Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 26. Kehilangan Jejak Sania


__ADS_3

"Apa! Kenapa Ibu baru mengatakannya!" Xilondra terlihat memberi cengkraman keras kepada kepalanya kepalanya sendiri. Pria berwajah tampan dengan tubuh atletis ini nampak penuh sesal. Ia frustrasi.


"Karena pada saat itu Ibu berpikir, bahwa akan lebih baik jika kau mengetahuinya langsung dari Sania. Mana tau kalau kau ternyata --" berita tidak dapat meneruskan ucapannya, wanita paruh baya itu terlihat membekap mulutnya sendiri. Hatinya sungguh tak kuasa melihat sang putra kembali terluka dan itu terjadi di depan kedua matanya.


"Aku akan menemuinya, Aku akan minta maaf padanya. Karena ini semua terjadi karena kesalahanku. Aku, tidak akan membiarkan dia pergi lagi. Aku akan menerimanya, Bu. Apapun statusnya kini. Ibu setuju kan? Xi, sangat mencintainya Bu." Xilondra tak berhenti bicara dan mengungkapkan penyesalannya. Bagaimana pun perasaannya masih tetap sama terhadap Sania.


"Pergilah, Nak. Temui dia. Semoga kalian masih berjodoh." Prita, merestui langkah putranya. Ia berharap Xilondra masih memiliki kesempatan untuk meriah cinta serta kebahagiannya.


Xilondra pun pergi menuju kediaman keluarga Terry. Tapi menurut ajudan Bing, Sania telah mengundurkan diri. Apalagi, kini yang memegang kendali di rumah itu adalah Taraa, adik dari Terry yang baru kembali dari negara lain.


"Jadi, Sania telah pergi dari kediaman ini? Baguslah. Apa dia pulang kembali kerumah ibunya?" gumam Xilondra yang memutuskan untuk mengendarai Jeep nya dan keluar dari pekarangan kediaman bandar judi yang telah tiada itu.


Sementara itu, Sania telah berada di perbatasan desa menunggu angkutan yang akan membawanya ke kota. Sebelumnya ia telah berhubungan dengan Alessia dan juga Vynnitta. Kebetulan, Franklin menawarkan pekerjaaan padanya.


Sania telah meminta ijin pada Mega. Karena ia tak lagi bisa bekerja di klinik miliknya. Tanpa Sania ketahui, bahwa klinik tersebut juga adalah peninggalan dari Vynnitta. Karena, yang tertera hanya nama nona Saga bukan Vynnitta.


Maafkan aku semuanya. Mega, Ibu, Xilondra. Aku tidak sanggup lagi berada di desa ini. Semua terasa sangat menyakitkan.


"Dimana dia? Bahkan di rumah ibunya pun tak ada." Xilondra nampak kesal karena, ibu dari Sania seakan menutupi keberadaan Sania darinya. Tanpa Xilondra ketahui, bahwa hal itu merupakan perintah maupun pesan dari Sania sendiri.


Xilondra pun memutuskan untuk mendatangai klinik. Mega pasti akan bercerita padanya. Bahkan kemungkinan besar, Mega tau kemana Sania pergi.


"Nia, hanya bilang mau pergi ke kota. Tapi, dia gak bilang mau ke kota mana. Entahlah, semua terasa begitu cepat. Jangankan Sania. Bahkan saya pun tak menyangka jika anda bisa kembali. Setelah kabar simpang siur yang sampai ke desa ini. Hingga, Bu Prita mencari pengganti Kepala Desa yang baru," terang Mega.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan mengejarnya ke perbatasan desa. Semoga saja masih keburu." Xilondra berlari ke arah jeep. Tanpa banyak bicara lagi ia menginjak pedal gas pada mobil legendarisnya itu.


"Dia selalu menunggumu, Tuan Xi. Dia selalu yakin bahwa kau akan kembali!" Mega berteriak dan suaranya di telan angin.


"Percuma sayang. Xilondra tidak akan mendengarmu," ucap pria berambut putih panjang yang tiba-tiba berdiri di belakang tubuhnya itu.


"Brandy. Apa kau sudah habiskan sarapanmu?" Mega pun menoleh dan mendapati jika pria itu tersenyum padanya.


"Sudah sayang. Nih habis!" tunjuk Brandy pada mangkuk bubur yang bersih tanpa sisa makanan sedikit pun.


"Anak pintar!" puji Mega, seraya memukul pelan pipi Brandy.


"Besok ikut aku ke kota ya?" ajak Brandy tiba-tiba.


"Masa sih, aku terus yang mengunjungimu kesini. Aku juga, mau ajak kamu ke kota. Melihat keindahan kota di malam hari. Menunjukkan gedung Rumah Sakit milikku sendiri yang baru saja berdiri. Aku, juga mengajakmu untuk memilih cincin tunangan kita," bisik Brandy di telinga Mega.


Pria berambut putih dengan wajah tirus ini adakah seorang dokter. Lebih tepatnya lagi dia adalah seorang dokter kepercayaan dari Franklin dan juga keluarganya.


"Ta–tapi, Brand--" Mega segera menepis bibir pria tampan yang selalu berusaha untuk menggoda imannya itu. Karena, Mega selalu menolak sentuhan dari Brandy di bagian tubuhnya manapun sebelum mereka menikah. Ia tak mau kejadian kala di hutan Jatiwarna terulang kembali. Saat itu hampir saja dirinya tak mampu menahan diri. Karena, pesona pria di belakang tubuhnya ini luar biasa memikat.


"Tapi apa!" Dokter Brandy membalik tubuh Mega hingga menghadapnya. Ia mendekatkan wajahnya membuat Mega semakin kesusahan untuk bernapas. Ia selalu tak kuat jika berdekatan dengan sosok ini.


Sosok yang sejak awal bertemu mampu membuat matanya tidak berkedip. Sosok yang sangat frontal dan tho the point dalam mengungkap perasaannya. Tak pernah gombal apalagi merayu. Itulah, yang Mega suka dari Brandy.

__ADS_1


"Bagaimana dengan nasib orang kampung?" tanya Mega seraya mendorong pelan bahu Brandy. Agar wajah pria itu ikut mundur dari jarak yang menipis barusan. Karena, Mega kembali merasakan denyut serta debaran yang tak wajar dari jantungnya.


"Aku beri waktu tiga hari. Pilih salah satu karyawanmu yang paling kompeten. Tidak mungkin jika tidak ada. Hanya saja, kau belum sepenuhnya memberi kepercayaan kepada mereka," kecam Brandy dengan tatapan seriusnya kali ini.


"Cepet sekali. Yang benar saja!" protes Mega. Tapi, ia kembali melangkah mundur, ketika pria tampan di hadapannya ini kembali mendekatkan wajah mereka.


"Tiga hari atau, malam ini juga!" usul Brandy. Dimana ucapan itu lebih mirip dengan perintah ketimbang sebuah usulan. Entah kenapa makin hari pria ini semakin mengintimidasi Mega. Anehnya, Mega tidak bisa menolak apapun permintaan dari kekasihnya ini.


"Ya sudah tiga hari!" Akhirnya megaphone menyetujui apa yang menjadi syarat, dari Brandy. Merasa memang lagi, pria berambut putih panjang sebahu itu tersenyum lebar sekali.


"Aku akan membantumu untuk menunjuk bunga teleng."


Sementara itu, Jeep yang dikendarai oleh Xilondra, bertepatan dengan kepergian angkutan yang sejak tadi di tunggu oleh Sania. Pandangan Xilondra terhalang dengan kendaraan besar lainnya. Sehingga, ia tidak melihat jika kendaraan tersebut sudah berlalu dan membawa kekasihnya.


"Mana mungkin, aku kehilangan dia. Sial!" Xilondra belum pernah mengumpat bahkan mengutuk di dalam hatinya. Dia adalah tipe pria yang selalu sopan dan berada dari sikap dan juga perkataannya. Karena, itulah Sania terpikat. Xilondra dengan segala kekaisarannya tapi tidak pernah berniat menekannya.


Maafkan aku, Xi. Ku harap kau mampu melupakan aku di saat kau tak lagi melihatku di desa itu.


Sania merindukan wajahnya, ia tau jika Xilondra mencarinya hingga ke perbatasan desa.


Xilondra yang panik campur kesal karena tidak menemukan Sania. Ia pun mengangkat ponselnya. Mengarahkan seluruh kekuasaannya untuk menggerakkan beberapa bala bantuan.


"Tutup pintu jalan utama dari desa menuju kota. Letakkan beberapa penjaga untuk memeriksa kendaraan minibus yang lewat!"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2