
Raka yang tadinya tersenyum karna terhibur melihat kenangan bersama kekasihnya. Tiba-tiba dia membuka Folder yang ada dalam galerinya.
Terlihat jelas sekali, raut wajah Raka yang tersenyum berubah marah dan teriak karna begitu menyakitkan. Bagaimana tidak, Raka melihat dengan jelas pelukan kekasihnya dengan pria lain, lalu saat dia mencium pria lain bahkan berliburan bersama. Ternyata pria lain itu adalah kekasihnya Clarisa yang berada didalam mobil saat kecelakaan itu. Dia meninggal ditempat kejadian. Raka memperlihatkan kalau wanita yang sangat dicintainya menjadi pengkhianat. Dia selalu berbicara pada foto Clarisa dengan wajah marah.
"Kamu mengkhianatiku, setelah apa yang aku lakukan untukmu" teriaknya "apa kamu tidak memikirkan aku, aku yang sangat mencintaimu Clarisa. Aku selalu menunggu moment agar kau bisa menjadi istriku. Tapi semua berubah, kalau saja kau tidak dengannya kamu pasti masih hidup bersamaku" menangis sekeras kerasnya
"Aku tidak terima akan pengkhianatanmu, aku tidak akan percaya dengan wanita manapun, karna akan sama jika aku mencintainya pasti dia akan mengkhianatiku"
Lamunannya terbangun saat Meyra terbangun dari tempat tidur. Meyra hanya diam lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Apa aku berharap lebih dengan suamiku, apa salah aku menginginkan hatinya" Meyra mulai duduk dilantai lalu menangis "jika kamu tidak mencintaiku, untuk apa kita bersama"
Setelah mandi Meyra lalu menuju ruang keluarga tanpa menghiraukan Raka yang memang memperhatikannya.
"Dia mengapa, kenapa dia sangat cuek." Menghela nafas "apa perkataanku dengannya"
Meyra yang tidak seperti biasa dia banyak terdiam, tanpa banyak bicara. Keluarga Raka pun memperhatikannya.. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dipikiran mereka. Apa terjadi sesuatu pada Meyra dan Raka, apa mereka berantam atau.. Tidak aku tidak ingin keluarga anakku hancur. Raka harus memulai hidup baru dan melupakan Clarisa. Aku akan berusaha semampuku membuat Raka mencintai Meyra.
Raka yang baru datang hanya melihat Meyra, menatapnya. Kenapa dia sangat aneh. Meyra hanya menundukan wajahnya ketika makan, dan tidak berbicara hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan keluarganya. Setelah makan Meyra menuju kamar lalu membaringkan tubuhnya. Mengingat hal siang barusan, airmatanya mengalir. Rasanya sangat sakit, ada apa ini pertanyaan dia. Tidak mungkin aku mencintai dia, sudah cukup untuk tidak memiliki dia seutuhnya.
Raka yang memperhatikannya lalu mengikuti Meyra menuju kamar, mengintip dari balik pintu.
"Mengapa dia bersedih" menatapnya "apa karna aku, apa dia mulai menyukaiku dan berharap lebih" bisiknya.
"Aku tidak akan percaya wanita sepertimu, Clarisa pun seperti itu sangat manis bahkan cantik. Tapi untuk menutupi kejahatannya" batinnya
Lalu Raka masuk membaringkan tubuhnya ke sofa, bermain handpone dan sesekali melihat Meyra.
Lalu Raka mendekatinya, meraba Meyra dari belakang, mencium punggungnya dan ingin membalikan tubuh Meyra terhadapnya.
"Maaf, aku mengantuk. Jadi toling jangan ganggu saya" melepaskan pelukan Raka
"Mengapa kamu tidak mau melayaniku, aku suamimu" tegasnya
__ADS_1
"Aku istrimu, bukan pembantu yang harus menuti kemauanmu. Tolong beri aku ruang"
"Dia mulai berubah, apa aku melakukan dia dengan kasar" batinnya "hmmz, ya sudah aku tidur saja"
Mereka pun tidur, Meyra yang hanya membelakangi suaminya. Dan tidak merubah posisinya.
Raka bergegas bangun lalu akan berangkat kantor. Tiba-tiba dia dapat panggilan.
"Tuan, perusahaan tuan yang berada di amerika dalam masalah" terdengar suara gemetar
"Ada apa, apa kalian tidak becus mengurusnya sendiri" mulai geram
"Kami sudah melakukannya Tuan, tapi hanya tuan yang bisa melakukannya"
"Baiklah hari ini saya akan menuju amerika jika sudah mendapatkan tiket" lalu menutup telponnya.
Dia memperhatikan Meyra yang masih tertidur. Lalu menelpon Roni.
"Roni, tolong kamu atur keberangkatan saya menuju amerika secepatnya 2 tiket" terdengar marah
Raka memanggil pelayannya, agar bisa membantu mengemas pakaian yang dia butuhkan. Lalu mengemas pakaian Meyra.
"Bangun Meyra, segera bersiap" teriaknya
"ada apa pagi-pagi gini sudah berisik" melihat pelayan yang sedang berkemas.
"cepat mandi, kita akan berangkat secepatnya" perintahnya
"maksud kamu apa? " berdiri mendekatinya
"Aku harus berangkat ke amerika, jadi kamu harus menemani suamimu" tersenyum jahat
"tidak, aku tetap disini saja" mulai mundur
__ADS_1
"Cepat mandi atau kamu tidak mandi sekalipun" bentaknya
Meyra lalu menuju kamar mandi bergegas lalu bersiap menuju amerika. Roni yang sudah setia menunggu lalu mengemudikan mobilnya menuju bandara, Meyra terlihat sangat tidak menyukainya.
Tapi entah Raka sangat gembira saat akan bersama Meyra.
Setelah tiba dibandara mereka menunggu keberangkatannya dengan meminum kopi. Roni masih saja menunggu sambil membawa Koper yang sangat besar.
Tiba-tiba suara mulai terdengar jika pesawat menuju amerika akan segera berangkat 30 menit lagi, mereka bergegas masuk menuju pemeriksaan. Disaat semua berjalan dengan baik bahkan dipesawat Meyra hanya terdiam lalu tertidur dengan pulas. Menempuh waktu yang lumayan lama. Setiba di Bandara Amerika, Mereka turun lalu menuju seseorang yang sudah menunggu.
"Tuan muda, Nona silahkan masuk" membukakan pintu mobil.
"Terimakasih pak" senyum Meyra
Mereka hanya diam sepanjang jalan, Raka yang berusaha mengajak percakapan hanya dibalas dengan singkat.
Sesampai dihalaman rumah, lalu Raka turun berjalan menuju pintu utama. Meyra yang tak banyak bicara mengikuti saja.
"Selamat datang, Tuan muda dan Nyonya" menundukan kepala
"Terimakasih" Meyra menatap lalu tersenyum
Raka menuju kamarnya dan mulai membersihkan dirinya, karna waktu sudah menunjukan makan malam.
Meyra yang sedari tadi hanya diam tanpa bicara mengikuti Raka. Makan malam hingga menuju kamar lagi.
"Kamu kenapa bersikap dingin padaku" menatap Meyra
"Aku tidak kenapa-napa, aku ingin tidur sudah malam. Aku lelah" membaringkan tubuhnya.
Tiba-tiba Raka mendekati Meyra lalu mencium bibirnya, Raka yang berada diatas Meyra mulai bergejolak seolah ingin sesuatu. Meyra berusaha menghentikannya, tapi Raka malah melukai tangan Meyra.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja" melihat luka tersebut.
__ADS_1
"Sudahlah gak masalah, aku hanya ingin tidur cepat" memiringkan tubuhnya.
Raka yang melihat Meyra seperti seolah ada sesuatu, rasanya sangat sakit. Padahal bukan karna pengkhianatan. Tapi mengapa? apa karna sikapnya padaku.. Raka yang selalu bertanya-tanya.