
Sania menggulung tubuhnya dengan selimut. Entah berapa banyak lebam yang terdapat pada tubuh mulusnya itu. Sania menggigit ujung selimut agar Isak tangisnya tidak terdengar sampai keluar. Sania, ingin sekali menjerit sekuat-kuatnya. Apakah salahnya jika dia malam pertama pengantinnya, ia mendapatkan menstruasi.
Ku pikir. Nasibku akan aman selama beberapa
hari ke depan. Ternyata, kau sangat kejam, Trev. Kau tidak mengerti keadaanku. Atau, kau memang ingin membalas semua dendam mu. Kau menikahiku hanya untuk membuatku menderita. Kau jahat, Trev. Aku tidak terima aku perlakuan begini.
Sania semakin menggulung raganya. Semua terasa sakit. Darah di sudut bibirnya yang pecah sudah mengering. Sania tak mau tau. Dia hanya ingin tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya malam ini.
Semua ini juga di luar kuasa dan kehendaknya. Sania, sama sekali tidak menyangka jika Trevino menjadi sangat marah atas kejadian barusan. Dia pikir malam ini akan terbebas dari melayani Trevino. Karena bagaimanapun juga Sania butuh membiasakan diri dahulu. Siapa sangka justru dirinya, mendapat haid. Sehingga keinginan Trevino gagal total.
Pria itu mengamuk sejadi-jadinya, memukuli Sania tanpa ampun. Kejadian yang sama sekali tidak di duga akan terjadi. Bagaimana perlakuan dari Trevino yang tanpa hati. Ya, memang pria itu menikahi Sania lantaran karena napsu dan juga dendam.
"Kenapa wajahmu kusut begitu. Seharusnya kau senang, kan habis belah duren semalam," goda Terry. Wanita yang merupakan ibu tirinya itu mengerucutkan bibirnya. Semalaman ia tak bisa tidur membayangkan pergulatan panas Trevino dengan Sania.
"Aneh. Kenapa wajahmu di tekuk begitu. Apa wanita itu tidak bisa memuaskanmu. Huh, salah sendiri memilih istri anak bau kencur!" sindir Terry. Seraya mencebikkan bibirnya hingga maju ke depan.
Mendengar itu Trevino kembali kesal. Semalaman ia susah payah menidurkan miliknya yang sudah bangun.
Sialan benar. Kenapa mama justru mengembalikan ingatan ku semalam. Bikin rusak mood saja. Wanita itu juga kenapa harus menstruasi malam ini. Huh. Harus. Berapa lama lagi aku menunggu sampai dia tidak mengeluarkan cairan menjijikan itu!
Trevino menggerakkan rahangnya hingga berbunyi. Ia tengah menahan geramnya pada saat ini. Seraya menusukkan garpu pada alas makanya yang kosong.
"Jadi, tebakan ku benar kan? Ck, kau ini, Trev!" ejek Terry semakin membuat Trevino terbakar emosi. Ia kembali ingin mengulangi penyiksaan semalam. Tapi, dia tidak akan sanggup jika harus melihat raga polos milik Sania lagi.
Trevino melempar alat makan hingga berdenting karena bertubrukan dengan piring. Kemudian, pria bertubuh tegap nitu berdiri seraya menatap dengan sorot mata tajam ke arah ibu tirinya. Namun, Terry justru memasang senyum kemenangan.
Sepertinya wanita itu bukan hanya tidak memuaskan. Akan tetapi tidak mampu memberikan apa yang putra tampanku ini inginkan. Itu artinya mereka belum melakukannya tadi malam. Uh, sepertinya aku masih memiliki kesempatan.
__ADS_1
Terry justru tersenyum penuh arti, ketika otaknya merencanakan sesuatu.
"Kau tidak perlu marah. Apalagi sampai melampiaskannya padaku. Kau hanya pusing karena tidak tersalurkan, bukan? Kenapa? Gadis itu menolakmu atau apa? Jika iya, biarkan Mama yang memaksanya. Berani dia membuatmu kecewa," ucap Terry berusaha terlihat memihak serta turut merasakan sakit hati yang dialami oleh Trevino.
"Dia berdarah!" kesal Trev. Bahkan pria itu menggeram ketika menjawab pertanyaan dari Terry.
"Apa? Apa maksudmu? Bukankah itu aja jika seorang gadis dibobol untuk pertama kalinya. Lalu apa yang --"
"Dia berdarah sebelum aku melakukan apapun padanya!" berang Trevino, bahkan memotong ucapan Terry yang belum selesai.
"Oh my --!" Terry terlihat membekap mulutnya menggunakan tangannya sendiri. Ia tidak menyangka jika Malam pertama Putra dirinya ini akan sebegitu memilukan. Ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak saat ini. Tapi, bisa-bisa nanti Trevino mencekik batang lehernya.
Karena ia tau bagaimana perangai serta temperamen dari, Putra bawaan mendiang suaminya tersebut.
Terry pun segera berdiri kemudian melangkah perlahan menghampiri putranya. Terry meletakkan sebelah tangannya di bahu Trevino. Kemudian telapak tangan itu bergerak perlahan untuk mengusap. "Daripada kau marah. Bagaimana jika kita berlibur. Dan, kau pulang setelah Sania selesai haid, bagaimana?" usul Terry. Dengan seolah senyum yang sulit untuk diartikan.
"Aku butuh pelampiasan. Bentuk tubuh gadis itu terus menari dalam kepalaku. Berengsek!" Trevino terlihat memukul meja makan dengan keras. Hingga meja dengan bahan kaca itu nampak retak.
"Apa maksudnya Mama?" tanya Trevino seraya menoleh dan menatap ibu tirinya ini heran. Dirinya baru sadar, jika Terry, mengenakan pakaian yang ketat dan membentuk tubuh.
"Kau pasti mengerti. Mama juga sudah lama tidak mendapatkan sentuhan dari laki-laki manapun. Jadi, apa salahnya ... jika sebagai wujud rasa sayang Mama padamu, Mama memutuskan untuk membantu mu menghilangkan rasa tidak enak itu. Kau pasti sangat tersiksa bukan?" bisik Terry lagi.
Sungguh gila bukan?
Mama tiri merayu putranya sendiri.
"Apa kau yakin, Ma. Apa kau tidak punya kekasih yang--"
__ADS_1
Terry seketika meletakkan kedua jarinya di depan bibir, Trevino. Ia mengedip kemudian tersenyum. Lalu, kembali mendekatkan wajahnya ke samping telinga Trev.
"Daripada mencari orang luar, lebih baik dengan orang dalam. Apalagi, jika dia luar biasa mempesona. Bukankah ini lebih baik?" bisik Terry lagi. Kali ini dia bahkan berani mengulurkan ujung lidahnya untuk menjilat telinga, Trevino.
Sshh.
Trevino mendesis kecil. Gelora yang belum sepenuhnya hilang dari pengaruh tubuhnya. Seketika kembali terasa membakar dirinya. Pusat tubuhnya menyetrum.
"Apa, Mama yakin?" tanya Trevino lagi meyakinkan. Apakah mama tirinya ini dalam keadaan waras atau tidak.
"Aku, tidak mau terkena masalah atau--"
"Percayalah. Tapi kita lakukan di luar negeri. Dimana tidak ada yang mengenal siapa kita yang sebenarnya," bisik Terry lagi.
Apalagi ini? Dia yang sudah memancingku tapi, malah di suruh menunggu karena tidak ingin melakukannya di rumah. Aku tidak tahan lagi.
Trevino pun mencengkeram pergelangan tangan Terry. Ia menatap penuh gairah kearah wanita yang menjadi istri kedua dari mendiang papanya itu. "Jangan salahkan aku, karena kau yang terus menggodaku. Dan aku menginginkannya saat ini juga!" Trevino berkata penuh penekanan. Ia merasa kesal dan bergelora secara bersamaan.
Terry pun mengiyakan permintaan putra tiri kesayangannya itu. Akhirnya, dia juga yang menang. Trevino, memang miliknya.
Keduanya pun mengabaikan norma yang seharusnya. Melampiaskan hasrat terlarang di dalam kamar kedap suara. Hingga tak ada satupun penghuni rumah yang mengetahui perbuatan asusila mereka.
Sementara, Sania tengah berjuang untuk sekedar turun dari tempat tidurnya. Karena gadis ini merasa sakit di seluruh sendi dan setiap sudut tubuhnya. Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya. Jangan sampai Trevino semakin marah melihat keadaannya yang belepotan darah. Setelah mandi, Sania lun bawa seprai itu dan mencucinya hingga bersih.
Kejadian semalam sangat membekas. Sania tak mau melihat Trevino dalam keadaan marah lagi. Pria itu sangat menyeramkan dan tenaganya juga sangat kuat.
Beberapa saat kemudian ada seseorang yang membuka paksa pintu kamarnya dengan kasar. Hingga daun pintu yang menabrak dinding menimbulkan bunyi yang sangat keras.
__ADS_1
"Astaga! Trevino!"
...Bersambung ...