
"Karena akibat tendangan yang bertubi-tubi di tambah tangan Seka di injak membuat tangan Seka ada yang retak dan kata Katarina, Seka tidak bisa menjadi dokter lagi walau sudah di obati." Jawab dokter Seka dengan wajah sedih.
"Tapi tanganmu bisa digerakkan, kan?" Tanya Mommy Karen dengan wajah ikut sedih.
Mommy Karen sangat terpukul mendengar ucapan dokter Seka terlebih dirinya tahu kalau putranya sejak kecil bercita-cita ingin menjadi seorang dokter.
"Bisa Mom tapi untuk bekerja sebagai dokter Seka tidak bisa lagi dan Kata Katarina, Seka hanya bisa bekerja di perusahaan." Jawab dokter Seka dengan mata berkaca-kaca.
"Mommy tahu perasaanmu tapi kita tidak bisa mengubah apa yang sudah menjadi takdir kita. Mommy hanya berharap kamu kuat dan menerima apa yang sudah terjadi." Ucap Mommy Karen sambil mengusap bahu putra sulungnya.
"Iya Mom." Jawab dokter Seka.
Mommy Karen tahu kalau putranya saat ini sangat sedih walau bilang iya Mom tapi terlihat jelas kalau dokter Seka belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya tidak bisa lagi bekerja sebagai dokter.
"Mommy, ingin ke kantin sebentar." Ucap Mommy Karen sambil membalikkan badannya.
"Aku temani, kalian berdua Mommy tinggal sebentar." Ucap Mommy Amel sambil menatap ke arah dokter Seka dan Catherine secara bergantian.
"Baik Mom." Jawab dokter Seka dan Catherine bersamaan.
Mommy Karen dan Mommy Amel pergi meninggalkan mereka berdua di ruang perawatan.
"Kak Seka." Panggil Catherine dengan nada lirih sambil menatap dokter Seka dengan sendu.
"Ya." Jawab dokter Seka singkat.
"Seandainya saja saat itu Kak Seka tidak menjadikan tubuh Kakak sebagai tamengku pasti hal ini tidak akan terjadi. Seandainya saja saat itu aku pulang sendiri dan tidak di antar Kak Seka hal ini juga tidak mungkin terjadi." Ucap Catherine yang berandai-andai.
"Semua sudah terjadi dan tidak bisa di ulang lagi." Ucap dokter Seka.
"Apa yang harus aku lakukan Kak? Agar rasa bersalahku berkurang." Tanya Catherine.
"Maksudnya?" Tanya dokter Seka sambil menatap wajah cantik Catherine yang terlihat merasa bersalah.
"Gara-gara aku, Kakak tidak bisa lagi menjadi dokter. Aku ingin menebus rasa bersalahku dengan melakukan apapun demi Kak Seka." Jawab Catherine.
"Apapun yang aku minta akan kamu lakukan?" Tanya dokter Seka.
"Ya, apapun akan aku lakukan." Jawab Catherine dengan nada yakin.
"Jika aku minta ke dua tanganmu atau wajahmu cacat, kamu akan lakukan?" Tanya dokter Seka sambil masih menatap wajah cantik Catherine.
"Jika itu membuat Kak Seka bahagia akan aku lakukan bahkan jika Kak Seka meminta nyawaku maka akan aku berikan." Jawab Catherine.
"Kakak mana mungkin meminta itu." Ucap dokter Seka.
"Lalu Kakak minta apa?" Tanya Catherine penasaran.
"Kakak ingin kamu berhenti bekerja ketika kita sudah resmi menikah dan mengenai perusahaan milikmu aku akan yang mengelolanya bersama perusahaan milikku yang selama ini di urus oleh adik kembarku." Jawab dokter Seka.
__ADS_1
Catherine terdiam beberapa saat kemudian menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil berpikir apakah menuruti permintaan dokter Seka atau tidak.
"Jika kamu merasa keberatan Kakak tidak memaksa jadi lupakan apa yang tadi Kakak katakan." ucap dokter Seka dengan wajah penuh kecewa.
"Aku akan lakukan tapi dengan satu syarat." Ucap Catherine.
"Apa syaratnya?" Tanya dokter Seka.
"Jika ada masalah di perusahaan ataupun Kak Seka membutuhkan bantuan tolong katakan padaku agar aku bisa membantu kesulitan Kak Seka." Ucap Catherine.
"Baik Kakak setuju." Ucap dokter Seka.
"Boleh minta satu hal lagi?" Tanya Catherine.
"Boleh tapi jangan nambah." Jawab dokter Seka.
"Kenapa?" Tanya Catherine dengan wajah bingung.
"Duitnya kurang." Jawab dokter Seka.
"Duitnya kurang? Maksudnya?" Tanya Catherine dengan wajah bingung.
"Kalau nambah lagi kan nanti kurang duitnya." Ucap dokter Seka bercanda.
"Pffftttt hahahaha..." Tawa lepas Catherine.
'Aku paling suka melihatmu tertawa lepas.' Ucap dokter Seka dalam hati.
"Kak Seka lucu juga." Ucap Catherine.
"Baru tahu ya." ucap dokter Seka sambil tersenyum menatap wajah cantik Catherine.
Catherine lagi-lagi tersenyum menatap wajah tampan calon suaminya.
"Apa yang ingin kamu minta?" Tanya dokter Seka dengan wajah serius tidak seperti tadi dirinya bercanda.
"Aku ingin mulai sekarang dan seterusnya Kak Seka jangan sedih lagi karena tidak bisa lagi bekerja sebagai dokter karena aku tidak tega melihat wajah sedih Mommy Karen." jawab Catherine.
"Iya Kakak tidak sedih lagi asalkan kamu menuruti permintaan Kakak." Ucap dokter Seka.
'Terima kasih kamu sangat perduli dengan Mommyku dan terima kasih juga karena telah membuatku sadar untuk tidak bersedih lagi di depan Mommyku. Mengenai kamu menuruti permintaanku itu hanya akal-akalan aku saja.' Sambung dokter Seka dalam hati.
"Baik, aku akan turuti semua permintaan Kak Seka tapi jika seandainya Kak Seka selingkuh ataupun menemukan pengganti diriku maka aku akan pergi dari kehidupan Kak Seka." Ucap Catherine.
"Kakak tidak mungkin melakukan hal itu." Ucap dokter Seka.
"Aku percaya." Jawab Catherine sambil tersenyum.
Dokter Seka membalas senyuman Catherine hingga beberapa saat Mommy Karen dan Mommy Amel datang. Mommy Karen sangat senang melihat putra kesayangannya sudah tersenyum tidak seperti tadi. Dalam hatinya sangat bersyukur mempunyai calon menantu yang bernama Catherine.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan mereka berdua kalau Mommy Karen dan Mommy Amel mendengar semua percakapan mereka. Karena sejak tadi mereka berada di depan pintu untuk mendengarkan percakapan dokter Seka dengan Catherine.
Pernikahan Dokter Seka dengan Catherine
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepatnya hingga tidak terasa pula sudah satu bulan sejak kejadian pengeroyokan. Dokter Seka sudah tidak bekerja lagi sebagai dokter dan berganti berprofesi sebagai seorang CEO pemilik beberapa perusahaan yang diwariskan oleh Daddy Sebastian.
Kini dokter Seka dan Catherine mengadakan acara pernikahan yang sangat mewah karena mereka berdua sama-sama orang tuanya kaya raya namun lebih kaya keluarga besar Daddy Alvonso di mana Catherine sebagai salah satu cucu Daddy Alvonso.
Nanya tamu undangan datang silih berganti hingga empat jam kemudian pasangan pengantin baru Catherine merasa lelah membuat dokter Seka mengatakan ke orang tuanya kalau dirinya bersama istrinya ingin istirahat.
Setelah selesai berpamitan dokter Seka dan Catherine berjalan meninggalkan acara pesta pernikahan.
Skip
Kini mereka berada di kamar pengantin di mana Catherine sudah selesai mandi sedangkan dokter Seka sedang mandi.
"Haruskah aku memakai lingerie?" Tanya Catherine sambil menatap lingerie seksi tersebut.
"Demi Kak Seka." Ucap Catherine setelah beberapa saat terdiam.
Catherine menarik jubah handuk kemudian membuang jubah handuk secara asal kemudian memakai lingerie.
"Ini sih sama saja tidak pakai pakaian." Ucap Catherine sambil mengambil jubah handuk yang tergeletak di lantai untuk dimasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor berikut memunguti pakaian milik dokter Seka.
Catherine masuk ke dalam selimut kemudian memejamkan matanya untuk memberikan kejutan buat suaminya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dokter Seka keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah handuk dan melihat istrinya tidur dengan pulas membuat dokter Seka menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
'Padahal aku ingin merasakan malam pertama tapi yang ada istriku tidur. Sudahlah yang terpenting kita sudah menikah jadi kapan-kapan juga bisa melakukan hubungan suami istri.' Ucap dokter Seka dalam hati.
Dokter Seka berjalan ke arah ranjang kemudian masuk ke dalam selimut dan berbaring di samping istrinya. Baru saja dokter Seka memejamkan matanya Catherine memeluk pinggang dokter Seka.
Dokter Seka langsung membuka matanya dan melihat istrinya masih tidur membuat dokter Seka menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian kembali memejamkan matanya.
Baru saja memejamkan matanya tangan nakal Catherine yang awalnya memeluk pinggang dokter Seka perlahan turun hingga masuk ke dalam jubah handuk.
Hap
Tangan Catherine memegang tombak sakti milik suaminya kemudian membelainya dengan lembut membuat dokter Seka menahan tangannya sambil membuka matanya dan melihat istrinya tersenyum jahil.
"Istriku ternyata nakal juga ya." Ucap dokter Seka.
"Nakal sama suami boleh dong." Jawab Catherine.
"Harus sama suaminya." Ucap dokter Seka sambil melepaskan tangannya kemudian melempar asal selimutnya.
"Sayang ..." Panggil dokter Seka dengan matanya membulat sempurna.
__ADS_1