Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 28. Ajudan Pooh.


__ADS_3

Sania akhirnya sampai juga di kediaman keluarga Bou. Setelah sang sopir lebih baik keadaannya. Ia turun setelah sang sopir membukakan pintu mobil. "Maaf, Nona. Biar saya bawakan barang-barang Anda," tawar sang sopir yang bernama ajudan Pooh. Nama sebenarnya adakah, Mark Balmante. Entah kenapa, Alessia memberinya panggilan seperti tokoh kartun beruang madu kesukaannya. Padahal, postur Mark sangat atletis.


Mendapat penawaran seperti itu dari sopir yang menjemputnya. Sania langsung menolak secara halus. "Biar aku saja. Sebaiknya kau langsung istirahat. Perbanyaklah minum air hangat," usulnya pada Mark alias Pooh yang nampak kurang sehat.


"Terimakasih, Nona. Tidak apa, biar saya yang bawakan. Setelah ini saya akan ijin pada tuan dan nyonya untuk istirahat," tolak ajudan Pooh.


"Baiklah. Ini, nanti obat ini kau minum lagi. Semoga kau lebih baik setelahnya," sahut Sania, seraya memberikan pil hasil racikannya sendiri. Kemudian ia melangkah masuk mengekori ajudan Pooh.


Ternyata, Alessia sudah mengetahui kedatangan dari Sania. Karenanya gadis kecil itu berlari dari lantai atas untuk menjemput kedatangan Sania. Alhasil, sebuah jeritan nyaring memenuhi ruangan luas tersebut. Ketika ajudan Pooh dan Sania baru saja menginjakkan kaki di ruang utama.


"Kakaaakk!" panggil Alessia melengking. Bahkan para pelayan yang menyambut di ruang tamu sempat meringis. Karena jeritan Alessia berdengung di telinga mereka.


Entah berapa oktaf yang Alessia keluarkan. Sania, pun ikut meringis di buatnya.


"Akhirnya kakak sampai juga! Kenapa lama sekali?" cecar Alessia yang hampir kesal menunggu kedatangan Sania. Ia pun memeluk erat Sania, menyalurkan kerinduan pada wanita yang telah menyelamatkan nyawanya itu tempo hari. Setelah puas, Alessia menoleh pada ajudan Pooh yang nampak pucat.

__ADS_1


"Daddy bilang kau sakit perut. Sana minta obat sama mommy, lalu istirahat. Pooh tidak boleh sakit. Ayo aku antar menemui Mommy," ucap Alessia seraya menarik tangan ajudan Pooh alias Mark menuju ke dalam. Pria itu yang tak pernah sekalipun menolak permintaan alesia hanya bisa menurut, ketika gadis kecil yang cerewet tersebut menuntunnya.


"Kakak, tunggu sebentar ya! Nanti Ale jemput ke kamar!" teriaknya sambil menuntun ajudan Pooh masuk ke dalam lift. Ia tau sopir pribadinya itu takkan kuat jika harus naik lewat tangga.


"Nona kecil, kenapa meninggalkan kakak cantik. Kasian kan. Jauh-jauh datang kesini. Saya tidak apa-apa. Nona kecil jangan kahwatir. Karena kakak cantik tadi sudah memberikan saya obat. Dan itu sangat mujarab," terang Mark alias ajudan Pooh.


"Aih, Kakak cantik? Siapa suruh ajudan Pooh panggil kakakku dengan sebutan seperti itu!" Alessia melepas pegangannya dari tangan ajudan Pooh. Lalu ia berkacak pinggang seraya memberi tatapan dengan kedua mata yang menyorot tajam ke arah sang ajudan.


"Ah, itu ... karena nona Sania memang cantik. Maaf jika saya salah Nona kecil," ucap ajudan Pooh penuh sesal.


"Baiklah. Saya tidak akan menyukainya sebelum mendapat ijin dari Nona kecil. Begitu kan?" tanya Mark memastikan ucapan serta penjelasan dari nona kecilnya ini. Selama tiga tahun dia bekerja pada keluarga Bou sebagai supir pribadi dari Alessia. Mark mengerti bagaimana perangai dari nona kecilnya.


Tak ada satu orang pun yang tidak akan jatuh cinta ketika melihat apalagi setelah mengenal Alessia. Gadis kecil dengan segala kebaikan dan kepintaran yang menyertainya. Hingga, Mark bersedia menjaga segala keselamatan Alessia bukan lagi karena bayarannya yang mahal. Akan tetapi lantaran kasih sayangnya kepada sang nona kecil.


Di ruang utama, Sania menerima perlakuan baik dari para pelayan. Namun, ia belum memiliki kesempatan untuk bertemu langsung dengan pemilik mansion. Vynnitta maupun Franklin suaminya. Hingga, Sania belum tau tugas serta pekerjaan apa yang akan di berikan nanti kepadanya. Para pelayan itu membawanya ke kamar tamu.

__ADS_1


Lalu mereka undur diri dan memberikan kesempatan pada Sania untuk beristirahat.


Sania mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Bahkan ia sampai berputar melihat kemewahan kamar tamu tersebut. Bahkan, kamar utama di kediaman milik Terry tidak semewah dan seluas ini. "


Keluarga Bou benar-benar kaya raya. Entah berapa harga bangunan seperti ini di kota? Siapa mereka sebenarnya? Apakah pejabat pemerintah? Atau ini yang di sebut the Real Sultan atau Crazy Rich?" gumam Sania seraya meletakkan bokongnya di atas kasur yang sangat empuk itu.


"Sebaiknya, aku istirahat dulu saja sebelum menemui tuan rumah nanti," gumam Sania lagi berbicara seorang diri. Merasa nyaman ia pun tertidur.


Tanpa, Sania tau ada seorang pria yang sedang gelisah setengah mati di desa Cenderawasih.


"Tenanglah, Xi. Kau tidak akan bisa berpikir jika seperti ini. Yakinlah, jika kalian berjodoh maka akan ada jalan untuk mempersatukan kalian berdua," ucap Prita lembut, hingga Xilondra akhirnya mampu mengendurkan urat lehernya yang tegang. Ia seakan kehilangan arah di saat kehilangan Sania.


"Aku suatu saat akan menjemputmu. Aku pasti akan menemukanmu Sania."


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2