
Meyra adalah seorang wanita yang pekerja keras bahkan dirinya bekerja disebuah toko kue, Meyra bahkan tidak ingin merepotkan papahnya. Kemandirian dirinya membuat Meyra lebih dewasa. Tapi keras kepalanya yang selalu dia pertahankan, Keegoisan yang tidak bisa dia rubah.
Meyra hidup dengan papah dan adiknya bernama Seto. Mamah Meyra sudah meninggal karena sakit jantung.
Disebuah kampus yang terkenal Meyra senja kuliah disana mengambil jurusan Manajemen. Dia sangat tertarik dengan apa yang dia kerjakan. Hingga memilih jurusan ini.
"Bagaimana dengan tugas yang kemarin apa sudah kamu selesaikan? " tanya Meyra pada sahabatnya.
" sudah ko, tenang saja.. Sesudah kuliah apa kamu ada acara?" tanya Lisa.
"Memangnya kenapa Lis? tumben kamu bertanya" Meyra sambil menatap.
"Mey aku mau ajak temani aku cari baju dan kado untuk keacara ulangtahun calon mertuaku" sambil tersenyum.
"kapan acaranya? kalau pulang kuliah nanti aku gak bisa. kan kamu tau aku sibuk sama pekerjaanku" Meyra sambil menghela nafas.
"Besok malam Meyra.. Iya sudah kalau kamu tidak bisa" nada Lisa agak kecewa.
"Ya sudah besok saja aku temani, sekalian aku membeli sesuatu untuk adikku" balas Meyra.
"Baik lah" senyum Lisa.
ketika mereka sedang berbincang datanglah Dosen. Setelah lama mereka belajar akhirnya kelaspun berakhir.
"Lisa, aku laper makan dulu yuk" Meyra sambil menarik tangan lisa.
"Kamu kalau sudah tentang makan aja no 1" sambil tetawa.
"Aku tadi tidak sempat sarapan, karena aku mengalihkan pembicaraan papahku" Meyra sambil berjalan menuju kantin.
"Memang kenapa? apa masih bahas perjodohan ?"tanya Lisa penasaran.
__ADS_1
"Iya papah sudah rencana setelah selesai kuliah aku harus menikah."
"Kenapa memangnya? kamu kan masih muda."
"Papah slalu bilang ingin bahagiakan aku, apalagi dia kenal dengan anaknya teman papah aku" sambil kesal.
"Iya sudah coba aja dulu, kalau tidak cocok kamu bisakan menolak" memberi ide.
"Iya sudah nanti aku coba" sambil duduk dikantin.
Mereka pun makan sambil bericara tentang perjodohan. Dan Meyra pun langsung pulang menuju kantornya.
Setelah sampai dikantor.
"Meyra sudah selesai kuliahnya" tanya mba Nara.
"sudah mba, aku masuk dulu ya mau bekerja dulu" Meyra masuk kedalam kantor.
"Apa sudah selesai semuanya? ada yang bisa aku bantu mba?" tanya Meyra.
"Tidak usah Mey, semua sudah selesai tinggal tutup pintu saja" balas mba Rika.
"Baiklah, besok aku masuk terlambat ada keperluan" Meyra.
"Baiklah Meyra tidak apa-apa" senyum mba Nara.
"Aku pulang duluan ya mba Nara, mba Rika" pamit Meyra.
"iya hati-hati Meyra "
Setelah sampai dirumah. Meyra pun berjalan menuju anak tangga. Tapi seketika dia kaget mendengar suara papahnya.
__ADS_1
"Meyra, mau sampai kapan kamu pulang malam terus" sambil terlihat kesal.
"Maaf pah aku kan bekerja jadi aku harus pulang malam" sambil berjalan menuju papahnya.
"Papah tau kamu kerja, maksud papah kenapa kamu tidak bekerja dikantor papah saja. kamu kan bisa menggantikan papah kalau papah tidak ada nanti" sambil menatap Meyra.
"Papah ko bilang gitu, meyra gak suka ah. papah kan tau meyra gak mau nyusahin papah terus meyra mau mandiri pah."sambil menghela nafas.
"Meyra gak mau selalu bergantungan ke papah."
"Sayang, papah kerja buat anak-anak papah, semua papah lakuin buat bahagiain meyra sama Seto" sambil bersedih.
"Maaf pah bukan maksud Meyra" sambil memeluk.
"Setelah mamah kamu pergi papah cuma punya kalian, papah ingin kalian bahagia" sambil mencium kening Meyra.
"Aku tahu pah tapi meyra bahagia seperti ini" sambil tersenyum.
"Kamu tau alasan apa hingga ingin menikahkan kamu dengan teman papah?" tanya pak handoko sambil duduk disofa.
"Cuman ingin Meyra bahagia" sambil duduk menatap papahnya.
"Bukan, ini pesan terakhir mamahmu" sambil menteskan air mata.
"Memang mamah bicara apa pah ? Meyra ko gak tau" tanya Meyra.
"Mamahmu ingin kamu menikah dengan anaknya teman papah, karna dia pun teman mamahmu juga" sambil memegang tangan Meyra.
"Iya sudah kalau itu memang permintaan mamah, aku nurut pah" sambil tersenyum.
"Baiklah, nanti papah akan bicarakan dengan mereka."
__ADS_1
Akhirnya pun Meyra mengalah, mau tidak mau ini udah keinginan mamahnya. Mamah Meyra meninggal karna mempunyai sakit jantung yang sebelum menikah sudah mempunyai penyakit itu. karna papah Meyra sangat menyayanginya dia pun terima apa adanya. dan suatu hari papah Meyra harus kehilangan istrinya setelah Meyra berumur 18 tahun dan Seto 12 tahun.