
"Kita berangkat sekarang?" tanya Terry memastikan. Bahkan, kedua tangannya sudah bergelayutan di bahu Trevino.
"Tolong jangan begini. Aku tidak mau menjadi bahan gosip di desa ini," tolak Trevino seraya melepaskan cekalan kedua lengan Terry dari raganya.
Memang, kuakui dirinya masih sangat nikmat di usia yang tak lagi muda ini. Tapi, aku tetap harus menjaga image bukan. Jangan sampai orang lain tau. Jika aku adalah penikmat ibu tiri.
Trevino, menyeringai puas. Ketika Terry yang merupakan istri kedua mendiang ayahnya itu mendengus kesal. Tak berselang lama mereka pun berangkat dan tiba di bandara. Liburan dadakan hanya karena ingin menikmati momen kebersamaan mereka dengan bebas. Terry dan Trevino ternyata ketagihan, mereka pun melanjutkan hubungan tanpa status itu di negri orang.
Setidaknya, Sania bisa merasa lega dan tenang selama beberapa hari. "Besok, aku akan mengunjungi ibu. Setelah itu, menjenguk Bu Prita juga. Bagaimana pun, beliau harus tau jika aku sudah menikah." Sania bergumam di depan cermin sembari mengobati beberapa luka dengan salep.
Sementara itu, Xilondra masih berjuang untuk melawan hawa panas yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Kedua matanya terpejam secara tidak sadar. Lama kelamaan masuk juga dalam buaian yang di berikan oleh La Roisa. Hingga, wanita itu tersenyum penuh kemenangan.
Kedua bibir sudah saling beradu, menyesap dalam merasakan manis dan getarannya. Sekelebat, bayangan di pinggir danau senja itu, ketika Xilondra mengutarakan keinginannya pada Sania.
__ADS_1
Mereka berdua juga berciuman mesra, di bawah temaram cahaya senja. Hingga Xilondra menyatukan kening keduanya. Tersenyum membayangkan masa depan mereka.
"Sania ... aku mencintaimu. Kau pasti masih menungguku kan? Sania ...," gumam Xilondra, setelah tautan bibirnya dengan La Roisa terlepas. Mendengar racauannya, sontak membuat wanita di hadapannya saat ini marah. Dalam hitungan detik, Xi merasakan dorongan keras hingga dirinya terjungkal keatas tanah berumput.
"Keterlaluan!" pekik la Roisa. Ia tak habis pikir, bagaimana manusia ini bisa-bisanya membayangkan wanita lain di saat bersamanya. Sungguh, ia merasa sangat direndahkan.
Xilondra meringis dan mengerang, kala merasakan remuk hampir di sekujur badan. Terang saja, La Roisa melemparnya dari ketinggian. "Sial! Apa wanita demit itu ingin membunuhku?" gerutu Xilondra pelan. Tapi, ternyata ucapannya di dengar oleh La Roisa.
"Apa kau bilang! Manusia kurang ajar!" La Roisa menukik cepat hingga ujung pakaian serta selendangnya melambai. Dalam sekejap ia telah berada di atas tubuh Xi.
Anak manusia ini. Terbuat dari apa hati dan otaknya. Kenapa dia tidak bisa tergoda sedikitpun. Bahkan ketika berciuman tetap ingat dengan kekasihnya. Aku hanya ingin merasakannya sekali, bukan untuk memilikinya. Tapi, sepertinya itu akan sulit. Tubuhnya di sini, tapi hati dan pikirannya di tempat lain. Bahkan, kekuatanku tidak bisa memanipulasi perqsananya. Apakah, ini salah satu perlindungan dari permata suci Adore?
"Apapun yang akan kau lakukan untuk menggodaku. Itu tidak akan berhasil!"
__ADS_1
"Kau ini! Apa Sania begitu cantik? Hingga kau terus mengingatnya?" cecar La Roisa penasaran.
"Bagiku, iya. Karena di dalam hati dan pikiranku hanyalah dia seroang. Sania-ku sayang. Karena itu, segera pulagkan aku. Aku tidak ingin membuatnya menunggu lebih lama lagi. Aku akan menikahinya," ungkap Xilondra. Ia berharap La Roisa berhenti melakukan rencananya. Karena itu semua hanya membuang waktu saja.
Mendengar pengungkapan Xilondra, entah kenapa La Roisa semakin menggebu. Ia kembali mendekatkan wajahnya. Hingga, Xilondra dapat merasakan hembusan napas La Roisa yang wangi.
"Sebelum kau pulang. Lakukanlah itu padaku, sekali saja," bisik La Roisa. Senjata makan tuan. Dia yang berencana membuat Xi terperdaya akan pesonanya, tapi terbalik. Kini, dirinyalah yang tergila-gila.
Xilondra menyeringai, ia menatap tanpa ekspresi kearah La Roisa. " Aku lebih baik mati, daripada mengkhianati perjanjian suci kami!" tolak Xilondra, tegas.
"Manusia sombong!" La Roisa kembali melayang, ia pun menyedot sebuah kekuatan hingga tongkat kembali berada dalam genggaman.
"Belum pernah ada yang menolak perintah La Roisa! Maka ... akan kukabulkan permintaan mu!"
__ADS_1
Arghh!
...Bersambung ...