita bergantian patroli di depan kamar ini, dua jam sekali. Sekarang, biar aku yang pertama," titah kepala pelayan lagi. Sehingga, anak buahnya itu pergi berlalu kembali untuk beristirahat.


Setelah kepergian sang anak buah. Kepala pelayan kembali mengintip. Ia bernapas lega ketika lihatnya sang Nyonya telah tertidur pulas. "Saya yakin, Nya. Tuan Xi, pasti akan kembali. Beliau adalah anak yang berbakti. Sosok pemimpin yang adil. Pasti akan ada pertolongan dimanapun ia berada," gumam kepala pelayan.


Prita, menarik napasnya dalam. Berusaha memejamkan matanya kembali. Bagaimanapun ia harus berpikiran positif. Setidaknya, ia harus kuat menerima hal terburuk sekalipun nanti. Mencoba menahan risau dan kekhawatiran yang membunuh hari-harinya.


Dimana para warga melihat ketegaran yang berusaha ia tampakkan. Meskipun sebenarnya hatinya serapuh kaca kristal. Prita, menahan sesenggukannya. Ia menyadari, pikiran buruk akan berakibat buruk juga pada kenyataan. Karena itu, ia mencoba tenang. Memejamkan matanya, setidaknya sampai mimpi itu datang lagi menganggu setiap malamnya.


Setelah terdengar sebuah teriakan yang kenceng. Suara benturan keras pun menggema. Lalu, suara erangan yang disertai rintihan merobek suasana hutan malam itu.

__ADS_1


Lagi-lagi, La Roisa terkena serangannya yang berbalik. Sementara, Xilondra tidak mengalami luka sedikitpun pada. Laki-laki bertubuh tegap dengan wajah rupawan itu nampak kebingungan. Karena ya berpikir beberapa detik yang lalu dirinya pasti akan tiada. Namun, entah bagaimana, sebuah tameng tak kasat mata akan berada di depan tubuhnya. Menghalangi serangan dari La Roisa dan memantulkannya balik.


"Sialan! Benar-benar sialan!" La Roisa berteriak keras merasa tak terima. Lagi-lagi serangan mematikannya itu terpental kembali ke arahnya. Darah kental yang berwarna hitam kembali dimuntahkan. Hingga, wanita berwajah putih pucat itu merasakan panas di area dadanya.


"Tenaga yang ku keluarkan sangat besar. Karena aku bermaksud menghancurkan organ bagian dalam tubuhnya. Tapi, serangan itu justru kembali kepadaku. Jika, kemampuan yang kumiliki tidak berada di level tinggi. Mungkin saat ini, aku hanya seonggok mahluk yang sudah tak bernyawa." La Roisa masih tak habis pikir, tentang apa yang melindungi sosok pria yang telah membuatnya merasa terhina itu.


Di seberang sana, Xilondra memutuskan untuk berlari menjauh. Setelah ia menyadari bahwa wanita tadi telah dua kali berusaha untuk menghabisi nyawanya. Tempat ini sudah tak lagi aman untuknya. Bagaimanapun caranya ya harus menemukan jawaban dari teka-teki purnama kembar.


"Aku tau tempat ini memang bukan duniaku. Akan akan tetapi di manapun dunia itu bulan tetaplah satu. Lalu bagaimana caraku menemukan tempat yang memiliki bulan purnama kembar? Apakah ada makhluk yang mampu menyamai kuasa Tuhan? Hingga dapat menciptakan dua purnama," gumam Xilondra seraya terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling hutan.

__ADS_1


.


...Bersambung ...


__ADS_2