Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab 8. Di Saat Purnama Terbelah Dua.


__ADS_3

"Aku ingin pulang. Tolong bawa aku keluar dari desa ini." Tak lama terbangun karena mimpi. Xilondra segera pergi menemui kepala suku. Ia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang terbuat dari kulit kayu dan kulit binantang itu. Bahkan, desa ini benar-benar masih bergantung pada alam.


"Hanya kepala suku yang mampu bicara dalam bahasanya. Hanya wanita itu juga yang mengerti apa yang ia katakan. Sehingga, menurut Xilondra dia juga yang akan membawanya kembali pada dunianya. Xilondra merasa tempat ini bukan di dunia manusia.


Sebab, Xilondra mengerti bahasa daerah pedalaman sekalipun. Karena itulah, pemerintah pusat yang mengirim dirinya untuk misi tersebut. Akan tetapi, bahasa yang di gunakan oleh penduduk ini sungguh aneh.


Wajah mereka juga tidak ada yang jelek. Semua tampan dan cantik. Meskipun kulit mereka terlihat pucat macam hantu. Xilondra merasa hanya dialah yang memiliki darah mengalir di balik pigmen kulitnya.


"Kau masih terluka. Permata Adore belum memberikan ku perintah untuk mengembalikan mu. Bersabarlah sedikit lagi. Sementara kami, mencari tau dimana keberadaan kawan-kawanmu itu," jelas sang kepala suku.


"Tapi Nyonya--"


"Panggil aku, La Roisa. Aku adalah kepala suku di desa Pancamaya ini. Kau mati dan selamat berkat Permata Adore. Jika permata suci itu memerintahkan padaku untuk memusnahkanmu besok maka, hari ini adakah matahari terakhir bagimu. Anak muda," ucap La Roisa tegas. Dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Apa ... jadi, kepulangan ku pun belum jelas. Memangnya apa yang sudah kulakukan pada kalian? Kenapa aku harus di tahan!" Xilondra nampaknya tak dapat lagi menahan amarah yang berkumpul di dalam dadanya. Ia yakin, kepala suku mampu mengeluarkannya dari tempat ini dengan kekuatan magis yang ia miliki.


Meskipun awam, Xilondra tau dan paham. Ia dapat merasakan hawa magis yang sangat kuat di tempat ini. Ia berharap para penduduk yang ia lihat ini tidak menggunakan tipuan visual.

__ADS_1


La Roisa berdiri cepat. Ia mengetuk keras ujung tongkatnya pada tanah keras yang menjadi alasnya untuk berdiri ini. Seketika percikan cahaya berwarna biru nampak mengitari sekeliling tubuh Xilondra.


La Roisa nampak meracau. Wanita itu mengucapkan sesuatu yang entah apa artinya. Dia menggunakan bahasa yang aneh. Wanita berpakaian yang serba memperlihatkan bentuk tubuhnya ini mengangkat tangan serta tongkatnya tinggi-tinggi.


"LE~BELESE~I ...!" La Roisa berteriak lantang.


Pada saat itulah, Xilondra merasakan ada tenaga aneh yang merasuk kedalam tubuhnya. Tapi ia tidaklah merasa sakit. Melainkan tubuhnya menjadi seketika hangat dan bertenaga. Xilondra merasa lebih bugar dari sebelumnya.


La Roisa menurunkan tongkatnya. Ia memejamkan mata dan lantas tersenyum setelahnya. "Permata Adore memerintahkan padaku untuk memberi kekuatan itu padamu. Pengaruh negatif yang membelenggu ragamu telah musnah. Tapi, permata suci Adore mengatakan bahwa kawan-kawanmu tidak ada yang selamat," ucap La Roisa.


Kedua mata Xi seketika membola. Bagaimana bisa hanya dirinya yang selamat. "Bagaimana bisa hanya aku yang selamat? Lalu seperti apa nanti aku menceritakan ini semua kepada keluarga mereka?" cecar Xilondra seraya menahan gemetar pada tubuhnya. Ia memberi tatapan tajam pada wanita cantik dengan kulitnya yang seputih kapas itu. La Roisa hanya tersenyum penuh arti kala melihat ekspresi Xilondra.


Pertahanan hampir roboh. Xilondra hampir saja lunglai. Jika saja tak ada bongkahan batu di belakangnya, mungkin pria bertubuh nyaris sempurna ini sudah jatuh.


Kenyataan apa ini ? Apakah ucapannya bisa di percaya? Mana mungkin mereka semua, menghianatiku?


Xilondra benar-benar tak bisa menerima ini semua dengan akal sehat.

__ADS_1


"Permata Adore benar. Hati mu masih suci anak muda. Kau bahkan tak tau apa yang tengah direncanakan oleh kawan-kawanmu itu. Mereka kini tengah menyesal dengan sangat dalam. Namun, itu semua sudah terlambat."


"Kau bisa pulang di saat bulan purnama terbelah menjadi dua. Pikirkanlah dengan tingkat kecerdasanmu yang tidak diragukan itu."


Sontak, ucapan terakhir dari kalimat La Roisa membuat Xilondra, menelan ludahnya kasar.


Di suatu tempat.


Seorang anak gadis cilik berambut halus dengan warna dark blue, nampak gelisah. Ia berkali-kali terlihat bolak-balik di dalam kamarnya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya sang mama, yang masih nampak muda. Dia terlihat mengendong bayi yang baru bisa mengoceh itu di samping tubuhnya. Dialah Vynnitta dan anak gadis cilik itu adalah Alessia.


"Ale, melihat sesuatu dan itu tentang Paman Xi," ucapnya dengan nada khawatir.


"Apa, Nak?" Vynnitta kaget.


Apa benar kata Nyi Laluna? Jika Ale dapat menerawang menembus dimensi lain?

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2