
Terlihat Alessia tiba-tiba berdiri sambil berkacak pinggang di depan keduanya. Bibirnya sudah mengerucut ke depan. Kedua pipinya menggembung lucu.
"Siapa yang pacaran!" jawab, Sania dan Mark bersamaan. Mereka pun saling pandang karena tanpa sengaja menjawab serentak.
"Gak ngaku tapi kok kompak!" kesal Alessia lagi. Gadis kecil itu protes karena dia sempat mencari keberadaan keduanya. Ternyata mereka asik duduk bercengkerama di bawah pohon rindang. Sehingga, Alessia harus menghampiri mereka yang berjarak agak jauh dari kelasnya.
Ale mau, ketika dia keluar kelas, Sania telah menyambutnya lalu menuntun tangannya sampai ke parkiran.
"Kebetulan aja kok, Alessia sayang. Lagipula, ajudan Pooh sudah punya gebetan. Jadi, gak mungkin kita berdua pacaran." Sania mencoba memberi penjelasan kepada Alessia. Karena ia tak mau membuat gadis kecil yang cantik jelita itu merajuk.
Alessia sebenarnya memiliki kepribadian yang bagus. Gadis kecil itu hampir tidak pernah marah. Sekalipun dengan para pekerja di rumahnya. Alan tetapi, jika Alessia sampai merajuk bisa di pastikan untuk membuat suasana hatinya kembali normal itu akan sulit sekali. Dan, hal itu telah terjadi dua kali. Sania pun mendapatkan cerita ini dari Vynnitta dan juga para pekerja yang lainnya. Karena itu sangat penting dalam menjaga perasaan serta mood dari Ale.
Sementara itu, Mark membulatkan matanya ketika mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Sania.
Hey, wanita ini. Sejak kapan aku punya gebetan? Kenapa dia mengarang cerita seenaknya?
Mark tidak berniat menyangkal ketika Alessia menunjukkan tatapan penuh selidik padanya.
"Apa iya? Siapa Pooh?" cecar Alessia. Mana mungkin dia gak tau jika yang dimaksud dengan gebetan Pooh adalah wanita yang juga bekerja dengan keluarganya. Tapi itu tidak mungkin, Pooh kan memiliki predikat yang setara dengan pasukan khusus. Bahkan, Daddy Franklin memang meminta dirinya dari laskar khusus itu. Karena itulah, Pooh memiliki kemampuan bela diri serta melindungi yang sudah tidak bisa di ragukan lagi.
"Sebaiknya kita langsung pulang, Nona. Jangan membuat Mommy menunggu," ajak Pooh. Berusaha mengalihkan pembicaraan gadis kecil yang sok dewasa itu. Bukannya sok dewasa sebenarnya, akan tetapi memang Alessia memiliki pemikiran yang lebih tua ketimbang anak seusianya.
"Beli es krim dulu ya," pinta Alessia.
"Tanya mommy dulu, boleh apa tidak. Karena, keadaan lambung Nona kecil baru saja membaik," sahut Sania.
__ADS_1
Gadis kecil itu pun mencebik kecewa. Karena jika ia bertanya pada Vynnitta tentu saja wanita yang melahirkannya itu tidak akan mengijinkan. Karena, belum lama juga Alessia mengalami alergi dingin.
"Jangan lupa sabuk pengamannya. Nona, jangan sedih. Tunggu keadaan benar-benar sehat, nanti kita buat es krim sama-sama," bujuk Sania, yang ternyata berhasil membuat, sang nona kecil tersenyum.
"Kakak bisa buat eskrim ?" tanya Ale.
"Tidak bisa, karena belum pernah buat. Tapi, kita kan bisa belajar dari Vidio yang di unggah media sosial. Misalnya YauTube atau tok-tok," jelas Sania. Membuat gadis kecil itu manggut-manggut tanda mengerti.
Mark pun mengendarai mobil mewah itu perlahan. Melaju menembus puluhan mobil yang juga memadati jalan. Padahal, lingkungan sekolah Alessia masih ada di sekitaran komplek ini. Komplek cukup besar yang berisikan orang-orang dari kalangan atas.
Selama beberapa pekan Alessia menjalani tugas barunya. Ia mulai terbiasa. Setiap malam ia kan kembali ke paviliun Kecil yang sudah keluarga Bou siapkan untuknya. Berbeda dengan para pekerja lain yang memang di siapkan kamar khusus di dalam mansion.
Di desa.
"Wah, ada apa ini. Pak dokter mengunjungi saya," ujar Xilondra, dengan nada meledek. Pasalnya, kawan dari suami Vynnitta ini tidak pernah ingat mengunjunginya jika ia kebagian agenda menengok Mega dan juga klinik.
"Haih, jangan menyindirku. Iya, aku paham. Karena jarang memiliki waktu luang untuk mengunjungi pejabat sibuk seperti anda," balas Brandy.
Semenjak kejadian Alessia sakit dan di bawa ke hutan jatiwarna. Brandy dengan Xilondra menjadi lebih akrab. Apalagi ketika ia memberi dana untuk memperbesar bangunan klinik peninggalan nona Saga, alias Vynnitta. Istri dari dari Franklin yang merupakan sahabatnya.
"Hey! Apa kau sedang membicarakan diri sendiri?" celetuk Xilondra. Ia pun menyeruput kopi hangatnya sembari memasang senyum tipis.
"Sudahlah. Kita jangan saling menyindir. Ku dengar kau sedang galau karena putus cinta? Eh, maksudku di tinggal kabur kekasih hati," ledek Pria berambut long white itu kemudian tergelak.
"Diam kau!" decak Xilondra. Semenjak klinik peninggalan Vynnitta mendapat dana darinya. Kedua pria ini pun menjadi akrab karena sering bertemu dan karena menjalin kerja sama. Dokter Brandy, pria berusia tiga puluh dua tahun itu, memiliki peran penting dalam memajukan ilmu pengobatan serta medis di desa yang Xilondra pimpin.
__ADS_1
Bahkan, ia berniat untuk mendirikan rumah sakit bersalin yang lengkap. Tinggal menunggu ijin dari pemerintah pusat saja. Karena untuk urusan para investor, tentu saja dokter dengan wajah rupawan dan senyum menawan ini telah mengantongi beberapa nama pengusaha besar. Salah satunya, termasuk penerus dari keluarga Bou. Franklin. Raja pengusaha yang memiliki perusahaan dimana-mana.
"Oke-oke. Aku ke sini tuh. Ingin mengajakmu ikut bekerja sama, demi mempersiapkan kejutan besar untuk Alessia," ucap Brandy serius kali ini. Karena menyangkut gadis kecil yang sangat di sayangi oleh Xilondra.
"Haiih, aku bahkan sampai lupa. Gadis itu akan bertambah lagi usianya. Kenapa semua terasa begitu cepat," gumam Xilondra tentu saja masih dapat didengar oleh Brandy.
"Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu? Kau itu menghilang ke mana?" cecar Brandy. Bagaimanapun ia sangat penasaran dengan kisah yang dialami oleh, Xilondra. Bukan menjadi rahasia umum lagi, bahwa pemimpin desa Cendrawasih ini, sudah diperkirakan tidak mungkin kembali lagi ke desa. Bahkan hampir seluruh warga telah menganggap, pemimpin mereka itu tiada untuk selamanya.
Karena itulah kedatangan dirinya kembali sempat ingin dibuatkan pesta oleh warga desa Cendrawasih. Akan tetapi, Xilondra menolaknya dengan sopan. Ia tak mau para warganya membuang dana sia-sia hanya demi sebuah pesta. Melihat keadaan desa yang tetap stabil selama ditinggalkan olehnya, hal itu sudah cukup membuatnya tenang.
Hanya satu yang iya sayang kan adalah kehadiran dari bandara judi yang bernama Terry. Namun, sebelum dirinya bertindak lebih jauh wanita itu dan anak laki-lakinya, dikabarkan mengalami kecelakaan sehingga nyawa mereka diduga tidak selamat. Karena bahkan jasad mereka tidak bisa ditemukan. Karena itulah aparat desa bawahan dari, Xilondra. Mengawasi ketat keadaan serta aktivitas dari kediaman bandar judi slot itu.
Xilondra bahkan menyita beberapa aset, serta penghasilan terakhir yang didapatkan oleh Terry. Ia menyimpannya di brangkas desa. Ternyata terus masih memiliki saudari, maka itu kediaman tersebut tidak jadi di sita.
"Dokter. Apa rencana kali ini? Aku sangat merindukan gadis kecilku itu. Mungkin dengan mengunjunginya di sana dapat sedikit menghibur, perasaanku yang saat ini tidak menentu," ucap Xilondra.
"Rencana sederhana. Aku sepakat dengan Franklin, jika kau yang akan menjadi sumber kejutan utamanya. Bagaimana?"
"Kenapa aku?" tunjuk Di pada dirinya.
"Karena, Alessia juga sangat merindukanmu. Bukankah gadis kecil itu akan sangat senang. Ketika ia membuka hadiah besar, namun yang ada di dalamnya adalah Uncle Xi kesayangannya."
"Baiklah!" Xi setuju. Ingin ia akan sekalian mengajak sang ibu berlibur ke kota.
...Bersambung ...
__ADS_1