Perjaka Mengejar Cinta Janda

Perjaka Mengejar Cinta Janda
Bab. 22. Menolong Alessia.


__ADS_3

Bungkusan berisi manisan milik Sania melayang dan terlempar ke tanah hingga berceceran. Sementara, tubuh Sania terguling ke tepi sembari memeluk bocah perempuan.


Pengendara motor yang kehilangan kendali tersebut pun menabrak besi papan reklame. Sang pengemudi terpental jauh dari kendaraannya.


Franklin dan Vynnitta pun berlari menghampiri Alessia. Sania membuka pelukannya, tersenyum ketika bocah perempuan itu selamat tanpa luka.


"Ale, putri Mommy!" pekik Vynnitta seraya meraih tubuh putrinya itu dengan sebelah tangan. Karena tangan yang satunya lagi sedang menggendong baby Jo.


Franklin mengeraskan rahangnya. Setelah tau sang putri selamat. Ia pun mendekati sang pengendara motor yang sudah dikerubuti banyak orang.


Franklin merangsek kerumunan, dan meraih pria yang terduduk lemas itu. Sepertinya pemuda itu mabuk.


"Anak muda sialan! Kau akan ku jebloskan ke dalam penjara!" teriak Franklin di depan wajah pemuda ceroboh tersebut. Lalu, kembali menghempaskan raga pemuda itu ke atas aspal. Franklin pun menghubungi Jhonny sang asisten. Memerintahkan kaki tangannya itu agar menghubungi polisi.


Tak lama kemudian. Beberapa aparat datang menggunakan mobil patroli dan pickup. Pemuda tersebut pun di gelandang tanpa perlawanan. Meskipun, di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka-luka.


Orang-orang yang berkerumun pun langsung di bubarkan. Seorang petugas terlihat menghampiri Franklin. "Apa anda dan keluarga ada yang terluka?" tanya petugas tersebut.


Franklin menengok sekilas kearah keluarganya. Kemudian kembali menatap sang petugas. "Tidak ada, Pak. Ada penolong yang menyelamatkan putri saya. Mungkin keadaannya hanya luka kecil. Kami bisa mengatasi ini sendiri," terang Franklin.


Petugas tersebut pun mengangguk, kemudian pamit untuk meninggalkan lokasi. Keduanya berjabat tangan. Sang petugas berjanji akan menyelesaikan tugas dengan baik. Ia tau siapa pria yang sedang ia hadapi saat ini.


Franklin kembali menghampiri sang putri yang kini sudah duduk di pinggir trotoar. Bersama wanita berambut ikal panjang dengan lesung pipi dan dagu yang sedikit terbelah.


"Siapapun anda. Saya, mengucapkan terimakasih banyak. Karena, anda telah menyelamatkan putri saya," ucap Franklin seraya menundukkan kepalanya. Sania pun berdiri dan melakukan hal yang sama. Ia terlihat memegangi siku sebelah tangannya.


Alessia ikut berdiri di sebelah Sania, ia memandangi wajah sang papa dan kemudian Franklin berlutut. Alessia menghambur ke pelukan sang Daddy.


Tak lama Ale melepas pelukannya. Ia kembali menoleh pada Sania, lalu beralih pada Franklin lagi. " Dad, kakak itu terluka karena Ale. Kita harus mengobatinya," ucap gadis kecil itu. Napasnya masih sedikit memburu. Karena Ale sempat syok atas apa yang terjadi barusan.

__ADS_1


"Berikan obat yang Ale bawa," titah Franklin. Namun, putrinya itu menggeleng dengan wajah penuh penyesalan. "Kenapa?" sambung Franklin.


"Obatnya bercecer di jalan. Karena tas Ale sobek," jawabnya lesu.


"Saya tidak apa-apa? Hanya sedikit tergores dan terkilir. Adik cantik tidak perlu khawatir, ya," ucap Sania seraya memasang senyumnya. Namun, Vynnitta ikut berdiri dan berbicara.


"Kami harus mengobati lukamu. Kau seperti ini karena menyelamatkan putri kami. Ikutlah. Rumah kami sudah dekat dari sini. Aku akan mengobatimu di sana," tawar Vynnitta, mengajak Sania untuk ikut.


"Ah, itu--" Belum Sania meneruskan ucapannya, seorang pria tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Nyonya, ternyata anda di sini," ucap Bing dengan napas tersengal-sengal. Karena sang ajudan itu berlari mencari keberadaan Sania sejak tadi.


"Sepertinya saya harus kembali. Saya, sungguh tidak apa-apa. Percayalah. Karena


yang terpenting, adik kecil baik-baik saja," ucap Sania tak luput menampilkan senyumnya yang manis.


"Aku, Sania. Tempat tinggalku di desa. Dan, itu masih sangat jauh dari sini. Mungkin, kalian tidak pernah mendengarnya. Karena, desaku tidak terkenal meskipun, tempatnya sangat indah," jelas Sania.


"Benarkah? Kami juga pernah tinggal di suatu desa yang bahkan tidak banyak diketahui oleh banyak orang," ungkap Alessia. Membuat Sania mengernyit dan kemudian tersenyum.


"Nyonya!" panggil ajudan Bing lagi. Mengingatkan Sania bahwa perjalanan mereka harus segera di lanjutkan agar tidak terlalu kemalaman.


"Mungkin, lain kali kita bisa mengobrol. Tapi, pada saat ini aku harus segera kembali. Perjalan kami masih sangat jauh. Senang bertemu denganmu anak manis," ucap Sania berpamitan pada Alessia. Sehingga, ia mendapat pelukan erat dari gadis kecil itu.


"Tolong catat nomer ponselmu di sini?" pinta Vynnitta seraya menyodorkan benda pipih tersebut. Sania pun langsung mengambilnya. Ia terlihat dengan cepat menekan beberapa angka.


"Aunty Sania, bolehkan aku memanggilmu seperti itu?" tanya Alessia.


"Tentu saja sayang. Semoga kita bisa bertemu lagi. Dan, jangan sungkan jika ingin menghubungiku," ucap Sania dan ia pun pamit pada semuanya.

__ADS_1


"Kami pasti akan menghubungimu!" teriak Vynnitta dengan seulas senyum di bibirnya yang sensual itu. Ia tak menyangka masih bisa menemukan wanita cantik yang heroik dan santun. Ia teringat dengan dirinya beberapa waktu yang lalu. Ketika masih bebas bergerak dan energik. Tidak seperti sekarang yang bagikan induk koala. Kemana-mana menggendong baby Jo.


"Aunty Sania sangat baik. Dia juga cantik, Mommy," ucap Alessia. Sehingga lantas diangguki dengan cepat oleh Franklin.


"Hei, kenapa ekspresimu seperti itu!" seru Vynnitta pada suaminya itu. Membuat Franklin seketika gusar. Padahal ia hanya mengiyakan penilaian dari putrinya itu.


"Sudah. Ayo kita pulang!" Franklin pun menggandeng putri dan juga istrinya itu untuk menyebrang. "Kau tetap yang paling cantik," bisik Franklin ketika mereka telah sampai di sisi mobil.


Kendaraan yang dikemudikan oleh ajudan Bing, melaju dengan kencang.


Sania mengeluarkan sebuah kantung yang berisikan obat dari hasil racikannya sendiri. Ia menelannya dengan seteguk air. Berharap rasa nyeri di punggung dan lengannya akan berangsur membaik. Karena, obat racikannya itu lumayan manjur. Ia telah merasakan khasiatnya ketika di pukuli oleh Trevino di malam pernikahan mereka. Kali tidak ada obat ini mungkin, Sania tidak akan kuat bangun selama tiga hari.


Sebelum ngebut, Bing telah meminta ijin pada majikannya. Karena ia tak mau sampai ke desa terlalu malam. Bing, masih percaya akan tahayul mengenai mitos tentang hutan Jatiwarna. Karena, ia ingin mengambil jalan pintas. Dan itu harus di lalui ketika hutan masih di lewati oleh sinar matahari.


Mereka pun akhirnya sampai di perbatasan desa Cenderawasih ketika senja mulai menguning di ufuk barat. Bing, akhirnya dapat menghembuskan napas lega sekarang. Karena ia berhasil sampai dengan aman dan selamat.


"Maaf, Nyonya. Anda baik-baik saja kan?" Bing menoleh kebelakang sebelum ia keluar dari mobil.


Pria ini sekarang terlihat ramah padaku. Tidak seperti waktu pertama kali ingin berangkat ke kota. Apa dia sudah tau posisinya saat ini? Dasar penjilat!


Sania hanya bisa bergumam dalam hati. Tak lama, jantungnya berdentum kembali.


Aku sudah kembali lagi ke desa ini. Apa yang kulihat pada saat itu adalah nyata? Apakah, Xilondra sudah kembali?


Sania terdiam. Berbagai pertanyaan menyelimuti kepalanya. Hingga, Bing menyentak kesadaran dirinya seketika.


"Mari, Nyonya?" ucap Bing seraya membukakan pintu mobil.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2