
Pernikahan akan di laksanakan pada hari ini. Trevino memutuskan untuk mengadakan garden party. Kebetulan, halaman pada rumahnya sangatlah luas. Trevino membuat panggung hiburan untuk dan dari warga setempat. Beberapa warga yang tau mengenai hubungan antara Sania dan kepala desa mereka. Hanya bisa bergumam pelan.
Ada yang merasa miris, karena Sania ternyata bukan wanita yang setia. Ada juga yang berpikir bahwa, anak bandar judi si Trevino ini menikung dari belakang. Karena memang sudah mengincar dari jauh hari. Sebagian dari mereka menyayangkan pernikahan ini.
"Kalian jangan terus menyalahkan pihak wanita! Kalau aku jadi nona Semanggi. Aku juga akan berpikir realistis. Untuk apa berharap pada pria yang tidak ada kabar beritanya. Bahkan, Bu Prita pun sudah pesimis."
"Halah! Karena kau sesama wanita jadi membela. Seharusnya, jika Sania memang mencintai kepala desa kita, setidaknya dia akan menunggu tiga sampai empat bulan lagi. Mungkin saja ada masalah pada misi yang sedang tuan Xilondra hadapi," ucap seorang pemuda yang memang terlihat begitu mengagumi kepala desa mereka. Tak dapat di pungkiri jika Xilondra memang menjadi panutan bagi sebagian pemuda desa.
Itulah, bisik-bisik yang terdengar sumbang di antara para warga desa Cenderawasih.
"Siapa pemuda yang warga desa bicarakan?" tanya Trevino pada anak buahnya. Akhirnya, omongan itu pun sampai terdengar ke telinganya.
"Baik, saya akan segera mencari tau, Tuan." Anak buah Trevino pun undur diri.
Sementara itu di dalam kamar, Sania tengah menatap pantulan gambar sosoknya di cermin besar. Sang ibu tak henti mengusap air mata yang membasahi pipinya sejak pagi tadi. Sania, baru mengatakan pada Amara, tentang pernikahan ini beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Bukannya syok ataupun kaget. Tapi wanita itu justru tak percaya jika semua masalah hutang mantan suaminya bisa teratasi semudah ini. Rumah peninggalan aman, ia tak lagi terancam tidur di pematang sawah.
"Anak Ibu, cantik sekali. Kamu memang pantas jadi orang kaya, Nia. Kamu pantas bahagia dengan hidup yang berkecukupan. Maaf, Ibu belum bisa membahagiakanmu selama ini," ucap Amara lirih, seraya menyisir payet yang terdapat pada setiap senti helai kebaya putih yang Sania kenakan saat ini. Ujung belakang menjuntai hingga ke lantai. Panjang sekali, sekitar tiga meter mungkin. Sementara bawahannya adalah kain dengan bahan tekstil terbaik.
"Bu ... Ibu tidak perlu meminta maaf padaku. Ini, adalah bukti dari bakti Sania pada Ibu dan juga nenek. Doakan saja, agar perjalanan Sania ke depan lancar dan baik-baik saja. Jujur, Nia takut, Bu," ucap Sania mengadukan apa yang ia rasa dalam hatinya. Karena, sedikitnya ia dapat menerka bagaimana sikap pria yang akan menjadi suaminya ini. Ia dapat membayangkan bagaimana rumah tangganya nanti.
"Kau pasti bahagia, Nia. Ibu tentu saja akan mendoakan tanpa kau minta sekalipun. Lagipula, kamu tidak akan menyesal karena telah menikahi pria kaya ini. Bagaimana pun kau akan menjadi seorang nyonya. Derajat mu dan Ibu akan naik di mata orang, Nia." Amara berkata dengan keyakinan penuh.
Sania hanya tersenyum menanggapi kebahagian sang Ibu. Inilah yang ia inginkan. Melihat senyum di wajah ibunya lagi. Karena wanita ini tidak pernah lagi tersenyum semenjak sang ayah pergi meninggalkan mereka dengan hutang yang banyak.
Sania hanya bisa menghela napas mendengar permintaan sang ibu. Wanita yang telah melahirkannya ini, belum apa-apa sudah mempunyai kekuatan permintaan padanya. Padahal, Sania tidak akan pernah meminta lagi pada Trevino. Rumah itu selamat saja baginya sudah lebih dari cukup.
Ah, Ibu. Belum juga resmi. Kau sudah memberi PR padaku. Mengapa tak kau tanyakan bagaimana perasaanku saat ini?
Sania hanya bisa menggerutu dalam hatinya. Ia sudah terbiasa mengikuti dan menuruti apapun keinginan Amara. Tanpa pernah berharap wanita itu memahami perasaannya.
__ADS_1
"Sudah jangan melamun. Lebih cepat kamu jadi istrinya itu lebih baik, Nia. Ibu akan terkenal seantero kampung," bisik Amara.
___________
"SANIA~~~!" jerit seorang pria yang terbangun dari tidurnya.
Huh~ hah.
Terlihat dia mengontrol napasnya yang masih terengah-engah. Memegangi dadanya yang seakan berdentum.
"Mimpi ... itu semua apakah cuma mimpi, atau?" Xilondra tampak bergumam. Mengusap keringat yang membasahi wajah tampannya dengan kasar. Kemudian, ia mencari wadah penampung air. Karena di desa ini tidak ada gelas.
Huft!
Sekali lagi, Xilondra terlihat menarik napasnya. " Kenapa aku tertidur lagi. Pasti semua itu hanya bunga tidur. Sania, pasti masih menungguku," gumamnya lagi.
__ADS_1
...Bersambung ...