
"Tentu saja, dari para pria yang menyukai Aunty Sania," jawab Alessia dengan berbisik pelan.
"Haih, benarkah? Apa banyak yang menyukainya?" cecar Xilondra penasaran.
"Bahwa sekali. Ada tujuh laki-laki yang masuk dalam target hitungan Ale," adu gadis kecil itu lagi.
Mendengar jawaban polos dari gadis kecil yang ia sayang, tentu saja membuat dada Xilondra berdentum kencang. Banyak sekali saingannya. Tidak di desa maupun di kota. Ia terancam kembali untuk gagal mendapatkan serta mempertahankan Sania.
Beruntung, ada Alessia. Karena, senang Xilondra pun menciumi pipi gadis kecil itu berkali-kali. Membuat Alessia memekik girang sekaligus geli. Beberapa pasang mata yang menyaksikan kedekatan keduanya pun tidak mampu menutupi rasa haru mereka.
Xilondra dengan perasaan yang tulus dalam menyayangi Alessia, sampai di hati siapapun yang melihat kedekatan antara keduanya. Bahkan, Franklin sedikit cemburu akan hal itu. Akan tetapi, pria itu berusaha menepis perasaan yang hanya akan menyakiti batinnya sendiri. Toh, semua itu karena keduanya telah terbiasa bersama sekian tahun.
Justru karena kedekatan keduanya serta ketulusan Xilondra terhadap Vynnitta dan Alessia kala itu, yang membuatnya merasa berhutang budi. Hingga, dari permusuhan dalam memperebutkan hati Vynnitta, kini berubah menjadi sebuah persahabatan yang hakiki.
__ADS_1
"Antar, Uncle bicara dengan Aunty-mu ya," pinta Xilondra caranya berbisik di telinga Alessia.
Gadis kecil yang cantik bak peri kecil itu pun menjawab singkat. "Beres!"
Mereka dekat sekali. Bagaikan hubungan antara ayah dan anak. Xilondra bahkan tidak pernah menceritakan siapa gadis kecil ini padaku. Tapi, keakraban mereka terlihat sangat tulus. Bahkan, tuan menyiapkan kedatangan Xilondra sebagai sebuah kejutan. Dimana pada akhirnya bukan hanya Alessia yang terkejut akan tetapi diriku juga. Haih, kenapa kebetulan sekali. Kenapa kita harus bertemu kembali di saat diriku belum mampu untuk melupakanmu. Justru, aku semakin ingat dengan cita-cita serta mimpi kita berdua. Mimpi yang tidak akan mungkin terwujud.
Sania menghela napas. Mencoba membuka rongga dadanya lebih luas. Karena, ia tak mau orang di sekitarnya tau mengenai derita dan sesak yang tengah ia rasakan saat ini. Jujur, ia ingin menangis dan berteriak kencang. Kenapa, mereka harus mendatangkan sosok pria yang sangat ingin Ia lupakan.
"Bicaralah. Aunty juga selalu memikirkan Uncle. Aunty tidak pernah menanggapi pria-pria itu," ungkap Alessia membuat kedua mata Sania membola.
'Apa yang sedang nona kecil katakan. Pria mana? Tolong jangan buat Xi salah paham. Aku sudah cukup jelek dimatanya.' batin Sania tak percaya diri. Bahkan, untuk menatap wajah pria dihadapan yang ini pun ia sangat tidak sanggup.
Xilondra justru mengucapkan kalimat yang membuat pemikiran Sania berubah seketika. "Uncle juga selalu memikirkannya. Bahkan hampir gila."
__ADS_1
Deg!
Tatapan keduanya pun beradu seketika.
Sania ingin sekali memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh pria yang tak pernah mampu ia lupakan ini benar adanya. Namun, lidahnya tak mampu mengeluarkan suara sepatah kata pun. Bahkan, hanya untuk sekedar menyapa ia tak bisa.
"Kalau begitu. Berarti kalian berdua itu memang berjodoh," celetuk Alessia penuh arti. Meskipun anak kec tapi ia memiliki kemampuan yang dapat membaca masalah yang telah terjadi antara keduanya. Hanya saja Ale, masih menyimpan keistimewaannya itu seorang diri.
"Kamu benar sayang. Ini adalah jodoh," sahut Xilondra. Memuat Sania ingin sekali mengubur wajahnya yang memerah.
"Sania, terima saja. Kau mau kabur kemana lagi?" bisik Mega.
...Bersambung ...
__ADS_1