
La Roisa terlempar jauh hingga ia mendarat ke atas tanah berbatu. Wanita berkulit pucat ini terbatuk sekali, hingga dari bibirnya yang seksi mengalir darah hitam.
Ia sungguh tak menyangka jika rencananya yang hendak melampiaskan amarah melalui serangan ke arah Xilondra, justru tenaga itu seakan berbalik kearahnya.
Sial! Kenapa serangan ku menjadi berbalik. Huh! Sementara dirinya baik-baik saja. Dia harus mati. Jika aku tidak bisa mendapatkannya, dia tidak boleh pulang. Wanita yang bernama Sania itu biar saja menunggunya sampai mati!
La Roisa berusaha bangun meskipun sekujur tubuhnya terluka dalam. Jika serangannya mengenai Xilondra tadi, mungkin pria itu sudah terbujur tak bernyawa.
Apa yang terjadi?
"Kenapa dia? Kenapa serangannya seperti terpantul?" gumam Xilondra terheran. Ia menyaksikan sendiri didepan mata kepalanya. Jika, La Roisa terlempar sangat jauh dan keras. Hal itu menandakan bahwa serangannya sangatlah dahsyat dan serius.
"Apa dia berniat membunuhku? Jika iya, lalu apa yang menyelamatkanku tadi?" Xilondra masih bergumam sendiri. Menelaah segala kebingungannya dari apa yang terjadi. Hal itu membuat kepalanya berdenyut. Akal pikirannya tidak sampai. Karena banyak hal ajaib atau bisa di bilang magis, di tempat ini.
"Aku harus segera pergi dari tempat ini, tapi bagaimana caranya!" Xilondra hampir putus asa karena dirinya tidak menemukan petunjuk apapun di sekitar.
Melihat Xilondra yang mulai gusar dan hendak mencari jalan keluar. Di seberang sana, la Roisa terlihat menyeringai penuh arti.
Padahal jalan keluarnya ada di depan matamu. Tapi sayang, kau hanya sosok manusia bodoh yang sombong.
La Roisa kembali mengeratkan rahangnya. Ia mencengkeram tongkat berkepala harimau itu. La Roisa menghentak kedua kakinya yang menjejak tanah. Berharap kembali melayang dan menyebrang ke arah dimana Xilondra berada. Ia masih berniat menghabisi pria yang sudah merendahkan harga dirinya itu.
Sebagai ratu dan pemimpin desa Pancamaya ini, penolakan dari Xilondra merupakan penghinaan besar terhadapnya.
Tapi, tidak ada hal yang bereaksi.
__ADS_1
"Heh! Kenapa aku tidak bisa melayang? Kenapa seakan ilmu yang ku miliki hilang. Ada apa ini!" La Roisa memekik kebingungan. Tongkatnya pun tidak bercahaya. Terpaksa, ia berlari dan menyebrangi jembatan di hadapannya. Menghampiri Xilondra yang jaraknya sekitar tiga ratus meter.
"Sial! Aku harus menggunakan kaki indahku untuk berlari!" gerutu La Roisa.
Sementara, Xilondra masih menyibak apapun. Berharap menemukan petunjuk apapun itu. Mungkin sebuah portal seperti yang ia tonton di film fantasi. Atau seperti yang pernah ia baca di buku bergenre serupa. Biasanya begitu, jika kita berada di alam lain. Pasti ada sebuah portal yang menghubungkan dunia keduanya.
Xilondra pun mengingat-ingat sesuatu informasi. " La Roisa pernah mengatakan jika aku di lempar ke dalam sumur yang terdapat di dalam sebuah gua. Dan, wanita itu juga mengatakan bahwa aku bisa pulang ketika melihat purnama menjadi dua."
"Purnama kembar? Bagaimana bisa bulan membelah dirinya." Xilondra terlihat memegangi kepala. Tengkuknya pun semakin berat. Karena ia telah berpikir sangat keras.
"Apakah purnama kembar itu hanya sebuah kiasan? Atau petunjuk sebuah tempat yang merupakan portal jalan keluarku dari tempat ini?"
Ketika Xilondra tengah serius berpikir. Sebuah serangan kembali meluncur dari arah belakang tubuhnya. Xilondra menunduk tiba-tiba karena ia merasa menginjak sesuatu. Hingga, secara kebetulan. Serangan dari La Roisa lewat begitu saja di atas kepalanya.
Seakan tak terjadi apa-apa. Xilondra yang menyadari kehadiran orang lain di belakang tubuhnya seketika berbalik cepat.
"La Roisa? Kau masih hidup lagi? Ku pikir tadi--" Xilondra tidak meneruskan ucapannya, justru ia malah berjalan mundur perlahan. Melihat tatapan dari sorot kedua mata wanita di hadapannya yang sangat menyeramkan. Sungguh, aura membunuh itu terlihat kentara sekali dari raut wajahnya.
"Huh! Kau pikir aku akan mati semudah itu! Mimpi! Kali ini, seranganku tidak akan meleset lagi. Dan kupastikan, kau akan berakhir di sini malam ini. Ucapkan selamat tinggal pada kekasihmu itu!" teriak La Roisa, seraya kembali melempar serangan tak kasat mata.
"Sial!" Xilondra hanya bisa terbelalak, ketika sepasang matanya menangkap sebuah cahaya berwarna jingga melesat ke arahnya dengan begitu cepat.
Apa ini akhir dari hidupku? Ibu ... Sania ... maaf ...
Arghh!
__ADS_1
Sebuah lengkingan kencang terdengar hingga memekakkkan telinga. Disertai suara benturan dari tubuh yang menghajar tanah keras berbatu.
___________
"Tidakkk!"
Sania terbangun dari tidurnya dengan sebuah teriakan tanpa sadar yang ia keluarkan begitu saja. Keringatnya bercucuran turun membasahi pelipis hingga ke lehernya yang jenjang.
Napasnya terengah-engah. Seperti baru saja lari marathon satu kilometernya. Tatapannya kosong, namun perlahan air mata itu lirih membasahi pipinya yang pucat.
"Xi ...! Apa kau bener sudah tiada? Kenapa kau tidak kembali? Beri petunjuk padaku, Xi. Jika kau ada di sini. Aku tidak mungkin terjebak pernikahan yang menyeramkan ini Xi. Maafkan aku ...!" Sania memekik kencang. Penyesalannya merasuk hingga ke tulang.
Mimpinya untuk merasakan kebahagiaan di dalam pernikahan pupus sudah. Karena pria yang menikahi bukanlah sosok yang ia cintai dan dia inginkan. Melainkan sosok pria kejam yang sama sekali tidak memiliki hati.
Sania terlihat memeluk kedua lututnya, yang dinaikkan sebatas dada. Kemudian yang memberi remasan kencang pada kepala menggunakan kedua tangannya.
"Xi. Maafkan aku. Rasa cinta ini masih ada untukmu dan selalu hanya untukmu. Aku, tidak bisa lagi menjaga tubuh ini. Aku sudah milik orang lain, Xi!"
Sementara di tempat lain. Di dalam kamar bernuansa tempo dulu. Prita juga tengah menangis terisak.
"Putraku. Apa yang terjadi padamu, Nak? Ibu mohon kembalilah. Meksipun itu hanya jasadmu!" Prita mencengkeram ujung seprai, tangisnya meraung-raung di dalam kamarnya seorang diri. Para pembantunya hanya menahan sesak ketika mendengar teriakan dari majikan mereka di balik pintu.
"Kasian, Ibu. Di balik ketegarannya. Beliau sangatlah rapuh. Hatinya begitu berharap jika Pak kepala desa kembali," ucap salah satu pelayan yang paling tua diantara mereka.
...Bersambung...
__ADS_1