
Prita melempar apa yang berada di dalam genggamannya. Ia berlari dan langsung menubruk tubuh sang putra. Mendekapnya erat seolah takut pergi lagi menghilang dari pandangannya.
Hal yang sama pun di lakukan oleh, Xilondra. Ia mendekap erat pemilik raga yang sangat ia rindukan. Ketakutannya pada saat itu sirna sudah. Dimana ia berpikir selamanya tak akan pernah kembali dan melihat sang ibu lagi.
Prita tak tak mampu menyembunyikan perasaannya lagi. Dimana selama ini ia menyembunyikan rapuh dan juga sedihnya dari bawahan dan juga para pelayannya di rumah. Namun, pada saat ini ketika ia berada dipelukan Sang putra. Kekuatannya runtuh seketika pada saat itu juga. Tangisnya meledak, menumpahkan semua beban yang selama ini ia tampung di dalam dadanya. Segala ketakutan itu pun terjawab sudah.
Sementara, Xilondra tak mampu mengeluarkan suaranya sedikit. Seluruh tubuhnya bergetar menyalurkan apa yang ia takutkan selama ini. Apalagi, kejadian pada saat pertempurannya dengan La Roisa. Xilondra berpikir bahwa saat itu akhir dari kisah hidupnya.
Namun, sebuah kekuatan tak kasat mata berhasil melindunginya dari serangan demi serangan La Roisa. Wanita yang terobsesi padanya. Wanita yang menginginkan segala keuntungan drinya.
Ratu Adore.
Xilondra tak menyangka bahwa yang melindunginya adalah pemilik permata suci yang secara tak sengaja ia selamatkan dari keserakahan pemimpin desa dan juga para anggota timnya.
Prita melepas perlahan pelukannya dari raga Sang putra. Ia menatap penampilan Xilondra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuh yang bergetar dan penuh luka itu membuatnya kembali membekap mulut. Karena Prita tengah menyembunyikan keterkejutannya.
Xilondra mendongakkan kepalanya perlahan. Kedua matanya yang memerah, dengan wajah sembab itu, menatap sang ibu dengan sendu. Xilondra mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi tirus Prita.
"Hanya luka kecil, perjuangan, Xi untuk dapat sampai ke rumah ini. Ibu, jangan khawatir. Aku, baik-baik saja," ucap Xilondra pelan. Jakunnya turun naik menahan tangisnya agar tidak meluncur lagi.
Seketika sejauh teriakan kencang merobek keheningan yang terjadi pada kedua ibu dan anak ini.
"Nyonyaaaa! Ada jejak darah!" lengkingan dari anak buah pelayan, memekakkkan telinga. Hingga, sang kepala pelayan keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Ada apa sih, Minul! Kenapa kau teriak keras!" pekik ketua pelayan geram.
"I–itu, ada jejak darah banyak sekali," jawab Minul , terbata-bata.
Ketua pelayan pun melihat kemana jari Minul mengarahkannya. Sontak kedua matanya pun terbelalak.
"Ini darah siapa Minul?!" teriaknya namun tertahan. Karena ia tak mau membuat kebisingan di rumah ini.
"Kalau Minul tau, ngapain teriak dan panik, Bu Tut!" geram Minul pada wanita di hadapannya yang bernama Tuti.
Tuti pun berdecak kesal, karena ucapan Minul itu ternyata benar. Ia pun mengikuti kemana arah jejak darah itu berjalan. "Sepertinya mengarah keruangan tengah. Karena jejak itu bermula dari depan. Berarti orang ini masuk melalui pintu," gumam Tuti, mengeluarkan analisanya.
Keduanya mengikuti jejak darah. Dan pada saat itu juga, Prita sang majikan muncul bersama sosok seorang pria yang mengenakan pakaian aneh.
"Putraku kembali, Tuti. Dia kembali seperti ucapanku. Seperti keyakinan ku selama ini. Sekarang, kalian percaya?" ujar Prita. Tanpa ragu ia memeluk kembali sang putra.
"Ini benar Tuan!" Tuti membekap mulutnya. Ia menelisik penampilan Xilondra yang kacau dan nampak aneh.
Xlndra hanya mengangguk pelan kemudian tersenyum kikuk. Tatapannya spontan mengikuti pandangan dari Minul. Hingga, berhenti pada area kedua kakinya.
"Ah ya, Tuti, Minul. Siapkan air hangat, agar putra saya bisa membersihkan dirinya. Lalu setelah itu, siapkan makan.
"Baik, Nyonya!" Kedua pelayan itu pun menjawab serempak. kemudian segera berlalu untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh majikan mereka. Aura bahagia pun nampak di wajah kedua pelayan ini. Setidaknya mulai hari ini mereka tidak akan melihat lagi raut wajah sedih pada Prita.
__ADS_1
"Kau siapkanlah air panasnya biarkan aku yang masak. Setelah selesai, susul aku ke dapur!" perintah Tuti kepada Minul bawahannya.
"Baik, Bu Tut!" ucap Minul semangat.
"Hei kau!" Tuti geram, tapi yang di panggil telah menghilang dari hadapannya.
"Anak itu, seenak saja memanggil namaku!"
___________
Di meja makan, Di menanyakan sesuatu yang membuat sang ibu, mendadak tersedak.
"Apa Sania sering kesini? Apa, Ibu tau bagaimana kabarnya saat ini?" tanya Xilondra di sela-sela suapannya. Ia tak mampu menunggu lama. Xi sangat ingin tau kabar dari kekasihnya itu.
Uhuk uhuk!
Prita langsung memukuli dadanya sendiri, ketika mendadak mendapat pertanyaan yang ia takutkan dari Xilondra.
Xilondra memberikan segelas air pada Prita dengan gurat khawatir di wajahnya.
"Pelan, Bu."
Apa yang harus kukatakan padanya? Kenapa, dia harus kembali kecewa lagi?
__ADS_1
...Bersambung ...