
Meskipun, hutan tempatnya berada saat ini sangat berbeda dengan definisi hutan yang berada di dunianya. Hutan di desa Pancamaya ini sungguh sangat indah. Tanamannya masing-masing dapat mengeluarkan cahaya. Sehingga kau tidak menemukan kegelapan di dalam hutan tersebut.
Hewan-hewannya pun tidak ada yang mengeluarkan suara berisik atau menyeramkan. Akan tetapi, lebih kepada alunan suara yang bagaikan nyanyian dengan bahasa aneh yang belum pernah Xilondra dengar sebelumnya.
Xilondra menengok ke belakang dan mendapati La Roisa terbang mengejarnya. Wanita itu mengeluarkan sisa tenaga untuk menyerangnya kembali. Xilondra pun berlari semakin cepat. Hingga, ia menemukan sebuah danau yang berwarna kehijauan. Di atasnya bertabur ratusan teratai.
Namun, anehnya ketika dirinya semakin mendekat. Teratai itu tiba-tiba menyebar hingga air danau terlihat bersih dan jernih. Tak bisa kemana-mana lagi. Karena danau ini cukup luas. Sementara di belakang nampak La Roisa semakin dekat.
"Aku harus berhasil menemukan dimana purnama kembar." Di tempat terbuka ini Xilondra bebas mengedarkan pandangannya ke atas langit. Ia terus maju hingga ke dekat danau.
"Bulannya tetap satu, tidak ada lembarannya." Xilondra yang bingung berputar di tempatnya berdiri. Ia terus mendongak kata selangit mencari Di mana letak purnama kedua itu berada. Sepersekian detik ia habiskan seperti orang bodoh.
"Manusia bodoh! Kau takkan menemukan purnama kembar. Karena kau akan lebih dulu menemui ajalmu di sini!" teriak La Roisa. Dengan raganya yang semakin melemah wanita berkulit pucat itu memaksakan dirinya untuk kembali menyerang ke arah, Xilondra.
Pemimpin desa Cenderawasih ini sudah terpojok. Kali ini, ya merasa bahwa dirinya tidak mungkin bisa berkelit dan selamat lagi seperti yang sebelumnya. Karena, tak ada lagi ruang maupun waktu untuknya berlari. Xilondra merasa bahwa keberuntungannya cukup dua kali.
Dengan jantung berdegup kencang disertai keinginan kuatnya untuk bisa kembali ke dunianya semula. Xilondra pasrah, ia memegang dada sebelah kiri, dengan kedua mata yang terbuka. Ia ingin menatap kematiannya.
Pada saat itulah, La Roisa kembali melakukan serangan yang terakhir dengan sisa tenaga. Ia tak peduli jika kali ini ikut mati bersama mangsanya.
"Matilah kau manusia sombong!" teriak La Roisa.
__ADS_1
Tapi, sekelebat cahaya seketika menyelimuti seluruh tubuh Xilondra.
"A–apa ini!" Xilondra kaget ketika dirinya perlahan melayang ke udara.
"Apa ini, artinya aku sudah mati? Apa aku menuju alam baka?" Xilondra terus bertanya-tanya tak mengerti.
Lalu, di depannya terdapat siluet cahaya kehijauan. Sosok tanpa rupa itu, menjentikkan jarinya hingga cahaya hijau itu melesat ke arah la Roisa.
Zeepp!
La Roisa membelalakkan matanya. Ketika sesuatu menikam tepat di jantungnya.
"Kau keterlaluan La Roisa! Pergilah dengan damai!" ucap suara itu lantang.
"Kau ... sudah waktunya kembali!" seru Ratu Adore yang tidak tampak wajahnya ini.
"Tapi, bagaimana caranya? Aku tidak menemukan purnama kedua," jawab Xilondra. Dirinya masih melayang di atas angin.
"Perhatikan sekelilingmu. Gunakan mata hatimu. Kau pasti menemukanya," ucap Ratu Adore kemudian.
"Sekeliling," gumam Xilondra. Ia memutuskan untuk melihat ke bawah karena sejak tadi lelah mencari di atas langit tak jua kunjung ia temukan penampakan bulan kedua.
__ADS_1
"Gila! Kenapa aku malah mencari bulan di ba–wah--," gumaman Xilondra terhenti ketika ia menemukan dimana purnama kedua itu.
Karena posisinya sedikit melayang, Xilondra dapat dengan jelas, melihat pantulan dari bulan di atas air danau.
"Kau sudah menemukannya!" Sontak, Xilondra menoleh cepat.
"Turunlah, dan kembalilah kepada keluargamu. Terimakasih, karena telah melindungi pusaka milikku! Kau berhak mendapatkan, tanda pengasihan ini dariku!" Ratu Adore melesatkan sebuah benda yang seketika menempel di lengan atas Xilondra.
"Aku akan memberikan bantuan jika kau dalam kesulitan!"
Setelah mengucapkan hal itu, cahaya yang merupakan Ratu Adore pemilik permata suci yang secara tak sengaja telah diselamatkan oleh Xilondra dari tanggal para manusia yang serakah. Xilondra merasa seperti ada kekuatan yang mendorong dirinya untuk segera menceburkan diri ke dalam danau tersebut.
"Siapapun kau, terima kasih!" teriak Xilondra hingga raganya masuk kedalam danau tersebut dan gak terlihat lagi. Pada saat ini Xilondra merasa bahwa tubuhnya seakan tersedot dengan sangat kencang ke dalam sebuah lubang cacing.
________
Tak terasa ini, sudah hari keenam. Sania sudah mengabarkan padaku, jika dirinya sudah bersih. Itu artinya, kita harus kembali. Dan, pada saat itu, kau kembali menjadi ibuku," ucap Trevino pada wanita yang kini terlihat memainkan bulu halus di dadanya. Ia nampak menyeringai memikirkan segala rencana penyiksaan untuk Sania.
Terry yang berada di atas putra tirinya ini merasa geram. Ia ingin memiliki Trevino seorang diri. Apalagi, ia yang pertama kali merasakan kehebatan putranya itu. Ia tak ingin berbagi kepada wanita lain.
Aku harus menyingkirkan wanita itu nanti.
__ADS_1
...Bersambung...