Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 20. Perasaan Ambigu Sania.


__ADS_3

"Aku ingin menemuinya, Bu."


"Tunggu, Nak!" Prita segera menghentikan niatan dari putranya itu. Karena Xilondra Seperti tidak sabaran dan ingin segera menuju Sania. Sampai-sampai dirinya tidak menyadari bahwa seluruh kaki dan tangannya penuh luka.


"Kau tidak mungkin menemui Sania dengan keadaan seperti ini bukan? Istirahat saja dulu semalam. Besok, kau bisa menemuinya," saran Prita. Ingin mengatakan yang sebenarnya namun hatinya nampak tidak tega. Biarlah, putrinya itu mengetahui keadaan sebenarnya secara langsung.


"Ibu, benar. Aku tidak mau membuat Sania berpikir macam-macam dan khawatir padaku. Tapi, dia sudah terlalu lama menungguku. Aku juga tidak bisa mengatakan apapun karena --"


"Sudah. Pikirkan itu nanti saja. Kau bisa menjelaskan mengenai keadaanmu sebelumnya setelah letihmu hilang," usul Prita, bijaksana. Wanita paruh baya ini sangat mengerti bahwa putranya ini begitu kelelahan. Bagaimanapun jadinya pun sebenarnya sangat penasaran dengan cerita dari pemimpin desa cendrawasih ini. Tapi, Prita akan menunggu hingga keadaan Sang putra pulih kembali.


Sebagai seorang ibu yang telah mengandung serta melahirkan putranya itu. Tentu ia dapat merasakan bahwa ada kejadian besar yang baru saja menimpa Xilondra. Batinnya merasakan seperti itu. Namun, Prita belum berani bertanya. Ia memilih menunggu sang putra memiliki waktu yang tepat untuk menjelaskannya.


Sementara itu, di kediaman Terry tengah terjadi kericuhan. Bahkan beberapa anak buah dan ajudan yang berjaga kelimpungan dengan berita yang sampai melalui aparat yang baru saja pulang dari kediaman Terry dan Trevino ini.


"Nona."


Entah apa tanggapan yang harus di keluarkan oleh Sania, mengenai berita kecelakaan pesawat yang menimpa suami dan juga ibu mertuanya itu. Haruskah ia senang atau berduka?


"Baik. Tunggu sebentar." Sania pun berlalu ke atas menuju kamarnya. Ia berganti pakaian. Memakai cardigan, kacamata hitam dan juga topi. Mungkin ia akan berada beberapa hari di kota. Sehingga, Sania memasukkan beberapa baju ganti di kedalam koper.


Hatinya berdebar kencang. Tapi entah itu perasaan apa.


Aku tidak peduli jika mereka mati sekalipun. Mungkin, harapan kecilku mereka tidak kembali lagi. Biar saja hilang di lautan sana. Daripada hidup dan kembali hanya untuk menyiksaku. Setidaknya, warga desa ini tak perlu lagi khawatir. Pemudanya terkena sindrom gila judi agi. Tapi, kenapa dadaku terus berdebar, seperti perasaan ini--


Sania menggelengkan kepalanya cepat. Ia mencoba menepis segala pikiran mustahil yang tiba-tiba berkelebat. "Tidak mungkin dia kembali tiba-tiba kan? Meskipun aku berharap dia kembali dengan selamat. Tapi, hubungan ini sudah rusak. Hubunganku dengannya sudah rusak." Sania seketika terkulai lemas di atas karpet bulu pada kamarnya.


Sang pelayan yang menengok kedalam kamarnya mengira jika nona muda mereka tengah bersedih karena kehilangan tuan besar dan nyonya besar.

__ADS_1


"Nona sedang menangis. Bagaimana ini?" bingung pelayan. Sementara ajudan di bawah menyuruh mereka untuk segera memanggil Sania.


"Kau saja yang panggil nona. Aku tidak enak. Beliau pasti terpukul. Mereka kan pengantin baru. Belum juga bulan madu, sudah menjadi janda," ucap pelayan itu seraya mengusap air matanya.


"Ah, tidak. Aku juga sungkan. Nona sangat baik dan ramah. Kita harus menghargai perasaannya," ucap pelayan lainnya.


"Sudah kita turun saja lagi!" anaknya. Tapi, baru beberapa langkah mereka menuruni tangga, ajudan sudah berteriak pada mereka berdua.


"Hei! Kemana Nona muda kalian!"


Pelayan wanita itu pun, menghampiri takut-takut. Bahkan tubuh mereka bergetar. Melihat tampang seram dan tubuh kekar sang ajudan membuat mereka ngeri.


"Maaf. No–nona, sedang menangis," jawab salah satu pelayan sambil menyikut pelayan satunya lagi. Berharap ia membantunya untuk berbicara.


"Halah! Itu alasan kalian saja! Cepat kembali lagi dan ajak nona kalian untuk segera turun. Karena kita harus mengejar waktu keberangkatan pesawat!" bentak sang ajudan keras. Sampai kedua pelayan itu terlonjak kaget dan saling berpelukan karena takut.


"Tapi, kami merasa ... ti–tidak sopan jika--"


Namun, langkah mereka terhenti kala melihat sang majikan telah berada di puncak tangga. Sania, keluar kamar ketika ia mendengar ribut-ribut di lantai bawah.


"Kau ... tidak perlu berteriak." Sania berkata datar sambil melewati sang ajudan.


"Maaf, Nona. Tapi mereka --"


"Kau hanya ajudan. Bukan tuan rumah. Pangkat kalian sama. Apa hakmu merendahkan orang lain untuk meninggikan posisimu?" Sania sengaja pertanyaan yang menohok dan menyudutkan sang ajudan tersebut. Hingga pria bertubuh Kakak itu menunduk setelah menyadari kesalahannya.


Benar juga. Kalau tuan besar dan nyonya besar mati. Maka otomatis nona muda-lah yang akan memimpin di kediaman ini. Aku harus menjaga emosi. Daripada di pecat.

__ADS_1


Sang ajudan pun menarik napas demi meredakan emosinya.


"Maaf, Nona. Lain kali tidak akan terjadi lagi hal yang seperti ini," ucap sang ajudan setara menunduk rendah.


Tanpa menoleh, Sania kembali berkata tegas. "Kalau begitu sebaiknya kau minta maaf pada kedua pelayan tadi." Setelah mengutarakan maksudnya, Sania pun segera menghampiri kendaraan yang sudah disiapkan.


Sementara sang ajudan mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh menahan geram. Mau nggak mau ia berbalik badan kemudian menunduk sambil meminta maaf kepada kedua pelayan tadi.


"Di–dia, minta maaf pada kita. Ago membungkuk juga," bisik pelayan satu kepada kawannya. Mereka berdua pun menerima permohonan maaf dari Ajudan dengan membalas menggunakan gerakan membungkuk juga.


"Sial! Aku tidak pernah membungkukkan tubuhku kepada hamba sahaya. Awas saja jika sampai tuan besar kembali." gumam sang ajudan pelan. Sania tidak mungkin mendengar karena sudah berada di sisi mobil. Sang pengemudi pun membukakan pintu. Sekilas Sania melirik ke arah sang ajudan.


Pada saat yang sama, nampak Xilondra tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Ia bahkan tak lupa untuk menyambar kunci mobil jeepnya.


"Bik, apakah selama kepergianku, mobil Jeep dipanaskan?" tanya, Xilondra pada ketua pelayan di rumahnya itu.


"Maaf, Tuan. Itu benar. Anak saya si Bruno yang suka memanaskannya setiap sore," jawab Tuti.


"Baiklah, terimakasih." Xilondra pun dengan cepat berlalu dari hadapan pelayannya itu. Menuju dan segera melaju keluar dari pekarangan rumah. Ada satu tempat atau seseorang yang ingin Ia temui saat ini. Kerinduan di dalam dadanya hampir meledak. Bahkan, ada sedikit ketakutan di sana. Dimana janjinya melenceng cukup jauh.


"Semoga kau masih menunggu, gadisku yang manis," gumam Xilondra mengemudikan kendaraannya menuju tempat dimana Sania biasa bekerja.


Prita yang melihatnya dari atas balkon, hanya mampu menatap kepergian sang putra nanar, sambil memberi remasan kencang pada dadanya. Sebelum Xilondra menjumpai kenyataan pahit di depan matanya. Prita sang ibu, telah lebih dahulu merasakan kepedihan itu.


"Semoga kau kuat dan berjiwa besar, anakku," lirih Prita.


Jeep yang dikendarai oleh Xilondra menuju klinik. Sementara kendaraan berwarna hitam metalik yang terdapat Sania di dalamnya sempat berpapasan, meski melawan arah. Hingga, sontak leher Sania berputar kebelakang.

__ADS_1


Sania, menurunkan kacamatanya. Untuk menegaskan apa yang baru saja dilihat oleh kedua matanya. "Jeep itu ... tidak mungkin kan--," Sania membekap mulutnya dengan sebelah tangan. Karena telapak yang satunya berada di depan dada untuk merasakan dentuman jantungnya yang tak beraturan.


...Bersambung ...


__ADS_2