Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 27. Di tunggu oleh keluarga Bou.


__ADS_3

Sania mencoba memejamkan matanya. Mangurai perasaan bersalahnya yang tak kunjung henti. Membuat dadanya terasa sesak bulan main. Meskipun yang ia lakukan bukan mutlak kesalahannya. Sania harus mencoba merelakan mimpinya musnah. Menjauh dari pria yang ia cintai mungkin bisa membuatnya lupa perlahan-lahan.


"Kenapa rasanya sangat sakit, Xi. Melupakan janji dan mimpi kita saja sudah sangat menyakitkan bagiku. Semua ini bagaikan mimpi buruk asal kau tau. Apalagi melihat wajah kecewamu. Aku lebih sakit, Xi. Lebih sakit darimu." Sania hanya bisa meracau, menemani air matanya yang tumpah hingga membasahi pipinya.


Hingga beberapa jam kemudian ia merasakan tepukan pada bahu. "Nona, ada pemeriksaan dadakan. Siapkan, identitas anda," ucap asisten pengemudi tersebut.


Seketika kedua mata Sania pun terbuka lebar. Ini pasti ada yang aneh pikirnya. Belum pernah perbatasan di blokir seperti ini. Pasti semua ini adalah hasil perbuatan Xilondra.


"Tidak. Dia mana boleh menemukanku di sini. Aku harus pergi bagaimanapun caranya. Aku harus bagaimana?" Sania bingung. Tim pemeriksa sudah hampir sampai pada kendaraan yang ia tumpangi.


________________


"Nona. Kita sudah sampai di pemberhentian terakhir di kota," ucap pria di sebelahnya. Dimana pria berambut ikal dengan kumis tipis di bawah hidungnya itu nampak memberi senyum padanya.


Sania sedikit gelagapan. Mengusap mata yang masih basah. Bahkan kedua pipinya juga lembab. Sungguh penampakan yang menyedihkan. Kemudian mengucap terimakasih dengan memaksa sudut bibirnya tertarik ke samping.


"Terimakasih, anda telah bersedia membantu saya," ucap Sania menundukkan wajahnya. Ia juga malu karena bisa-bisanya, ketiduran di sebelah orang asing.


"Tidak masalah. Karena cinta itu butuh perjuangan dan pembuktian," ucap pria asing yang tak mau menyebutkan namanya itu.


Tak lama kemudian, ponsel di dalam tas milik Sania berdering nyaring.


"Nyonya Vyn," gumamnya ketika membaca nama kontak yang menghubunginya. Sania mengangkat teleponnya sambil berjalan keluar dari dalam mobil. Lanjut mengeluarkan barang-barang bawaannya.


Di mana sang asisten sopir meletakkannya di tepi jalan. Sania mengangguk tanda terimakasih. Bahkan, pria asing itu yang telah di jemput oleh mobil pun sempat tersenyum sekali lagi padanya.


Kembali, media pipi Sania memerah. Ia teringat bagaimana cara pria itu menolongnya tadi. Bagaimana bisa terpikir ide, membuat mereka berdua seperti pasangan. Hingga, Sania harus merelakan tubuhnya yang berbalut jaket tebal di peluk oleh pria asing. Memang sih, kulit mereka tidak bersentuhan secara langsung. Tapi, hal tetap saja membuat jantung Sania berdebar.


Siapa pria itu ya? Kenapa dia seakan tau masalahku. Ah sudahlah. Setidaknya aku saat ini sudah terbebas. Ku harap, kau menemukan kebahagiaan, Xi.


Lamunan Sania terpotong karena, sambungan teleponnya telah kembali. "Benar, Nyonya. Saya, sudah sampai di terminal kota. Tapi saya--" ucapan Sania terhenti mendadak ketika ia melihat penampakan pria berjas hitam berdiri di depannya. "I–iya, Nyonya. Mereka sudah datang, terimakasih." Sania pun mengakhiri panggilan Vynnitta setelah sosok berpakaian rapi ini mengulurkan tangan mereka untuk mengambil alih barang-barangnya.

__ADS_1


Para orang suruhan dari Franklin inilah yang akan mengantarnya ke kediaman keluarga Bou. Vynnitta menawarkan pekerjaan padanya ketika, Sania mengatakan akan mencari pekerjaan di kota. Akan tetapi, Vynnitta belum mengatakan padanya pekerjaan apa yang akan Sania jalanin nanti.


"Silakan, Nona."


"Terimakasih," ucap Sania kepada pria yang mengemudikan mobil. Kendaraan tersebut pun melaju membelah jalanan ibu kota yang padat. Hingga membawa mereka ke sebuah pemukiman yang elit. Di mana pemukiman tersebut hanya ada beberapa bangunan yang sangat mewah. Kediaman keluarga yang Franklin tempati adalah salah satunya.


Kediaman mewah, mansion peninggalan keluarga Bou. Memang terletak di daerah perkotaan yang padat serta di antara beberapa bangunan mewah lainnya. Namun, mansion milik keluarga Bou yang paling menonjol diantara bangunan lainnya.


Karena keluarga Bou termasuk kalangan terpandang yang memiliki beberapa perusahaan yang tersebar di negeri ini.


Di dalam bangunan mewah itu, tepatnya di kamar seorang gadis kecil, nampak jika sosok gadis yang ceriwis itu hanya bolak-balik sejak tadi. Sang mommy yang tak lain adalah, Vynnitta hanya bisa menggelengkan kepala seraya memasang senyum, menimpali tingkah putrinya itu.


"Tunggulah. Nanti juga sampai. Semoga jalanan tidak macet," ucapnya berusaha menenangkan tingkah Alessia. Dimana Putri kecilnya itu sudah tidak sabar menanti kedatangan dari kawan barunya itu. Ya, selama beberapa pekan Alessia dan juga Sania selalu berhubungan melalui aplikasi berwarna hijau. Mereka berdua sering mengobrol lewat chatting maupun telepon.


"Kenapa lama sekali. Tadi akan kata ajudan Pooh, sudah di jalan. Kenapa belum sampai juga?" tanya Alessia beruntun. Hal itu sudah terbiasa bagi Vynnitta. Putrinya memang cerewet sejak kecil. Ale juga tipikal yang tidak sabaran. Bahkan dia yang memohon pada Franklin untuk memberi pekerjaan pada Sania.


"Berhentilah, dan sebaiknya ajak main baby Jo. Mommy, mau ke kamar mandi dulu," titah Vynnitta. Seraya menarik Alessia agar duduk dekat box goyang baby Jo.


"Yes, Mom. Ale akan jaga dedek bayi. Pergilah!" jawab Alessia menurut.


"Halo princess Daddy! Apa kawanmu itu belum tiba?"


"Daddy!" Alessia langsung menghampiri Franklin dan melompat hingga pria itu menangkap dan mengendong putrinya bagaikan kangguru.


"Sepertinya, Kak Sania terjebak macet, Dad," jawab Ale sedih.


"Baiklah. Biar Daddy telepon, ajudan Pooh." Franklin mengeluarkan ponselnya dengan keadaan sang putri yang masih berada di dalam gendongannya.


"Sayang, bisa turun dulu tidak. Kau semakin berat," ucap Franklin membuat Alessia cemberut seketika.


"Ya sudah. Tak apa biarlah begini. Daddy kan pria kuat," ucap Franklin lagi. Karena kedua mata putrinya sudah mendung berkaca-kaca.

__ADS_1


Nampak Vynnitta menahan tawanya. Ia berjalan perlahan untuk mendekat ke arah box baby Jo. Putranya itu ternyata malah terlelap.


"Sini, biar Ale yang bicara!" pinta Ale pada Franklin. Gadis kecil itu bermaksud mengambil alih ponsel milik sang Daddy.


"Kenapa, Pooh tidak angkat telponnya?"


Sementara itu.


"Sopir tadi, kenapa lama sekali? Itu ponselnya berdering terus. Bagaimana ini? Apa aku angkat saja ya?" Sania hanya bisa memandangi ponsel milik ajudan Pooh yang terus berdering di atas dasboard mobil. Sementara, ajudan Pooh sedang berada di dalam toilet umum, yang terletak di SPBU.


__________


"Bagaimana mungkin, Sania tidak ada di kendaraan manapun! Apa kalian sudah mencarinya dengan benar?" Baru kali ini, Xilondra menampakkan kemarahannya pada anak buah. Hingga, mereka semua terperanjat kaget.


"Maaf, Kepala Desa. Begitulah laporan yang di sampaikan oleh anak buah saya. Di dalam kendaraan tidak ada sosok yang seperti nona Sania. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan dan juga keluarga. Mungkin, anda mendapat informasi yang salah," jawab pria paruh baya yang merupakan penjaga perbatasan, membela diri.


Mana mungkin. Bahkan Ibunya mengatakan jika Sania pergi ke kota. Kemana kau Sania? Kepergianmu ini semakin menyiksaku.


Xilondra nampak mendudukkan dirinya kasar serta mencengkeram kepalanya kuat.


"Kenapa sih, pak kades mengejar janda? Padahal yang gadis pun banyak di sini?" bisik salah satu bawahan, Xi pada kawannya seraya mencebik.


"Sstt! Jangan banyak komentar kalau kau tak tau apapun!" balas kawannya itu.


"Memangnya kau tau?"


"Tidak!"


"Terus --"


"Sudah diam!"

__ADS_1


...Bersambung ...


...Bersambung...


__ADS_2