Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Extra Part 01


__ADS_3

Delapan bulan berlalu ...


Di dalam sebuah kamar dengan pencahayaan temaram, sepasang manusia sedang saling beradu di bawah selimut tebal.


Kegiatan saling menghangatkan satu sama lain terjadi hampir di setiap malam.


Tampaknya suasana semakin memanas, ditandai dengan desahan demi desahan yang terdengar, mewakili rasa nikmat yang mereka peroleh dari olahraga malam itu. Tidak seperti biasanya, dimana Marchel mendominasi, malam ini sangat berbeda, sebab Sheila yang sedang memegang kendali.


Marchel hanya dapat memejamkan mata saat merasakan sesuatu yang basah melahap habis samurainya. Malam ini Sheila melayani suaminya dengan sangat baik dan dan memintanya duluan.


Ini pasti hasil bisikan gaib dari seorang wanita sesusia Sheila bernama Elsa, yang baru beberapa bulan lalu menikah dengan Willy. Jurus mematikan yang diberi nama beranak dalam kubur baru saja coba dipraktekkan oleh Sheila.


"Terus, Sayang!" ucap Marchel menahan kenikmatan yang berikan oleh istrinya.


Tidak tahan dengan aksi benda lembut yang menelan samurainya, Marchel hanya dapat meremaas bongkahan indah itu dengan kedua tangannya. Layaknya koboi yang sedang menunggang kuda, Sheila begitu bersemangat, menyerang membabi buta. Benar kata Elsa, berada di posisi itu memang paling menyenangkan. Itu lah yang kini dirasakan sendiri oleh Sheila. Sebuah jurus yang menjadi andalan Elsa.


Sheila mempercepat gerakannya yang seksi. Wanita itu pun hanya dapat mengeluarkan suara desahannya yang sensual saat terjadi pelepasan yang dahsyat. Kemudian terkulai lemas di atas tubuh Marchel saat segalanya selesai baginya.


Belum! Sama sekali belum selesai. Bahkan samurai tumpul milik Marchel masih menancap di tempatnya.


"Aku sangat lelah," bisiknya ke telinga Marchel.


"Kalau begitu sekarang istirahat saja, biar aku yang bekerja."

__ADS_1


Sheila hanya menganggukkan kepala, lalu bertukar posisi, sehingga kini ia berada di bawah kekuasaan Marchel.


Laki-laki itu bergerak dengan sangat seksi, sambil menghujani wajah istrinya dengan kecupan bertubi-tubi. Sheila sudah kehilangan fokus, akibat rasa yang ditimbulkan oleh perlakuan Marchel kepadanya.


Hingga segalanya telah berada di puncak, Marchel menancapkan samurainya semakin dalam yang membuat lelehan mayonnaise hangat mengalir di bawah sana.


Hmmm malam yang benar-benar indah.


Marchel menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. Kini Sheila sudah terlelap setelah aktivitas melelahkan yang mereka jalani.


Satu kecupan sayang ia benamkan di kening wanitanya itu. Sebelah tangannya mengelus wajah yang baginya memiliki kecantikan sempurna.


"Aku mencintaimu," bisik Marchel sambil menghujani wajah itu dengan kecupan lembut.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa hatinya akan begitu mencintai seorang gadis manis seperti Sheila, yang ia bawa pulang ke rumahnya sebagai istri beberapa tahun lalu. Sebuah pernikahan tanpa cinta yang awalnya dilalui dengan ujian berat. Namun kini kebahagiaan sedang mereka rasakan dengan kehadiran dua malaikat kecil hasil pernikahan mereka, Chella dan Chello.


Ponsel berbunyi tanda pesan masuk, Marchel masih mengatur napasnya, sebelum mengulurkan tangan meraih benda pipih yang berada di atas meja nakas.


{Marchel ... besok bisa ke rumahku kan. Ada hal penting yang harus aku tunjukkan.} ~ Willy.


{Baiklah. Besok aku akan ke sana.} ~ Marchel.


*****

__ADS_1


"Selamat pagi, Sayang!"


Sheila menyibak selimut yang membalut tubuh Chella. Sepertinya gadis kecil itu masih betah berlama-lama berbaring di ranjang empuknya.


"Ayo bangun, Sayang. Sudah waktunya sarapan."


Perlahan Chella membuka matanya, sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya.


"Masih ngantuk, Bunda. Ayah bilang Chella libur hari ini."


"Tapi harus tetap bangun pagi, biar sehat."


Dengan terpaksa, Chella bangkit. Kedua tangannya terulur meminta dipeluk oleh bundanya.


"Bunda, mau dipeluk!" rengeknya dengan manja.


Sheila pun segera meraih tubuh mungil yang pernah lama terpisah dari nya itu, memeluknya dengan erat.


Pagi hari dimulai seperti biasanya, ketika sebuah keluarga kecil yang bahagia sarapan bersama. Sheila dan Chella susah duduk manis di meja makan bersama Oma. Sementara Marchel baru saja menuruni tangga dengan terburu-buru.


"Sayang, maaf aku tidak ikut sarapan. Aku buru-buru," ucap Marchel.


"Memang ada apa?"

__ADS_1


"Tidak tahu, katanya Willy ada sesuatu yang penting yang mau ditunjukkan padaku. Aku pergi dulu, ya..."


******


__ADS_2