
Sore hari tiba, Raka pun menjemput Meyra ditoko kue. Tapi Meyra terlihat sedikit diam dan tidak banyak bicara.
"Kamu kenapa sayang" ucap Raka sambil menyetir
"Tidak ko, sudah fokus saja" balas Meyra tanpa melirik suaminya
"Kita mau kemana dulu?" ucap Raka
"Aku mau pulang saja" balas Meyra singkat
"Kenapa lagi dia.. Apa aku buat salah lagi" ucap Raka dalam hati
"Kalau dia terus begini pasti ada sesuatu yang buat dia tidak nyaman" lanjut Raka memperhatikan Meyra
Setiba dirumah Meyra lalu bergegas pergi menuju kamar dan membersihkan diri. Raka lalu mengikuti Meyra setelah menyimpan mobil didepan halaman rumah.
"Sayang.. Buka pintunya" ucap Raka mengetok pintu kamar mandi
Tapi tidak ada jawaban sama sekali yang ada suara air mengalir. Tidak lama kemudian Meyra keluar dari kamar mandi dan sudah mengganti pakaian. Tapi Raka masih saja berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Sayang.. Kamu kenapa sih?" ucap Raka bingung
"Tidak ko, aku mau mengeringkan rambut" balas Meyra menuju meja rias
"Aku bantu ya" ucap Raka mengambil hair dryer yang sudah menyala
"Tidak usah.. Kamu mandi saja" balas Meyra dan mengambil hair dryer di tangan Raka
Raka pergi menuju kamar mandi dengan wajah bingung. Tidak lama kemudian Raka keluar dan sudah mengganti pakaian. Dan mencari Meyra tapi tidak ada.
Raka kemudian mencari Meyra disetiap ruangan. Dengan wajah khawatir dia menelepon Meyra tapi tidak ada jawaban.
Raka mencari Meyra diluar rumah bahkan menelepon kedua orangtua Raka bahkan mertuanya. Tapi masih belum menemukannya.
Raka mencari disekitar komplek dan terlihat Meyra sedang berdiam diri disebuah taman yang sepi.
"Sayang.. Kamu kenapa menangis" ucap Raka
"Aku tidak menangis.. Kamu ngapain disini" balas Meyra ketus
"Sayang, aku mencarimu kemana-mana.. Aku khawatir padamu" ucap Raka
"Kamu masih peduli padaku" balas Meyra
"Aku peduli padamu, kamu kan juga lagi mengandung" ucap Raka mendekati Meyra
"Kamu khawatir pada bayiku, bukan kepadaku" balas Meyra mulai terdengar suara menangis
"Sayang.. Aku peduli padamu, aku sangat mencintai kamu" ucap Raka meyakinkan
"Kamu ada apa.. Jangan menangis, aku tidak ingin melihatmu menangis.. cerita padaku" lanjut Raka
"Kemarin kamu enggak ada kabar karena kamu sedang sibuk dengan wanita lain kan" ucap Meyra
"Sayang.. Kenapa kamu berbicara seperti itu.. Aku sibuk sayang, aku mengurus perusahaan" balas Raka terkejut
"Sudah bilang saja, jujur padaku.. Aku tau kamu tidak angat teleponku bahkan kamu matikan ponselmu" ucap Meyra dengan terlihat marah
__ADS_1
"Kita bicarakan dirumah ya sayang.. Tidak enak jika ada orang lain lihat" balas Raka
"Aku mau pulang kerumah papahku" Meyra yang pergi meninggalkan Raka
"Sayang.. Dengarkan aku.. Aku sangat mencintaimu.. Aku tidak melakukan apapun bahkan jalan dengan wanita lain" ucap Raka mengejar dan menjelaskan kepada Meyra
Tapi Meyra tetap pergi menuju rumah papahnya dengan menggunakan taksi. Raka pulang menuju rumah untuk mengambil mobil dan menyusul Meyra.
"Kenapa kamu berpikir seperti ini, siapa yang mempengaruhi mu" Ucap Raka bingung sambil menyetir menyusul Meyra dirumah orang tuanya.
Disisi lain Meyra terus menatap luar kaca dan menangis tidak terhenti bahkan setelah sampai dirumah papahnya.
"Kamu kenapa.. Sayang" ucap Papah Meyra
Meyra lalu pergi masuk kedalam kamarnya tanpa mendengar ucapan papahnya.
Tidak begitu lama, Raka datang menyusul kedalam rumah Orangtua Meyra.
"Pah.." ucap Raka mencium punggung tangan papah Meyra
"Kalian ada apa? kalian baik-baik saja kan" ucap papah Meyra dengan tatapan bingung
"Iya kita baik-baik aja, ini hanya salah paham pah.. Meyra mana?" balas Raka
"Ada dikamarnya, kamu masuk saja ya" ucap papah Meyra
Raka lalu menuju kamar Meyra tapi pintu dikunci dari dalam. Raka mengetok pintu tapi tidak dibuka sama sekali. Bahkan suara Meyra tidak terdengar.
"Pah.. pah.." ucap Raka mencari papah mertuanya
"Ada kunci cadangan gak yang dikamar Meyra" ucap Raka dengan wajah khawtir dan nafas tidak teratur
"Ada.. Papah ambil dulu" balas Papah Meyra lalu mencari kunci cadangan tersebut
Setelah mengambil Raka lalu kembali menuju kamar Meyra dan membuka kunci dari luar menggunakan kunci cadangan. Terlihat Meyra sedang menangis hingga tertidur. Mata yang sembab bahkan dalam tidur pun terdengar suara isakan tangis. Raka mengunci pintu lalu mendekati Meyra.
"Sayang.. Maafkan aku jika aku ada salah" ucap Raka mengelus rambut Meyra
"Aku sangat mencintaimu" lalu mencium kening Meyra
Tiba-tiba Meyra terbangun dan melihat Raka. Ia terkejut lalu mengusir Raka bahkan dia ingin keluar dari kamar tapi pintu terkunci dan kunci berada ditangan Raka.
"Kembalikan kuncinya.." ucap Meyra
"Tidak.. Kamu ada apa..?" balas Raka
"Aku mau kita berpisah.. Aku tau dari awal pernikahan ini kamu tidak menginginkanya, lalu untuk apa aku bertahan" ucap Meyra penuh amarah
"Aku tidak ingin berpisah, percayalah aku sangat menerima semua ini. Aku ingin tetap bersamamu" balas Raka meneteskan airmata
"Maafkan aku sayang kalau aku ada salah, aku takut kehilanganmu.. Aku takut kamu pergi meninggalkanku" lanjut Raka berlutut dihadapan Meyra dan mulai menangis
"Cukup.. Aku tidak mau mendengar semua itu.. Aku ingin tetap disini, kamu pergi dari sini" ucap Meyra
"Sayang.. Kamu bicara padaku ada apa?" Ucap Raka yang masih berlutut
"Kamu berbohong padaku kan, kamu pergi dengan Laura kekota xxx" balas Meyra menangis terisak
__ADS_1
"Aku kesana mengurus perusahaan ku sayang, perusahaan papah yang ada dikota xxx" ucap Raka
"Tapi mamah tidak tahu, bahkan papah juga tidak bicara padaku" balas Meyra
"Sayang... Memang aku tidak memberitahu mereka, perusahaanku terbakar. Aku tidak ingin mereka cemas karena masalah perusahaan. Aku sibuk mengurus semuanya kalau kamu tidak percaya tanya Roni" ucap Raka berdiri menatap Meyra dan menggenggam tangannya
"Kamu tidak bertemu dengan Laura?" Meyra menatap Raka
"Sayang.. Percaya padaku.. Aku tidak sama sekali bertemu dengannya, dan aku tidak ada hubungan apapun" ucap Raka
"Maaf.. Aku salah.." memeluk Raka dan menangis
"Aku yang harusnya minta maaf tidak memberitahumu, aku salah sayang. Karena aku bingung harus berbicara apa padamu" ucap Raka membalas pelukan Meyra dan mencium kening Meyra
"Sekarang kita pulang ya.." lanjut Raka
"Kita tidur disini saja ya" ucap Meyra
"Tapi.."
"Sudah kalau kamu gak mau, aku bakal marah terus sama kamu" ucap Meyra memotong pembicaraan Raka
"Iya sayang" balas Raka
Mereka akhirnya berbaikan dan mereka makan dimeja makan. Mereka hanya berdua. Papah dan adik Meyra sudah tertidur. Karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
***
Pagi hari Meyra dan Raka sarapan bersama dengan keluarga Meyra.
"Wah, ada tamu nih" ucap Seto
"Kamu ini, meledek saja" balas Meyra tertawa
"Kak, kapan ponakan ku lahir" ucap Seto
"Nanti lah, baru juga 6 bulan kehamilan kakak" balas Meyra
"Aku udah gak sabar" Seto tersenyum
"Iya nanti juga lahir, nanti om yang bantu jaga ya" ucap Raka
"Ahh masa aku sih, biar kakak aja " Seto tertawa
"jenis kelaminnya apa?" tanya Papah Meyra
"Baru terlihat perempuan, yang satu masih malu-malu pah" balas Meyra
"Kamu mengandung bayi kembar?" tanya Papah Meyra terkejut
"Iya pah.." balas Meyra
"Wah jadi aku punya keponakan sekaligus dua" ucap Seto
"ya sudah papah senang dengarnya, ayo sarapan dulu" ucap Papah Meyra
Mereka sarapan bersama tanpa mengeluarkan suara. Meyra dan Raka sudah kembali seperti biasa dan setelah makan mereka kembali kerumahnya.
__ADS_1