Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 21. Tak Menemukan Tanda Kehidupan.


__ADS_3

Sania berada di kota selama kurang lebih satu pekan. Menanti para tim pencari menemukan tanda-tanda kehidupan dari pada korban kecelakaan pesawat tersebut.


Namun, hasilnya nihil. Bahkan bangkai pesawat yang ditemukan pun tidak seluruhnya. Karena, alat transportasi yang terbang dia angkasa itu sempat meledak sesaat setelah mencium air laut.


"Kita pulang, Nona." Sang ajudan tak ada lagi memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya kala berbicara dengan Sania. Karena, bisa dipastikan bahwa kedua majikan utamanya telah mati. Karena itu, mau tak mau, majikannya sekarang adalah sosok wanita tinggi ramping yang berdiri di pinggir dermaga sore ini.


Sania menyibak rambutnya yang tertiup angin. Ia menoleh ke arah sang ajudan. Orang kepercayaan dari Trevino yang telah menemaninya selama beberapa hari ini.


Tanpa berniat menjawab, Sania berjalan melewati ajudan yang congkak itu. Cukup sudah beberapa hari ini, ia tidak dianggap. Karena sang ajudan malah yakin jika tuan dan nyonya besar hidup. Tapi, kini harapannya seolah sirna dan pupus. Termasuk dengan pekerjaannya yang mungkin terancam hilang.


Sang ajudan yang bernama Bing itu menghela napas. "Aku harus memperbaiki sikap terhadap Nyonya besar. Kalau tidak, wanita itu bisa menendangku keluar." Bing bermonolog ketika Sania sudah menjauh. Ia merapikan jasnya. Kemudian menyusul sang majikan. Bagiamana pun. Sania adalah istri sah dari tuan besar. Sehingga, Bing harus bisa menghormatinya.


"Mau sampai kapan kau berdiri di sana, Bing?" Teguran dari Sania membuyarkan lamunan sang ajudan.


"Ah, maaf Nyonya. Kita mau langsung pulang atau--"


"Langsung pulang, Bing. Memangnya mau kemana lagi? Ini bukan liburan, Karena aku sedang berkabung," ketus Sania.


Mendengar ucapan dari sang majikan. Bing, tak lagi bertanya. Ia pun melakukan kendaraan roda empat itu perlahan menembus jalan raya kota yang selalu ramai. Bing, sesekali menghentikan kendaraannya di posko peristirahatan untuk isi perut maupun isi bensin.


Karena perjalanan yang akan mereka tempuh cukup jauh. Sekitar hampir enam belas jam perjalanan darat.


Di sebuah daerah, nampak bocah perempuan sedang bermain pasir di pinggir pantai. Tak lama sang mommy memanggilnya. "Ale! Ayo bersih-bersih!" panggil Vynnitta seraya mengangkat putranya yang sedang merangkak di atas pasir putih yang hangat itu.


"Ayayyy, Mom!" Sang putri melambaikan bendera yang telah ia tancapkan di menara pasir. Lalu sang Daddy menindih dengan tubuhnya yang bertelanjang dada. Keduanya pun terkekeh.


"Sudah-sudah, kalian tak puas juga sejak tadi!" protes Vynnitta sambil menggendong sang putra di depan tubuhnya. Jadi sudah semakin sore. Keluarga kecil ini pun keluar dari area pantai. Di perjalanan menuju tempat tinggal mereka, tiba-tiba Alessia minta berhenti.


"Kenapa sayang?" tanya Franklin yang merupakan ayah dari gadis kecil yang cantik itu.


"Lihat tukang balon itu Dad. Kasihan, sudah tua dan dagangnya belum laku," jawab Alessia. Sementara, Vynnitta terlihat sibuk menyusui Baby Jo, putra keduanya bersama pria tampan yang duduk di belakang kemudi bersama anak gadis di sebelahnya itu.

__ADS_1


"Berhentilah, sayang. Biarkan Ale lakukan apa yang dia inginkan," ucap Vynnitta tanpa menoleh sedikitpun ke arah keduanya. Tapi, ia mengerti tentang apa yang di bahas oleh ayah dan anak ini.


Franklin pun menuruti kemauan Alessia. Karena putri pertamanya ini memang memiliki hati yang lembut dan penuh kasih. Alessia paling tidak bisa melihat ada orang lain yang terlihat susah di depan matanya.


Setelah mereka menepi. Tak lama Franklin dan Alessia keluar dari dalam mobil. Putrinya itu ia rangkul untuk menyebrangi jalan yang lumayan ramai oleh kendaraan itu. Anehnya, meskipun tempat ini ramai. Tak ada satupun kendaraan yang berhenti untuk membeli dagangan si kakek.


Padahal, banyak pejalan kaki juga yang lewat. Alessia berlari ketika mereka telah menginjakkan kaki di trotoar. " Kakek. Berapa harga balon-balon ini?" tanya Alessia to the point.


"A ... ini hanya sepuluh ribu saja," ucapnya pelan. Sepertinya penjual ini kelelahan dan juga kepanasan. Terlihat dari mulutnya yang terus terbuka. Tapi, Alessia tidak melihat adanya botol air mineral yang terisi. Hanya ada satu botol kosong di bawah.


"Dad." Alessia mendongak ke wajah Franklin. Pria yang merupakan ayahnya itu pun mengangguk tanda mengerti. Karena Franklin pun memikirkan hal yang sama. Sontak wajahnya menoleh kekiri dan kanan. Akan tetapi yang dikagetkan oleh kedatangan istrinya yang menggendong baby Jo.


"Sayang, kenapa kalian menyusul?" kaget franklin. Apalagi dia tau bahwa kondisi jalan raya selalu ramai. Tapi hal itu sebenarnya bukanlah masalah besar bagi Vynnitta.


"Aku membawakan ini. Sayang kan tidak ada yang makan," Vynnitta menyerahkan paper bag berisi kotak makan serta minuman kemasan ke tangan Alessia. Hingga kedua mata putrinya itu berbinar


"Kek. Ini ada makanan dan minuman! Terimalah, ini aman dan lezat," ucap Alessia seraya menyodorkan kantong belanjaan yang terbuat dari kertas itu kepada sang penjual balon.


"I–ini buat saya?" Sang penjual balon, kaget. Ia bertanya penuh keheranan. Kenapa bisa kebetulan sekali. Pikirnya.


"Terimakasih," ucap kakek penjual balon dengan suara bergetar. Ia memang lapar dan haus sejak pagi tadi. Sebab, dagangannya hari ini belum laku sama sekali. Mau pindah ke tempat lain ia tak sanggup. Kakinya sempat terkilir ketika melewati tempat ini. Biasanya ia akan berkeliling ke tempat wisata. Tapi, ia pasrah hanya berhenti di tempat ini lantaran kakinya sakit.


Keluarga kecil ini begitu tersentuh kala melihat sang kakek makan dengan lahap. Hingga, mata jeli Alessia menangkap luka memar di bawah pergelangan kaki sang penjual balon.


"Dad," panggil Alessia seraya menunjuk ke arah kaki sang kakek. Franklin mengangguk dan tersenyum. Ia sangat kagum terhadap putrinya yang begitu perhatian hingga detil. Ia bahkan bisa menemukan luka yang tertutup ujung celana panjang tersebut.


Kebetulan, Alessia selalu membawa tas yang berisi obat-obatan di punggungnya. Ia pun mengeluarkan sebuah botol kecil berisi tablet berwarna hitam. Alessia menuruni bakat Vynnitta dalam meramu tanaman herbal. Serta membuatnya dalam bentuk ekstrak.


"Kek. Setelah, makan minum obatnya juga ya. Jangan khawatir. Ibuku adalah seorang peracik tanaman herbal. Kakek akan kembali bisa berjalan setelah meminum obat ini," jelas Alessia menjawab keraguan yang terpancar dari rawat wajah sang kakek penjual balon.


Pria tua itu pun tak ada pilihan lain selain menanggapi apa yang diberikan oleh Alessia. Karena selain mahal lah Pardi perutnya dia juga menahan rasa sakit dan nyeri di pergelangan kakinya sejak tadi.

__ADS_1


"Siapa kalian? Kenapa begitu baik? Obat ini sepertinya langsung bereaksi di kaki saya," tanya sang kakek seraya menggoyangkan kakinya yang telah sedikit membaik.


Keluarga kecil ini pun tersenyum menanggapi raut wajah heran si kakek. Karena ini bukanlah pemandangan pertama kali bagi mereka. Karena keluarga ini sudah sering membantu orang secara acak. Tergantung penglihatan Alessia putri mereka.


"Jadi, berapa seluruh harga balon-balon ini?" tanya Alessia lagi.


"Ha, semuanya? Apa kau ingin balon. Biar kakek berikan satu gratis untukmu," tawarnya.


"Tidak, Kek. Putri saya menginginkan semuanya," jelas Franklin. Lalu ia menyodorkan beberapa lembar uang. "Apakah ini cukup untuk membayar semua balon-balon ini?"


Pria tua tersebut tidak bisa menjawab. Karena ia terlebih dahulu menghitung harga keseluruhan dari barang dagangannya. Sehingga, ia mengembalikan sisa uang yang Franklin sodorkan padanya.


"Ini kelebihan banyak, Tuan. Semuanya hanya total tiga ratus ribu. Ada tiga puluh satu balon, yang satu bonus untuk si cantik ini," terang sang kakek.


"Ambilah, Kek. Ini untukmu. Pulanglah, dan rawat kakimu."


Si penjual balon tak tau harus berkata apa lagi. Dagangannya di borong habis. Hingga ia tak perlu pulang dengan memanggul bawaan yang berat.


Kendaraan yang membawa Sania berhenti sebentar di tepi jalan. Karena Sania menginginkan manisan buah yang di jual di pinggir jalan. Ia teringat ketika sang nenek masih hidup. "Ini manisan mangga kesukaan nenek. Apakah rasanya sama?" Sania bergumam seraya memandangi kantong buah tersebut.


Ia melirik sekilas, ke arah bocah perempuan cantik yang sedang membagi-bagikan balon karakter.


Alessia membagikan balon-balon itu pada setiap anak kecil yang ia temui di jalan hingga ia berdiri agak menjauh dari trotoar. Karena, Alessia ingin memberikan balon pada kecil yang di boncengan motor. Franklin dan Vynnitta juga membagikan pada pengendara yang lain. Mereka sudah terbiasa menuruti keinginan Alessia yang seperti ini.


Namun, sebuah kendaraan roda dua melaju cepat tak terkendali dari arah berlawanan. Vynnitta sempat menoleh. Dengan kencang ia meneriakkan nama Alessia dimana posisi sang putri agak jauh darinya.


"Ale!!"


Pemilik sepasang mata indah yang berdiri tak jauh dari Alessia pun terbelalak. Sontak melempar kantung dalam genggamannya, untuk kemudian berlari.


Dan ...

__ADS_1


BRAAKKK!


...Bersambung...


__ADS_2