
Para suku aneh itu terus bicara bahasa yang asing di telinga Xilondra. Kepalanya semakin pusing karena ia tak mengerti. Dan mereka semua yang jumlahnya lebih dari enam orang bicara bersahut-sahutan.
Xilondra membekap telinganya. Karena sudah sangat bising. Baru sadar dari tidur panjangnya. Ia justru mendengar suara yang luar biasa aneh. Bahkan, penampilan mereka juga. Suku anak dalam yang ia tau pun tidak begini penampilannya.
Kemudian para manusia itu bicara lagi lebih pelan. Hingga seorang wanita, yang lebih tua memukul ujung tongkatnya untuk membuat semua diam. Ia berkata pelan. Sampai semua mengangguk mengerti.
Wanita itu terlihat memegang kalungnya yang nampak terbuat dari gigi taringnya binatang yang besar. Kemudian, wanita itu memejamkan matanya. Ketika kedua kelopak itu membuka, maka yang terlihat adalah pancaran penuh aura aneh dari wanita tertua tadi.
"Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa tersesat sampai ke desa kami ini?" tanya kepala suku tersebut.
Xilondra yang kaget karena wanita itu bisa bicara bahasanya. Hanya bisa melongo dengan mulut terbuka.
"Jawab, pertanyaan saya! Atau kau akan kami jadikan persembahan pada kawah gunung berapi. Jika, memang kau terbukti sebagai penyusup!" seru wanita itu lagi dengan nada bicara yang tegas dan lantang. Sungguh aura kepemimpinan sangat kentara darinya.
"Tunggu dulu! Saya ini bukan penyusup. Bukankah, anda lihat sendiri kalau saya baru bangun dari pingsan," jelas Xilondra. Ia bahkan tak tau sejak kapan tertidur.
Hingga seorang pria paruh baya menunduk pada wanita itu dengan penuh hormat. Kemudian dia terlihat seperti sedang menjelaskan sesuatu. Sayangnya, Xi tidak faham apa yang mereka bicarakan.
"Katakan. Bagaimana bisa kau sampai di kuil itu? Apa yang ingin kau lakukan di sana? Apa kau pencuri dari peradaban modern? Dengan dalih ingin menyelamatkan pusaka bangsa!" Wanita yang mengenakan tongkat bertanya dengan nada tinggi, mungkin sekitar lima oktaf.
Xilondra pun kaget di buatnya.
Melihat raut pucat Xi, pria paruh baya itu kembali berbicara pada wanita yang mungkin memang kepala suku mereka.
Sehingga, wanita itu kembali menatap Xi dengan penuh selidik. Dia mendekatkan kepala tongkat yang terdapat kristal biru besar di sana. Benda itu berputar tiga kali di atas kepala, Xi.
"Kau sudah tak sadarkan diri selama tiga purnama. Jika bukan karena permata milik Adore. Kau pasti sudah mati. Permata itu, menyelamatkan jiwamu. Itu artinya kau pria yang baik dan jujur. Tapi ... kau harus segera pergi dari desa ini!" Wanita kepala suku itu, kembali menatap Xilondra dengan intens.
__ADS_1
"Terimakasih, sudah m mempercayai ku. Bisakah anda jelaskan. Dimana saya berada saat ini. Sebab, saya hanya ingat pada saat itu. Kami terjatuh kedalam lubang. Atau ... memang sengaja di buat jatuh --" Xilondra nampak berpikir. Flashback pada beberapa waktu lalu. Dimana dirinya kala itu sempat bersitegang dengan beberapa pejabat desa.
Mereka rata-rata tidak mau diatur oleh pemerintah pusat. Padahal itu semua demi kebaikan desa itu sendiri. Ternyata di sanalah, Xi menemukan alasannya. Para pejabat desa berkeinginan agar desa mereka tetap terisolir. Sebab mereka karena ingin menikmati kekayaannya desa itu secara berkelompok.
Xilondra, meyakini bahwa pemerintah pusat tidak tau ini. Karena itulah mereka ingin menghabisinya agar tidak bisa kembali.
Jika pemerintah pusat mengetahuinya. Aku yakin mereka juga pasti akan silau. Belum tentu mereka memikirkan nasib rakyat pribumi di sana yang lebih banyak wanita dan anak-anak. Aku tidak perlu ikut campur urusan mereka. Setidaknya para warga di sana tidak kelaparan, itu cukup bagiku.
Xilondra, berbicara lewat kalbunya. Seketika dirinya teringat sesuatu. Bahwa, sebelum kecelakaan di sumur itu. Xilondra memiliki sisa waktu satu bulan untuk menyelesaikan masalah di desa tersebut.
Sania. Bagaimana dengannya. Janji dan komitmen kami.
"Bagaimana keadaan kawan-kawanku? Apakah mereka selamat? Karena kami berenam, dan terbentuk menjadi satu tim," cecar Xilondra penuh tanya pada wanita yang menjadi kepala suku itu.
"Sepertinya kau tidak perlu tau. Kami akan segera mengembalikan mu ke tempat asal. Semua itu karena permata suci memberi sinyal bahwa kau adalah pria yang jujur. Kau memiliki satu niat yang tulus datang ke desa itu. Tapi, percayalah. Tidak semua sudut dan sisi dari kehidupan ini harus di sentuh oleh teknologi dan modernisasi. Biarkan bangsa kami tetap berlangsung dengan cara kami sendiri." Kepala suku nampak berbicara sangat serius. Namun, Xilondra telah mampu menangkap jelas maksudnya.
____________
Sementara itu di sebuah desa yang telah tersentuh kehidupan modern. Namun, masih menjunjung tinggi budaya setempat. Inilah desa cenderawasih. Desa yang beberapa kali mendapat penghargaan dari pemerintah daerah, sebagai desa terindah dan tercantik.
Beberapa pejabat desa tersebut sudah gusar sejak beberapa bulan yang lalu. Karena pemimpin mereka tidak juga kembali.
"Bagaimana Bu Prita. Pak Kepala desa, benar-benar tidak terlacak. Seluruh akses lumpuh total." Seorang pria yang menggantikan jabatan Xilondra sementara ini, mulai resah. Ia mencium sebuah tragedi atas keterlambatan dari kepulangan pemimpin mereka yang arif dsn, bijaksana ini.
"Selain menunggu dengan keyakinan. Tak ada lagi yang dapat kita lakukan. Bahkan pemerintah pusat yang mengirim Xi juga tidak bisa turun tangan lebih jauh. Misi ini, Xi sendiri yang menyanggupinya. Kita hanya perlu yakin jika Xi akan kembali suatu saat nanti," ucap Prita dengan wajah sendu. Tak bisa dipungkiri, jika hati wanita ini lebih sedih dan terluka ketimbang warga desa lainnya.
"Kami mengerti, Bu. Kita hanya bisa menunggu. Karena tak ada satupun dari kami yang benar-benar tau lokasinya. Di mana desa Walayang itu," jelas wakil kepala desa.
__ADS_1
Prita mengangguk, sama sekali tak ada senyum di wajahnya. Semenjak penantiannya terhadap Xilondra.
"Desa ini sangat membutuhkan beliau. Kami mewakili harapan dan doa tulus dari warga. Sangat menginginkan keselamatan kepala desa. Sangat menanti kepulangan beliau," ucap salah satu pria yang menjadi juru bicara dari warga desa Cenderawasih ini.
"Sebaiknya, desa mengangkat pemimpin yang baru." Prita nampak berdiri dengan tetap wajah serius. Semua orang kaget. Mereka sama sekali belum berpikir untuk mencari pengganti.
"Bu Prita, menurut kami belum ada kandidat yang mampu menggantikan kursi kepemimpinan beliau," ucap Ganesh, wakil kepala desa yang ditunjuk untuk menggantikan Xilondra.
"Kau mampu, Ganesh. Bantulah aku dan putraku. Pimpin desa ini seperti apa yang telah dilakukan oleh Xi." Prita menatap pemuda tampan dengan postur tinggi dan berwibawa ini lekat.
Ganesh, menarik napasnya dalam. Ia tidak menyangka jika kedatangannya yang hanya ingin membahas kepergian Xilondra menjadi berujung pengangkatan dirinya menggantikan sosok pemimpin lama yang hilang di telan bumi.
"Bu Prita, saya--"
"Aku sudah memikirkannya. Jika kau menghormati Xi dan mencintai desa ini. Maka terimalah, mandat uang ku pinta dan ku serahkan padamu sepenuh hati. Xi, juga pasti akan memilihmu," potong Prita dengan penjelasan yang tak mungkin di debat apalagi di bantah.
Ganesh tak ada pilihan lain. Ia menoleh pada beberapa tokoh yang juga hadir di pertemuan malam itu.
Sialnya, mereka setuju.
Kak, Xi. Maafkan aku. Kembalilah cepat! Selamatkan aku dari situasi ini.
Ganesh terlihat menghela napasnya. "Tapi, jika Xi kembali ... saya akan mengembalikan jabatan ini pada beliau," ucap Ganesh.
Prita tak mengomentarinya. Kini dirinya bimbang, antara yakin dan tidak. Karena, mimpinya selama tiga malam berturut-turut seakan menjadi sebuah tanda akan kemungkinkan buruk.
...Bersambung...
__ADS_1