
Xilondra membawa Sania, ke resort-nya. Dimana, ia dan sang ibu menginap disana. Sebelum itu, Xilondra telah memberitahu Prita melalui chat di aplikasi hijau. Sementara, Sania. Ia juga mengabarkan pada Vynnitta jika kemungkinan akan pulang malam.
Vynnitta pun mengijinkan karena ia pergi bersama pria yang di kenal. Setidaknya, Vynnitta juga tenang, karena masalah keduanya akan terselesaikan dengan baik.
"Sebentar lagi, kita akan menerima dua undangan pernikahan sekaligus, Mom," ucap Alessia.
Mendengar penuturan dari Alessia, maka kening Vynnitta langsung berkerut seketika.
"Pasangan siapa lagi, yang akan menikah selain Uncle tampan?"
"Tentu saja, Uncle Brandy dan Aunty Mega, Mom," jawab Alessia gemas. Karena, sang Mommy lupa jika pasangan ini belum juga mengakhiri masa pacaran mereka.
"Ah! Ya mereka. Kamu benar sayang." Ibu dan anak itu pun tertawa renyah.
Memang iya, ketika Xilondra membawa Sania menuju resort untuk menemui, Prita. Di sebuah restoran pinggir pantai. Baru saja ada momen paling manis yang pernah terjadi di dunia romantisme.
Ketika, ada pria berambut putih yang sedang bertumpu pada satu kakinya. Seraya membawa buket jumbo di tangan yang lain. Sebab, tangan satunya menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna merah marun. Kotak kecil itu terbuka dan terdapat cincin bermatakan berlian disana.
Mega, menutup mulutnya.
Menahan teriakan histeris yang ingin keluar.
Hal paling manis yang pernah ia alami seumur hidupnya. Mereka berpelukan dan ini kali pertama, Brandy dapat merasakan ciuman pertama dari Mega, kekasih yang akan menjadi calon istrinya.
__ADS_1
"Cukup sekali!" Mega mendorong wajah Brandy. Alan tetapi, pria bermata abu-abu itu terus memajukan bibirnya.
"Sekali lagi, Please! Bibir kamu manis banget, sayang ...,"rengek Brandy. Akan tetapi Mega tetap menggeleng dan menahan wajah calon suaminya itu dengan telapak tangan. Pasangan yang lucu.
Kita bersih kepada pasangan yang baru saja baikan. Dalam artian, mereka baru saja mulai menerima satu sama lain kembali. Mulai merajut kembali mimpi yang menjadi asa bersama.
Hingga, kini senyum Xilondra berkembang sempurna. Di saat kedua matanya menyaksikan Sania kini tengah berpelukan dengan sang ibu. Wanita yang melahirkannya sampai menangis tersedu. Tak menyangka jika Sania dan putranya bisa kembali bersama hadapannya dalam keadaan damai.
Apalagi, Xilondra membawa kabar jika dirinya dan Sania akan segera menyatukan cinta mereka dengan sebuah ikatan yang suci. "Benar itu, Sania? Kau mau menerima putra Ibu? Kalian ... akan menikah?" cecar Prita menelisik keduanya. Ia menatap bergantian ke arah Sania dan juga putranya itu. Pria malang sayang selalu mendapat ujian berat ketika mencintai wanita.
Sania, menjawab pertanyaan dari berita dengan sebuah anggukan pelan. Awalnya, ia juga ragu terhadap rencana Xilondra padanya. Ia merasa tidak pantas untuk laki-laki baik itu. Xilondra begitu sempurna di matanya. Sementara, dirinya bekas pria lain. Meskipun, pada saat itu Trevino hanya baru mencumbu tubuhnya saja.
"Apa, Ibu tidak malu. Jika memiliki menantu seorang janda seperti saya? Apa, Ibu juga tidak akan menanggung malu jika putramu yang begitu hebat ini memiliki istri yang merupakan bekas dari pria lain?" tanya Sania memastikan keraguan dalam hatinya.
Harapannya yang ingin melihat sang putra menikah, akhirnya akan menjadi kenyataan saat lagi. Setidaknya satu tanggung jawab di punggungnya luruh satu persatu. Karena, seorang ibu itu belum tenang jika ada anaknya yang belum menikah. Apalagi, Xilondra adalah Putra satu-satunya. Dan, seorang pemimpin itu memang harus memiliki pendamping.
"Lalu kapan, rencana kalian?" tanya Prita yang masih menggenggam tangan Sania.
"Secepatnya, Bu. Sepulang dari sini. Aku akan langsung meminta ijin pada ibunda Sania," jelas Xilondra. Pria itu tak henti-henti tersenyum. Apalagi ketika melihat raut wajah bahagia dari sang ibu. Bahkan, Prita tak memberinya kesempatan sedikitpun untuk mendekat pada Sania. Wanita yang telah melahirkan ke dunia itu masih terus memegangi tangan, calon istrinya.
Waktu terus berganti.
Dari detik ke menit, dari menit ke jam.
__ADS_1
Dari Minggu menjadi bulan.
Dan, disinilah Xilondra dan Sania pada akhirnya.
Mengikat janji satu sama lain. Di depan para saksi yang mendoakan kebahagian keduanya. Melempar buket bunga sebagai tanda kebahagiaan mereka yang harus di bagi.
Di sudut kursi tamu ada pasangan pengantin baru yang juga belum lama melangsungkan pernikahan mereka. Siapa lagi kalau bukan, dokter Gila dan si apoteker herbal. Brandy dan Mega.
Xilondra dan Sania sengaja mengadakan pernikahan mereka di desa. Karena, Xilondra ingin menaikkan derajat Sania di depan warga desanya. Dimana semenjak ia menikah dengan anak angkat bandar judi menjadi banyak di cemooh para warga yang menjadi korban penipuan Terry.
"Kamu sangat cantik, Nia," puji Xilondra yang sejak lagi tadi sangat mengagumi kecantikan istrinya ini. Padahal, gaun serta riasan pada wajah maupun aksesoris yang dikenakan oleh Sania sangatlah simpel dan sederhana.
Wanita itu memang tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Akan tetapi hal itu justru membuat penampilannya anggun dan juga elegan. Xilondra merasa sangat beruntung kadang bisa mendapatkan kembali Sania-nya yang hilang.
"Terimakasih. Kau juga sangat tampan dan gagah," balas Sania seraya melepas senyumnya untuk pria yang mau menerima dirinya dengan keadaan apa adanya.
"Aku memang selalu tampan. Karena itu panggilan dari tuan putri kecil," kelakar Xilondra. Membuat Sania ikut tertawa renyah.
Selamat menempuh hidup baru untuk kalian.
Setelah kesulitan yang berliku-liku, akhirnya alur itu menemukan ujung yang bahagia.
Kesucian cinta pasti akan menemukan pelabuhan yang sebenarnya.
__ADS_1
...Selesai...