
setelah berbelanja mereka pun pulang. Membawa beberapa kantong belanjaan yang telah diada didalam mobil. sesampai dirumah Meyra mengganti baju, lalu menemui mertuanya yang berada didapur.
"Mah, apa yang bisa aku bantu" mendekati
"kamu bantu mengocok kue saja, mamah akan mengaduk adonan ini"
"mamah sepertinya sering bikin kue ya?"
"iya, akhir-akhir ini mamah sering bikin karna mamah tidak ada pekerjaan jadi menutup waktu yang kosong" menatap Meyra
"mah, aku mau nanya sesuatu apa boleh? " berhenti sejenak mengocok kue lalu menatap Bu Lena
"silahkan bertanya saja, selama mamah masih bisa jawab" tertawa kecil
"apa Raka selalu bersikap dingin mah" Meyra menatap wajah Bu Lena yang kemudian mulai terdiam seperti tidak suka
"hmmz, iya Raka memang seperti itu.. Tapi dia sangat baik dan sayang kepada orang disekitarnya" tersenyum
"oh begitu mah, tapi aku merasa Raka ada sesuatu yang dia tutupi.. Seperti dia menutupi masalalu yang pahit"
"tidak ko sayang, Raka memang seperti itu.. Sudah lanjutkan saja, agar tidak terlalu sore" tertawa kecil
selesai membuat kue, Meyra pun menuju kamar untuk mandi dan menyiapkan semuanya karna Raka akan segera pulang..
Meyra begitu sangat cantik, wangi, dan terlihat anggun dimata semua orang yang berada diRumah tersebut.. Tetapi Raka hanya melihat Meyra seperti yang tidak ada artinya..
Mobil Raka berhenti didepan rumahnya lalu dia menuruni mobil.. Dengan sangat lelahnya dia menuju kamar..
"Aku sangat lelah hari ini, mungkin karna pekerjaanku kemarin tertunda" membaringkan badan ke kasur
"kamu sudah pulang, aku akan siapkan air untuk mandinya" mulai berjalan kekamar mandi Dan menyiapkan air hangat
lalu disusul Raka yang sudah melepaskan pakaiannya. Meyra pun kaget melihat Raka yang sudah berada dibelakangnya..
"airnya sudah siap, aku keluar dulu" menundukkan kepala
"terimakasih" lalu masuk kedalam air yang sudah disiapkan Meyra
Meyra pun menyiapkan pakaian lalu menyimpan diatas kasur. Raka pun keluar dengan memakai handuk, lalu memakai pakaiannya didepan Meyra.
__ADS_1
Tapi meyra hanya menundukan kepala sambil bermain handpone.
"bagaimana kegiatanmu dengan mamah" sambil memakai kan kancing
"tadi kami belanja bersama lalu membuat kue bersama" jawab Meyra
"apa kamu bisa cara bikin kue" senyumnya
"aku baru belajar dari mamah, kan selama ini aku tidak tau caranya" menatap Raka
"bagus kalau gitu" keluar menuju ruangan keluarga, diikuti oleh Meyra.
"kamu sudah pulang Raka" Bu Lena menatap Raka
"sudah mah, tadi habis mandi dulu" sambil duduk
"kalian gak ada kegiatan kan?" tanya Bu Lena dengan serius
"gak ada mah" balas Raka
"berarti kalian bisa untuk malam pertamakan" melirik Meyra
"kamu tidak usah berbohong sama mamah, apa salah mamah ingin punya cucu dari kamu" mulai sedih
"mamah, kalau sudah waktunya pasti dikasih mah" balas Meyra
"iya mamah tau, tapi kalian belum melakukannya kan" tegas Meyra
"maaf mah tapi Meyra belum siap" menunduk
"mamah gak mau tau kalian harus melakukannya" tegas Bu Lena
"mamah jangan terlalu ikut campur masalah keluargaku" Raka menatap tajam
"apa salah mamah ingin yang terbaik untuk kamu dan juga Meyra" sambil menangis
"maaf mah" mendekati mamahnya "Raka akan melakukannya untuk mamah" sambil menggenggam tangannya
"ya gitu mamah kan gak akan sedih lagi, mamah ingin melihat cucu mamah sebelum mamah meninggal" menatap Raka
__ADS_1
Jam makan malam pun dimulai, mereka menuju ruang makan lalu makan bersama. Revan yang hanya diam menatap Meyra. Meyra pun sedikit melirik Revan. tapi Revan menghargai kalau sekarang Meyra sudah menjadi istri kakaknya.
setelah makan malam selesai, semuanya mulai menuju ruang keluarga dan mulai berbincang-bincang.
"sayang, mamah sangat menunggu kehadiran cucu mamah" mengelus perut Meyra
"tapi mah Meyra masih kuliah, apa gak sebaiknya menunggu sampai kuliah selesai" menatap Bu Lena
"sayang, sebentar lagi kan kamu lulus, belum tentu kamu langsung mengandung.. karna semua butuh proses" menatap Meyra
"iya mah, nanti aku coba dulu" tersenyum
waktu pun sudah menunjukan waktu tidur. Semua bergegas menuju kamar masing-masing. Meyra mulai mengganti pakaian tidur lalu menuju kasur yang sudah berada Raka diatasnya.
"apa kamu tidak apa-apa jika aku melakukannya" mendekati Meyra, tanpa dipikir Meyra mulai mundur perlahan.
"maaf apa tidak sebaiknya nanti saja, aku masih belum siap" menunduk
"harusnya kamu siapkan diri kamu sebagai istriku" mulai marah
"maafkan aku, tapi.." Meyra pun terdiam
"sudah layani aku saja, apa kamu takut kalau kamu tidak perawan" menatap tajam
"aku masih menjaga kesucianku, tidak mungkin aku melakukannya jika belum menikah" tegasnya
"baiklah, maka lakukan sekarang untuk suamimu" mulai mendekati Meyra dan menarik tangan Meyra lalu memeluk dan membaringkan keatas kasur
Raka pun mulai melakukan pamanasan agar membuat Meyra tidak merakasan sakit.. Perlahan tapi pasti. Meyra hanya menangis tanpa mengeluarkan suara. Hanya diam dan menerima apa yang Raka lakukan kepadanya. setelah 2 jam melakukannya karna Raka sangat menyukainya dan melakukan berulang kali. Mereka pun tidur karna merasa kelelahan.
Keesokan harinya Meyra terbangun lebih awal melihat dirinya tidak memakai baju sama sekali lalu menutupi tubuhnya dengan memakai selimut berlari menuju kamar mandi.
Meyra menangis sejadi-jadinya agar tidak terdengar Meyra menyalakan air keran.
"kenapa dia melakukan ini padaku" teriak sambil menangis kecewa "kamu memang laki-laki egois"
Meyra pun lalu membersihkan dirinya, keluar hanya memakai handuk lalu pergi menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.
Dan melihat Raka yang masih tertidur pulas.
__ADS_1