
Empat pria berwajah sangar menatap Cassandra tatapan mesum membuat Cassandra menahan amarahnya.
"Nona ikutlah dengan kami dan kami jamin kalau kami akan memuaskan Nona." ucap salah satu pria tersebut.
"Apakah kalian mampu membuatku puas sedangkan aku yakin kalau adik kalian pasti kecil dan bisa dipastikan semua wanita tidak ada yang puas." Ucap Cassandra sambil tersenyum menyeringai.
"Dasar wanita ja x lang, serang wanita mu x ra x han itu!" perintah salah satu pria tersebut.
Ke empat pria tersebut langsung menyerang Cassandra sedangkan Cassandra membalas dan menghindar dari serangan mereka. Perkelahian yang tidak seimbang satu lawan empat pria sangar tersebut.
Hingga hampir lima belas menit kemudian Cassandra mulai terdesak karena ke empat pria sangar tersebut bisa bela diri.
Bugh
"Akhhhhhhhh..." Teriak Cassandra.
Grep
Salah satu dari pria tersebut berhasil memukul punggung Cassandra membuat Cassandra nyaris jatuh ke depan jika saja tidak ada tangan kekar yang memeluk tubuhnya.
"Beraninya sama seorang gadis, ayo lawan aku." Ucap seorang pemuda tampan sambil menahan amarahnya dan menatap tajam ke arah ke empat pria tersebut.
Deg
Jantung Cassandra berdetak kencang ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya membuat Cassandra memalingkan wajahnya ke arah samping.
Cup
Deg
Deg
Cassandra tanpa sengaja mengecup pipi pemuda tampan tersebut karena wajah mereka nyaris berdekatan. Jantung ke duanya berdetak kencang ketika Cassandra tidak sengaja mencium pipi pemuda tampan tersebut.
"Maaf." Ucap Cassandra sambil menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang memerah.
"Tidak apa-apa." Jawab pemuda tampan tersebut sambil tersenyum dan menatap wajah cantik yang selalu dirindukannya.
__ADS_1
Cassandra tanpa sengaja melihat salah satu dari mereka membawa pisau dan diarahkan ke pemuda tampan tersebut.
"Kak Saka, awas!" Teriak Cassandra.
Ya pria itu adalah Saka, ketika Saka dalam perjalanan menuju ke perusahaan tanpa sengaja melihat seorang gadis di keroyok oleh empat pria berwajah sangar.
Entah kenapa biasanya Saka tidak pernah turun tangan karena Saka akan menghubungi anak buahnya untuk memberikan bantuan jika ada orang di serang.
Jleb
Cassandra yang melihat Saka dalam bahaya langsung memeluk tubuh Saka membuat Saka membatu. Cassandra langsung membalikkan tubuhnya sambil masih memeluk Saka agar Cassandra yang terkena luka tusukan.
"Akhhhhhhhh." Teriak Cassandra.
Saka yang awalnya terpesona melihat wajah cantik Cassandra di tambah tubuhnya membatu ketika gadis yang disukainya dalam diam memeluk dirinya langsung tersentak ketika mendengar teriakan peringatan dan teriakan kesakitan Cassandra membuat Saka tersadar.
Grep
Saka langsung membalas pelukan Cassandra dengan menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya dan kaki kanannya menyerang ke empat pria tersebut.
"Saka, bawa putriku Cassandra ke rumah sakit bersama ponakanku Edward." Ucap Daddy Aleandro.
"Baik Paman." Jawab Saka dan Edward bersamaan.
Saka menggendong tubuh Cassandra ala bridal style menuju ke arah mobilnya mengikuti langkah Edward.
"Aku yang mengendarai mobil, Kak Saka mobilnya itukan?" Tanya Edward sambil menunjuk ke arah mobil Saka.
"Benar." Jawab Saka singkat.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian Edward membuka pintu mobil dengan lebar agar Saka masuk ke dalam mobil.
Kini Saka duduk di kursi belakang pengemudi sedangkan Edward duduk di kursi pengemudi. Edward mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit.
'Kenapa kamu menjadikan tubuhmu sebagai tameng? Seandainya saja kamu tidak lakukan itu sudah pasti kamu tidak akan terluka seperti ini. Lebih baik aku yang terluka dari pada kamu yang terluka.' Ucap Saka dalam hati.
Dua belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit milik keluarga besar Alexander. Salah satu sekuriti langsung membuka pintu dengan lebar agar Saka keluar sambil menggendong Cassandra.
__ADS_1
Tepat di dekat pintu mobil telah menunggu dua perawat sambil membawa brangkar. Saka meletakkan perlahan tubuh Cassandra yang mulai dingin kemudian dua perawat tersebut langsung mendorong brangkar dengan langkah cepat menuju ke arah UGD.
Kini Saka berada di ruang tunggu sambil menatap ke arah pintu UGD sambil sesekali mengusap wajahnya dengan kasar.
'Seandainya saja tadi aku tidak terpesona? Seandainya saja tadi aku bisa menguasai perasaanku karena pipiku di cium oleh Cassandra? Seandainya saja tadi aku tidak membatu ketika Cassandra memelukku? Pasti Cassandra baik-baik saja saat ini." Ucap Saka dalam hati yang penuh dengan pertanyaan seandainya.
"Saka, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mommy Cantika dan Mommy Karen yang tiba-tiba datang dan berjalan ke arah Saka.
"Saka tidak tahu apa yang terjadi tapi ketika tadi Saka dalam perjalanan menuju ke kantor tidak sengaja melihat ada seorang gadis sedang bertarung dengan empat orang dan ternyata gadis itu adalah Cassandra. Saka langsung membantu Cassandra hingga akhirnya Cassandra terkena luka pisau." Jawab Saka yang sengaja tidak menceritakan secara detail.
"Semoga saja Cassandra baik-baik saja." Ucap Mommy Cantika penuh harap.
"Amin." ucap Mommy Karen dan Saka bersamaan.
Tidak berapa lama datang Mommy Cantika bersama suaminya Daddy Aleandro dan keluarga besar Aleandro.
"Apakah sudah ada kabar tentang putriku?" Tanya Mommy Cantika dengan wajah kuatir.
"Belum ada, semoga saja baik - baik saja." Ucap Mommy Karen.
"Amin." Jawab mereka bersamaan.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Daddy Aleandro.
"Waktu Saka dalam perjalanan melihat ada seorang gadis berkelahi dengan empat pria dan Saka menolongnya hingga akhirnya Cassandra terluka." Jawab Saka.
"Apakah sudah tahu siapa pelakunya?" Tanya Daddy Sebastian sambil menahan amarahnya karena telah berani mengeroyok seorang gadis terlebih gadis tersebut sudah di anggap putri kandungnya.
"Belum tahu, mereka di tembak oleh penembak jitu dan penembak jitu sebagian berhasil kabur dan sebagian berhasil kami tembak. Waktu kami bertanya dia memilih bungkam dan langsung bunuh diri." Jawab Daddy Aleandro.
"Seandainya saja Cassandra tidak menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya hal ini tidak akan terjadi. Aku merasa sangat bersalah karena lengah untuk membaca lawan." ucap Saka.
"Jangan merasa bersalah, putriku memang seperti itu tidak bisa melihat orang terluka. Lebih baik dirinya terluka asalkan orang lain baik-baik saja." Jawab Daddy Sebastian.
Mereka pun saling diam sedangkan Saka hanya menatap ke arah pintu UGD dengan perasaan yang tidak menentu hingga dua jam kemudian pintu UGD terbuka. Mereka pun berjalan ke arah pintu tersebut dan melihat seorang dokter berjalan ke arah mereka.
"Bagaimana keadaan putri kami Dok?" Tanya Mommy Cantika dengan perasaan kuatir begitu pula dengan yang lainnya.
__ADS_1