Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 33. Akankah Terangkai Kembali.


__ADS_3

" Benarkah!" kaget Xilondra. Bahkan pria berusia tiga puluh empat tahun itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Saking penasaran.


"Tapi, aku lupa mendengarnya saat dimana dan kapan?" Brandy malah asik menggaruk rambutnya sendiri sambil berpikir. Tapi dia rupanya tetap tidak ingat. Hingga, Xilondra harus kembali menelan kepahitan.


"Sudahlah! Lebih baik aku mencari udara segar!" pamit Xilondra yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari kafe tersebut.


Xilondra memutuskan untuk pergi ke daerah pinggir pantai yang memang terletak tak jauh dari kafe tersebut. Brandy, yang sendirian akhirnya memutuskan untuk memanggil Mega. "Kutunggu di kafe. Mau turun sendiri atau ku jemput?" tanyanya melalui sambungan telepon. Karena kebetulan, Mega ia sewakan resort yang tak jauh dari pantai tersebut.


Tak lama Mega datang, dan keduanya pun menghabiskan waktu dengan bercengkrama. Membicarakan kembali rencana mereka yang ingin membuat kejutan di hari ulang tahun Alessia.


"Dimana, Xi? Apa tidak akan ada masalah ketika dia bertemu dengan, Vynnitta nanti?"


"Pria itu sudah lama move on. Justru dirinya sedang sangat galau memikirkan kepergian Sania. Oh iya, kau pasti punya fotonya kan? Bukankah wanita itu adalah salah satu peracik obat terbaik di klinik?" Kulik Brandy yang baru ingat.


"Banyak. Aku kan selalu mengabadikan kegiatan di klinik. Mau foto dia yang sendiri


atau yang beramai-ramai?" Mega, mulai membuka galeri dan menggeser satu persatu barisan foto yang ada di dalamnya.


"Ini, Sania." Mega meletakkan ponsel di atas meja. Brandy pun menggeser duduknya agar lebih dekat. Hingga, ia mencondongkan wajahnya ke sisi Mega.


Namun, gadis itu langsung mendorong bahunya agar sedikit menjauh. " Jangan modus. Itu ponselnya di sana!"

__ADS_1


Brandy langsung terkekeh melihat kekesalan di wajah, kekasihnya itu. Meskipun Mega sangat anti sentuhan selama mereka menjalin hubungan, tidak masalah baginya. Karena, Brandy sangat menyayangi Mega dan ingin menjaganya hingga hari dimana ikrar janji suci mereka di saksikan oleh semesta.


"Cantik. Pantas saja dia seperti zombie." Brandy pun terkekeh lagi.


"Siapa seperti, Zombie? Xilondra?" Melihat kekasihnya mengangguk ia pun ikut tertawa. "Haih, kita ini jahat ya. Menertawakan kesengsaraan orang lain. Semoga, kita bisa menemukan jejak dari Sania. Dia wanita baik dan tidak pernah macam-macam. Sangat setia dan tulus. Ku harap ia bahagia," doa Mega tulus. Membuat Brandy mengulurkan tangan, untuk mengacak gemas pucuk kepala Mega.


"Hei, aku baru saja smoothing!" Mega memukul pelan tangan Brandy, yang membuat dirinya justru di peluk oleh pria berambut putih sepunggung itu.


"Semakin marah, maka kau semakin menggemaskan." Brandy diri untuk mengecup singkat pipi Mega.


"Kau!" Mega hanya bisa membelalakkan kedua matanya. Karena ini adalah tempat untuk umum. Dia tidak mungkin mencubit Brandy bukan.


"Sania. Aku seperti pernah mendengar seseorang menyebutkan namanya. Haihh, tapi dimana?" gumam pria itu pelan.


Mega pun berniat untuk kembali ke resort. Brandy mengantar wanitanya itu sambil terus mengingat siapa sosok yang pernah menjemput nama Sania di depannya.


Sementara itu di kediaman keluarga Bou.


"Ada apa sayang? Kau terdengar panik saat di telepon?" cecar Franklin yang melihat situasi di kamar putranya ramai sekali orang.


"Frank, tadi Baby Jo, hampir jatuh dari kursi makan. Bayi itu--" Vynnitta tidak meneruskan ucapannya akan tetapi ia justru memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Apa tidak ada yang menjaga?" cecar Franklin lagi.


"Aku hanya berniat mengambilkan cemilan bayi. Tapi, baby Jo sudah hampir terjungkal. Untung ada Sania yang kebetulan ingin menemuiku," tutur Vynnitta. Dadanya masih berdegup tak karuan. Kakinya juga masih lemas. Karena, ruang tengah tidak dilapisi karpet seperti ruang keluarga maupun kamar. Sehingga, jika Baby Jo jatuh maka dapat dipastikan jika kening putranya itu pasti akan memar.


"Thanks, Sania. Kau kembali menyelamatkan anakku. Sepertinya aku harus memberikan reward kepadamu. Dan kali ini kurasa kau tidak bisa menolaknya lagi." Ucapan Franklin pun diangguki dengan cepat oleh Vynnitta.


Sania, pun membungkukkan tubuhnya. Ia tak ingin menyinggung perasaan sama majikan dengan menolak kebaikannya.


"Terimakasih, Tuan dan Nyonya. Apa yang saya lakukan adalah tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama manusia. Jadi hal itu wajar saja. Siapapun bisa melakukannya. Saya sangat berterimakasih atas penghargaan kalian," ucap Sania.


"Jika kamu butuhkan sesuatu katakanlah jangan sungkan. Aku akan berusaha keras untuk membantumu," ucap Franklin seraya mengambil baby Jo dari gendongan istrinya.


"Hei Jagoan. Ingat pesan Daddy. Ketika besar nanti, kau harus menghormati Aunty Sania," ucap Franklin pada bayi yang berusia sekitar sepuluh bulan itu.


Sania merasa terharu karena kehadirannya sungguh dihargai oleh keluarga itu. Namun, melihat keharmonisan serta keromantisan dari keluarga Franklin beserta Vynnitta. Ia kembali teringat dengan impiannya untuk membangun rumah tangga dan keluarga kecil yang manis bersama, Xilondra. sudah putus. Tapi semua itu sudah pupus bagaikan debu yang tertiup angin.


Ternyata hal yang sama pun tengah dirasakan oleh sosok laki-laki bertubuh tegap. Tatapannya nanar, ketika ia memperhatikan bagaimana sosok keluarga harmonis di depan matanya mempertahankan kebersamaan mereka. Pasangan suami istri yang sedang berlari mengejar bola dengan kedua anak mereka. Mereka asik bermain pasir hingga sore hari.


"Sania. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk merajut mimpi bersamamu. Apakah semesta masih mendukung kita untuk mewujudkan mimpi itu."


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2