
"Maya..." panggil Sheila sesaat sesaat setelah memasuki sebuah ruangan dimana Maya sedang berada.
Maya yang sedang bertugas segera berdiri dari duduknya. "Iya, Nona... Ada apa?"
"Apa kau ada waktu luang untuk malam Minggu besok?"
"Waktu luang?" Maya terlihat bingung. Pertama kali bertemu dengan sang nona bos, dia terlihat sangat membenci Maya, bahkan memperlakukannya seperti seorang budak. Namun, beberapa hari belakangan, berubah baik layaknya seorang teman.
"Iya. Apa kau bisa menemaniku pergi ke suatu tempat? Sejak kembali dari Jerman, aku belum punya teman di sini, karena kakakku melarang berteman dengan sembarang orang. Jadi aku harap kau bisa menemaniku."
"Kemana, Nona?"
"Bersenang-senang. Ajaklah beberapa temanmu biar seru. Aku merasa sangat bosan akhir-akhir ini. Jadi berdandan lah yang cantik."
Maya mengangguk pelan, "Baik, Nona."
"Oh, ya... Ini rahasia, hanya antara kau dan aku saja. Kak Rey akan marah kalau tahu aku pergi bersenang-senang."
"Baiklah, saya mengerti, Nona."
Tanpa banyak bicara lagi, Sheila meninggalkan ruangan itu dengan senyum kepuasan. Sepertinya rencana balas dendamnya benar-benar dijalankan dengan baik.
Setelah membuat janji dengan Maya, Sheila bergegas meninggalkan rumah sakit itu menuju suatu tempat.
****
-
-
-
-
-
Dengan wajah berbinar, Sheila membawa beberapa kantongan berisi boneka yang baru saja dibelinya dari sebuah toko mainan anak. Wanita muda itu akan mengunjungi Michella, seorang anak panti asuhan yang menarik perhatiannya beberapa waktu lalu. Sejak pertemuan pertamanya dengan Michella, Sheila tak henti-hentinya memikirkan anak berusia empat tahun itu. Kedatangannya pun disambut oleh Ibu Fifi, wanita yang mengurus panti asuhan itu.
"Selamat sore, Bu..." sapanya dengan sopan.
"Selamat sore, Sheila," sahut Bu Fifi.
"Apa aku tidak mengganggu, Bu?"
__ADS_1
Wanita itu tersenyum ramah, "Tentu saja tidak. Ayo masuk," ajaknya.
"Bolehkah aku bertemu dengan Michella? Aku membawakan beberapa mainan untuknya. Dia sedang apa, Bu?" Sheila mengedarkan pandangannya ke arah taman itu, mencari sosok anak yang entah kenapa begitu dirindukannya.
Seketika senyum yang menghiasi wajah Ibu Fifi meredup. Dari wajahnya tergambar jelas raut kesedihan.
"Ada apa, Bu?" tanya Sheila merasa khawatir.
"Chella ada di kamar. Dia sedang sakit. Akhir-akhir ini kondisinya sangat lemah. Tadi dia mengeluh sakit di dadanya. Tapi aku sudah menghubungi dokter. Dia sedang diperiksa di dalam."
Mendengar ucapan Bu Fifi membuat tubuh Sheila terasa meremang. Ada perasaan yang sulit dijelaskan mendengar Chella dalam keadaan sakit. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. "Kenapa Ibu tidak menghubungiku? Aku kan sudah bilang, kalau Ibu atau Chella butuh sesuatu, hubungi aku saja."
"Jangan khawatir, Sheila. Chella sudah biasa mengalami keadaan seperti ini. Ayo, kita ke dalam!" ajak Bu Fifi.
Sambil berjalan menuju kamar dimana Chella berada, Bu Fifi menjelaskan pada Sheila tentang kondisi fisik Chella yang lemah. Dan hal itu mengingatkan Sheila pada dirinya saat masih kecil dulu. Dimana dirinya mengalami hal yang sama persis seperti Chella.
Setibanya di ambang pintu kamar itu, Sheila menghentikan langkahnya ketika melihat siapa yang berada di dalam. Cepat-cepat wanita itu menyembunyikan dirinya di balik dinding sambil sesekali mengintip ke dalam. Membuat Bu Fifi merasa heran.
"Ada apa?" tanya Bu Fifi.
"Aku akan menunggu sampai dokter itu selesai memeriksa Chella, Bu," jawabnya dengan suara nyaris berbisik.
Di dalam sana, Dokter Marchel sedang duduk di bibir tempat tidur, sedangkan Chella berbaring. Sang Dokter sedang memeriksa keadaan Chella. Sesekali terdengar suara Chella yang tertawa kecil, walaupun tawanya terdengar lemah-- saat Marchel mengajaknya bersenda gurau.
"Om Dokter, ini masih sakit!" Dengan suara pelan, Chella menunjuk dadanya yang terasa sesak, sehingga Marchel mengusap pelan dada anak itu.
"Apa ada ikan bebi syalk-nya juga?"
Marchel mengerutkan alisnya, mencoba memahami ikan yang dimaksud Chella. "Ikan apa?"
"Bebi syalk..."
"Oh, baby Shark? Ada..." Marchel mengusap rambut anak itu, kemudian mengecup keningnya. "Makanya Chella harus sembuh. Supaya nanti bisa jalan-jalan ke aquarium besar."
"Tapi ajak kakak cantik juga ya..."
"Kakak cantik?"
"Iya. Kakak cantik yang datang waktu itu. Chella dibawakan boneka ini." Menunjukkan boneka kecil yang berada dalam pelukannya pada Marchel.
"Baiklah, nanti kita pergi bersama kakak cantik. Sekarang, Chella makan, ya... Om Dokter suapi, mau kan?"
Marchel membetulkan posisi bantal, sehingga Chella dapat duduk menyandar. Pelan-pelan, Marchel menyuapi Chella semangkuk bubur yang tadi dibuat oleh Bu Fifi.
__ADS_1
Sheila yang masih mengintip di balik pintu, menjatuhkan setitik air matanya. Teringat dulu saat dirinya baru mengenal sosok Dokter Marchel. Saat itu, Sheila masih berusia 14 tahun. Betapa Marchel yang kala itu belum berpacaran dengan Shanum terus memberi Sheila semangat untuk berjuang melawan sakitnya.
Tepukan lembut mendarat di bahu, membuyarkan lamunan Sheila. "Itu Dokter Marchel..." ucap Bu Fifi. "Dia yang selama ini merawat Chella secara sukarela. Dokter Marchel akan datang sekali seminggu untuk memeriksanya. Dia seorang dokter yang sangat baik. Dia bahkan menolak dibayar. Dan Chella... dia menemukan sosok seorang ayah dari Dokter Marchel. Chella bukanlah anak yang bisa dekat dengan sembarang orang. Dia sangat pendiam dan suka menyendiri. Tapi saat bersama Dokter Marchel, dia menjadi sangat ceria. Walaupun dalam keadaan sakit."
Ya, aku bisa melihatnya. Aku tahu bagaimana Kak Marchel pada setiap pasiennya. Aku juga pernah merasakan apa yang dirasakan Chella.
Sheila mengusap setitik air matanya. Berusaha menepis perasaan aneh dalam dirinya.
"Aku akan masuk dulu, mungkin Chella butuh sesuatu." Bu Fifi meninggalkan Sheila yang masih membeku di balik dinding, masuk menyapa Marchel yang sedang menyuapi Chella.
"Dokter Marchel, maaf sudah merepotkan. Anda harus menyuapi Chella makan. Biar saya saja yang menyuapinya," ucap Bu Fifi.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku senang melakukannya. Iya kan, Chella?"
"Iya, Chella mau makan sama Om Dokter saja," sahut Chella.
"Baiklah, peri cantik." Marchel begitu bersemangat merawat bocah kecil itu, kadang sampai lupa waktu jika sudah bersama Chella.
Satu suapan terakhir diberikan Marchel pada anak menggemaskan itu. Setelahnya, Marchel memberi minum, lalu mengusap sisa makanan yang sedikit belepotan di bibir anak itu dengan tissue.
Beberapa menit berlalu, Marchel kemudian memberi Chella obat. Beruntung, Chella tidak seperti anak lain yang tidak suka minum obat. Chella akan meminum obatnya meskipun merasa pahit. Sama seperti Sheila dulu.
"Tapi mungkin Dokter Marchel sedang ada pekerjaan lain. Saya jadi tidak enak."
"Tenang saja, Bu. Aku punya banyak waktu luang untuk Chella. Lagi pula Chella mengingatkanku pada seseorang," timpalnya sambil membaringkan kembali Chella, lalu menyelimutinya. Mengusap kepalanya anak itu dengan lembut.
"Seseorang?"
"Iya. Chella mengingatkanku pada seorang pasienku. Kondisinya sama persis seperti Chella. Bahkan dia juga memiliki karakter seperti Chella. Kadang aku melihat dirinya di dalam diri Chella. Entahlah!" Marchel larut dalam ingatannya tentang Sheila. "Em... maaf, Bu. Aku jadi bicara banyak."
"Tidak apa-apa, Dokter."
Marchel terus menepuk dengan lembut punggung Chella hingga tertidur. Dia mengecup kening anak itu, sebelum akhirnya berdiri dan menyambar tas kerja yang ada di atas meja.
"Aku akan pergi dulu. Chella sudah tidur."
"Dokter Marchel, saya tidak tahu harus bagaimana berterima kasih. Anda sangat baik pada kami."
"Jangan dipikirkan, Bu.... Aku senang bisa membantu."
Marchel hendak melangkah keluar, dan saat berada di ambang pintu, sang dokter terlihat terkejut melihat Siapa yang ada di sana.
"Sheila...?"
__ADS_1
****
Bersambung