Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 23. Kedatangan Kepala Desa Xilondra .


__ADS_3

Seorang pelayan tergopoh-gopoh menghampiri Sania ketika ia sudah berada di bagian tengah rumah. "Nyonya, Nyonya ...!"


"Ada apa? Kenapa kalian sangat panik?" cecar Sania. Bingung.


"Maaf, Nyonya. Beberapa hari yang lalu, kepala desa datang kesini. Menanyakan pemilik rumah dan usaha, di sebelah," ungkap sang pelayan.


"Apa! Maksudmu, ia menanyakan usaha nyonya besar, maksudku mama?" kulik Sania. Ia berusaha berpikir positif, seraya menahan debaran kencang di dadanya.


"Iya, tapi setelahnya. Pak kepala desa menanyakan dimana istri dari tuan besar," jawab pelayan lagi.


Sania semakin merasa tak lagi menapak dilantai. Tubuhnya seolah melayang. Apakah yang di maksud itu adakah pria yang selama ini ia rindukan. Tapi, jika benar Xilondra telah kembali. Mampukah ia menemuinya?


"Jadi, maksudmu. Kepala desa kita ... dia, sudah kembali?" tanya Sania lagi takut-takut. Ia berharap jawabannya iya. Karena di satu sisi dirinya juga mengharapkan kedatangan pria itu kembali. Setidaknya ia tahu bahwa keadaan, Xilondra selamat. Tapi, di sisi lain, Sania merasa takut dan bersalah. Karena telah melanggar perjanjiannya terhadap pemimpin desa Cendrawasih itu.


Para pelayan hanya saling pandang. Mereka tidak mengerti maksud Sania. Bukankah kepala desa pernah datang dan menanyakan usaha judi milik Terry. Tapi, justru nyonya besarnya itu pergi bersama putranya. Para pelayan tidak tau jika Terry sengaja menghindar dan berniat mencuci uang dari hasil perjudiannya itu. Ia memilih menikmati hasil usahanya, membuat miskin para warga desa yang kecanduan dengan permainan judi yang sengaja ia rekayasa itu.


Tapi ternyata takdir berkata lain, pesawat yang ia tumpangi untuk kembali ternyata mengalami turbulensi dan terjun bebas ke dalam laut.


"Kepala desa berkata akan kembali lagi, sore ini," ucap pelayan lagi, membuat Sania merasa seakan menerima tusukan benda tajam tepat di jantungnya.


Dalam sekejap, Sania merasa kakinya tak lagi bertulang. Ia meriah apapun agar tidak jatuh terkulai. Hingga beberapa pelayan meneriaki namanya. Tapi, sekelilingnya mendadak gelap. Tubuhnya pun ambruk di dalam pelukan sang pelayan.


"Yahh, nyonya tak sadarkan diri. Bagaimana ini?" para pelayan pun panik. Bing langsung menghampiri dan memandang mereka semua dengan tatapannya yang super tajam.


"Dasar pelayan gak ngotak! Nyonya, Sania itu lelah setelah perjalanannya. Apalagi, keberadaan jasad dari tuan dan nyonya besar tidak di ketemukan. Apa kalian tidak berpikir, hah! Apa tidak bisa mengabarkannya nanti saja!" teriak Bing. Membuat para pelayan merengket ketakutan. Suaranya yang tinggi dan menggelegar. Membuat dada mereka seakan di pukul benda keras.


"Cepat bawa Nyonya ke atas!" titah Bing.


"Ba–bagaimana caranya? Kami tidak bisa menggendong Nyonya ke atas. Itu, tidak mungkin?" jawab salah satu pelayan memberanikan diri.

__ADS_1


"Kalian ini memang tidak berguna! Kalau aku yang jadi majikan, sudah pasti kalian semua ku pecat!" teriak Bing lagi. Ia pun mengambil alih tubuh Sania dari tangan pelayan.


Ia mengangkat tubuh majikannya yang lemah itu dengan dada yang berdesir. Apalagi ia dapat melihat wajah cantik Sania dari dekat. Ajudan Bing menggendong Sania dengan semangat empat lima.


Sesampainya di atas, pelayan menunjukkan dimana letak kamar utama. Lalu, Bing masuk dan membiarkan pelayan tetap di luar. Ia menutup pintu dengan dengan menggunakan sebelah kakinya.


Hingga daun pintu kayu tersebut mengeluarkan suara keras.


"Itu, ajudan Bing. Ngapain di dalam? Bagaimana kalau Nyonya?" sang pelayan membekap mulutnya, ia takut terhadap isi dalam pikirannya. Karena itu dia tidak beranjak dan sengaja berniat menguping dari balik pintu yang tidak terkunci.


Bing meletakkan raga Sania perlahan. Dari sana ia memperhatikan wajah Sania dari dekat. Dengan berani memainkan jari-jarinya menyusuri setiap lekuk wajah cantik alami milik majikannya yang tengah pingsan ini.


"Kau cantik juga. Pantas saja tuan besar langsung ingin menikah. Sayang, baru jadi pengantin tapi sudah menyandang predikat janda. Nasibmu sungguh malang. Kau pasti akan kedinginan mulai malam ini. Tapi, mungkin ... aku bisa menghangatkanmu. Aku akan mencoba menarik perhatianmu. Siapa tau, bisa menggantikan tuan besar. Lagipula, wajahku cukup tampan," gumam Bing seraya terus memandangi wajah dan juga tubuh Sania.


Ia menelan ludahnya kasar beberapa kali. Ketika sosok yang menggugah selera ini terpampang menggiurkan. Padahal Sania mengenakan dress yang panjang hingga ke bawah lutut beserta cardigan untuk melapisi bagian atasnya.


Dengan bermain dan tanpa banyak berpikir, Bing ingin mencicipi keindahan tubuh dari majikannya yang sedang terbaring lemah. Selama mengikuti Sania di kota, ternyata Bing telah menahan rasa penasarannya. Ketika ada kesempatan emas seperti ini, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan.


Begitu juga dengan Sania. Kedua matanya langsung terbelalak. Karena di saat ia membuka kedua mata, justru yang ada di hadapannya adalah wajah tak tau malu dari pria yang merupakan ajudan suaminya ini.


"Apa yang hendak kau lakukan!" pekik Sania langsung bangun dan duduk. Ia menatap tajam ke arah Bing. Menelisik kedalam mata pria di hadapannya ini.


Tanpa merasa bersalah. Bing, justru kembali memajukan wajahnya. Ia menatap Sania dengan senyum miring. "Anda pingsan, dan saya yang telah membawa anda ke kamar ini. Apa tidak boleh jika saya, meminta upah sedikit? Mungkin, sekedar ciuman," ucap Bing tak tau malu seraya memajukan sedikit bibirnya.


Di luar dugaannya.


Sebuah telapak tangan kecil mendarat dengan keras pada pipinya. Hingga, tamparan itu menimbulkan bunyi nyaring.


Sial! Kenapa dia harus bangun secepat itu? Memalukan saja. Beraninya dia memukulku. Awas kau wanita!

__ADS_1


Bing mundur, dan memegangi pipinya seraya menatap tajam ke arah Sania. Hal yang sama pun di lakukan oleh istri dari majikannya itu. Bahkan, Sania terlihat turun dari tempat tidur dengan tanpa memindahkan tatapan waspada dari Bing.


Sania menahan deru napasnya yang merasa takut sekaligus merasa kesal. Sakit hati atas perlakuan dari bawahannya ini.


"Aku tau sejak awal kau memang tidak pernah menghargaiku ataupun menganggapku sebagai majikanmu. Tapi, perlakuanmu kali ini sudah sungguh keterlaluan! KELUAR DARI KAMARKU SEKARANG JUGA!" teriak Sania kencang. Seraya menunjuk ke arah pintu keluar.


Bing, mendengus. Dengan berbagai macam umpatan di dalam hatinya. Juga, rencana tersembunyi yang seketika mencuat didalam kepalanya. Namun, akal liciknya juga ikut terpicu. Ia takkan menumbalkan posisinya demi geloranya semata.


"Maaf, Nyonya. Saya tadi khilaf karena anda sangat mempesona. Mohon jangan marah. Saya, hanya--"


"Aku tidak butuh alasanmu! KELUAR KATAKU!" teriak Sania lagi. Ia benar-benar sangat marah kali ini. Karena ia tau perkataan Bing hanya demi membela diri.


Semetara itu di bawah, ada sosok pria gagah yang baru saja turun dari kendaraan roda empat kesayangannya. Apalagi kalau bukan mobil Jeep berwarna army ini.


"Bagaimana, apakah nyonya rumah kalian sudah pulang?" tanya pria yang tak lain adalah kepala desa Cenderawasih. Ia datang bersama pria muda yang sempat menggantikannya memimpin desa ini selama dirinya pergi. Ya, dialah Xilondra. Ia tengah bertanya pada penjaga di kediaman, Terry.


"Maaf, Pak. Nyonya kami baru saja kembali. Beliau sedang beristirahat di kamar atas," jawab penjaga tersebut. Karena, ia telah mendapat laporan dari pelayan agar menolak para tamu yang hendak menemui nyonya mereka.


"Katakan, jika yang ingin menemuinya adalah kepala desa, Xi," ucap Xilondra lagi. Ia yang telah mengetahui pernikahan Sania. Mencoba menguatkan hati untuk menemui kekasihnya itu. Ia bukan pria bodoh yang menerima semua berita secara mentah. Dia bukan pria berhati rapih yang seketika lemah dan terpuruk dengan kabar dan kenyataan yang ia dapatkan.


Xilondra hanya ingin mendengar langsung alasan dari bibir Sania.


Pelayan pun berlari tergopoh-gopoh ke lantai atas. Ia pun berpapasan dengan ajudan Bing. Sementara, ketua pelayan ternyata telah bersembunyi di balik lemari.


"Kenapa kau berlari?" tanyanya kepada anak buahnya yang terlihat panik.


"Kepala desa datang lagi. Beliau ingin bertemu dengan Nyonya," jawabnya.


"Apa!" ternyata Sania telah berdiri di belakang keduanya. " Xi ...," lirih Sania.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2