
"Apa yang, Ale lihat? Boleh Mommy tau?" Vynnitta mendudukkan dirinya di samping tempat tidur. Bayi laki-laki yang baru berumur delapan bulan itu ia pangku. Terlihat Alessia sang kakak, menggodanya dengan menarik empeng yang ada di dalam mulut bayi bule itu.
"Sayang, jangan ganggu adikmu. Jawab, pertanyaan Mommy," ucap Vynnitta lagi, seraya melerai aksi Alessia. Gadis berusia sembilan tahun itu, tertawa geli ketika sang adik berteriak marah.
"Ale!" tegur Vynnitta. Agak geram memang. Karena semenjak punya adik, entah kenapa Alessia menjadi anak perempuan yang jahil.
"Paman Xi. Sepertinya di buang ke sebuah sumur yang ternyata merupakan sebuah portal ke alam lain, Mom. Paman Xi, sakit dan tidak bisa membuka mata dalam waktu yang lama. Tapi, semalam, Ale melihat sekujur tubuh paman di kelilingi sinar terang berwarna biru," tutur Ale, detil. Gadis itu menatap serius ke arah Vynnitta.
"Lalu, Bagaimana? Apakah pamanmu itu bisa kembali?"
"Semua tergantung, Paman. Tapi, Ale yakin jika kita pasti akan bertemu lagi dengannya. Karena, Paman masih punya hutang sama aku," ucap Ale dengan senyum. Vynnitta menghela napasnya lega. Ia mencoba berpikir positif dari apa yang ia dengar melalui putrinya ini.
"Ya sudah, sekarang Ale istirahat." Vynnitta mengecup kening dan pipi putrinya itu. Ia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh. Seharusnya, Franklin sudah pulang. Tak biasanya begini.
"Mommy jangan khawatir. Daddy tampan pasti pulang. Apapun alasan Daddy nanti, percaya saja oke!" seru Alessia. Putrinya ini seperti paham saja masalah orang dewasa. Terkadang, dialah yang menjadi pendingin di saat hubungannya dengan Franklin memanas.
"Iya baik, tuan putri. Hamba menurut saja," seloroh Vynnitta. Kebetulan bayi di dalam gendongannya juga sudah mulai menggeliat.
"Baby Jo, juga sudah mengantuk ya? Oke kita ke kamar." Vyn menutup pintu kamar putrinya dan melangkahkan kaki menuju kamar bayi mungilnya ini.
"Ha ... kita sudah di kamarmu, Baby Jo. Lihatlah!" Vynnitta terlihat memutar mainan yang menggantung di atas tempat tidur bayi yang terbuat dari kayu itu. Setelah meletakkan Baby Jo, Vynnitta segera membersihkan dadanya. Kemudian ia bersiap untuk menyusui bayinya itu.
"Bobo aja ya, gak usah nungguin Daddy. Besok baru ketemu sama Daddy tersayang. Sekarang, Baby Jo sama Mommy aja ya," ucap Vynnitta, memberikan sugesti pada bayinya tersebut agar tidak rewel karena, sang Daddy belum pulang. Inilah yang membuatnya resah. Baby Jo telah terbiasa tidur dalam gendongan suaminya itu.
Frank, cepatlah pulang. Kau dimana? Baby Jo semakin rewel saja.
__ADS_1
Vynnitta terlihat kewalahan menimang Baby Jo yang terus menangis. Bahkan bayi itu tidak mau menghisap sumber makanannya. Tangisan bayi itu semakin kencang, Vynnitta khawatir justru akan mengganggu tidur Alessia. Sebab, itu ia memutuskan membawa Baby Jo ke kamarnya yang kedap suara.
"Hei sayang. Ini sudah di kamar, Mommy–daddy. Mimi lagi ya, setelah itu bobo. Ayo, ini sudah malam sayang. Nanti, Joy bisa demam lagi kalau menangis terus," ucap Vynnitta seakan merengek pada bayinya. Berbeda sekali ketika ia mengasuh Alessia kala itu. Karena putrinya sangat tenang, Alessia begitu pengertian jika ia memang mengurusnya sendirian.
Di saat Vynnitta tenggelam dalam kebingungan menghadapi putranya yang terus menangis sambil berteriak ini. Pintu kamar terbuka. Kini tampaklah sosok yang mereka berdua nantikan sejak tadi.
"Maaf. Aku cuci tangan dulu. Sebentar!" Franklin. langsung berlari ke kamar mandi. Ia membuka pakaiannya cepat lalu mandi juga dengan cepat. Sekitar lima menit kemudian terlihat ia berlari ke dalam walk in closed. Lalu, mengeluarkan piyama tidur. Memakainya asal dan langsung menghampiri bayinya yang menangis itu.
"Sini, biar Baby Jo aku yang gendong," pinta Franklin, seraya menatap Vynnitta dengan tatapan penuh sesal.
"Sayang, ini Daddy. Jo jangan menangis lagi," ucap Franklin seraya melabuhkan ciuman demi ciuman ke seluruh permukaan wajah putranya itu. Ajaib, Jo berhenti menangis seketika. Bayi itu tak lama terlelap sambil mengenggam ibu jari milik Franklin yang besar itu.
"Letakkan saja di ujung sana. Biar Jo tidur sama kita ya," ucap Vynnitta dengan berbisik.
"Iya sayang, aku tidak masalah. Tapi, ini dia belum pulas benar. Nanti saja sekitar sepuluh menit lagi," sahut Franklin dengan berbisik juga kearah istrinya itu.
"Aku sudah makan tadi bersama klien. Apa kau tidak baca chat dariku?" bisik Franklin masih tetap mendekap baby Jo.
Vynnitta menghela napas dan menggeleng. Jangankan sempat memang ponsel. Makan saja dirinya belum sempat. Karena baby Jo tak mau lepas dari gendongannya.
"Tunggu sebentar." Franklin pun meletakkan bayi mereka di tempat tidur. Menjaganya dengan meletakkan guling di sisi kanan dan kirinya. Kembali, Franklin menghampiri Vynnitta yang berdiri di dekat pintu sambil menatapnya penuh arti.
"Maaf, kamu pasti belum makan. Aku temani, dan aku yang akan melayanimu," ucap Franklin seraya menuntun Vynnitta menuju ruang makan.
"Sudah, Frank. Tak perlu melayani ku. Lagipula, aku terbiasa makan lauk dingin," tolak Vynnitta ketika Suaminya itu hendak menghangatkan makanan. Mereka tak mau membangunkan pelayan hanya untuk hal kecil begini.
__ADS_1
"Duduklah. Dan biarkan aku bekerja." Franklin mendudukkan Vynnitta, di kursi. Ia memulai aksinya. Gak peduli meskipun lelah mendera setiap sendi tubuhnya. Melihat putranya dan Vynnitta, memuat tenaganya seakan full lagi.
"Maaf, telah membuatmu kerepotan sendirian. Sampai tak sempat makan begini," ucap Franklin mengulang penyesalannya berulangkali.
"Aku akan memaafkan mu, jika kau mengajak kami jalan-jalan," celetuk Vynnitta.
"Oke, deal! My Young Majesty!" ucap Franklin dengan penghormatan ala bangsawan. Hal itu lantas membuat Vynnitta terkekeh di sela suapannya.
___________
"Apa ada syarat gila lainnya, selain menunggu purnama ada dua." Xilondra bertanya serius pada kepala suku yang teramat cantik itu, sembari menahan geram.
"Tentu saja. Karena untuk melihat purnama si sini kau harus bermalam di pondok Limas Beling," jawab La Roisa.
"Antarkan aku ke sana segera. Ku mohon!" pinta Xilondra. Karena ia ingin cepat pulang ke desanya. Ada dua wanita yang ia pikirkan. Yaitu, Ibu, wanita yang melahirkannya dan Sania, Wanita yang membangkitkannya dari keterpurukan cinta.
"Jangan terburu-buru. Kau bisa ikut aku."
"Kenapa harus ikut anda?"
"Karena--" La Roisa memasang seringai yang tak dapat di artikan.
"Katakan." Xilondra saat ini menahan emosi yang benar-benar hampir tak dapat ia kuasai lagi. Demi apapun ia merasa jika La Roisa tengah menjebak dan mengerjainya.
"Karena itu tempat tinggal La Roisa. Dan, dalam satu malam kau harus menemaniku tidur. Jika, sampai pagi kau mampu menahan hasratmu. Maka, aku akan segera memulangkan mu di lokasi bulan purnama manjadi dua," bisik La Roisa dekat di telinga, Xi.
__ADS_1
...Bersambung ...