
Semetara Sania tengah terkurung dalam ketakutannya. Di sebuah tempat nan jauh, mungkin berbeda dimensi dengannya. Seorang pria tampan nan gagah tengah mati-matian menjaga kehormatan dirinya. Berjuang menahan gelora yang sedang dipancing oleh makhluk cantik, yang mana Xilondra yakin bahwa dirinya bukan berasal dari bangsa manusia.
Aku tidak boleh terpikat padanya. Atau aku selamanya tidak akan bisa kembali. Selamanya tidak akan bertemu dengan ibu dan juga Sania. Bagaimana dengan Sania. Dia pasti telah lama menungguku. Entah berapa lama aku telah berada ditempat ini.
Xilondra ingin sekali memejamkan matanya. Dia takut lama kelamaan benteng pertahanannya runtuh juga. Bagaimana tidak jika saat ini La Roisa dengan gaun tipis transparan yang melambai tengah berputar di udara tepat di depan matanya. Pakaiannya itu semacam putri kerajaan jaman dahulu. Entah kemana kulit hewan yang tadi dia kenakan. Karena kini penampilannya bagaikan dewi yang turun dari langit.
"Xi ... Xilo ...," panggil La Roisa dari atas. Namun, Xi membuang wajahnya ke samping. Bahkan, ia berniat memutar tubuhnya. Akan tetapi ucapan dari wanita itu, sukses untuk membuat Xilondra mengurungkan niatnya.
"Kau harus menatapku, Xi. Kau jangan curang. Karena, aku bisa saja memaksamu dengan kekuatanku! Hanya saya permata Suci Adore melindungimu. Sehingga, aku tidak bisa menggunakan sihirku padamu untuk membuatmu takluk kepadaku!" seru La Roisa masih dari atas kepala Xilondra.
Di bawah sana Xilondra nampak memejamkan kedua matanya. Ia menarik nafasnya dalam. Mau bagaimanapun ia harus menghadapi tantangan dari kepala suku. Xilondra menguatkan hatinya. Memikirkan sang ibu dan juga Sania dengan kuat. Membayangkan masa-masa tentang kebersamaan dengan keduanya.
Hingga, kedua sudut dari bibir Xilondra, menukik ke atas. Setelahnya ia pun berbalik. Dengan mata tajam menatap ke arah La Roisa. Menguatkan hati serta membersihkan pikirannya agar tidak terpancing. Karena, La Roisa malam ini sangat memukau. Dengan pakaian yang membuat setiap lekuk tubuhnya tembus pandang. Apalagi, kulitnya mulus serta seputih salju. Belum lagi wanginya bagaikan bunga setaman.
Pria normal mana yang akan tahan dengan godaan sehebat ini. La Roisa kembali mengulurkan jemarinya yang lentik ke arah Xilondra. "Sambut tanganku, Xi. Aku akan menunjukkan betapa asyiknya melayang di atas angin!" panggil La Roisa dengan suara yang begitu menggoda.
Siapapun pasti akan pingsan dengan hanya melihat pesonanya. Namun, tidak dengan pria seperti Xilondra. Pria yang telah dia kali menolak lamaran dari sepuluh wanita. Pria yang tak mudah jatuh cinta dan tertarik hanya kecantikan semata. Xilondra, adalah tipe pria yang unik.
Karena merasa sudah memantapkan hatinya, maka Xilondra pun menyambut uluran tangan dari wanita yang cantiknya bagaikan dewi tersebut.
__ADS_1
Zepp!
Dalam sekejap, La Roisa telah menarik dan kemudian memeluk Xilondra erat. Hingga, tidak ada jarak dan sedikit celah pun diantara raga keduanya.
"Lingkarkan tanganmu pada pinggangku, atau kita akan jatuh ke dalam danau," ucap La Roisa berbisik. Karena jarak mereka yang sangat dekat. Xilondra pun menoleh ke bawah kakinya. Benar saja, mereka berdua sini tahu-tahu berada di atas sebuah danau yang penuh dengan bunga teratai bertaburan di atasnya.
Xilondra kembali pada posisinya semula. Ketika ia mendongak, bibir La Roisa telah menempel pada bibirnya. Xilondra pun lantas memundurkan wajahnya. La Roisa hanya terkekeh, seraya mengeratkan rangkulannya.
Dada mereka bersentuhan, hal itu tentu saja mencipta lebaran dalam dada Xilondra. Juga, sebuah desiran wajar sebagai efek respon manusia ketika mendapat rangsangan dari lawan jenis. Karena efek penerimaan kulit terhadap rangsangan tidak perlu menggunakan hati dan keinginan.
"Apa ini termasuk adil. Ketika kau dengan sengaja terus menerus berusaha menggodaku untuk menerima setiap rangsangan yang kau berikan?" tanya Xilondra setengah geram. Karena, bagiamana pun dirinya adalah laki-laki normal. Namun, ia tetap ingin pulang kembali pada kehidupannya.
Oh, sial! Wanita ini benar-benar ingin mengurungku di tempat ini. Aku harus kuat demi Sania-ku.
____________
"Mau apa lagi? Seluruh tubuhku masih sakit atas perlakuannya semalam!" pekik Sania, seraya memasang kuda-kuda. Takut, jika tiba-tiba kedatangan Trevino ingin kembali memukuli dirinya. Kali ini Sania tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi padanya. Pria ini tidak bisa menyiksanya sesuka hati.
"Cih!"
__ADS_1
"Asal kau tau! Aku tidak akan menyentuhmu seujung kuku pun hingga kau kembali bersih. Dan, pada masa itu tiba bersiaplah untuk memuaskanku. Karena dirimu aku harus melampiaskannya pada tempat lain." Trevino mengucapkannya dengan rahang yang saling beradu.
"Kabari aku jika kau sudah bersih. Karena mulai malam ini aku akan pergi ke luar negeri. Kau, jangan keluar dari villa-ku ini. Mengerti!" ancam Trevino seraya memberi cengkraman kencang pada rahang Sania.
Gadis itu meringis, ketika merasakan linu. Kedua tangannya menahan lengan Trevino yang besar.
"A–aku akan menunggumu. Tolong jangan sakiti aku," ucap Sania lirih. Karena ia merasa jika rahangnya akan patah.
Trevino menyeringai sadis, ia melepas cengkeramannya pada rahang Sania namun, melempar gadis itu ke atas tempat tidur mereka dengan keras.
Tanpa peduli terhadap rintihan dan erangan dari Sania. Trevino berlalu keluar kamar begitu saja.
"Dasar pria gila!"
Sshhh!
Sania mendesis karena beberapa tulang rusuknya nyeri berkat benturan.
Apakah ini hukuman untuk ku, karena telah mengkhianati janji kita, Xi.
__ADS_1
...Bersambung...