Perjalanan Cinta Dokter Seka Dan Mafia Saka

Perjalanan Cinta Dokter Seka Dan Mafia Saka
Tidak Bisa Menjadi Dokter


__ADS_3

"Kami menangkapnya bukan untuk di hukum tapi memberikan cctv kecil ke ponselnya, jam tangan dan perhiasan milik mereka. Setelah itu kami akan membebaskan mereka dengan memberikan satu syarat yaitu tidak mengusik keluarga kami dan jika mereka ternyata berbuat jahat maka kami tidak segan untuk menghukumnya." Ucap Mommy Laras menjelaskan maksud dari perkataan menangkap.


"Kalau begitu aku setuju." Jawab Mommy Karen.


Mereka pun mulai sibuk mengotak atik laptopnya lebih tepatnya bagian IT yang terdiri dari Mommy Laras, Mommy Karen, Alvonso, Daddy Alvian dan Max sedangkan Daddy Alvonso dan Daddy Sebastian hanya menatap mereka sambil sesekali mengobrol.


"Sebenarnya aku ingin belajar IT tapi melihat kode-kode di komputer itu membuatku pusing." Ucap Daddy Sebastian.


"Aku pikir aku saja ternyata kamu juga." Ucap Daddy Alvonso.


Daddy Sebastian dan Daddy Alvonso langsung tertawa bersama namun tiba-tiba mendapatkan tatapan tajam dari istri mereka siapa lagi kalau bukan Mommy Laras dan Mommy Karen.


Serempak Daddy Alvonso dan Daddy Sebastian langsung terdiam kemudian mengarahkan tangannya ke mulut mereka masing-masing seakan - akan mengunci mulut mereka, di mana jari telunjuk dan ibu jari disatukan sedangkan tiga jari lainnya di lipat.


Sungguh ingin rasanya Alvonso, Daddy Alvian dan Max ingin tertawa melihat Daddy Alvonso dan Daddy Sebastian tapi mereka berusaha untuk menahannya.


Mommy Laras dan Mommy Karen kembali mengotak atik laptopnya hingga lima belas menit kemudian Mommy Karen dan Mommy Laras berbicara bersamaan.


"Ketemu." Ucap Mommy Karen dan Mommy Laras bersamaan.


"Aku juga."Sambung Alvonso, Daddy Alvian dan Max bersamaan kemudian masing-masing mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke orang kepercayaan mereka.


"Mereka ada di mana?" Tanya Daddy Alvonso dan Daddy Sebastian bersamaan.


"Mereka dalam perjalanan menuju ke bandara dan sekitar lima menit mereka sudah sampai." Jawab mereka bersamaan.


"Mereka akan pergi negara mana?" Tanya Daddy Alvonso sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya.


"Ke Negara S." Jawab Mommy Karen, Mommy Laras, Alvonso, Daddy Alvian dan Max bersamaan.


"Kalau begitu Daddy akan menghubungi orang kepercayaan Daddy untuk menangkap mereka di bandara.


"Aku akan hubungi orang kepercayaanku untuk membatalkan penerbangan ke negara S selama satu jam agar mereka tidak bisa naik pesawat." Ucap Daddy Sebastian bersamaan dengan Daddy Alvonso hanya beda ucapannya.


"Tidak perlu paman." Jawab Alvonso, Daddy Alvian dan Max bersamaan.


"Kenapa?" Tanya Daddy Alvonso dan Daddy Sebastian bersamaan lagi.

__ADS_1


"Alvonso sudah mengirim pesan ke bagian bandara untuk menahan penerbangan ke negara S." Jawab Alvonso.


"Alvian sudah mengirim pesan ke Dennis dan Arlan untuk menangkap mereka di bandara." Sambung Daddy Alvian.


"Max, sudah mengirim pesan ke ke keluarga besar kita untuk mengosongkan bandara selama satu jam." Sambung Max.


"Good job." Puji Daddy Alvonso dan Daddy Sebastian bersamaan.


"Terima kasih." jawab ke tiga pria tersebut bersamaan.


"Kalau begitu, aku ingin melihat putriku dan calon menantuku." Ucap Daddy Alvian sambil berdiri.


"Aku juga." Sambung Daddy Sebastian sambil berdiri dan diikuti yang lainnya.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke ruang UGD. Dalam perjalanan menuju ke ruang UGD mereka bertemu dengan Mommy Amel istri dari Daddy Alvian sekaligus orang tua Catherine.


"Bagaimana keadaan putri kita Mom?" Tanya Daddy Alvian.


"Putri kita dan Seka tubuhnya lebam-lebam terlebih ada beberapa tulang Seka patah." Jawab Mommy Amel.


"Apa?" Pekik mereka bersamaan.


"Daddy, aku tidak ingin mereka mati dengan mudah karena aku ingin akulah orang yang terakhir menyiksanya." Ucap Daddy Sebastian.


"Ok." Jawab Daddy Sebastian.


Mommy Karen sebenarnya tidak tega jika mereka di siksa hingga berakhir kematian namun ketika mendengar putra sulungnya terluka membuat Mommy Karen membiarkan suaminya menghukum mereka.


Seandainya saja keluarga besar Alvonso datang terlambat sudah pasti dokter Seka terluka parah dan bisa saja berakhir dengan kematian.


"Tadi datang Katarina untuk memberikan obat ramuan ke Catherine dan Seka. Kata Katarina, Catherine sembuh dalam dua hari sedangkan Seka akan sembuh selama satu minggu." ucap Mommy Amel.


"Syukurlah, oh ya mereka sekarang ada di mana?" Tanya Mommy Laras.


"Mereka ada di ruang perawatan dan ruangannya disatukan atas permintaan Catherine dan Seka." Jawab Mommy Amel.


Mommy Laras menganggukkan kepalanya kemudian mereka berjalan ke arah ruang perawatan.

__ADS_1


Ceklek


Daddy Alvian membuka pintu dengan lebar kemudian satu persatu masuk ke dalam ruang perawatan di mana Alviana dan Katarina duduk di kursi dekat ranjang dokter Seka dan Catherine.


"Kebetulan pada datang, kami mau pulang dulu." Pamit Alviana dan Katarina.


"Tunggu sebentar, aku akan mengantar kalian pulang tapi aku ingin melihat ke dua ponakanku." Ucap Alvonso yang sudah menganggap dokter Seka sebagai bagian dari keluarga besar Daddy Alvonso.


"Ok." Jawab ke dua wanita tersebut.


Alvonso mengobrol dengan Catherine dan dokter Seka secara bergantian begitu pula dengan Daddy Alvonso dan Mommy Laras.


Setelah hampir dua puluh lima menit mengobrol Mommy Laras, Alvonso, Alviana dan Katarina berpamitan meninggalkan mereka di ruang perawatan. Daddy Alvonso menarik tangan Daddy Sebastian ke arah ujung pintu membuat Daddy Sebastian mengikuti langkah Daddy Alvonso tanpa banyak komentar.


'Aku ingin ke markas, apakah kamu mau ikut?' Tanya Daddy Alvonso sambil berbisik.


'Tentu saja ikut.' Jawab Daddy Sebastian yang ingin memberikan pelajaran.


Ke dua pria itupun berpamitan dengan istrinya masing-masing kemudian berlanjut berpamitan dengan Catherine dan dokter Seka.


"Aku ikut." Ucap Max yang tahu kalau mereka berdua akan pergi ke markas.


"Oke." Jawab Daddy Sebastian dan Daddy Alvonso bersamaan.


Akhirnya ke tiga pria itupun pergi meninggalkan ruang perawatan dan kini Mommy Amel duduk di kursi dekat ranjang Catherine sedangkan Mommy Karen duduk di kursi dekat ranjang dokter Seka.


"Masih ada yang sakit?" Tanya Mommy Karen dengan wajah sendu.


Hatinya seperti teriris melihat ke dua tangan dan ke dua kaki serta tubuh dokter Seka di balut perban seperti mumi. Seandainya saja kalau bisa dirinya bersedia menggantikan penderitaan putra kesayangannya.


"Seluruh tubuh Seka Mom, lumayan sakit." Jawab dokter Seka sambil tersenyum namun terlihat sekali kalau wajah dokter Seka sangat sedih.


"Kenapa kamu sedih? Apa yang kamu sembunyikan dari Mommy dan Daddy?" Tanya Mommy Karen.


Dokter Seka menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya setelah beberapa saat dokter Seka membuka matanya dengan mata berkaca-kaca.


"Seka sudah tidak bisa menjadi dokter Mom." Ucap dokter Seka dengan wajah sangat sedih karena dirinya sangat mencintai profesinya sebagai seorang dokter.

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa menjadi dokter?" Tanya Mommy Karen dengan wajah terkejut begitu pula dengan Mommy Amel.


__ADS_2