Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 39. Bicara Berdua.


__ADS_3

Sania terus diam. Ia tau jika Xilondra sedang memancingnya untuk berbicara. Karena bagi Sania permasalahan mereka tidak untuk diumbar di tempat umum. Jika memang Xilondra ingin berbicara padanya untuk membahas kembali hubungan mereka, mungkin akan lebih baik jika mereka bicara empat mata saja.


Keinginan Sania dalam hati ini ternyata juga sampai ke Xilondra. Pria itu menghampirinya kemudian berbisik. "Boleh aku minta sedikit waktumu?"


Sania langsung mematung kaku. Ketika, hembusan nafas hangat dari pria yang ia rindukan itu menerpa tengkuknya.


"Baiklah. Kita ketemu di pinggir dermaga nanti jam lima," jawab Sania. Seraya berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan debar jantungnya. Ia berharap jika, Xilondra yang merupakan mantan kekasihnya ini tidak mendengar.


Waktu yang menentukan pertemuan mereka pun tiba.


Sania pikir dirinya yang tiba lebih awal. Ternyata, pria gagah dengan kemeja yang nampak sempurna di tubuh atletisnya itu telah berada di tempat itu lebih dulu.


Pertama, mereka hanya saling pandang. Tanpa ada siapapun dari keduanya yang memulai pembicaraan. Padahal tadi, berderet kalimat telah disusun rapi oleh Xilondra. Ia juga memberanikan dirinya untuk meminta Sania agar kembali padanya.


Akan tetapi, lidahnya kelu. Ia bahkan tak mampu untuk berucap satu katapun saat ini. Sania menghela napasnya. Ia pikir, Xilondra akan mengajaknya bicara. Ternyata mereka hanya saling pandang. Hingga dirinya salah tingkah. Karena, dari tatapan saja, Xilondra mampu menyihirnya.


"Kita kembali saja, karena aku sudah terlalu lama di luar," ucap Sania membunuh sepi dari keduanya. Ia pun berbalik tapi, secepat lihat ia merasa ada yang menarik pinggangnya. Kedua matanya pun membola. Merasakan kembali hangat pelukan dari, Xilondra.

__ADS_1


"Kembali? kemana?" tanya Xilondra, serta meletakkan dagunya di bahu Sania. Karena pada saat ini dia tengah memeluk wanita itu dari belakang.


" Te–tentu saja ke mansion. Memangnya, mau kemana?" cetus Sania, tanpa bisa menoleh karena, saat ini Xilondra semakin mempererat pelukannya. Pria itu menyalurkan perasaanya selama ini. Ia tak mau menahannya lagi setelah mengetahui status dari Sania saat ini. Wanita ini kini bukanlah milik siapa-siapa. Sehingga, Xilondra kembali bebas menyalurkan kerinduannya.


"Hentikan, Xi! Apa kau lupa jika ini adalah tempat umum!" protes, Sania. Sehingga membuat Xilondra terkekeh kecil. Tubuhnya sedikit menggeliat karena ia masih bersikukuh untuk memeluk tubuh ramping Sania. Sehingga, wanita itu mendaratkan cubitan pada perutnya.


"Jari mu itu, benar-benar mirip kepiting. Capit sana ... capit sini." protes, Xilondra disertai tawa renyah. Sudah lama ia tak meledek Sania seperti ini. Momen, yang sangat ia rindukan.


"Sebaiknya, lepaskan aku. Kalau tidak mau di cubit. Lagipula, aku bukan lagi kekasihmu, Xi!" Sania menggeliat mencoba melepaskan dirinya dari pelukan erat Xilondra.


"Jangan terlalu keras pada diri mu. Biarkanlah begini sebentar lagi!" pinta, Xilondra sungguh-sungguh, bahkan pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya. Ia tak mau lagi melepas wanita tercintanya ini.


Wangi yang sudah menjadi candu bagi, Xilondra selama ini.


Ombak yang sesekali menghantam batu karang besar, yang tengah mereka pijak itu. Membuat alunan nada harmonis yang berasal dari alam.


Berpadu kontras dengan suasana hati keduanya saat ini.

__ADS_1


" Xi ..." panggil Sania pelan.


"Hemm ...." sahut, Xilondra juga pelan.


"Aku sudah bukan Sania yang dulu. Aku sudah berbeda. Aku sudah tak utuh lagi," ungkap Sania. Ia tau apa yang Xilondra inginkan. Karenanya, ia lebih baik mundur saja. Sebelum, keadaannya jadi bahan ungkitan di masa depan nanti.


Sontak, Xilondra langsung melepaskan terang bulan tangannya yang berada di pinggang Sania. Sania menghela napas dan pasrah. Jika setelah ini, Xilondra benar-benar pergi darinya.


Akan tetapi, semua di luar dugaannya. Xilondra membalik tubuh Sania, lalu segera menarik cepat. Hingga, tubuh Sania jatuh ke dada bidang yang sangat nyaman untuk bersandar itu.


"Aku tidak peduli. Bagiku kau masih sama seperti dulu. Kau tetaplah Sania-ku. Ku mohon, jangan meninggalkanku lagi," ucap Xilondra lirih.


Sania merenggangkan pelukannya agar bisa mendongak, dan menatap wajah pria yang sebenarnya masih bertahta di dalam hatinya.


"Be–benarkah itu?" tanya Sania tak percaya, sambil menatap dalam iris pekat, Xilondra yang tajam itu. Melengkapi, alisnya yang tebal membingkai wajah itu hingga begitu menawan.


" Tentu saja, kau ini tidak peka sekali!" protes Xilondra, seraya mengulurkan tangannya ke wajah Sania. Mengusap pipi yang lembab karena sapuan angin sore.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2