
"Hanya memelukmu sebentar." Jawab dokter Seka.
Catherine terdiam hingga beberapa saat dokter Seka melepaskan pelukannya kemudian mengecup kening Catherine.
"Tunggu di sini, jika haus minumlah gelas milik Kakak yang ada di meja." Ucap dokter Seka sambil melepaskan pelukannya kemudian berjalan ke arah lemari pakaian.
"Ok." Jawab Catherine singkat.
Dokter Seka memakai jas dokter kemudian pergi meninggalkan Catherine sendirian di ruangannya. Catherine yang bingung mau melakukan apa-apa hanya berjalan-jalan melihat ruangan dokter Seka hingga dirinya melihat dua pigura yang berada di dalam ruangan kaca.
Catherine melihat pigura pertama di mana ada foto dokter Seka bersama keluarganya namun ketika melihat pigura yang ke dua membuat mata Catherine membulat sempurna. Betapa tidak dirinya melihat foto dirinya waktu menghadiri pernikahan adik kembarnya dokter Seka yang bernama Saka.
"Kenapa fotoku ada di sini?" Tanya Catherine sambil membuka lemari kaca tersebut.
Catherine tanpa sengaja membalikkan pigura tersebut dan melihat ada tulisan membuat Catherine membuka pigura tersebut untuk membaca tulisan dokter Seka.
"Aku penasaran, Kak Seka menulis apa di balik fotoku." Ucap Catherine sambil membaca tulisan dokter Seka.
"**Baru pertama kali melihatnya aku sudah jatuh cinta tapi sayang Catherine sudah memiliki kekasih. Aku hanya bisa memendam perasaanku karena aku bukan pria yang suka merebut milik orang lain."
"Terpaksa aku harus melupakan Cinta pertamaku**."
"Aku bersama kekasihku? Waktu pertama kali kita bertemu ..." Ucap Catherine menggabungkan kalimatnya sambil mengingat masa lalu.
Catherine berusaha mengingat hingga beberapa saat kemudian dirinya baru ingat ketika kakak sepupunya masuk ke dalam kamar dan melihat dirinya dan dokter Seka berada di dalam satu kamar.
"Ya ampun, dia adalah Kakak sepupuku." Ucap Catherine setelah dirinya ingat.
"Kak Seka tidak tahu kalau pria itu adalah kakak sepupuku." Ucap Catherine sambil kembali merapikan pigura yang tadi dibongkarnya.
__ADS_1
Setelah selesai Catherine kembali meletakkan piguranya di dalam lemari kaca kemudian menutupnya.
"Sebenarnya aku juga mulai menyukai Kak Seka waktu pertama kali melihatnya tapi aku berusaha menghilangkan perasaan itu karena aku tidak ingin terluka untuk ke dua kalinya." Ucap Catherine.
Setelah puas melihat - lihat ruangan dokter Seka, Catherine duduk di sofa sambil melihat film dari YouTube hingga beberapa kali Catherine menguap hingga Catherine tiduran di sofa sambil masih menonton YouTube.
Pluk
Catherine yang tidak bisa menahan rasa kantuk tidur dengan pulas bersamaan ponselnya jatuh ke tubuhnya.
Ceklek
Tiga jam kemudian pintu di buka oleh dokter Seka, dokter Seka melihat Catherine tidur dengan pulasnya membuat dokter Seka perlahan menutup pintu ruangannya.
Dokter Seka langsung menggendong Catherine dan di bawa ke ruang pribadinya. Dengan perlahan dokter Seka meletakkan Catherine di ranjang kemudian menyelimuti nya.
Dokter Seka berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya hingga lima belas menit kemudian dokter Seka keluar dari kamar mandi bersamaan Catherine membuka matanya.
"Kak Seka, kenapa ada dikamarku?" Tanya Catherine dengan wajah terkejut sambil memegangi selimutnya dengan erat tanpa menatap dokter Seka.
"Coba lihat sekeliling kamar." Ucap dokter Seka sambil berjalan ke arah lemari pakaian.
Catherine menatap sekeliling ruangan di mana dirinya merasa asing hingga beberapa saat Catherine tersadar jika dirinya tadi tidur di sofa milik dokter Seka.
"Sudah ingat?" Tanya dokter Seka sambil membuka pintu lemari dan mengambil satu stell pakaian santai.
"Iya, tapi perasaan tadi aku tidur di sofa tapi kenapa aku tidur di sini?" Tanya Catherine sambil duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Kakak tidak tega melihatmu tidur di sofa karena itulah Kakak menggendongmu untuk tidur di ranjang Kakak." Jawab dokter Seka sambil berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"Selain aku tidur di ranjang Kakak, apakah ada gadis lain yang tidur di ranjang ini?" Tanya Catherine dengan nada cemburu.
"Tidak ada, hanya kamu tidur di sini." Jawab dokter Seka sambil menutup pintu kamar mandi.
Catherine yang melihat dokter Seka masuk ke kamar mandi membuat Catherine turun dari ranjang kemudian merapikan ranjang setelah selesai Catherine memungut satu persatu pakaian milik dokter Seka kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik putih khusus pakaian kotor untuk di cuci.
Setelah selesai Catherine berjalan ke arah ruang kerja bersamaan pintu kamar mandi terbuka membuat Catherine membalikkan badannya dan menatap wajah tampan dokter Seka.
"Terima kasih sudah merapikan ranjang dan pakaianku." Ucap dokter Seka ketika melihat ranjangnya rapih dan pakaian kotornya dimasukkan ke dalam kantong putih.
"Sama-sama, kita makan yuk aku lapar." Ajak Catherine yang tidak ingin berlama-lama di kamar berdua dengan dokter Seka.
"Mau makan di mana?" Tanya dokter Seka.
"Bagaimana kalau di kantin?" tanya Catherine.
"Ok." Jawab dokter Seka singkat.
'Kebetulan Catherine mengajakku keluar karena sejujurnya aku pengen sekali menerkam Catherine di ranjang ini dan kami melakukan hubungan suami istri.' sambung dokter Seka dalam hati.
Bagaimana pun dokter Seka adalah pria normal namun dirinya berusaha menahannya untuk tidak melakukan hal itu karena dokter Seka akan melakukan hal itu jika mereka resmi menikah.
'Aku tidak menyangka kak Seka bersedia makan di kantin karena aku pikir Kak Seka akan menolaknya.' Ucap Catherine dalam hati.
Mereka berdua keluar dari kamar pribadi dokter Seka dan berjalan ke arah pintu bersamaan ponsel miliknya berdering sekali membuat dokter Seka menghentikan langkahnya untuk mengambil ponselnya yang di simpan di kemejanya.
Dokter Seka membuka ponselnya dan membaca isi pesan tersebut kemudian menggenggam tangannya dengan erat menahan amarahnya sedangkan Catherine yang melihat dokter Seka menghentikan langkahnya kemudian menatap ke arah dokter Seka.
"Ada apa Kak?" Tanya Catherine dengan wajah sangat terkejut karena melihat wajah dokter Seka seperti menahan amarahnya.
__ADS_1
Baru kali ini dirinya melihat wajah dokter Seka sangat menyeramkan membuat Catherine berpikir apakah dirinya melakukan kesalahan hingga dokter Seka menahan amarahnya.
"Siapa yang menghubungi Kak Seka?" Tanya Catherine penasaran dengan isi pesan tersebut.